"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Jumat, 21 Agustus 2015

ALIENASI

ALIENASI*


Wahyu Budi Nugroho

“Homo sum; humani nil a me alienium puto.”
[“Aku manusia; tak ada manusia lain yang asing bagiku.”]
(Publius Terentius Afer)

Istilah Alienasi
Jika Socrates dan Plato berkata bahwa filsafat bermula dari kekaguman dan keheranan, maka dapatlah dikata pula jika filsafat berasal dari alienasi. Kekaguman atas obyek lain, manusia lain, atau pada diri sendiri; bisa jadi tentang bagaimana tubuh bekerja; secara tidak langsung menimbulkan jarak antara diri dengan yang lain atau pada diri sendiri, dan ini merupakan bentuk keterasingan. Dalam ranah kebahasaan kita, kata “alien” telah menjadi prokem yang biasa digunakan dalam keseharian. Alien berarti “asing”, dan kata ini biasanya diasosiakan dengan “makhluk asing” yang berasal dari planet lain, dunia antah-berantah sana; yang melakukan penjelajahan luar angkasa dengan UFO (Unidentified Flying Object), dan turun ke bumi dengan seberkas cahaya sorot layaknya Mr. Bean. Dalam ranah kebahasaan lain, istilah alienasi kerap pula disandingkan—atau dikaitkan—dengan kata entfremdung, verfremdung, verfremdungseffekt (v-effekt), entausserung, atau yang lebih lekat dengan tata kebahasaan kita: alienum yang berasal dari bahasa Latin. Adalah F.W Hegel sebagai sosok paling berjasa yang memperkenalkan berikut mempopulerkan terminus alienasi dalam ranah filsafat. Tanpanya, alienasi takkan menjadi arus pengkajian penting dan tersendiri dalam filsafat—seperti istilah “denyut” yang diperkenalkan Baruch de Spinoza berabad-abad silam yang kini menjadi tema penting dalam pemikiran Mahzab Autonomia besutan Antonio Negri dan Michael Hardt (penulis Das Kapital abad 20). Dalam kamus filsafat Hegel, istilah alienasi sendiri sesungguhnya sama pentingnya dengan istilah “dialektika”; ihwal yang urung begitu disadari banyak pihak.

“Peristiwa” Alienasi
Sebagai sebuah fenomena yang tertuliskan—bukan istilah—alienasi telah muncul dalam kesadaran Heraclitus: “Saya mencari diri sendiri”, ucapnya. Begitu pula, karya filsafat kanon The Republic dari Plato yang ditengarai lahir dari keterasingan penulisnya; yakni keterasingan Plato dari tata moral dan politik Yunani kala itu sehingga ia menuliskan ide-ide tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan sebuah negara (polis/negara-kota). Tampaknya, refleksi Plato menghantarnya pada konsep alienasi terdini manusia: “Raga atau tubuh (soma) adalah kuburan jiwa (sema). Jiwa terkubur dalam raga, oleh karenanya, hidup adalah keterasingan panjang”, kurang-lebih ucapnya. Sebentuk pernyataan bahwa sebelum manusia hadir ke dunia dan terasing oleh konstelasi masyarakatnya, ia terlebih dahulu terasing dari tubuhnya. Pernyataan apik serupa juga hadir dari filsuf eksistensialis asal Denmark kemudian, Soren Aebey Kierkegaard: “Aku menempelkan jariku pada eksistensiku—tak ada baunya. Dimanakah aku? Benda apa yang dinamakan dunia ini? Siapa yang memancingku pada benda ini, dan meninggalkanku di sini? Siapakah aku? Bagaimana aku bisa berada di dunia? Mengapa tak dibicarakan dulu denganku?”.

Setelahnya, terma seputar alienasi memang akrab dalam pengkajian eksistensialisme serta marxisme—tak ada arus pemikiran lain yang paling serius mengangkat tema alienasi selain keduanya. Dalam marxisme, sudah tentu Hegel memberi pengaruh yang sangat kuat pada Marx. Istilah alienasi dipinjam Marx sebagaimana dirinya meminjam dan merekonstruksi konsep dialektika dari Hegel (tesis-antitesis-sintesis). Sementara, Hegel pun menelurkan konsep alienasi lewat pembacaan seksamanya atas Plato. Jika Hegel mendaulat alienasi sebagai “ide-ide yang belum terwujud atau belum termanifestasi sebagaimana mestinya”—ingat diktum Hegel: ide yang berkembang dalam ruang adalah alam; ide yang berkembang dalam waktu adalah sejarah—maka, Marx menjadikannya konkret lewat penegasan bahwa alienasi merupakan “kejadian nyata” yang dialami manusia, dan sepenuhnya berproses di alam materi(al), bukannya alam idea(l) bercampur material seperti diungkapkan Hegel. Pemikiran Hegel masih begitu lekat dengan konsep forma Plato, bahwa suatu “produk” baik sebagai barang ataupun apa pun; selalu menemui wujudnya sebagai penjelmaan sekunder dari produk asli yang paripurna (sempurna)—sementara yang sempurna itu hanya ada di alam ide, dan manusia selalu berusaha mewujudkannya meski itu tak mungkin; inilah alienasi yang dimaksudkan Hegel.

Alienasi dalam Marxisme
Marx—Marx Muda terutama—memandang alienasi sebagai kondisi riil yang dihadapi sekaligus “tak dimaui” manusia, sebentuk kejadian yang tak diharapkan namun sarat diterima. Marx mendaulat alienasi terbesar (umat) manusia terjadi pada sekitar abad 14-15, yakni ketika “sekelompok orang kuat” (baca: bangsawan) merenggut tanah-tanah yang dimiliki para petani subsisten dan kemudian menempatkan mereka secara paksa dalam pabrik-pabrik yang diciptakannya. Bagi Marx, saat-saat tersebut menandai alienasi terbesar dalam sejarah umat manusia mengingat untuk pertama kalinya manusia dipisahkan langsung dari alat produksinya. Masa-masa yang diistilahkan Marx sebagai “periode pertumbuhan sejarah dan proses pengambilalihan” ini sekaligus menandai perubahan tata masyarakat sedari primitif menuju feodal-kapitalis dalam konsepsi sosiologis Marx—terutama Marx Tua.

Lebih jauh, penelisikan Marx atas alienasi berlanjut pada kondisi ex-Petani subsisten—sekarang kita menyebutnya “buruh”—dalam pabrik-pabrik yang diciptakan feodal-kapitalis. Setidaknya, Marx mengidentifikasi adanya beberapa gejala alienasi yang didera buruh, antara lain; alienasi buruh di tempat kerja, alienasi buruh dengan sesama buruh, alienasi buruh dengan produk yang dihasilkannya, alienasi buruh terhadap potensi dirinya, serta alienasi beragama pada buruh. Lebih jelasnya, lihat tabel paparan di bawah ini.


Bersambung…

* Sedianya tulisan ini saya persiapkan sebagai tulisan perpisahan dengan kota Jogja, tapi dikarenakan serangkai kesibukan yang tak terhindarkan saat hendak bertolak ke Denpasar; saya pun terpaksa berhutang beberapa subbab pada tulisan ini.

Jogja, 22 Agustus 2015.

Minggu, 16 Agustus 2015

Ribut Logo PKI; Tanda Terdistorsinya Pemahaman Masyarakat?

Ribut Logo PKI; Tanda Terdistorsinya Pemahaman Masyarakat?

(Sumber: indonesiatimes.co.id)
Wahyu Budi Nugroho

“PKI itu ganas, nggak beragama! Sukanya mbunuh! Minumnya darah!”, demikian kurang-lebih ucap ibu penulis saat penulis masih duduk di bangku sekolah dasar. Penulis masih ingat betul, sekejap gambaran PKI bagi penulis yang kala itu masih usia anak menjadi begitu kejam, brutal, dan menyisakan traumatis. Begitu pula, tercetak dalam pikiran penulis bahwa “tidak beragama” merupakan sinonim dari kejahatan, keberingasan, dan hal-hal menakutkan lainnya, intinya, yang baik adalah “beragama”. Tentu, saat itu penulis urung mampu mempertanyakan jika jangan-jangan agamalah yang justru menjadi biang kejahatan dan keberingasan manusia. Namun agaknya, gambaran PKI semasa penulis usia anaklah yang juga telah lama tertanam di alam pikir dan rasa masyarakat Indonesia; apapun itu, asalkan PKI, pasti buruk.

Saat memasuki SMA, penulis yang menjadi seorang soekarnois secara tak langsung turut berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Karl Marx, adalah marhaenisme-nya Soekarno yang pertama kalinya menghantarkan penulis pada ide-ide Kiri, saat itu penulis masih duduk di bangku kelas dua, dan buku tentang (pemikiran) Marx yang pertama kali penulis baca adalah Das Kapital untuk Pemula karya David Smith dan Phil Evans (Resist Book, 2004), buku ini berbentuk komik, dan masih kerap penulis acu saat menulis paper berkenaan dengan ide-ide Kiri di bangku kuliah. Dari situ, penulis mulai berani mempertanyakan; kenapa ide-ide sosialisme ataupun komunisme dianggap kejam? Bukankah isme-isme ini justru berupaya memperjuangkan terbentuknya tata masyarakat yang berkeadilan, dengan slogannya sama rasa, sama rata? Apakah cara yang mereka gunakan salah? Bukankah menjadi wajar ketika revolusi sosial menumpahkan darah? Hanya terdapat dua revolusi di dunia ini yang tak menumpahkan darah; Pertama, Fathu Makkah ‘Pembebasan Mekkah’ oleh Nabi Muhammad, dan Kedua, revolusi kelas menengah Inggris di bawah kepemimpinan Oliver the Cromwell. Selebihnya, setiap revolusi di dunia ini menumpahkan darah; dari Revolusi Industri, Revolusi Islam Iran, bahkan Revolusi Kemerdekaan Indonesia sendiri.

Penulis pun kembali merunut sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang nyatanya tak luput dari andil tokoh-tokoh Kiri (baca: komunis). Sebut saja Alimin dan Darsono yang turut menjadi guru politik Soekarno di Surabaya, lalu Mas Marco Kartodikromo yang menjadi pelopor terbentuknya organisasi wartawan pribumi pertama di tanah air. Meski Mas Marco sekedar lulusan SD, namun tulisan-tulisannya terbukti ampuh menghasut rakyat menentang kolonial Belanda—mungkin juga karena ia lulusan SD sehingga menjadikan tulisan-tulisannya terbaca begitu frontal dan vulgar. Mas Marco pulalah yang menjadi tokoh kunci di balik pemberontakan PKI 1926 yang membuat londo begitu kewalahan, pun membuat dirinya diasingkan ke Boven Digoel-Irian kemudian, hingga wafat akibat malaria di tahun 1935. Banyak pihak terlambat menyadari kala itu betapa pemberontakan PKI 1926 merupakan momen penting pembaharuan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlawanan fisik terhadap penjajah, meski hal serupa telah dilakukan oleh Imam Bonjol, Diponegoro, ataupun Pattimura, namun “penyegaran kembali” selalu perlu dilakukan mengingat generasi terus berganti.

Apakah Marco Kartodikromo seorang atheis? Tidak. “Hidup Medan Moeslimin! Hiduplah kaum Muslim sedunia!”, tulis Mas Marco.

Barangkali, ini pula kesalahpahaman yang telah lama dan luas menjangkiti masyarakat Indonesia; komunis adalah atheis, atau dengan kata lain, jika seseorang menjadi anggota PKI, maka otomatis ia menjadi atheis. Memang, isu seputar “theistik” maupun “atheistik” masih menjadi ihwal sensitif bagi masyarakat Indonesia yang penduduknya sangat alim lagi religius. Namun, tak dapat dibenarkan, sekali lagi penulis tegaskan, tak dapat dibenarkan jika komunis ujug-ujug adalah atheis. Nyatanya, kita mengenal tokoh seperti Haji Misbach yang seorang komunis—haji, lho!. Begitu pula, penerapan komunisme di negara-negara seperti Tiongkok, Kuba, Vietnam, Polandia, Yugoslavia-Tito, atau Jerman Timur pra-Keruntuhan Tembok Berlin, tak lantas memberangus agama dari kehidupan masyarakatnya. Malah, jarang diketahui bahwa begitu asertifnya komunisme di Tiongkok disebabkan oleh infrastruktur confusionisme yang melandasinya, yakni satu doktrinnya yang berbunyi “pentingnya mewujudkan kebaikan bersama”.

“Kesalahsambungan”—meminjam istilah PK—anggapan komunis sebagai atheis agaknya lahir dari upaya generalisasi penerapan komunisme Rusia yang memang cukup “galak” terhadap hal-hal berbau agamis, ini juga digambarkan secara apik lewat karya-karya penulis Rusia yang menyirat kegalauan transformasi keyakinan sedari “percaya Tuhan” menuju “tidak percaya Tuhan”. Begitu pula, tulisan-tulisan tokoh-tokoh Kiri yang umumnya bernada sinis terhadap agamalah yang agaknya kuat memunculkan anggapan bahwa komunis adalah anti-Agama, atau “komunis adalah atheis”. Padahal, seseorang yang melancarkan kritik terhadap agama tidak bisa serta-merta langsung dicap “tak beragama”, bahkan, beberapa sumber menyebutkan jika sesungguhnya Marx, nabi kaum komunis, bukanlah seorang atheis; ia hanya tak suka pergi ke gereja dan mendengar khotbah-khotbah yang melegitimasi kaum pemilik modal.

Hal di atas tak ubahnya tuduhan atheis terhadap Charles Robert Darwin oleh khalayak, sedang Darwin sendiri beristrikan seorang penganut Katolik yang taat—dan dia bukan atheis! Sudah tentu, diperlukan kedewasaan berpikir dalam memilah antara pemikiran seorang tokoh yang lahir melalui aktivitas ilmiah-akademik berbanding kehidupan pribadinya. Sebagai misal, andaikan tokoh-tokoh besar Islam seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, atau Al-Farabi hidup di era sekarang; maka mereka akan menjadi tokoh Islam paling liberal ketimbang gembong-gembong Islam liberal dunia yang masih ada—bahkan ketauhidannya perlu dipertanyakan. Hal tersebut dikarenakan, terdapat sekat antara kehidupan agamis dengan aktivitas dalam berfilsafat. Akan tetapi terbukti, aktivitas filsafat tak lantas menjadikan mereka atheis.

Namun, yang menjadi pokok persoalan di sini adalah: apakah mereka yang tak beragama lantas bersikap kejam lagi beringas? Dalam beberapa dasawarsa terakhir, dunia justru disuguhi berbagai kekejaman dan keberingasan yang dibiangi oleh (konflik) agama. Sebaliknya, agnotisme masyarakat Barat justru menampakkan keharmonisan konstelasi sosial yang dibangun berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan—manusia Barat lebih islami ketimbang orang Islam. Dengan demikian, hingga titik ini kita telah mencapai beberapa kesepakatan; komunis belum tentu atheis, dan jikapun seseorang menjadi atheis, itu tak lantas menjadikannya kejam lagi beringas mengingat di samping nilai-nilai ketuhanan masih terdapat nilai-nilai kemanusiaan.

Upaya guna menyamakan komunisme dengan atheisme dapat dilihat sebagai upaya guna menjelekkan citra komunisme (baca: PKI) di tanah air. Upaya semacam ini salah satunya dapat ditemukan dalam tulisan orang-orang seperti Taufik Ismail. Dalam bukunya, Katastrofi Mendunia, Ismail mencuplik perkataan—atau puisi—Lenin ihwal anehnya seorang komunis yang masih agamis atau memeluk agama. Tampaknya, Taufik Ismail menjadikan perkataan tersebut sebagai dalil, prototipe, utawa percontohan penganut komunisme seluruh dunia. Dengan kata lain, ia secara sengaja menggalakkan proyek “leninisasi”-nya sendiri, seakan komunisme adalah leninisme, dan seorang komunis itu ya seperti Lenin yang tak beragama. Tentu, anggapan ini begitu mengerdilkan penerapan komunisme di berbagai belahan dunia, baik secara kolegial, utamanya secara individual: bahwa menjadi seorang komunis sesungguhnya tak lantas menjadi sama sekali seperti Lenin. Perlu diingat dan ditegaskan kembali, hal terpenting yang dibawa komunisme adalah ide tentang penciptaan masyarakat tanpa alienasi (keterasingan), sama rasa-sama rata, serta ketiadaan penindasan antarkelas sosial; bukannya isu agamis, terlebih tentang ada-tidaknya Tuhan.

Lalu, bagaimana dengan beberapa rezim komunis yang terkesan “menggigit” institusi agama? Penulis menganggap hal tersebut sebagai euforia sesaat pasca kaum komunis berhasil menggalakkan revolusi. Ini dikarenakan, kala itu institusi agama kerap “berselingkuh” dengan kaum feodal maupun kelas borjuis dalam merepresi kelas bawah (proletar). Penulis cukup berat mengatakan hal ini, tetapi argumen para fungsionalis-struktural ada benarnya juga: “Perubahan sosial merupakan sarana untuk mencapai keseimbangan baru”. Setidaknya, kita dapat melihat praktek kehidupan beragama di Kuba dan Tiongkok yang sampai detik ini masih dikuasai partai komunis.

Ide yang dibawa komunisme baik, hendak mengentaskan ketertindasan kaum kelas bawah, tapi mengapa ia—komunisme—dicap buruk?

Ini sangat politis; sangat politis. Tentu kita masih ingat, konstelasi dunia pasca-Perang Dunia II yang terbagi dalam Blok Barat dan Blok Timur. Blok Barat diistilahkan Soekarno dengan “Oldefo” (old emerging forces), negara-negara atau kekuatan lama yang telah lama merdeka, negara-negara Barat yang sistem ekonominya bercorak kapitalis, sementara, Soekarno mengistilahkan Blok Timur sebagai “Nefo” (new emerging forces), yakni negara-negara Asia-Afrika yang baru merdeka, yang antikolonialis, dan umumnya bercorak sosialis. Baik kedua poros kekuatan dunia tersebut saling tarik-ulur memperebutkan hagemoni dunia, masing-masing blok melancarkan kritik dan propaganda untuk menjelekkan satu sama lain. Blok Timur, atau setidaknya negara-negara sosialis, memperoleh momen ketika Amerika Serikat dan Eropa Barat didera Great Depression tahun 1930-an; peristiwa tersebut didaulat sebagai bukti kegagalan sistem kapitalisme. Selanjutnya, Blok Barat memperoleh momen ketika Revolusi Hijau tercetus—keberhasilan rekayasa genetika tanaman pangan oleh Borlaugh, istilah Revolusi Hijau sengaja digunakan untuk melawan “Revolusi Merah”; revolusi pangan yang diyakini bakal menggugurkan diktum tersohor Malthus. Di bidang teknologi, Blok Timur berhasil menampar Blok Barat lewat keberhasilannya mengirim astronot pertama ke luar angkasa, Yuris Gagarin. Beberapa tahun berselang, Blok Barat pun membalasnya dengan mendaratkan Neil Amstrong ke bulan; demikian seterusnya kedua blok ini saling “mempromosikan” kelebihan masing-masing dan mencecar kekurangan  satu sama lain.

Alasan kedua disebabkan oleh kesalahan Soviet sendiri dalam penerapan marxisme yang serampangan. Padahal, Marx telah mewanti-wanti jika negara berformat “diktator-proletariat” hanyalah bersifat sementara dalam transisi menuju masyarakat sama rasa-sama rata, namun rezim komunis Soviet sedari Lenin-Stalin-Kruschev tampak berupaya melanggengkannya. Begitu pula, lambat-laun dimensi humanisme pemikiran-pemikiran Marx tergerus dalam rezim ini; komunisme yang sedianya hendak mengentaskan ketertindasan, malah menjadi alat penindasan baru. Aneh, kan?!. Di sini kita dapat mengatakan jika yang salah bukan komunisme-nya, tapi orang-orang yang menerapkannya. Itulah mengapa kemudian muncul Frankfurt Schule yang berupaya merevisi penerapan marxisme-Soviet, juga pemikiran dari manusia-manusia seperti Adam Schaff, George Lukacs, Vejko Korac, dan Ernst Bloch.

Fenomena PKI di Indonesia tak jauh berbeda dengan poin pertama; nyatanya tarik-ulur kepentingan antara Blok Barat dan Timur juga terhelat di tanah air, bahkan Indonesia menjadi medan pertempuran yang sangat krusial bagi keduanya. Kita telah jemu dengan cerita seputar G30S-PKI yang berimplikasi besar pada tercorengnya nama PKI kemudian. Baik G30S-PKI (Gerakan 30 September-PKI), Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), maupun Gestok (Gerakan Satu Oktober); masing-masing memiliki versi ceritanya sendiri. Namun, satu analisis Peter Dale Scott dalam Peran CIA dalam Penggulingan Soekarno (2007) yang masih penulis ingat adalah; bagaimana mungkin PKI sebagai organisasi besar dengan struktur yang sangat terkoordinir dari pusat hingga daerah bisa begitu “amburadulnya” dalam merencanakan coup ‘kudeta’—jika mereka memang berniat melakukan kudeta di tahun 1965. Begitu pun, Aidit yang langsung “ditembak di tempat” juga dirasa janggal, seolah tak diberi kesempatan untuk membela diri di pengadilan. Ini mirip seperti kasus tertangkapnya gembong DI/TII, S.M Kartosoewirjo di era Soekarno.   

What is to be done, now?

Pertama, hilangkan jauh-jauh anggapan bahwa komunisme berbahaya bagi agama. Hal ini mengingat, penerapan sebuah ide selalu membuka peluang bagi modifikasi atau penyesuaiannya dengan kondisi nilai, norma, serta budaya setiap masyarakat. Kedua, bagi penulis pribadi, perkara yang kiranya kini “lebih pantas untuk diributkan” pasca-Gestok adalah tersensornya serangkai sejarah penting yang dimiliki bangsa Indonesia. Akibat Gestok, Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang tak memiliki pelajaran sastra—bukan pelajaran bahasa Indonesia, lho!. Ini dikarenakan lahirnya karya-karya sastra berkelas dunia dari para penulis Lekra seperti Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, dan Agam Wispi. Begitu pula, para pelukis Lekra yang karya-karyanya telah diakui dunia seperti Hendra Gunawan, S. Soedjojono, dan Abdul Salam; kecuali Affandi; urung memperoleh penghargaan semestinya—penganugerahan Bintang Jasa pada Hendra Gunawan baru diberikan Presiden Joko Widodo pada Kamis (13/8) lalu. Manusia-manusia seperti H. Misbach, Marco Kartodikromo, dan Tan Malaka yang berjasa besar bagi perjuangan kemerdekaan juga masih luput dan belum memperoleh tempat semestinya dalam catatan sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Di usianya yang telah mencapai kepala tujuh, bangsa ini memiliki PR besar untuk merekonstruksi sejarahnya dan mulai menempatkan segala sesuatu pada porsinya masing-masing; tanpa dilebih-lebihkan, juga dikurangi. Bukankah menjadi aneh ketika suatu bangsa tak mengenal kegemilangan bangsanya sendiri? Keadilan milik semua orang.

Diskusi alias Tanya-jawab:

Kapan PKI berdiri?
Embrio PKI dapat dilacak lewat berdirinya ISDV (Indische Sociaal Democratiscshe Vereeniging) di tahun 1914. Kemudian di tahun 1920 ia berubah nama menjadi PKH (Perserikatan Komunis di Hindia), dan barulah pada tahun 1924 berubah nama menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) seperti yang kita kenal sampai sekarang ini.

Komunisme sudah runtuh di tahun 1990-1 lewat kebijakan glasnost dan perestorika-nya Gorbachev, apa masih relevan menerapkan komunisme?
Komunisme itu kan’ berakar dari pemikiran-pemikirannya Marx (marxisme), masih banyak varian lain pemikiran Marx yang bisa, dan relevan diterapkan untuk saat sekarang, lagian, komunisme-Soviet itu sudah diakui sebagai penyimpangan atas pemikiran-pemikiran Marx (baca: anak haram marxisme). Ambilah misal Venezuela di bawah Hugo Chavez, utawa Bolivia di bawah Evo Morales; mereka mendirikan rezim berhalauan Kiri dan mampu menyejahterakan rakyatnya. Rezim mereka itu kalau di ranah akademik dijuluk sebagai: “ultrasosialis-radikal-realis”; panjang, ya?

Tapi, saya masih juga suka ambil contoh Kuba di bawah Fidel Castro. Kalau Anda sudah nonton film dokumenternya Michael Moore, Sicko (2007), di situ tampak jelas kalau sistem kesehatan dan jaminan sosial Amerika Serikat kalah jauh dibanding Kuba. Sekolah dokter di sana gratis, dan di setiap kampung ada dokter yang ditempatkan pemerintah, harga obat-obatan juga sangat murah, banyak juga yang gratis; bahkan warga AS yang diajak Moore melawat ke Kuba sampai menangis karena merasa lebih dimanusiakan di Kuba ketimbang di negaranya sendiri. Ternyata, selama ini gambaran negara-negara sosialis yang “jahat” lagi “busuk” di mata mereka sama sekali tak terbukti; kenyataan justru sebaliknya: negara tempat asal merekalah yang jahat lagi busuk—he he.

Yang jelas, kalau boleh ngutip Derrida dalam The Specter of Marx (boleh, dong), yang namanya ideologi itu nggak akan pernah bisa mati; kalaupun ia sedang tak kelihatan, sebetulnya ia cuma sedang tertidur dan melatenkan diri, pun sewaktu-waktu bisa muncul dan menguat kembali ke permukaan—jadi pengen tidur siang. Fasisme misalnya, yang dinilai banyak orang sudah mati pasca-Perang Dunia II, nyatanya kini banyak muncul lagi dalam bentuk neo-Fascism, Nazi-Punk, de el el.

Bagaimana dengan anggota-anggota PKI di daerah yang ikut bikin kisruh saat Gestok?
Mereka terprovokasi saja, termakan isu revolusi. Tapi toh, tak pernah ada anjuran atau arahan dari pusat untuk melakukan coup saat itu juga, hari itu juga, dan di tanggal itu juga.

Penulis berjanji menyertakan paparan tentang mungkinnya perpaduan antara ide-ide marxisme dengan agamis, kenapa paparan itu tak ada dalam tulisan ini?
Saya capek melanjutkan tulisan ini, mungkin kalau dilanjutkan, tulisan ini cocoknya jadi jurnal; tinggal direparasi di sana-sini, dikasih bodynote dan daftar pustaka. Saya mau lanjut baca Metamorfosis-nya Kafka dulu, udah sejak bulan lalu nggak rampung-rampung!

Tapi yang jelas—aduh kepancing—tokoh seperti H. Agus Salim pun pernah berkata, “Saya Islam, jadi ya, saya sosialis!”. Manusia seperti Soekarno pun tak sungkan menggabungkan pemikiran antara Islam, nasionalisme, dengan marxisme. Kalau mau lebih dahsyat lagi, baca pemikiran Islam-sosialis Ali Syariati, dia menemukan kemiripan antara Islam dengan marxisme, seperti; perintah jihad sebagai bentuk perjuangan kelas, larangan mengambil riba sebagai doktrin anti-Kapitalis, dan konsep-konsep seperti infaq, sedekah sebagai redistribusi kekayaan bagi mereka yang tak berpunya. Begitu juga, Anda boleh membaca pemikiran Islam-kiri Asghar Ali Engineer atau Fazlur Rahman yang tak kalah menarik. Oh iya, bahkan di Amerika Latin Uskup Gustavo Gutierrez menelurkan “teologi pembebasan”; buah perpaduan unik antara marxisme dengan doktrin gereja. Asyik, kan’?

Apakah penulis seorang komunis?
Dulu “marxis” mungkin iya; marxis lho, bukan komunis. Tapi saya sudah lama meninggalkan marxisme sejak di pertengahan bangku kuliah S1 sekitar tahun 2007-2008.

Kenapa penulis meninggalkan marxisme?
Ada deh, mau tahu aje, Lu!
* Beralih ke eksistensialisme yang sangat borjuis dan individualis.

Kalau begitu, mengapa penulis menuliskan tulisan ini? (*Pertanyaan apa sih*&^%$#@?!)
Saya menulis jika ingin menulis. Udah dulu, ya. Daaaaa…


*****

Senin, 10 Agustus 2015

Kisah di Balik Foto Legendaris “The Vulture and the Child”

Kisah di Balik Foto Legendaris “The Vulture and the Child”
“Amende Honorable” bagi Fotografer dan Ilmuwan Sosial


Wahyu Budi Nugroho
Sosiolog Universitas Udayana

Foto di atas diambil oleh Kevin Carter (1994) saat bencana kelaparan dan krisis politik tengah berkecamuk di Sudan. Foto yang populer dengan sebutan The Vulture and the Child [Burung Bangkai dan Gadis Kecil] ini pun segera diganjar anugerah Pulitzer jurnalistik. Sebelumnya, Carter merupakan fotografer Afrika Selatan yang mendokumentasi konflik antara massa pendukung Mandela (ANC) dengan massa anti-Mandela (Inkatha), ia tergabung dalam The Bang Bang Club bersama fotografer lain seperti Ken Oosterbroek, Joao Silva, dan Greg Marinovich. Dinamai demikian—The Bang Bang Club—karena kelompok fotografer ini memang menghasilkan foto-foto bombastis bagi dunia. Ketergantungan Carter pada narkoba-lah yang menyebabkannya didepak dari kelompok ini, dan kemudian bersama Jaoa Silva hijrah ke Sudan. Karuan, Sudan yang dianggap Carter sebagai tempat pembuangan karir fotografernya justru menghantarnya pada penganugerahan Pulitzer yang didambakan hampir setiap fotografer; anugerah yang telah diperoleh teman segengnya di The Bang Bang Club, Greg Marinovich (1990), lewat foto kekerasan jalanan di bawah ini.


Namun, anugerah Pulitzer yang diterima Carter tak lantas memuluskan karirnya atau membuatnya senang, ia malah depresi dan memutuskan bunuh diri tiga bulan kemudian. Ini dikarenakan, saat jumpa pers digelar untuk membahas fotonya yang mencengangkan dunia itu, muncul banyak pertanyaan yang dirasa Carter sebagai bentuk “serangan” atas dirinya, yakni seputar kelanjutan nasib gadis kecil tersebut; Apakah Carter menolongnya? Apakah gadis itu selamat? Apakah gadis itu kembali ke keluarganya? Dan serangkai pertanyaan senada-sinis lainnya. Nyatanya, Carter tak menolongnya dan tak mengetahui kelanjutan nasib gadis kecil itu, ia sekedar mengambil potretnya dan meninggalkannya begitu saja; inilah kesalahan besar yang membuat Carter begitu tertekan hingga memutuskan untuk mengakhiri hidup.

Hal serupa dapat pula terjadi pada seorang ilmuwan sosial, ketika ia melihat “kesengsaraan” di hadapannya, apakah ia sekedar mengambilnya bagi kepentingannya semata; semisal keperluan skripsi, tesis, disertasi, jurnal ilmiah, buku, artikel koran, maupun kepentingan publikasi lainnya; ataukah ia turut andil dalam pemecahan kesengsaraan tersebut?—dengan kata lain: emansipa(si)toris. Bagi mereka yang sekedar memanfaatkannya untuk kepentingan diri, sudah selayaknya “amende honorable” dilakukan. Hal ini memang seyogyanya ditradisikan guna mencegah kian menjamurnya ilmuwan sosial-humaniora yang sekedar “gemar jual kemiskinan dan kesengsaraan”, tak terkecuali menjadi autokritik bagi penulis pribadi yang secara sengaja atau tak sengaja, pun secara langsung atau tak langsung pernah melakukannya.

*****

Amende honorable was originally a mode of punishment in France which required the offender, barefoot and stripped to his shirt, and led into a church or auditory with a torch in his hand and a rope round his neck held by the public executioner, to beg pardon on his knees of his God, his king, and his country; now used to denote a satisfactory apology or reparation.

Selasa, 14 Juli 2015

Keinsyafan dan Kesadaran

Keinsyafan dan Kesadaran
(satu lagi tulisan saya yang tak bertanggung jawab)



Wahyu Budi Nugroho

Orang-orang seperti Marx dan Bourdieu menganggap kesadaran sebagai pemahaman akan segala sesuatu yang tak bersifat sui generic, atau taken for granted, atau “apa adanya”; melainkan sebentuk pengetahuan bahwa segala sesuatunya sengaja dikonstruksi oleh kuasa adikodrati atau transenden—kekuatan yang melampaui segala yang diciptanya: sebuah infrastruktur yang menopang superstruktur. Marx akan dengan senang hati menyebutnya sebagai kekuatan ekonomi, sedangkan Bourdieu: “struktur kognitif”. Pemahaman bahwa segala sesuatunya dikonstruksi, dan kita selaku subyek maupun kolektif, dapat turut andil dalam penciptaan konstruksi tersebut; merubahnya, atau bahkan meruntuhkannya: inilah yang dinamakan kesadaran! Secara lebih spesifik, Marx menyebutnya sebagai true consciousness ‘kesadaran yang benar’, sedangkan Bourdieu, doxa ‘lompatan habitus’. Bagi Bourdieu, doxa bukanlah tujuan akhir, masih terdapat ortodoxa dan heterodoxa; namun kali ini, saya tak tertarik mendiskusikan apa yang hadir setelah kesadaran, bolehlah dikata sementara ini: There is nothing behind it.

Apakah hadirnya keinsyafan sama dengan proses munculnya kesadaran? Inilah yang ingin saya bahas sekarang. Semenjak kesadaran bersifat intensional—consciousness is always consciousness of something—maka, begitu pula dengan keinsyafan: keinsyafan selalu keinsyafan akan sesuatu. Bisa jadi, keinsyafan terhadap rokok, minuman keras, sex bebas, atau yang lainnya. Di awal paparan ini, kita menemukan titik temu antara keinsyafan dengan kesadaran, bahwa baik keduanya memerlukan obyek bagi pondasi eksistensinya. Akan tetapi, sebentar lagi, ya, sebentar lagi, kita akan sampai pada perenggangan titik tersebut hingga mencipta jalan masing-masing, katakanlah; keinsyafan ke samping kanan, dan kesadaran ke samping kiri (hehe). Ini terjadi manakala kita beralih pada konsep kesadaran yang berbasis pada keragu-raguan cartesian, serta spontanitas impersonal yang lahir melalui ex-nihilo. Dapatkah keinsyafan lahir dari keragu-raguan? Bukankah keinsyafan merupakan keteguhan tanpa celah, keyakinan akan dunia baru sehingga kita mantap mendiaminya?

Dalam doktrin teistis, keragu-raguan selalu identik dengan setan, iblis, atau mereka yang tak beriman, bahkan terdapat pula adagium: “Setan adalah keragu-raguan”. Seperti halnya waktu senggang, keragu-raguan ditempatkan sebagai akar dari segala kejahatan. Begitu pula, keinsyafan selalu identik dengan hak prerogatif Tuhan; hidayah, rahmat; yang turut menjadi persoalan adalah, mungkinkah kita merasionalkan hidayah sebagaimana konsep kesadaran? Jika ini dimungkinkan, maka persamaan antara keinsyafan dengan kesadaran akan kian dekat, namun jika tidak, keinsyafan pun akan berlari menjauhi kesadaran, dan begitu pula sebaliknya. Ada satu paparan Kierkegaard yang memberi harapan titik temu antara keinsyafan dengan kesadaran, yakni perihal “lompatan iman” yang dilakoni manusia sedari kehidupan estetis menuju etis, dan pada akhirnya menuju kehidupan religius. Masing-masing lompatan tersebut mengandaikan kehampaan manusia yang muncul lewat keragu-raguan—Apakah aku terselamatkan?—sehingga ia memilih beralih pada kehidupan selanjutnya (etis), dan selanjutnya (religius). Kehampaan di setiap tahap tersebut pun berkelindan dengan konsep spontanitas impersonal yang muncul melalui ex-nihilo: bahwa kekosongan itulah yang menuntut kita untuk bertindak, juga memilih.

Poin penting yang dapat diambil dari konsep keinsyafan-kesadaran Kierkegaard di atas adalah “merasai” dan “mengalami”. Pengalaman merupakan sebab urgen bagaimana keinsyafan dan kesadaran dapat timbul; mengutip Heidegger: kita tak berada dalam kehidupan, melainkan kitalah kehidupan itu sendiri; kita tak berada dalam dunia, kitalah dunia. Namun persoalannya, bukankah tak setiap pengalaman memunculkan keinsyafan atau kesadaran. Di sini, konsep “mengalami” Kierkegaard telah gagal menjelaskan proses hadirnya keinsyafan ataupun kesadaran. Bisa jadi, konsep Heidegger tentang “dunia yang tak berjalan semestinya” sehingga menimbulkan angst ‘kegelisahan’ lebih dapat diterima bagi munculnya kesadaran; bahwa sekedar pengalaman-pengalaman spesifik-lah yang memungkinkan munculnya hal tersebut. Ini dapat diterima bagi kesadaran, namun tidak sepenuhnya bagi keinsyafan mengingat keinsyafan dapat muncul secara tiba-tiba—ingat ilmu laduni—ia seperti tirai yang tersibak begitu saja, dan seketika kita dapat berkata: “Aku melihat terang!”.

Di sini, tampak jelas jika keinsyafan tak memerlukan keragu-raguan, juga ex-nihilo. Secara rasional, keinsyafan merupakan totalisasi tanpa totalisator yang tegas lagi jelas. Bisa jadi, keinsyafan telah ada dan tergeletak begitu saja bagi kita; hingga kita memungut untuk kemudian memilih atasnya, dan bertindak akannya. Namun, apa yang membuat kita memutuskan untuk memungut atau tidak memungutnya? Bagaimana mungkin ada totalisasi tanpa totalisator???

There is something behind it.

Sabtu, 28 Maret 2015

PEMBUNUHAN

PEMBUNUHAN


Wahyu BN

Aku dituduh membunuh mahasiswaku. Ini bermula saat ia terbahak keras dengan sebab tak jelas di kelas, hingga ia jatuh dan kepalanya membentur lantai, tapi ia tak berhenti; bahaknya malah menjalak, meski suar’nya mulai serak; ia terus tertawa wa wa wa.

“Heh, kamu kenapa?!” tujuku padanya dengan suara cukup keras.
“Hahahaha. Hahahaha,” ia masih saja tertawa. “Kurang ajar…”, batinku.

“Heh, diam kamu!” kucoba menggertaknya.
“Hahahaha. Hahahaha,” tak ada yang berubah, ia justru menunjukku dari kejauhan. Asem.

Kesalku telah diubun-ubun, kuhampiri dirinya. Dan… “Braaaaaak!!!”. Kubanting keras kursi kosong di sampingnya. Ia kaget, matanya sedikit membelalak, bagusnya; ia mulai diam.

Kuawasi dirinya sambil melangkah pelan ke belakang. “Bagus, ia tetap diam…”, lagi sua’ batinku. Perkuliahan pun berlanjut.

“Tak ada ‘benar-salah’ dalam sosiologi, melainkan ‘diterima atau ditolak’. Ini mengingat…,” paparanku terhenti. Sesaat kuamati bocah barusan, ia tampak gusar dan meraut gelisah, dicari-carinya sesuatu dalam tas yang sekira tak ditemunya. Ia mencari dan terus mencari, seperti pria gaek mencari pasangan. Kepayahan mukanya kulihat betul; eh, ia tampak putus asa. “Kasihan deh, Lu…”, lagi batinku bercuap. Apakah aku jahat?

Bocah itu tak lagi berkutik. Matanya menatap lurus sedikit melotot, kedua tangannya bertumpu dengkul kanan dan kiri terkesan menahan sesuatu, mirip orang kontraksi: Apa ia buang air di kelas *&^%$#@!?

Tak kuhiraukan lagi bocah itu, setidaknya ia sudah hening. Hanya saja, kalau nanti tercium bau busuk; pastilah itu bersumber darinya. Memang, sejak dulu kuperhatikan perangainya cukup aneh. Ia sering terlihat was-was, tatapannya kerap hampa, sesekali kupergok ia tampak menahan sakit, tapi tak sampai merintih. Au ah.

Empat puluh menit berselang. Kuliah usai.

Segerombol mahasiswa pria-wanita-waria mulai menyerbu pintu. Kadang ku bertanya-tanya tentang pintu kelas ini. Dari luar, ia dinamakan “pintu masuk”; sedang dari dalam, ia dijuluk “pintu keluar”. Kok bisa ya? Oh iya, inilah kuldesak; satu pintu untuk keluar-masuk. Tuhan, kenapa aku memikirkan hal-hal yang tak penting?

Kelas mulai sepi, sekedar tertinggal beberapa mahasiswa, tapi bocah itu sama sekali tak bergeming. Posenya tetap sama, tak bergeser barang sesenti pun. Beberapa mahasiswa juga mulai terheran-heran, bertataplah mereka satu sama lain: “Ada apa gerangan?”. Eng-ing-eng.

Ku melangkah pelan menghampirinya. Ia balas tak mengacuhkanku; tatapannya tetap sama: melotot lurus ke depan, dan … kosong.

“Heh, kamu nggak kenapa-napa kan?” aku mencoba dirinya.
“…” tak ada respon.
“Heh, halooo?” kugerakkan pergelangan tangan kananku tuk menghalau pandangannya. Sama saja.

Sejurus, kulancarkan tangan kiri pada lengan kanan bocah itu tuk menggodanya bergerak.

Ya, ia bergerak; tapi langsung ambruk begitu saja. Kutadah hidungnya tuk meraba hembusan nafas, kosong. Kupegang tangannya, dingin.

…ia MATI!

Tak menunggu lama, lima personel poliysi tiba di TKP, satu di antaranya mengenakan jeans biru, pakaian putih kerah, dan jaket kulit hitam; tampilannya bak detektif, “…atau mungkin ini ya yang namanya penyidik? Entah.”, ucap batinku nan suci-murni. “Memang, ku tak tahu-menahu istilah dalam kepoliysian, juga cara kerja mereka; kecuali poliysi tidur yang kerjanya tidur terus”, lanjut batinku.

“Bapak harus ikut kami ke kantor,” ucap si poliysi detektif.
“Hah, saya Pak?” aku terhenyak.
“Iya, kamu. Siapa lagi, masa bapakmu,”
“Ya tak apa Pak, kalau mau ambil bapak saya,”
“Heh, kamu itu lho! Kamu yang ikut! Kamu beneran dosen bukan sih, dodol beud!”
“Iya, saya dosen Pak, tapi bapak saya juga dosen; guru besar malah. Gimana, mau ambil bapak saya aja, Pak?”
“Dodol! Kamu ikut kami!”

Karuan, kepalaku mual, perutku pusing; ini kali pertama ku berurusan dengan pihak berwajib. Aku betul-betul digelandang, aku diciduk.

Sesampainya di kantor poliysi, aku ditanya-tanya; pun kujelaskan kronologi kejadian yang menimpa bocah itu; mahasiswa yang meregang nyawa di kelasku.

“Kamu tersangka!” seketika, ucapan itu terlontar dari mulut pak poliysi di hadapanku, ia juga tengah mengoperasikan mesin tik. Aku ingin pingsan, tapi tak bisa pingsan; aku ingin milkshake vanila, tapi hanya ada segelas air putih.
Kukuatkan diri tuk berkata-kata. “Pak, bagaimana bisa Anda langsung menetapkan saya sebagai tersangka?!”
“Ya bisya dong, saya kan poliysi,”
“Dasarnya apa, Pak?!”
“Anak itu tertawa karena melihatmu, itu salahmu; mungkin penampilan atau caramu mengajar membuatnya tertawa. Kamu memarahinya, membuatnya kaget, dan membuatnya membutuhkan suntikan insulin yang tak dibawanya; itu salahmu. Ia terlalu takut menelpon atau keluar kelas karena barusan kau marahi; itu salahmu. Pokoknya kamu yang salah!”
“Oh, begitu ya, Pak?”
“Iya, simpel kan!”
“Iya e Pak, kok simpel banget ya, Pak?”

Segera ku dijebloskan ke penjara; tanpa pengacara, tanpa persidangan. Aku yang sejam lalu masih berstatus sebagai dosen dan mengajar, kini menjadi tahanan. Status kepegawaianku dicabut, dan mungkin; sebentar lagi istriku juga bakal mencabut cintanya dariku; semoga tidak anak-anakku…

Malam pertama di penjara adalah tragedi besar kemanusiaanku. Ketakutanku akan ketidakbebasan benar-betul comes true. Aku terpenjara. “Eh, beneran nih aku dipenjara? Jangan becanda gitu dong. Beneran nih? Eh, bener ya?! Masa sih? Becanda, Lu? Masa aku dipenjara? Aku kan orang baik-baik…”, demikian upayaku meyakinkan diri; bercuap dengan diri sendiri.

Keesokan paginya…

Teng! Teng! Teng! Teng! Seorang poliysi memukuli jeruji sel tempatku menghabiskan nyawa dengan percuma.

“Bangun kau! Bangun!”
“Ya … ada apa ya, Pak…?” harusnya ia tak perlu berteriak, karena memang aku tak tidur semalaman.
“Putusanmu sudah keluar dari pengadilan,”
“Hah, putusan?”
“Iya, putusan. Masa sambungan!”
“Oh, iya ya. Gimana Pak putusannya?” penuh rasa ingin tahu ku bertanya, meski diriku sama sekali tak tahu-menahu soal persidangan. Harapku, semua tak lebih dari salah paham.
“Kamu dihukum mati!”
“Lho, kok bisa seenaknya gitu, Pak?!”
“Bisa dong, ini kan Republik Endoneysa,”
“Ya sudah, kalau gitu saya jadi warga negara yang seenaknya saja!”
“Ya sana enak-enakin aja di penjara,”
“Bajigur kamu, Pak!”
“Mending ya saya bajigur, daripada kamu: PEMBUNUH!”
“Kampret!”
“Kamu itu!”
“Kamu!”
“Kamu!”
“Aku!”
“Nah, tuh kan!”
“Bajigur! Salah ngomong!”

Well, aku dihukum mati. Hendak bagaimana lagi? Dan ini Endoneysa.

Ada dua kematian yang dilalui setiap manusia dalam hidup; aku telah melalui yang pertama: kematian karakter. Dan kini, menanti kematian kedua sekaligus terakhirku: kematian biologis.

Seminggu berselang. Aku bak seonggok daging yang membangkai. Tapi, yang terparah bukan itu, tiada orang sudi menjengukku; orangtua, istri, anak; semua tak ada. Seketika, teringatku pada kata-kata seorang sastrawan besar dari negeri seberang, Pramoedya Ananta Toer: “Orang bisa merampas kebebasan bercakap dengan orang lain, tapi, bercakap dengan diri sendiri; siapa gerangan bisa merampasnya?!”. Itulah rutinitasku sekarang; mengajar diri sendiri.

“Betul kamu dosen pembunuh itu?” tiba-tiba seorang poliysi menanyaiku. Sama sekali tak kudengar derap langkah mendekat dari luar sel sebelumnya. Dan memang, aku tengah membelakangi jeruji, meratapi tembok absurditasku.
Segera ku berbalik dan berkata lirih, “Iya, benar…,”

Tak pernah ku melihat atau bertemu papas dengan poliysi yang satu ini. Apakah ia malaikat penjemput nyawaku? Wajahnya cerah, pembawaannya tenang, cara bicaranya juga halus. Apa memang orang-orang seperti ini yang ditugaskan tuk membawa “kabar gembira” itu?

“Betul kamu dulu mengajar sosiologi?” ia kembali menanyaiku.
“Iya, betul…”
“Bagus, ini hari keberuntunganmu,”
“Ya, cepat-lambat hari itu bakal tiba…” jawabku pasrah.
“Apa maksudmu?” tanya balik si poliysi cepat.
“Hari yang dijanjikan, hari kematianku…”
“Oh, bukan itu, bukan,”
“Hah, bukan ya? Lalu apa ya?”
“Begini, kami sedang mengalami kekosongan jabatan di divisi humas kepoliysian. Kami berniat mengangkatmu untuk mengisi kekosongan itu,”
“Hah, saya? Ciyus?!”
“Ciyus!”
“Kok saya, Pak? Kok nggak poliysi-poliysi yang lain?!”
“Yang lain pada nggak mau e, kamu aja ya,”
“Tapi, saya kan tersangka, Pak. Sebentar lagi saya dihukum mati lho,”
“Hukumanmu sudah dicabut. Beres kan?”
“Kok enak banget gitu ya Pak, nyabut hukuman?”
“Enak dong, ini kan Endoneysa. Kemarin aku udah bilang sama poliysi-poliysi lain di warung kopi,”
“Oh gitu ya Pak, oke deh Pak kalau gitu,”
“Nah, gitu dong… Deal?”
 “Deal!”
“Jadi, mau tirai nomor berapa?”
“*&^%$#@!”

Demikianlah keabsurdanku. Betapa mudah hidupku berubah 360 derajat. Sedari dosen, menjadi tahanan, lalu kini: menjadi seorang poliysi yang taat. Betapa kurang ajar nasib dan perasaan mempermainkanku.

Aneh ya? Aneh dong. Ini kan cuma TULISAN.

*****

Denpasar, 28.03.15 | 09.39

Sabtu, 21 Maret 2015

“MR 73”: Tinjauan Psikoanalisis Tokoh dan Kejadian

“MR 73”: Tinjauan Psikoanalisis Tokoh & Kejadian
TRANSKRIP Bedah Film @Bentara Budaya Bali, 15/03/15


Wahyu Budi Nugroho

Pendahuluan
Baik ketiga tokoh yang disorot dalam film ini: inspektur polisi, Schneider; Justine; dan tersangka pembunuh berantai, Subra; ketiganya merupakan “orang sakit”. Schneider yang kecanduan alkohol akibat kematian istri dan anaknya, Justine yang mengalami trauma dan keparanoidan akut akibat pembantaian kedua orang tuanya, serta Subra sendiri sang psikopat pembunuh berantai.

Schneider & Justine
Kedua tokoh ini mengalami trauma dalam hidupnya; trauma, dalam bahasa Yunani berarti, “luka yang membekas”. Trauma inilah yang kemudian menyebabkan keduanya merasa terdapat kekurangan atau “kekosongan” dalam dirinya untuk dipenuhi; Schneider yang menghendaki istri dan anaknya kembali, kemudian memanipulasinya dengan minum-minuman keras (baca: alkohol); Justine yang begitu kekurangan akan rasa aman, lalu memenuhinya dengan fantasi tentang si pembunuh berantai. Dalam ranah psikologi, apa yang menimpa mereka disebut “katarsis”; yakni penghempasan kekalutan pada hal lain.

Sebetulnya setiap kita pun memiliki kekosongan, celah; karena manusia merupakan makhluk berkesadaran. “Aku sadar akan diriku”, ada dua “aku” di situ, antara “aku” pertama dan “aku” kedua terdapat jarak atau kekosongan yang menuntut untuk diisi. Hanya saja, kekosongan yang kita alami tak separah dan seakut Schneider serta Justine. Sedangkan jika kita bandingkan dengan benda, benda itu tidak memiliki celah atau kekosongan; ia solid.

Namun demikian, sesungguhnya penyakit yang dialami Schneider dan Justine lebih parah ketimbang Subra. Baik Schneider dan Justine secara aktif menghancurkan (baca: membunuh) dirinya sendiri, sedang tidak Subra yang berhasrat membunuh orang lain. Dalam batas-batas tertentu, secara naluriah, menjadi wajar ketika manusia berhasrat mengeliminasi manusia lain—bukan dirinya sendiri (homo homini lupus).

Psikopatologi
Secara tidak langsung, film ini ingin mengatakan bahwa psikopat ada di sekitar kita; dan ini benar adanya. Beberapa waktu lalu, Prof. Dr. Azrul Azswar dari kemenkes mengatakan bahwa “satu dari empat orang di Indonesia menderita sakit jiwa”—ini artinya, kalau tiga teman Anda baik-baik saja, berarti Anda yang sakit jiwa. Ada di sini yang psikopat? Salah satu ciri psikopat itu menganggap diri lebih tinggi, lebih spesial, atau lebih penting dari orang lain. Nah ini, jangan-jangan kita jadi psikopat karena diciptakan lingkungan. Seorang psikopat tidak untuk dilahirkan, tetapi diciptakan. Coba lihat iklan-iklan di TV sekarang, semua menekankan betapa spesialnya diri kita: “Karena Anda begitu spesial…”.

Sama seperti fenomena penembakan sekolah-sekolah di Amerika Serikat. Para pelakunya adalah psikopat yang dihasilkan (diciptakan) oleh lingkungan, dalam hal ini media: game. Game seperti tembak-tembakan membuat mereka larut dalam apa yang diistilahkan Baudrillard sebagai “hiperrealitas”: ihwal yang melampaui kenyataan. Ini pada akhirnya membuat mereka tak bisa membedakan antara mana realitas (kehidupan nyata) dengan kehidupan khayal (kehidupan artifisial/buatan yang diciptakan oleh media); jadilah koboi-koboian di sekolah atau jalanan.

Hal yang menjadi persoalan adalah, film ini menggiring pandangan kita bahwa psikopat adalah orang yang dicirikan dengan penampilannya yang lusuh, rambutnya yang acak-acakan, dan tak punya pekerjaan jelas. Padahal, psikopat bisa jadi siapa saja; bahkan bisa saja polisi. Seperti beberapa waktu lalu, ada kasus karyawan perusahaan di Bali yang bekerja sambilan sebagai guide, dan dia membunuh turis-turis yang dipandunya, turis yang jadi sasarannya selau turis Jepang; entah kenapa. Secara pembawaan, karyawan ini sopan, murah senyum, dan baik. Tak ada yang menyangka kalau dia bisa membunuh; tapi kenyataan berkata lain.

Demonstration Effect
Sebetulnya, dengan mengangkat (baca: membuat) film ini, sesungguhnya si produser/sutradara membuka kemungkinan/potensi pada penonton untuk meniru tokoh psikopat yang ada di film ini. Mengapa? Karena seperti diutarakan Veblen, media (baca: TV) memiliki demonstration effect ‘efek demontrasi’. Siapa tahu kebut-kebutan motor di jalan itu terpengaruh (terinspirasi) setelah menonton tayangan balapan motor GP?. Di Amerika Serikat misalnya, kejar-kejaran mobil antara sipil dengan polisi itu hampir jadi makanan tiap hari. Ini karena di setiap film Hollywood selalu menampilkan adegan kejar-kejaran mobil; coba Anda amati film-film Hollywood, tak satu pun yang tak ada adegan kejar-kejaran mobil. Seperti kasus begal motor di tanah air, awalnya sedikit, tapi karena kemudian diangkat di televisi, lalu jadi banyak. Saya yakin tak semua dari begal motor itu awalnya betul-betul serius dan niat melakukan aksi begal; tapi karena mereka mendapat “banyak contoh” dari TV, mereka pun lalu ikut-ikutan. Nah, ini seperti ungkapan Johan Huizinga bahwa manusia adalah homo ludens ‘makhluk yang suka bermain-main’.

Seperti yang pernah saya bilang juga ke mahasiswa-mahasiswa saya; cara paling mudah melihat efek film atas individu atau publik itu mudah. Tunggu dan berdiri saja di dekat pintu exit bioskop. Kalau habis nonton film action, biasanya orang keluar sambil petantang-petenteng, tapi sebaliknya kalau habis nonton film romantis, wajahnya melankolis.

Apabila ini kisah nyata, maka film ini justru melipatganda teror. Seperti wawancara yang dilakukan Giovanna Borradori pada Jurgen Habermas dan Jacques Derrida tentang WTC (2001); tayangan yang berulang-ulang tentang tragedi WTC itu justru melipatganda teror bagi masyarakat.

Subra
Tokoh ini pun sebetulnya juga korban; kenapa ia bisa jadi seorang psikopat? Ingat, seorang psikopat tidak untuk dilahirkan, tapi diciptakan. Dalam film serupa—film-film psikopat—seperti Hannibal misalnya, di seri pertama dan kedua, ditampakkan sekali kalau Hannibal merupakan sosok yang bersalah. Baru di sekuel selanjutnya dijelaskan bagaimana proses Hannibal menjadi seorang psikopat. Dari situ kita tidak bisa lagi secara serampangan mengatakan bahwa Hannibal adalah sosok yang benar-benar bersalah; ia menjadi psikopat juga disebabkan oleh orang lain; bukan salahnya sendiri. Seperti para pelaku sodomi misalkan, nyatanya sebagian besar pelaku sodomi adalah mereka yang pernah menuai pengalaman serupa sewaktu kecil. Nah, ini kita kembali ke konsep katarsis: penghempasan kekalutan pada hal lain atau orang lain.

Film ini, sejak awal sudah menempatkan sang psikopat sebagai sosok yang bersalah dan jahat. Kalau kita gunakan konsep camera lucida dari Roland Barthes; mata kamera itu selalu bersifat satu dimensi; dimana ada citra yang ditampilkan, di situ selalu ada citra yang disembunyikan. Nah, tokoh yang paling banyak disorot dalam film ini adalah Schneider dan Justine, menjadi mudah bagi kita untuk mengidentifikasi siapa pemeran utamanya, juga siapa yang baik, dan siapa yang jahat. Sama seperti sekarang, karena banyak mata memandang ke arah saya, seolah sayalah yang jadi tokoh utama dalam acara ini; saya menjadi sentris, pusat. Padahal belum tentu analisis saya lebih bagus ketimbang kalian yang duduk di sana memperhatikan saya. Bisa jadi, kalian yang lebih pantas berada di depan sini untuk “berkhotbah”.

Konsep camera lucida-Roland Barthes di sini juga tampak lewat ketidaklengkapan alur film; ada yang sengaja disembunyikan. Dalam hal ini, kisah atau proses Subra menjadi seorang psikopat. Seolah di-cut begitu saja, dan tiba-tiba kita mendapati sosok Subra sebagai yang jahat. Dalam film ini, sekali lagi, saya memandang, Schneider dan Justine lah yang sebetulnya jauh lebih bermasalah.

Motif Pembuat Film: Tinjauan Psikoanalisis Media
Kita berhak bertanya ihwal seputar motivasi produser atau sutradara MR 73 membuat film ini. Kalau kata Feurbach, produser atau sutradara yang membuat film sebetulnya tengah merefleksikan kehidupannya sendiri. Dalam arti, ketika ia mendapati ketidakpuasan dalam dirinya atau hidupnya, ia mensubstitusi hidupnya dengan kehidupan tokoh utama yang diciptakannya dalam film. Di sini kita kembali pada katarsis; yakni film sebagai sarana penghempas kekalutan pembuatnya. Bisa jadi sang pembuat film ingin membagi pengalamannya terteror/terintimidasi pada khalayak. Penerawangan ihwal seputar motivasi pembuat film memang sangat samar, ini seperti menerawang motivasi “wanita yang merokok”; apakah wanita yang merokok itu betul-betul menginginkan rokok tembakau, atau jangan-jangan “rokok-rokok yang lainnya”; sementara rokok tembakau sekedar digunakannya untuk mensubstitusi atau memanipulasi keinginan lain yang sesungguhnya.    

Penutup
Pada akhirnya, saya menemui simpulan bahwa apa yang sebetulnya diharapkan sang inspektur polisi, Schneider, dan si wanita bernama Justine, adalah kematian dirinya sendiri. Ini seperti konsep the lost paradise ‘surga yang hilang’; bahwa apa yang sebetulnya kita cari “di luar sini” adalah kenyamanan dan keamanan seperti saat dikandung ibu. Schneider yang mengharap kenyamanan saat berkumpul dengan anak-istrinya, serta Justine yang mendamba keamanan ketika kedua orangtuanya masih hidup. Tegas dan jelasnya, Schneider dan Justine sebetulnya merupakan sosok (tokoh) yang jauh lebih berbahaya ketimbang si pembunuh berantai, Subra.


*****

Berita;


Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger