"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Rabu, 08 Oktober 2014

Pejalan Hati

Pejalan Hati
 
wahyu budi nugroho

Bolehkah aku berjalan-jalan di hatimu?
Berjalan dan terus berjalan
Kan kuhayati tiap langkah di dinding-dinding hatimu
Tak kuperlukan peta, karena memang inginku tersesat di rimba rasamu
Tak perlu risau, tak cuma manis dan wangimu yang siap kukecup,
tapi juga pahit dan racunmu, asal di hatimu
Kini, tak perlu lagi kau sembunyikan bilik-bilik

Bolehkah aku berjalan di hatimu?
Lewat perjalanan, hendak kukenal lebih jauh
Tak kupakai tongkat tuk memudahkan langkah,
meski dinding hatimu begitu licin,
ku berjalan dengan kaki-kaki telanjang,
tak mau melukaimu.

Bolehkah aku?

Senin, 06 Oktober 2014

SOCIOLOGY INTERNATIONAL PEACE SYMPOSIUM

Sociology Research Center & Humanity First, Proudly Present.
INTERNATIONAL PEACE SYMPOSIUM
"Discourses and Practices of Multiculturalism and Peace in Indonesia”

University Club Hall
Wednesday, October 8th 2014
FREE ENTRY | LUNCH | CERTIFICATE

Further Information 
Ade (087 838 226 930)

For Registration
Mustika (085 669 903 899)
Format : NAME # INSTITUTION # PHONE NUMBER # REGISTER

Don't miss it !!!

Selasa, 09 September 2014

PSYCHO (18+)

PSYCHO (18+)


Wahyu BN

Emosiku tak tertahankan lagi, kuambil parang yang menyandar di sudut tembok dekat kursi. Haris tampak terperangah, tapi waktunya benar-benar habis kali ini, ajalnya kan’ segera tiba. Aku berlari keluar memutari halaman tuk menujunya. Seketika ia tersadar dan buru-buru masuk rumah. Saat ia hendak menutup daun pintu, dengan sigap kutendangnya. “Gubrak!”, Haris jatuh menimpa meja-kursi ruang tamunya. Istrinya tampak terkaget-kaget melihatku dari dalam agak kejauhan.

Tak mau bertele-tele, karena memang murkaku padanya selama ini tak tertahankan lagi; kuhunuskan mata parangku tepat di jantungnya, masuk sekitar 10 hingga 15 senti mengakrabi tubuhnya. Darah Haris yang kehitam-hitaman pun muncrat, bukti kalau hatinya memang hitam legam, dan betapa ia pantas untuk mati.

“Pembunuh! Pembunuh!!!” istri Haris meneriakiku, juga agar orang-orang di luar mendengarnya. Aku segera berlari menujunya, tanpa pikir panjang, kulayangkan parang tuk membelah kepalanya. Sayangnya, parangku sekedar menancap di dahi istri Haris yang lumayan cantik itu, membuka kepalanya dengan tanggung. Ini semata-mata kulakukan hanya untuk membungkamnya. “Salah sendiri pakai teriak-teriak segala!”, ucapku sambil melihatnya meregang.

Bebarengan dengan ambruknya istri Haris yang lumayan cantik itu, kudengar isak tangis dari kamar gelap. Masha-Allah! Itu anak Haris yang masih usia SD. Apa aku juga harus menghabisinya? Tapi, dia kan tak bersalah? Oh noes![1]

Tapi, kalau ia tak kuhabisi, orang-orang bakal tahu kalau aku pelakunya; lagian dia dulu juga pernah menghinaku, ikut-ikutan bapaknya, mengataiku sinting. Berarti ia juga bersalah. Okelah kalau begitu!

Kudatangi anak itu, ketakutan akut tampak meraut di wajahnya, ketakutan paling ekstrem yang pernah dideranya. Ia tak punya siapa-siapa lagi, tak ada ayah-ibu tuk berlindung, dan kini, nasibnya di tanganku, kecuali kalau anak ini memegang pistol, tentu, nasibku lah yang di tangannya.

“Sini Nak, sini. Jangan takut sama om. Sini anak manis, om takkan melukaimu…”. Aku tak berbohong, kan kucari cara tercepat tuk membinasakannya, hingga tak secuil pun sakit dirasanya, ya paling-paling cuma seperti digigit tengu; selayaknya dusta para orangtua pada anak lelakinya sewaktu sunatan.

Aku tak boleh berlama-lama, tiba waktuku tuk menyempurnakan kejahatan. Kupegang kepala anak itu, kutundukkan sedikit, ia masih saja terisak. “Ssssh, tenang Nak, tenang. Jangan menangis, ssssh,”. Parangku menjulang, mengetahui pasti tempatnya mendarat: leher anak itu. Dan, dengan sekejap tebasan, kepala anak itu jatuh menggelinding seperti bola kecil yang biasa digunakan anak-anak kampung sini bermain saban sore.

Tugasku belum rampung, aku bertanggung jawab penuh atas nasib tiga mayat yang menggeletak tak tentu tempat ini, juga kebersihan rumah mereka, hehe. Satu per satu mereka kuseret ke kebun belakang, kulumuri bensin, dan kusulut dengan korek yang kutemu di meja makan. Mereka sirna mengabu dengan benda-bendanya sendiri. Nyaring suara adzan Magrib yang berkumandang dari langgar terdekat seolah menghantar kepergian mereka menjumpa Tuhannya. Oh, romantis nian momen ini, satu keluarga terbang menuju surga…, mahasuci Engkau ya Tuhan…





[1] “Oh no!” dalam bahasa Perancis.

Senin, 01 September 2014

Burung (18+): Sastra Selangkangan

Burung (18+): Sastra Selangkangan


Wahyu BN

“Eh, ntar lah Rung, kau nih!” kumarahi dia. Tak apa, aku galak dikit, meski dikatanya; sudah sejak tadi-tadi ditahannya.

Nanti, nanti, tanggung nih! Kurang dua paragraf. Hormat dikitlah ma tuanmu, toh kemarin juga udah kuservis! Eh, awas kau ya kalau buat aku kecirit-pirit. Tuh kan, nakal kan; eh jangan dong, tanggung nih. Asem kon!

Nah gitu dong, aku minum dulu ya, ini kopi enak banget, asli Toraja, dari kampung Kalosi. Pelan-pelan aja ya, hu’umh, sante. Kamu slow aja, aku masukin dikit kok. Tahan napas, bentar, cuma ketambahan dikit kok. Heh, apa? Udah nggak nahan?! Sabar dong, sabar; orang sabar disayang Tuhan, katanya. Entah kata siapa ya? Filsuf ? Kayaknya bukan deh, masa kamu mau percaya filsuf, Rung? Janganlah, percaya ma Jonru aja, itu menghibur, buat kita yang lagi galau.

Aku mimik dulu ya. Tuh kan, ga’ papa kan? Asal bisa cool-calm-confident, semua baik-baik aja, Rung. Percaya kan ma akuwh?. Lho, mana nih kalimat-kalimatku? Gara-gara kamu sih, aku jadi nggak ngetik-ngetik, sampai mbacot ke filsafat segala. Oke, bentar ya Rung, kau tahan dulu, aku rampungin ketikanku.

Eh Rung, serius nih, baru sekalimat! Masa separagraf cuma sekalimat? Ntar aku keliatan goblok bingits. Kita kompromi lah ya, kayak omongannya Habermas itu lho. Hah, apa? Habermas kok nggak mati-mati? Hush, ngawur kau Rung! Dia itu orang gede, jauh lebih gede dari aku sama kamu. Hah, ngga peduli? Yawis, mbuhlah Rung, sakarepmu. Kamu jangan ajak aku ngobrol terus dong, nggak jadi-jadi nih tulisanku. Hah? Udah keluar?! DJANCOK!


Jogja, 02.09.14

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger