"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 12 Maret 2011

CRITICAL REVIEW: RINTANGAN-RINTANGAN MENTAL DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA KARYA PROF. DR. KOENTJARANINGRAT

CRITICAL REVIEW
RINTANGAN-RINTANGAN MENTAL DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA
KARYA PROF. DR. KOENTJARANINGRAT
MENINJAU RELEVANSI DAN INRELEVANSI BEBERAPA PEMIKIRAN PROF. KOEN DI ERA KONTEMPORER
Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Sekilas Buku
            Buku yang hendak penulis sajikan dalam bentuk critical review yakni “Rintangan-Rintangan Mental Dalam Pembangunan Ekonomi di Indonesia” merupakan buah karya Prof. Dr. Koentjaraningrat, Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia, beliau tidak hanya dikenal sebagai intelektual “kandang” melainkan telah dikenal pula dalam dunia intelektual mancanegara, hal ini tampak melalui banyaknya kesempatan yang beliau peroleh menjadi guru besar tamu di beberapa universitas terkemuka dunia.[1] Buku ini, yang merupakan salah satu dari lebih delapan puluh karya beliau yang telah diterbitkan baik di dalam maupun di luar negeri pada dasarnya disusun sebagai rancangan penelitian (research design) atas kerja samanya dengan Lembaga Research Kebudayaan Nasional LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang nantinya bakal digunakan sebagai landasan penelitian terkait orientasi serta sikap mental masyarakat Indonesia terhadap berbagai aktivitas ekonomi bersamaan dengan program Pembangunan Lima Tahun.[2] Dengan demikian, dengan segala keterbatasannya, buku ini lebih merupakan sebentuk landasan teori serta hipotesis yang diperluas penulisannya.  
Dalam hal ini, penulis berupaya melakukan kajian dan analisis mendalam serta seksama guna menyajikan berbagai muatan yang kiranya tetap menemui relevansi maupun inrelevansi-nya di era kontemporer. Dengan demikian diharapkan kita mampu melihat berbagai kesenjangan maupun pergeseran hipotesis serta postulat dalam rentang waktu kurang-lebih tiga dekade, yakni sejak dipublikasikannya buku tersebut pada 1969 hingga kini (tahun 2008). Hal ini kiranya menarik bagi penulis karena pada periode disusunnya buku tersebut berada dalam bayang-bayang rezim Orde Baru yang begitu kental dengan muatan historisisme konsep tahapan pembangunan Rostow dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita).    


Relevansi Buku
Pemikiran Barat Sebagai Kerangka Non-Acuan
            Dalam buku yang disusun sebagai rancangan penelitian ke depan ini, Koentjaraningrat kerap mencuplik beberapa pemikir sosial, humaniora serta kebudayaan asal Barat seperti H.J Boeke, G. Gonggrijp, E. Huntington, Kluckhohn, Ferdinand Tonnies dan sebagainya.[3] Namun demikian kita perlu berbangga hati karena “begawan” asal Indonesia ini tidak begitu saja mengamini buah pemikiran berbagai pemikir Barat tersebut melainkan sekedar menjadikannya kerangka berpikir tanpa mengacunya begitu saja.  
Dalam ranah ini hal di atas tampak dalam beberapa aspek antara lain, pertama, disajikan berbagai pemikiran mengenai determinisme geografis yang juga disertai dengan beberapa gagasan yang mengajak kita guna mempertimbangkan kembali keabsahan pemikiran tersebut, dengan demikian terdapat proporsi pengetahuan yang tidak timpang sebelah antara pengetahuan yang dibangun para “orientalis” dibandingkan pengetahuan yang lahir dari negeri sendiri. Relevansi hal ini di era kontemporer tampak melalui berkembangnya konsep “development as freedom” yang digagas Amartya Sen-peraih nobel ekonomi-di mana Ia menyoroti pentingnya local genius bagi pembangunan negara-negara dunia ketiga.[4]
Kedua, penggunaan pemikiran Barat sebagai kerangka non-Acuan oleh Koentjaraningrat tampak melalui berbagai elemen paradigma Kluckhohn yang digunakan dalam menjelaskan berbagai kondisi mental masyarakat Indonesia yang diklasifikasikan dalam beberapa kategori seperti mental asli, mental yang berkembang sejak zaman penjajahan dan mental baru yakni terbentuk pada kurang lebih 25 tahun setelah merdeka.[5] Dalam hal ini beberapa elemen paradigma Kluckhohn guna menjelaskan mentalitas sosial dan budaya yang diadopsi Koentjaraningrat adalah hakekat hidup, hakekat karya atau kerja, hakekat kedudukan manusia dalam ruang waktu serta hakekat hubungan manusia dengan alam.[6] Dengan demikian tampaklah jelas bagi kita bahwa kerangka pemikiran Barat layaknya sebuah “wadah” bagi Koen namun dengan “isi” yang berbeda sehingga dapatlah diambil kebijaksaan atasnya bahwa hal tersebut berpotensi menghindarkan kita dari kooptasi romantisme konsep pembangunan Barat (klasik, keynesian ataupun neoklasik) yang terbukti tak sesuai bagi negara-negara dunia ketiga.     
  
Gugatan Atas Dikotomi Barat dan Timur
Pada sekitar bab awal buku karya Koentjaraningrat ini disajikan pemikiran beberapa ekonom Belanda masa kolonial seperti H.J Boeke dan G. Gonggrijp mengenai tropisch-koloniale staathuis-houdkunde di Indonesia, yakni pandangan yang begitu negatif-pesimistis bahwa apa yang mereka sebut sebagai bangsa-bangsa Timur yang secara kebetulan sebagian besar hidup di daerah tropis tidak mungkin dapat dirubah susunan masyarakat dan mentalnya guna mewujudkan kemajuan ekonomi karena iklim yang demikian tidak dapat memberi dorongan kepada manusia untuk berhemat dan bekerja keras. Kecenderungan manusia yang akan ditemui dalam iklim demikian menurut mereka adalah mentalitas yang cenderung “membebek” atau menurut pada semua orang yang dianggap lebih tinggi kedudukannya, tak memiliki daya kekuatan dan inisiatif, tak suka bekerja serta terikat erat dengan lingkungannya yang sempit. Apabila pengkajian dilakukan lebih jauh maka akan ditemui bahwa berbagai pandangan mengenai determinisme geografis di atas pernah pula diajukan oleh E. Huntington dalam Civilization and Climate di mana menurutnya kebudayaan suatu masyarakat dapat maju dan berkembang bila terletak di daerah iklim sedang dengan pergantian musim panas dan musim dingin yang begitu kontras.[7]
Dalam menanggapi berbagai pandangan determinisme geografis di atas Koentjaraningrat mengajukan gugatan balik terhadapnya, antara lain dengan mengacu pada perkembangan masyarakat Kuba yang kala itu lebih maju ketimbang Polandia di mana dalam hal ini Kuba terletak pada daerah dengan iklim tropis dan sebaliknya dengan Polandia yang terletak pada iklim ekstrem dalam klasifikasi Huntington. Begitu juga, Prof. Koen mengajak kita untuk menilik kembali pada tingginya peradaban kuno yang berhasil diwujudkan negara Angkor (saat ini terletak di Kamboja), orang Jawa pada abad ke-9 hingga ke-14, bangsa-bangsa tropik Amerika Tengah layaknya Indian Aztec di lembah Meksiko serta Indian Maya di Meksiko Selatan dan Guatemala. Di satu sisi, Koentjaraningrat menekankan pula beberapa aspek yang kiranya juga menjadi tantangan bagi mereka yang hidup di daerah tropis seperti mitos bahwa tanah daerah tropis begitu suburnya adalah tidak benar, faktual cukup banyak pula terdapat daerah yang kurang subur dibandingkan dengan tanah di berbagai daerah tanah liat hitam wilayah iklim sedang, curah hujan yang begitu tinggi di daerah tropis juga justru mencuci habis zat-zat yang dibutuhkan bagi pertanian dan begitu pula dengan berbagai serangan tumbuhan liar terhadap tanaman pertanian yang lebih hebat ketimbang daerah iklim sedang.[8]
Dengan demikian, seperti apa yang telah diuraikan di atas, kita menemui “antitesis” dalam pemikiran Prof. Koen yang menjadikannya lawan setara atas pandangan negatif yang telah diutarakan ekonom-ekonom Barat sebelumnya. Disadari atau tidak, bila kita memandang persoalan ini secara kritis maka penggunaannya secara cerdas guna menumbuhkan bibit-bibit  motivasi pembangunan bangsa begitu mungkin dilakukan.      
Menolak Beberapa Budaya Tradisional
yang Menghambat Pembangunan
            Layaknya para antropolog yang umumnya berkutat pada masalah budaya, begitu juga dengan Koen yang berupaya menelusuri berbagai akar budaya masyarakat Indonesia. Dalam hal ini-meskipun tak menutup mata bahwa dalam buku rancangan penelitian ini sebagian besar sampling yang diambil adalah orang Jawa-Koen menemui beberapa budaya atau filosofi tradisional yang kiranya tidak sesuai dengan mentalitas pembangunan antara lain sikap sabar, ikhlas dan nrimo serta sebuah konstruksi yang melarang seseorang lebih menonjol ketimbang yang lainnya.[9]
            Sikap sabar, ikhlas dan nrimo yang mewakili sebagian besar mentalitas golongan petani dan priyayi secara tidak langsung dianggap menghambat program pembangunan pemerintah. Bila ditarik lebih jauh, hal yang demikian terjadi karena adanya pandangan yang buruk terhadap hidup. Namun demikian, terdapat sisi positif yang ditunjukkan mentalitas petani ketimbang priyayi secara spesifik dalam hubungannya dengan alam yakni upaya guna menyelaraskan diri dengan lingkungannya baik secara sosial maupun ekologis. Dalam hubungannya secara sosial petani berupaya menjaga semangat gotong-royong guna menumbuhkan rasa “aman” bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di antara mereka, semisal terjadinya gagal panen sehingga diharapkan dengan adanya etika tersebut mereka yang berlebihan pangan dapat membantu petani lain yang kekurangan pangan. Dalam ranah ekologis, sikap yang ditunjukkan kaum tani cenderung menahan diri dalam upaya-upaya guna menguasai alam,[10] dapat kita lihat bahwa etika yang demikian begitu mendukung terwujudnya pembangunan yang selaras dengan alam atau bentuk-bentuk ekplorasi dan ekploitasi sumber daya alam tanpa melakukan perusakan terhadapnya-layaknya konsep green capitalism Margareth Thatcer.[11] Sebaliknya, hal di atas begitu kontras dengan mentalitas priyayi di mana dalam upayanya menyelaraskan diri dengan alam sebagian besar dari mereka lari pada dunia kebatinan dengan harapan dan mimpi-mimpi terwujudnya tatanan kehidupan yang lebih baik, harmonis dan sebagainya sehingga hal yang demikian lebih mengesankan sikap hidup yang “pasifis” serta fatalis.[12]   
            Di samping kritik atas hubungan manusia dengan alam, Prof. Koen mengemukakan pula kritik atas hakekat kerja yang ditunjukkan mentalitas petani dan priyayi yang dianggapnya tak sesuai dengan semangat pembangunan. Mentalitas petani seperti apa yang diungkapkan Koen yakni subsisten, sekedar bekerja bagi kebutuhan hidup dianggap tak mencerminkan produktivitas yang harusnya menjadi ciri adanya pertumbuhan ekonomi. Di satu sisi, etika kerja kaum priyayi yang berkutat pada upaya-upaya perolehan kedudukan, simbol, atribut beserta lambang-lambang kebesaran lainnya tak pelak mengabaikan arti penting kualitas dalam kerja.[13] Dengan demikian, konstruksi kerja yang dibangun mentalitas priyayi cenderung “besar pada nama” dan “kosong” dalam karya. Menurut Koen, berbagai mentalitas tradisional yang begitu bertentangan dengan semangat pembangunan layaknya sikap sabar, ikhlas, nrimo, larangan menonjol, etika kerja subsisten serta pencapaian pada simbol dan atribut semata dapat dipecahkan dengan konsep “need of achievement” David Mc Clelland. Konsep tersebut pada dasarnya menekankan semangat atau motivasi individu untuk terus berpretasi dan berkarya dengan patokan kepuasan batin diri individu sendiri-bukannya pencapaian kebutuhan diri secara sempit layaknya prilaku subsisten atau pencapaian berbagai simbol serta atribut besar yang tak produktif.[14]  
Inrelevansi Buku
Mengesampingkan Aspek Ekonomi Internasional
            Dalam buku ini Prof. Koen sama sekali tak menyinggung konstelasi ekonomi-politik internasional yang pada dasarnya selalu terkait dengan konstelasi ekonomi-politik dalam negeri. Kiranya nihilnya pembahasan Koen akan aspek ini memberikan nilai kurang pada karya ini. Di era kontemporer kita mengenal beberapa pakar sosial, politik dan ekonomi seperti Sachs, Andre Gunder Frank dan terutama Raul Prebisch. Dalam hal ini akan kita temui kesamaan pola pikir di antara ketiganya terkait kemiskinan yang ditimbulkan oleh berbagai represi struktur yang ada.[15]  
            Sachs menegaskan bahwa kemiskinan dunia merupakan fenomena yang bersifat interlocking ‘terkait satu sama lain’, dalam hal ini, Sachs-kini menjabat sebagai penasehat ekonomi Sekjen PBB Kofi Annan-melalui “Sachs Strategy”-nya berupaya menggalang solidartitas negara-negara maju yang tergabung dalam negara-negara G-8 untuk setidaknya memberi hibah 0,7% dari Produk Domestik Bruto-nya (PDB) pada negara-negara dunia ketiga-terutama Afrika.[16] Senada dengan Sachs, Frank menyoroti tatanan ekonomi global yang begitu diskriminatif tehadap negara-negara dunia ketiga, analisisnya menunjukkan bahwa kurang-lebih 90% modal dan teknologi dunia dikuasai oleh setidaknya 20% saja penduduk dunia negara-negara maju.[17] Hal ini menyiratkan pada kita mustahilnya konsep pembangunan “sosialis ultra-Radikal”[18] diwujudkan.
Tak kalah menarik dari dua pandangan pakar di atas, Prebisch menuai perhatian luas  melalui konsep “peralihan surplus” yang dikemukakannya. Menurutnya terjadi pembagian kerja internasional yang tak berimbang di antara negara maju dan berkembang, dalam hal ini negara maju ditempatkan sebagai penghasil barang-barang elektronik, sedangkan negara-negara berkembang ditempatkan sebagai penghasil komoditas pertanian atau pangan. Di satu sisi terjadi pertukaran yang tak proporsional di antara keduanya akibat perbedaan kurs mata uang, komoditas elektronik dijual dengan harga mahal namun tidak demikian halnya dengan komoditas pertanian, inilah yang menyebabkan tersedotnya surplus negara-negara dunia ketiga pada negara-negara maju. Di sisi lain, kenestapaan ini diperparah dengan shahihnya hukum Engels, “peningkatan pendapatan tidak mempertinggi minat masyarakat atas komoditas pangan melainkan pada komoditas elektronik”.[19]     
Dengan demikian, sedikit uraian di atas kiranya menunjukkan pada kita akan pentingnya perspektif komprehensif dalam memandang kemiskinan, seperti apa yang dikemukakan Sachs, sebagai fenomena yang bersifat “interlocking”. Di sisi lain, fakta menunjukkan bahwa bangsa Indonesia bukanlah mentalitas yang senang berpangku tangan, hal ini tampak melalui tumbangnya konsep kemiskinan kultural Oscar Lewis, fakta membuktikan bahwa bangsa Indonesia memiliki semangat untuk maju serta mampu bekerja dalam porsi serta durasi kerja yang keras.[20]
“Buble Economic”, Fenomena Ekonomi Kontemporer
            Seperti apa yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa analisis Prof. Koen terkait pembangunan ekonomi masyarakat Indonesia tampak bias mikro maupun makro-Ekonomi[21], dalam hal ini penulis berupaya menekankan sekali lagi “dahsyatnya” pengaruh ekonomi internasional terhadap konstelasi ekonomi dalam negeri. Salah satu fenomena yang kiranya penting menjadi sorotan kita di era kontemporer ialah peristiwa buble economic ‘gelembung ekonomi’ yang beberapa waktu lalu-pada akhir 90-an-menerjang Indonesia.
            Bukan sesuatu yang asing di telinga kita bila banyak pihak menunjuk korupsi, kolusi dan nepotisme sebagai biang krisis ekonomi Indonesia akhir 90-an. Namun demikian, pendapat ini tak dapat dibenarkan sepenuhnya, apa yang menjadi penyebab krisis ekonomi tahun 1997-1998 faktual lebih pada fenomena buble economic ‘gelembung ekonomi’. Hal tersebut terjadi akibat masuknya para investor ke dalam negeri dengan orientasi keuntungan jangka pendek sehingga ketika keuntungan telah mereka raup, dengan segera mereka menarik modalnya kembali.[22] Penarikan modal secara besar-besaran dan dengan tempo yang seketika tersebut mengakibatkan begitu banyak perusahaan dalam negeri “sekonyong-konyong” ambruk, dapat diduga setelahnya, pengangguran melonjak drastis yang kemudian berdampak pada timbulnya  krisis ekonomi. Hal penting lain yang kiranya perlu kita catat, faktual hingga kini fenomena  buble economic tetap saja berpotensi timbul sewaktu-waktu. 
Mendorong Pada Penguasaan Alam
            Hampir lima dekade sudah pelopor gerakan lingkungan modern, Rachel Carson tiada.[23] Sejak saat itu berbagai gerakan dengan orientasi lingkungan kian berkembang hingga kini. Begitu juga, lambat-laun perhatian yang besar terhadap lingkungan tak hanya ditunjukkan oleh para ahli ilmu alam melainkan pula oleh para pakar ilmu sosial semisal Anthony Giddens. Bagaimanapun juga apabila peninjauan ulang kita lakukan dalam hal ini maka akan ditemui bahwa konsep penguasaan alam seperti apa yang telah diungkapkan Koentjaraningrat mengalami pergeseran asumsi. Modernitas yang awalnya begitu menumbuhkan perasaan optimis bagi masa depan umat manusia, faktual mengalami dekonstruksi hebat oleh para teoretisi frankfurt maupun postmodern.
            Dalam mengkaji hal ini, harus diakui memang, posisi Giddens yang masih tampak samar sebagai teoretisi modern ataukah postmodern, namun demikian Giddens telah memberikan sumbangan yang berharga atas pemikirannya mengenai “runaway world”. Bagi Giddens term “runaway world” cukup mendeskripsikan keadaan dunia dewasa ini, dunia yang telah jauh berlari melampaui batas-batas yang ada, bahkan melampaui nilai-nilai transendensi, keadaan yang demikian diibaratkan sebuah “juggernaut” yang berlari kencang tanpa arah dan dapat pecah berkeping-keping tanpa diduga-duga.[24]   
            Secara konkret, apa yang dimaksudkan Giddens dengan “melampaui batas-batas yang ada” menunjukkan bagaimana tatanan ekonomi global dewasa ini dibangun atas dasar hasrat “libidinal” manusia. Dalam hal ini kita melihat berbagai macam ekploitasi alam skala besar yang dilakukan manusia demi akumulasi modal. Secara singkat, berbagai tindakan tersebut justru menghantarkan manusia pada “ketidakpastian hidup” atau kondisi “high risk”. Pada tataran ini Giddens mempertanyakan kembali “kepastian” yang dibawa proyek pencerahan Eropa abad 15-18 yang faktual menuai ketidakpastian hidup bagi umat manusia kemudian. Beberapa contoh dari “high risk” tersebut antara lain kemungkinan punahnya manusia sewaktu-waktu akibat kian menipisnya lapisan ozon, adanya pemimpin “gila” yang menekan tombol senjata nuklir secara tiba-tiba dan mengakibatkan “totally nuclear war”, serta berbagai pestisida buatan manusia yang malahan memunculkan bentuk-bentuk mutasi hama yang kian ”canggih” dan kejam serta berpotensi menghancurkan kestabilan pangan dunia dalam skala luas.[25]  
            Dengan demikian, sedikit uraian di atas menjelaskan pada kita bahwa penguasaan atas alam seperti apa yang diungkapkan Koentjaraningrat mustahil dilakukan. Relevansi konsep pembangunan yang berkembang dewasa ini ialah upaya pencarian keselarasan atas alam melalui pergeseran paradigma bahwa revitalisasi sumber daya alam bukannya mengurangi pendapatan melainkan meningkatkan pendapatan.[26]   
Kesimpulan & Penutup
            Melalui berbagai uraian singkat yang telah dijabarkan di atas maka penelusuran secara mendalam dan seksama kita atas buah karya Prof. Dr. Koentjaraningrat, “Rintangan-Rintangan Mental Dalam Pembangunan Ekonomi di Indonesia” menunjukkan baik beberapa aspek pemikiran orisinil beliau yang tetap relevan di era kontemporer maupun beberapa di antaranya yang telah mengalami berbagai pergeseran asumsi dan postulat. Beberapa pemikiran beliau yang kiranya tetap relevan di era kontemporer adalah buah pemikiran orientalis sebagai kerangka non-Acuan, gugatannya atas dikotomi Barat dan Timur serta anjuran mengesampingkan beberapa budaya tradisional seperti sabar, ikhlas, nrimo dan tuntutan untuk tidak menonjol dalam masyarakat yang dianggapnya menghambat pembangunan, sedangkan rangkaian pemikiran Prof. Koen yang kiranya telah mengalami pergeseran asumsi dan postulat akibat perkembangan zaman semisal kurangnya perhatian pada aspek ekonomi internasional, fenomena ekonomi kontemporer berupa buble economic ‘gelembung ekonomi’, serta motivasi guna menguasai alam.
Dengan demikian, tampaklah jelas bagi kita beberapa koridor pemikiran salah seorang “begawan” Indonesia satu ini yang tetap saja patut menjadi acuan para pakar ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Di satu sisi, cukuplah bijak bagi kita untuk “mengawinkan” kiranya beberapa pemikiran Koen yang tetap relevan di era kontemporer dengan beberapa asumsi dan postulat baru yang telah mengalami pergeseran dari pemikiran yang telah ada sebelumnya, hal ini bukannya tanpa alasan sama sekali melainkan sebagai upaya guna mencapai konsep pembangunan yang sesuai dengan kepribadian dan keunikan karakter bangsa Indonesia, begitu juga, sebagai usaha mewujudkan dinamika pembangunan bangsa yang sesuai dengan  relevansi konsep-konsep pembangunan di era kontemporer dan global.  




Daftar Pustaka
Buku
§  Koentjaraningrat. 2002. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
§  Koentjaraningrat. 1969. Rintangan-Rintangan Mental Dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia. Jakarta: Bhratara.  
§  Giddens, Anthony. 1999. The Third Way. Jakarta: Gramedia.
§  Waseso, Mulyadi Guntur. 1986. Dimensi-Dimensi Psikologi Sosial. Yogyakarta:  Hanindita.
§  Clements, Kevin P. 1997. Teori-Teori Pembangunan Dari Kiri ke Kanan. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar.
§  Sukirno, Sadono. 1978. Ekonomi Pembangunan. Bima Grafika.
§  Adi, M. Ramdhan. 2005. Globalisasi Skenario Mutakhir Kapitalisme. Bogor: Al-Azhar Press.
§  Ritzer, George-Goodman, Douglas J. 2006. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
Materi yang tidak diterbitkan
§  Arie Sudjito, “Negara, Masyarakat dan Tantangan Globalisasi”, Bahan Kuliah, FISIPOL UGM Yogyakarta.
§  Arie Sudjito, “Pembangunan dan Keterbelakangan: Review Perspektif”, Bahan Kuliah, FISIPOL UGM Yogyakarta.
§  Arie Sudjito, “Revolusi Hijau: Sebuah Tinjauan Historis-Kritis Gerakan Lingkungan Hidup di Amerika Serikat”, Bahan Kuliah, FISIPOL UGM Yogyakarta.
§  Suharman-Suharko,”Poverty Reduction Global and Local Perspective”, Bahan Kuliah, FISIPOL UGM Yogyakarta.
§  Suharman-Suharko,”Budaya Kemiskinan”, Bahan Kuliah, FISIPOL UGM Yogyakarta.





[1] Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002.
[2] Koentjaraningrat, Rintangan-Rintangan Mental Dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia, Bhratara, Jakarta, 1969, h. 5.
[3] Ibid., h. 10-11.
[4] Arie Sudjito, “Negara, Masyarakat dan Tantangan Globalisasi”, Bahan Kuliah, FISIPOL UGM Yogyakarta. H. 3.
[5] Koentjaraningrat, Rintangan-Rintangan Mental Dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia, h. 25.
[6] Ibid., h. 31-33. 
[7] Ibid., h. 10-12.
[8] Ibid., h. 12-14.
[9] Ibid., h. 35 & 41. 
[10] Ibid., h. 30-31.
[11] Anthony Giddens, The Third Way, Gramedia, Jakarta, 1999, h. 16 & 22. Konsep green capitalism ‘kapitalisme berwawasan lingkungan’ mengandaikan bahwa perlindungan lingkungan dilihat sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, bukan sebaliknya.  
[12] Koentjaraningrat, Rintangan-Rintangan Mental Dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia, h. 37.
[13] Ibid., h. 46.
[14] Ibid., h. 58. Sebagai pelengkap baca Mulyadi Guntur Waseso, Dimensi-Dimensi Psikologi Sosial, Hanindita, Yogyakarta, 1986, h. 221-238.
[15] Kevin P. Clements, Teori-Teori Pembangunan Dari Kiri ke Kanan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1997, h. 1 & 40 serta Suharman-Suharko,”Poverty Reduction Global and Local Perspective”, Bahan Kuliah, FISIPOL UGM Yogyakarta.
[16] Loc. cit.
[17] Kevin P. Clements, op. cit., h. 1.
[18] Konsep pembangunan sosialis ultra-Radikal menghendaki pembangunan ekonomi suatu negara yang terlepas dari sistem kapitalis dunia secara penuh, program ini umumnya diikuti pula dengan revolusi sosial dan ekonomi internal untuk perampasan dan nasionalisasi tanah serta modal (Ibid., h. 86-87).
[19] Arie Sudjito, “Pembangunan dan Keterbelakangan: Review Perspektif”, Bahan Kuliah, FISIPOL UGM Yogyakarta.
[20] Suharman-Suharko,”Budaya Kemiskinan”, Bahan Kuliah, FISIPOL UGM Yogyakarta.
[21] Mikroekonomi memusatkan perhatiannya pada unsur-unsur terkecil dalam kegiatan perekonomian semisal kegiatan pembeli dan penjual dalam suatu pasar, dengan kata lain dapat pula dikatakan penelaahan pada bagian-bagian kecil dari keseluruhan kegiatan ekonomi. Sebaliknya dengan mikroekonomi, makroekonomi merupakan pengembangan berbagai teori ekonomi yang lebih mencerminkan kenyataan corak ekonomi masyarakat dan memiliki cakupan yang lebih luas ketimbang mikroekonomi. Selengkapnya baca Sadono Sukirno, Ekonomi Pembangunan, Bima Grafika, 1978, h. 248-254. 
[22] M. Ramdhan Adi, Globalisasi Skenario Mutakhir Kapitalisme, Al-Azhar Press, Bogor, 2005, h. 70.
[23] Arie Sudjito, “Revolusi Hijau: Sebuah Tinjauan Historis-Kritis Gerakan Lingkungan Hidup di Amerika Serikat”, Bahan Kuliah, FISIPOL UGM Yogyakarta.
[24] George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Kencana, Jakarta, 2006, h. 552-553 & Anthony Giddens, op. cit., h. x.
[25] Ibid., h. xi.
[26] Ibid., h. 22.  

2 komentar:

ivanlanin mengatakan...

Wah, terima kasih. Tinjauan kritis ini sangat bagus dan memberi sudut pandang lain terhadap tulisan klasik Prof. Koentjaraningrat.

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

Terima kasih banyak Bung Ivanlanin, semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua. Salam hangat dari kota pelajar.

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger