"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Selasa, 09 September 2014

PSYCHO (18+)

PSYCHO (18+)


Wahyu BN

Emosiku tak tertahankan lagi, kuambil parang yang menyandar di sudut tembok dekat kursi. Haris tampak terperangah, tapi waktunya benar-benar habis kali ini, ajalnya kan’ segera tiba. Aku berlari keluar memutari halaman tuk menujunya. Seketika ia tersadar dan buru-buru masuk rumah. Saat ia hendak menutup daun pintu, dengan sigap kutendangnya. “Gubrak!”, Haris jatuh menimpa meja-kursi ruang tamunya. Istrinya tampak terkaget-kaget melihatku dari dalam agak kejauhan.

Tak mau bertele-tele, karena memang murkaku padanya selama ini tak tertahankan lagi; kuhunuskan mata parangku tepat di jantungnya, masuk sekitar 10 hingga 15 senti mengakrabi tubuhnya. Darah Haris yang kehitam-hitaman pun muncrat, bukti kalau hatinya memang hitam legam, dan betapa ia pantas untuk mati.

“Pembunuh! Pembunuh!!!” istri Haris meneriakiku, juga agar orang-orang di luar mendengarnya. Aku segera berlari menujunya, tanpa pikir panjang, kulayangkan parang tuk membelah kepalanya. Sayangnya, parangku sekedar menancap di dahi istri Haris yang lumayan cantik itu, membuka kepalanya dengan tanggung. Ini semata-mata kulakukan hanya untuk membungkamnya. “Salah sendiri pakai teriak-teriak segala!”, ucapku sambil melihatnya meregang.

Bebarengan dengan ambruknya istri Haris yang lumayan cantik itu, kudengar isak tangis dari kamar gelap. Masha-Allah! Itu anak Haris yang masih usia SD. Apa aku juga harus menghabisinya? Tapi, dia kan tak bersalah? Oh noes![1]

Tapi, kalau ia tak kuhabisi, orang-orang bakal tahu kalau aku pelakunya; lagian dia dulu juga pernah menghinaku, ikut-ikutan bapaknya, mengataiku sinting. Berarti ia juga bersalah. Okelah kalau begitu!

Kudatangi anak itu, ketakutan akut tampak meraut di wajahnya, ketakutan paling ekstrem yang pernah dideranya. Ia tak punya siapa-siapa lagi, tak ada ayah-ibu tuk berlindung, dan kini, nasibnya di tanganku, kecuali kalau anak ini memegang pistol, tentu, nasibku lah yang di tangannya.

“Sini Nak, sini. Jangan takut sama om. Sini anak manis, om takkan melukaimu…”. Aku tak berbohong, kan kucari cara tercepat tuk membinasakannya, hingga tak secuil pun sakit dirasanya, ya paling-paling cuma seperti digigit tengu; selayaknya dusta para orangtua pada anak lelakinya sewaktu sunatan.

Aku tak boleh berlama-lama, tiba waktuku tuk menyempurnakan kejahatan. Kupegang kepala anak itu, kutundukkan sedikit, ia masih saja terisak. “Ssssh, tenang Nak, tenang. Jangan menangis, ssssh,”. Parangku menjulang, mengetahui pasti tempatnya mendarat: leher anak itu. Dan, dengan sekejap tebasan, kepala anak itu jatuh menggelinding seperti bola kecil yang biasa digunakan anak-anak kampung sini bermain saban sore.

Tugasku belum rampung, aku bertanggung jawab penuh atas nasib tiga mayat yang menggeletak tak tentu tempat ini, juga kebersihan rumah mereka, hehe. Satu per satu mereka kuseret ke kebun belakang, kulumuri bensin, dan kusulut dengan korek yang kutemu di meja makan. Mereka sirna mengabu dengan benda-bendanya sendiri. Nyaring suara adzan Magrib yang berkumandang dari langgar terdekat seolah menghantar kepergian mereka menjumpa Tuhannya. Oh, romantis nian momen ini, satu keluarga terbang menuju surga…, mahasuci Engkau ya Tuhan…





[1] “Oh no!” dalam bahasa Perancis.

Senin, 01 September 2014

Burung (18+): Sastra Selangkangan

Burung (18+): Sastra Selangkangan


Wahyu BN

“Eh, ntar lah Rung, kau nih!” kumarahi dia. Tak apa, aku galak dikit, meski dikatanya; sudah sejak tadi-tadi ditahannya.

Nanti, nanti, tanggung nih! Kurang dua paragraf. Hormat dikitlah ma tuanmu, toh kemarin juga udah kuservis! Eh, awas kau ya kalau buat aku kecirit-pirit. Tuh kan, nakal kan; eh jangan dong, tanggung nih. Asem kon!

Nah gitu dong, aku minum dulu ya, ini kopi enak banget, asli Toraja, dari kampung Kalosi. Pelan-pelan aja ya, hu’umh, sante. Kamu slow aja, aku masukin dikit kok. Tahan napas, bentar, cuma ketambahan dikit kok. Heh, apa? Udah nggak nahan?! Sabar dong, sabar; orang sabar disayang Tuhan, katanya. Entah kata siapa ya? Filsuf ? Kayaknya bukan deh, masa kamu mau percaya filsuf, Rung? Janganlah, percaya ma Jonru aja, itu menghibur, buat kita yang lagi galau.

Aku mimik dulu ya. Tuh kan, ga’ papa kan? Asal bisa cool-calm-confident, semua baik-baik aja, Rung. Percaya kan ma akuwh?. Lho, mana nih kalimat-kalimatku? Gara-gara kamu sih, aku jadi nggak ngetik-ngetik, sampai mbacot ke filsafat segala. Oke, bentar ya Rung, kau tahan dulu, aku rampungin ketikanku.

Eh Rung, serius nih, baru sekalimat! Masa separagraf cuma sekalimat? Ntar aku keliatan goblok bingits. Kita kompromi lah ya, kayak omongannya Habermas itu lho. Hah, apa? Habermas kok nggak mati-mati? Hush, ngawur kau Rung! Dia itu orang gede, jauh lebih gede dari aku sama kamu. Hah, ngga peduli? Yawis, mbuhlah Rung, sakarepmu. Kamu jangan ajak aku ngobrol terus dong, nggak jadi-jadi nih tulisanku. Hah? Udah keluar?! DJANCOK!


Jogja, 02.09.14

Minggu, 10 Agustus 2014

Andy Warhol dan Eksentrisme Budaya Pop

Andy Warhol dan Eksentrisme Budaya Pop
Wahyu | Budi | Nugroho


“Dalam lima belas menit, semua orang akan terkenal.”
[Andy Warhol]

Seni yang tak elit, ini kurang-lebih yang kutangkap dari karya-karya si Warhol. Bagaimana jika, seni ada dimanapun, dan bisa diakses siapapun. “Akses” di sini tak berarti membeli, cukup orang mampu berkomentar tentangnya, maka ia punya akses atasnya; lebih bagus lagi jika bisa menyaksikannya secara langsung. Kita tak mau muluk-muluk bicara seni tinggi seperti Madonna of The Rocks-nya Raphael. Tuh kan, salah! Madonna of The Rocks karya da Vinci!. Eh, apa beda gurat lukis antara da Vinci, Raphael, dan Michaelangelo? Aku sendiri tak tahu; judul masing-masing karya mereka saja kerap tertukar, apalagi berkomentar [?]. Ini beda kala kulihat gambar sablon warna-warni yang begitu mencolok nan cukup kontras, “Warholisme!”, setidaknya, itu yang bisa kuteriakkan, tak peduli cover album Hot Space superband Queen awal tahun 80-an dikreasi oleh Warhol ataukah tidak, tapi jelas, itu warholisme.


Warhol memang dikenal mpunya budaya pop, itu tersemat sejak dekade 50-an. Ia mengangkat hal-hal remeh dalam karyanya, bagaimana botol kosong Coca-cola yang biasa kita temui di keseharian menjadi citra yang menyenangkan, unik-eksentrik, lagi menyita perhatian. Andy Warhol memang kurang ajar, ia seperti mengolok-olok publik, melecehkan dimensi estetis mereka, juga persepsi khalayak luas tentang bagaimana sebuah karya seni harusnya dibuat; tak ada lagi keagungan dan kemurnian, pun proses yang berlama-lama. Baginya, karena dunia telah berputar demikian cepatnya, maka segala sesuatunya sarat serba ringkas dan instan. Apresiasi tak butuh waktu lama, cukup mengerti, tahu, dan tersenyum; selesai. Bukankah memang itu tujuan dari seni?. Dalam konteks ini, “ekspose karya” menjadi urgen, persetan walau hanya 1-2 menit, yang terpenting telah ada manusia yang melihatnya, pun walau hanya 1-2 orang. Mengapa? Karena sebuah karya ibarat makhluk dan bukan Tuhan yang mampu berdiri sendiri; hanya publik-lah (baca: manusia lain) yang dapat “meresmikan” lahirnya sebuah karya. Dengan begitu, “pengumuman karya kepada dunia” menjadi tak kalah penting, kecepatan dan kemasifannya inilah yang kemudian menjadikannya BUDAYA POP; pop, populer secara sekejap.

[Budaya pop]
Tentu, di sini kita hendak mengesampingkan asketisme dalam berkarya, bahkan menginjaknya!. Warhol membuat kita berpikir bahwa penulis atau pelukis yang dengan alim lagi rendah hati menyimpan secara rahasia karya-karyanya hingga menunggu ditemukan orang lain dan mendunia; menjadi sangat konyol. Dalam dunia serba chaos sebagaimana ter-representasi lewat lukisan-lukisan impresionisme Pollock yang hidup sezaman dengan Warhol, eksistensi menjadi penting, eksistensi nantinya menjadi simbol, dan simbol inilah yang kemudian menjadi sarana dialog antarmanusia lintas bangsa, budaya, dan bahasa. Lewat “keberadaan” itulah pikir Warhol, dunia bakal mengetahui semarak keberagamannya, dengan demikian, dunia bakal lebih siap dan toleran menerima perbedaan. Bisa jadi, seni Warhol dikata sebagai “pemerkosaan visual” lewat sudut pandang baudrillardian karena kesannya yang terburu-buru dan terlampau cepat; timbul dan tenggelam begitu saja.

Lebih jauh, hal di atas dapat dimisalkan lewat salah satu episode kartun SpongeBob, di mana SpongeBob dijauhi orang-orang karena nafasnya sangat bau—sedang ia menyangka karena buruk rupa, kemudian Patrick mempertontonkan SpongeBob kemanapun sembari berteriak, “Lihat…! Dia memang jelek!”. Apa yang diniatkan Patrick sesungguhnya sangat baik, agar orang-orang “tak kaget” dengan kejelekan SpongeBob bila suatu kali bertemu. Perkara yang dipikirkan Patrick adalah “menyegerakan tragedi”, lewat penyegeraan itu diharap proses (waktu) adaptasi dan penerimaan publik kian terpangkas, seperti inilah seni Warhol!.

[Manusia-manusia ikonik]
Terlepas dari persoalan katarsis, budaya pop Warhol berhasil menciptakan manusia-manusia ikonik. Seperti ungkapnya, kelak semua orang bakal terkenal dalam lima belas menit, agaknya saat inilah era yang dimaksudkan Warhol. Menjadi manusia ikonik bukanlah aib, sebagaimana karya pop, manusia ikonik atau manusia-manusia pop menyerua dan menampakkan diri di hadapan dunia; untuk diketahui, untuk dikenal, tanpa perlu direspon atau diagungkan; begitu pula, tak peduli walau hanya disaksikan segelintir orang, semuanya sudah cukup. karena ia mesti buru-buru raib. Dari sini, kita dapat balik mempertanyakan kritik-kritik tajam yang dilayangkan pada budaya pop selama ini, bahwa nyatanya, dimensi kesesaatan dan keinstanan dalam seni pop memuat dialog yang sangat padat, juga efisiensinya dalam menjamah publik luas. Apa jadinya jika idealisme estetik masyarakat Italia mensaratkan lukisan asli Monalisa diusung kesana-kemari tuk diperkenalkan (baca: berdialog) pada dunia, tentu menjadi sangat tak efisien, oleh karenanya, ia perlu direproduksi dahulu, hasil dari reproduksi tersebutlah yang kemudian menjadi budaya pop. Kita bisa saja mencuplik kritik Walter Benjamin atas reproduksi tersebut, namun ini akan seperti mahasiswa kedokteran yang ribut mempertanyakan legalitas prakteknya, sedang orang sekarat di hadapan segera membutuhkan pertolongan!

Andy Warhol tak bersalah, yang berdosa para penirunya.


Kamis, 07 Agustus 2014

Penulis tanpa Pena

Penulis tanpa Pena

Wahyu Budi Nugroho

Penulis. Tanpa disadari terminus tersebut telah mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Mungkin, di era de Sade dan Defoe, penulis benar-benar mereka yang menulis dengan penanya. Namun tatkala beberapa abad kemudian kita masuki era Sartre, Hemingway, atau Carson; penulis tak lagi menulis dengan pena, melainkan mesin tik. Tentu, kita masih ingat potret apik Hemingway yang tengah mengetik sambil berdiri, potret itu seolah menjadikan mesin tik identitas utama para penulis di eranya, tak lagi pena. Kini, tak lagi pena atau mesin tik, tetapi laptop. Rowling, Brown, dan Meyer dengan piawai memainkan jemarinya di permukaan keyboard, merangkai acak huruf menjadi kata, memintal kata menjadi kalimat yang menyihir, dan seterusnya. Masihkah mereka menjadi, atau…, disebut sebagai seorang penulis?.

Kita luput dari permainan kata yang memiliki dunianya sendiri, hukum-hukumnya sendiri. Nyatanya, tajam nalar manusia silap oleh perdaya bahasa yang bermain sangat halus. Bahasa menjadi lebih politis ketimbang manusia, bahkan dari politik itu sendiri. Senyap tapi pasti, bahasa menjadi satu instrumen yang mampu terus bercokol dan langgeng dari perubahan-perubahan di luar sana. Tak peduli mesin tik telah ditemukan atau laptop telah diciptakan; mereka yang merangkai cerita melaluinya ajeg dikatai penulis, bukan pengetik. Jika mereka benar-benar penulis, kita pun berhak bertanya, “Eh, dimana pena dan kertasmu?”. Sayangnya, mereka tak lagi menjadi seorang penulis, melainkan PENGARANG.

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger