"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Kamis, 03 Maret 2016

TEROR

TEROR

Wahyu BN

            Teror adalah ketika seorang mahasiswi menelponmu di subuh buta dan mengatakan dirinya telah berada di depan kontrakanmu.
            “Ya???” aku masih setengah sadar, dan kupikir, nomornya juga tak tercatat di Lenovo-ku.
            “Saya ada di depan rumah kontrakan Bapak, Pak,”
            “Hah?”
            “Iya, saya sudah di depan…,”
            “Oh….,” apa dia mau bimbingan skripsi, ya? Tapi kok, pagi-pagi gini, sih? Ini kan’ belum masuk jam kerjaku.
Aku masih belum sadar.

            Segera kubilas muka dan berjalan malas menuju pintu depan. “Maunya apa, sih? Ganggu banget,” batinku.
            Kuusap mata sekali lagi, dan memang, ada sesosok perempuan tengah berdiri di luar pagar kontrakanku, itu tampak lewat rambut panjangnya yang sesekali terterpa sinar putih lampu pinggir jalan.
            Kubuka pagar yang tak pernah tergembok, melainkan sekedar menggeser besi panjang penguncinya keluar tembok.
            Ya, aku mengetahui mahasiswi ini, tapi tak mengenalnya. Ia bukan mahasiswiku, melainkan mahasiswi prodi lain. Wajahnya cukup familiar, ia selalu datang di acara-acaraku; entah seminar yang kuisi, dialog publik, juga seingatku, di bedah bukuku; ya, wanita ini hadir di acara itu dan duduk di barisan bangku paling depan.
            “Eh, kamu… Siapa namamu?”
            “Emm, nanti Bapak juga tahu siapa nama saya,” jawabnya sambil tersenyum malu.
            Ia tampak membawa dua bungkusan kantong plastik dengan warna berbeda. Satu bungkusan teridentifikasi olehku, semacam gelas-cup yang menunjukkan lekuknya tertahan plastik putih, sedang satu bungkusan plastik berwarna merah muda tak bisa kutebak.
            Oke, aku memang berharap ia langsung memberikan kedua bungkusan itu dan segera pergi sehingga selesai sudah urusanku dengannya. Tapi, bagaimana kutahu jika bungkusan itu untukku? Ah, ini kan’ seperti kebiasaan mahasiswa pada umumnya yang begitu dermawan terhadap dosen. Seyogyanya, aku memang tak boleh menerimanya; itu gratifikasi, dan itu tergolong korupsi! Tapi, hendak bagaimana lagi, aku kadung bersumpah baru bakal tak korupsi kalau Ahok jadi presiden. Aku tak mau melanggar sumpahku karena itu juga dosa.

            “Saya masuk ya, Pak,” itulah yang seketika diucapnya sambil berjalan melewatiku.
            Aku terbengong. “What the… Apa-apaan ini?! Ia masuk begitu saja tanpa kupersilakan!” teriak batinku. “Ya, aku memang dekat dengan mahasiswa, tapi bukan begini juga caranya! Dimana-mana tamu baru masuk kalau sudah dipersilakan tuan rumah!” lanjut teriak batinku.
            Sesaat ku terdiam memandang jalan sambil menahan dongkol yang teramat-sangat, mau tak mau, harus kuikuti dirinya masuk ke dalam.
            Ia telah berada di ruang tamu dan seakan telah akrab dengan ruangan itu, padahal ia baru sekali ke sini. Sejurus kurasa; akulah tamunya, dan ia tuan rumahnya. Eh, apakah aku masih belum sadar benar?

            “Ini Pak, saya bawain kopi sama jajanan pasar,” itu adalah dua bungkusan yang dibawanya tadi.
            “Oh ya, makasih.” Balasku sekedarnya. Moga ia bisa membaca rautku yang datar dan menyirat ketidakantusiasanku atas apa yang diperbuatnya; aku tak pernah sejengkel ini pada mahasiswa. Tapi tampaknya, itu sia-sia. Ia mulai berbicara dengan kata-kata yang tak ku mengerti.
            Segera kuambil rokok di permukaan meja. Rokokku memang ada dimana-mana; di tempat tidur, di meja makan, di dapur, di toilet, bahkan juga di ruang kamar yang kujadikan mushola. Harapku, kusesaki seisi ruang tamu dengan kepulan asap sehingga dirinya tak tahan dan segera pulang. Tapi tampaknya, itu juga sia-sia. Agaknya ia sudah “terlatih” dengan asap rokok.
            Seketika, terlintas asa jahat di pikiranku: “Andai sekarang ada gempa besar tuk mengakhiri pertemuan tak bermutu ini… Eh, tapi kalo ada gempa besar, rumah ini kan’ ikut roboh. Ya, nggak apa-apa ding’, kan’ bukan rumahku, aku cuma ngontrak di sini. Besok tinggal pindah ke kosan aja yang lebih murah, hehe”
            Tentu, asaku tak masuk akal, bahkan jauh lebih tak bermutu timbang pertemuan ini.
            …hingga pada akhirnya, kupahami perkataannya; apa yang dibicarakannya. Itu saat dirinya meletuskan serangkai kata-kata berikut dengan keras lagi tegas: “Saya cinta bapak! Saya mau dengan bapak! Saya akan lakuin apa aja buat sama bapak!”
            “Emang aku bapakmu, po?” batinku. Duh, aku masih sempat juga bercanda dengan diriku.

Segera ku berpikir keras tuk meresponnya…

            “Heh … asal kamu tahu ya, aku ini … HOMO.”
            “Halah! Bapak nggak usah cari-cari alasan! Pokoknya saya maunya cuma sama bapak! Kalau bapak nggak mau sama saya, saya bakal bunuh diri!” dikeraskannya ucapan itu sambil diambilnya sebilah pisau yang disembunyikan di balik kaos hitam ketatnya.
            Sama sekali tak kusangka mahasiswi ini membawa pisau, oh, sepertinya anggapanku ihwal betapa amannya lingkungan di sini sarat kurevisi—macam skripsi aja, Jon!
            “Kalau bapak tidak mau … saya bunuh diri sekarang juga di sini…” ucapnya kali ini lirih sambil mengacungkan pisau itu persis di depan mukanya yang memelas.
            “Ya udah, kamu bunuh diri aja, itung-itung ngurangin kepadatan penduduk. Toh, bentar lagi kita juga bakal kena bonus demografi,” balasku tanpa perasaan.
Kalian tentu tahu, aku tak bersungguh-sungguh dengan ucapan ini. Kugunakan “psikologi terbalik” tuk menyurutkan niatnya, pun kuyakin, ia tak bersungguh-sungguh dengan perkataannya.

            “Tapi, sebelum saya bunuh diri … bapak harus mati dulu!”
           
            Aku terkejut. Ini tak main-main. Ia memang bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Aku tak boleh lagi bercanda dengannya atau dengan diriku sendiri. Aku benar-betul dalam kondisi viverepericoloso! Situasi hidup-mati! Aku betul-betul bisa tinggal nama siang nanti!
             Ia beranjak dan segera melangkah mendekat sambil mengacungkan pisau itu ke arahku. Mata pisau itu benar-benar tertuju padaku! Aku takut dan gemetar. Aku betul-betul terTEROR.
Tangan kiriku segera bergerilya meraba halus lipatan bantalan sofa dengan perlahan. Seingatku, kusimpan juga satu revolverku di situ. Asal kalian tahu, revolerku, sama seperti rokokku, kuletakkan di banyak tempat; ada yang di kamar tidur, dapur, toilet, juga di mushola. Tapi, untuk apa revolver sebanyak itu? Hehe, simpel: aku suka menembaki cicak. Menurut ajaran agamaku, membunuh cicak itu berpahala. Cicaklah yang meniupi api Abraham sehingga kobarnya kian menggeliat. Ya, itulah sunnah favoritku: menembaki cicak. Dan, sebagai dosen, kumiliki banyak waktu luang tuk menambal dinding-dinding yang bolong akibat kebrutalan peluru-peluru yang kutembakkan. Betul sekali, mencabuti proyektil dan menambal dinding-dinding yang bolong adalah hobiku di kala senggang. Tak ada lagi lagu “Cicak-cicak di Dinding”. Tak ada.
Segera kutarik revolver yang telah teraba yakin di bawah bantalan sofa, kutarik pelatuknya, dan kuarahkan padanya; pada mahasiswi itu.
“Kalau kamu coba mendekat lagi, kutembak!” ancamku.
Ia sempat tersentak, tapi itu tak lama, ia segera kembali ke laku semula: terus mencoba mendekatiku sambil mengacungkan pisaunya ke arahku.
“Heh! Aku nggak main-main!” segera kuarahkan revolver tepat ke pelipis kiri samping matanya, jaraknya tak sampai satu meter dari tempatku membidik.
Ia terus saja mendekat pelan, tampaknya ia juga tak main-main, niatannya membunuhku memang sudah bulat; ngerinya, ia sama sekali tak berkata-kata saat terus mendekat dan mendekat.

“Dorrr!!!”

Ia ambruk menimpa meja sebelum benar-benar jatuh ke lantai. Darah segar tertumpah di sekitarannya, meja dan sofaku tak luput terciprat. “Pasti tengkoraknya pecah,” pikirku saat melihat kondisinya yang tak lagi bernyawa. Itu tampak jelas lewat mata kirinya yang sedikit menyembul ke permukaan. Bagusnya, tetanggaku takkan curiga dengan bunyi letupan barusan, pasti dikiranya aku tengah menembak cicak seperti biasa.
Apakah aku was-was? Tentu. Ini kali pertama kubunuh manusia, bukan cicak.
Segera kuletakkan revolver di genggaman tangan kanannya. Itu kulakukan agar seolah ia terlihat bunuh diri karena kutolak cintanya. Eh, tapi mana mungkin polisi dan orang-orang percaya kalau aku punya penggemar militan macam ini. Lalu, apa motifku? Membela diri? Lha, ini, pisau yang digunakannya sudah kupegang, pastilah menipak jelas sidik jariku.
Tanpa pikir panjang, kuambil revolver yang digenggam pasrah tangannya, kutarik pelatuknya dan kutempatkan tepat moncongnya ke tengah-tengah jidatku. “Aku juga sudah bosan dengan pekerjaanku; terlalu bebas, terlalu banyak waktu luang…”

“Dorrr!!!”


Denpasar, 03.03.16

Senin, 08 Februari 2016

Manusia Serius vs Manusia Ironis ala Richard Rorty

Manusia Serius vs Manusia Ironis ala Richard Rorty

Richard Rorty (source: news.stanford.edu)
Wahyu Budi Nugroho
Sosiologi Universitas Udayana

Membincang Rorty adalah membincang soal penolakan “imperatif kategoris” yang ditempatkan secara mapan, universal, dan menjadi landas-dasar kehidupan individu, masyarakat luas, bahkan umat manusia. Berbagai bentuk impeatif kategoris ini hadir melalui sistem sosial yang diwariskan secara turun-temurun, agama, juga pemimpin yang kuat. Tak dapat dipungkiri, agaknya akan lebih mudah menjelaskan imperatif kategoris melalui kerangka pikir strukturalisme, yakni bagaimana bahasa mampu menciptakan kehidupan sosial. Imperatif kategoris, sebagaimana istilah ini kerap digunakan Kant dan dicontohkan olehnya: “Bertindaklah sehingga maksim tindakanmu menjadi model bagi seluruh umat manusia”; merupakan ihwal yang bersifat metafisik lagi abstrak. Apabila maksim tindakan yang dimaksudkan Kant dalam imperatif kategorisnya adalah “tindakan yang baik”, maka kita akan segera berpikir tentang apa yang dimaksud dengan “baik” itu?.[1]

Tak hanya itu saja, pikiran kita turut tertuju pada dikotomi antara yang baik dengan yang buruk. Mengapa sesuatu dapat dikatakan baik, sedangkan yang lain buruk? Ihwal atau pondasi semacam apa yang dapat sebegitu kuat menentukan keduanya? Dan, apabila kita telah sampai pada pondasi tersebut, kita pun dapat kembali mempertanyakannya; bagaimana pondasi tersebut dapat terbentuk? Pun, mengapa kita, atau orang lain harus turut memegang (baca: menganut) pondasi tersebut?.

Dalam merespon imperatif kategoris di atas, secara garis besar Rorty membagi dua tipe manusia, yakni manusia metafisik dan manusia ironis. Manusia metafisik, atau yang lebih penulis suka sebut sebagai “manusia serius”, merupakan mereka yang menerima dan meyakini penuh imperatif kategoris tanpa mempertanyakannya, menganggapnya sebagai sesuatu yang bersifat taken for granted ‘apa adanya’, serta seakan telah ditentukan begitu saja. Sebagai misal, ketika Hitler menguasai Jerman dan aktif menelurkan propaganda-propaganda anti-Yahudi yang menemui wujudnya sebagai imperatif-imperatif kategoris, mereka masyarakat Jerman yang mengamininya dapat disebut sebagai “manusia-manusia serius” karena larut dalam propaganda antisemit begitu saja—seakan Yahudi memang demikian adanya sebagaimana ungkap Hitler.

Dalam pandangan Rorty, imperatif kategoris tersebut bekerja layaknya “kosakata akhir”, yakni sesuatu yang tak memungkinkan munculnya kosakata lanjutan; ia telah berhenti di situ saja, dan diterima begitu saja tanpa koreksi. Dari sini, kita dapat melihat bagaimana ideologi menjadi salah satu instrumen—termasif bahkan—dalam memproduksi imperatif-imperatif kategoris. Begitu pula, berbagai bentuk pemikiran radikal maupun fanatik mengenai ras, agama, kewarganegaraan, atau apa pun juga yang dianut oleh seseorang atau kolektif sekedar menegaskan keberadaan manusia-manusia serius di dunia ini.

Sebaliknya, Rorty menggunakan istilah “manusia ironis” bagi mereka yang tak begitu saja menerima berbagai bentuk imperatif kategoris yang ada. Manusia ironis ajeg berpikir bahwa segala sesuatunya terjadi secara kebetulan. Andai seorang Nazi yang fanatik menjadi seorang manusia ironis, maka sudah semestinya ia berpikir bahwa kelahirannya di Jerman, menjadi warga negara Jerman, pun menjadi bagian dari ras Arya, adalah kebetulan semata. Ia tak meminta dilahirkan di Jerman, melainkan keberadaannya di negara tersebut dan menjadi bagian dari mayoritas ras tersebut adalah hal yang bersifat sui generic ‘terjadi begitu saja’. Begitu pula, sudah seharusnya ia turut berpikir andaikan dirinya terlahir sebagai seorang Yahudi yang dibencinya mati-matian, maka berbagai bentuk imperatif kategoris yang ditelurkan Hitler pun bakal ditolaknya mentah-mentah.


Konsep manusia ironis Rorty dapat pula ditempatkan sebagai wacana tanding bagi para penganut keagamaan yang brutal. Andaikan seseorang terlahir di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindhu, maka besar kemungkinan ia pun bakal terlahir dalam keluarga Hindhu dan menganut agama tersebut. Begitu pula jika seseorang terlahir di Arab Saudi yang besar kemungkinan bakal menjadikannya seorang Islam, atau di Amerika Serikat yang menjadikannya seorang Kristen Protestan. Tak pelak, konsep manusia ironis Richard Rorty menjadikan mereka yang mati-matian memaksakan agamanya terhadap pihak lain menjadi tampak konyol mengingat segalanya tak lebih merupakan kebetulan semata.

Lalu, apa sumbangsih pemikiran pragmatis Rorty bagi dimensi keaktoran seseorang? Pemikiran Rorty bekerja layaknya epoche dalam fenomenologi, yakni sebentuk “tanda kurung kurawal” atau “penangguhan sementara” terhadap asumsi-asumsi dan justifikasi yang dimiliki seseorang. Pemikirannya seolah mengajak individu menempatkan diri dalam posisi individu lain atau mereka yang dianggap sebagai other ‘liyan’, serupa dengan bentuk pemikiran pragmatisme pada umumnya. Lebih jauh, konsep manusia ironis terutama, mewaskan aktor atas nilai-nilai yang diperjuangkannya; apakah lewat nilai-nilai itu dirinya justru terhagemoni (baca: tertindas) tanpa disadarinya ataukah tidak. Tak dapat dipungkiri, konsep manusia ironis Rorty memiripkan bentuknya dengan fenomenologi Max Scheler yang mengharuskan seseorang, terutama ilmuwan, untuk “bebas apung” sehingga mampu mengungkap sumber-sumber sosial dari berbagai ideologi politik dan mengulas baik dimensi kekurangan maupun kelebihannya masing-masing.

Lebih jauh, pemikiran Rorty tentang manusia ironis bukannya tanpa kritikan sama sekali. Kritik yang begitu mengemuka atasnya adalah eksistensi manusia ironis yang dituduh tak memiliki prinsip dan keyakinan: “Karena ia dapat menempatkan diri dalam posisi mana pun, maka ia tak memiliki prinsip”. Pertama, Rorty menjawabnya dengan menambah imbuhan “liberal” pada manusia ironis—“manusia ironis liberal”. Ini berarti, liberalisme (baca: kebebasan) menjadi prinsip dan keyakinan manusia ironis. Liberalisme, bagi Rorty, merupakan pemahaman terbaik karena menghindarkan manusia dari beragam ketakutan tak beralasan; ketakutan berkeyakinan sesuai kehendak, ketakutan mengemukakan pendapat di depan publik, ketakutan berekspresi dalam segala bentuk, dan lain sebagainya.

Namun, pertanyaan yang menyerua kemudian adalah; jika manusia ironis telah menganut nilai tertentu, yakni liberalisme, masihkah ia dapat disebut sebagai manusia ironis?. Kedua, Rorty pun mengemukakan adanya ranah privat dan ranah publik di mana keironisan manusia ironis berada di ranah privat, dan karena keironisannya di ranah privat—untuk dirinya sendiri—maka ia tak ironis bagi orang lain—yang ada di ranah publik. Begitu pula, hal ini didukung oleh prinsip utama manusia liberal menurut Rorty, yakni penolakan bertindak kejam terhadap orang lain, terutama di dalamnya pemaksaan dan merendahkan orang lain. Dengan demikian, manusia ironis liberal adalah mereka yang memiliki keyakinan dan tak berupaya memaksakan keyakinannya pada orang lain, namun mereka sangat “anti” terhadap pihak-pihak yang berupaya memaksakan keyakinannya mengingat “tidak bertindak kejam terhadap orang lain, terutama memaksakan kehendak” merupakan kosakata akhir manusia ironis liberal. Pun bagi Rorty, manusia ironis liberal tak menutup kemungkinan pula merubah kosakata akhirnya dan membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan ranah privat yang lebih luas.


*****




[1] Sementara kita telah ditunjukkan kesia-siaan proyek besar James William More dalam upayanya mencari arti kata “baik”. Hingga akhir hayatnya, More tak mampu mendefinisikan apa itu “baik” dalam pandangan universal—“baik” menurut seluruh umat manusia.

Jumat, 21 Agustus 2015

ALIENASI

ALIENASI*


Wahyu Budi Nugroho

“Homo sum; humani nil a me alienium puto.”
[“Aku manusia; tak ada manusia lain yang asing bagiku.”]
(Publius Terentius Afer)

Istilah Alienasi
Jika Socrates dan Plato berkata bahwa filsafat bermula dari kekaguman dan keheranan, maka dapatlah dikata pula jika filsafat berasal dari alienasi. Kekaguman atas obyek lain, manusia lain, atau pada diri sendiri; bisa jadi tentang bagaimana tubuh bekerja; secara tidak langsung menimbulkan jarak antara diri dengan yang lain atau pada diri sendiri, dan ini merupakan bentuk keterasingan. Dalam ranah kebahasaan kita, kata “alien” telah menjadi prokem yang biasa digunakan dalam keseharian. Alien berarti “asing”, dan kata ini biasanya diasosiakan dengan “makhluk asing” yang berasal dari planet lain, dunia antah-berantah sana; yang melakukan penjelajahan luar angkasa dengan UFO (Unidentified Flying Object), dan turun ke bumi dengan seberkas cahaya sorot layaknya Mr. Bean. Dalam ranah kebahasaan lain, istilah alienasi kerap pula disandingkan—atau dikaitkan—dengan kata entfremdung, verfremdung, verfremdungseffekt (v-effekt), entausserung, atau yang lebih lekat dengan tata kebahasaan kita: alienum yang berasal dari bahasa Latin. Adalah F.W Hegel sebagai sosok paling berjasa yang memperkenalkan berikut mempopulerkan terminus alienasi dalam ranah filsafat. Tanpanya, alienasi takkan menjadi arus pengkajian penting dan tersendiri dalam filsafat—seperti istilah “denyut” yang diperkenalkan Baruch de Spinoza berabad-abad silam yang kini menjadi tema penting dalam pemikiran Mahzab Autonomia besutan Antonio Negri dan Michael Hardt (penulis Das Kapital abad 20). Dalam kamus filsafat Hegel, istilah alienasi sendiri sesungguhnya sama pentingnya dengan istilah “dialektika”; ihwal yang urung begitu disadari banyak pihak.

“Peristiwa” Alienasi
Sebagai sebuah fenomena yang tertuliskan—bukan istilah—alienasi telah muncul dalam kesadaran Heraclitus: “Saya mencari diri sendiri”, ucapnya. Begitu pula, karya filsafat kanon The Republic dari Plato yang ditengarai lahir dari keterasingan penulisnya; yakni keterasingan Plato dari tata moral dan politik Yunani kala itu sehingga ia menuliskan ide-ide tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan sebuah negara (polis/negara-kota). Tampaknya, refleksi Plato menghantarnya pada konsep alienasi terdini manusia: “Raga atau tubuh (soma) adalah kuburan jiwa (sema). Jiwa terkubur dalam raga, oleh karenanya, hidup adalah keterasingan panjang”, kurang-lebih ucapnya. Sebentuk pernyataan bahwa sebelum manusia hadir ke dunia dan terasing oleh konstelasi masyarakatnya, ia terlebih dahulu terasing dari tubuhnya. Pernyataan apik serupa juga hadir dari filsuf eksistensialis asal Denmark kemudian, Soren Aebey Kierkegaard: “Aku menempelkan jariku pada eksistensiku—tak ada baunya. Dimanakah aku? Benda apa yang dinamakan dunia ini? Siapa yang memancingku pada benda ini, dan meninggalkanku di sini? Siapakah aku? Bagaimana aku bisa berada di dunia? Mengapa tak dibicarakan dulu denganku?”.

Setelahnya, terma seputar alienasi memang akrab dalam pengkajian eksistensialisme serta marxisme—tak ada arus pemikiran lain yang paling serius mengangkat tema alienasi selain keduanya. Dalam marxisme, sudah tentu Hegel memberi pengaruh yang sangat kuat pada Marx. Istilah alienasi dipinjam Marx sebagaimana dirinya meminjam dan merekonstruksi konsep dialektika dari Hegel (tesis-antitesis-sintesis). Sementara, Hegel pun menelurkan konsep alienasi lewat pembacaan seksamanya atas Plato. Jika Hegel mendaulat alienasi sebagai “ide-ide yang belum terwujud atau belum termanifestasi sebagaimana mestinya”—ingat diktum Hegel: ide yang berkembang dalam ruang adalah alam; ide yang berkembang dalam waktu adalah sejarah—maka, Marx menjadikannya konkret lewat penegasan bahwa alienasi merupakan “kejadian nyata” yang dialami manusia, dan sepenuhnya berproses di alam materi(al), bukannya alam idea(l) bercampur material seperti diungkapkan Hegel. Pemikiran Hegel masih begitu lekat dengan konsep forma Plato, bahwa suatu “produk” baik sebagai barang ataupun apa pun; selalu menemui wujudnya sebagai penjelmaan sekunder dari produk asli yang paripurna (sempurna)—sementara yang sempurna itu hanya ada di alam ide, dan manusia selalu berusaha mewujudkannya meski itu tak mungkin; inilah alienasi yang dimaksudkan Hegel.

Alienasi dalam Marxisme
Marx—Marx Muda terutama—memandang alienasi sebagai kondisi riil yang dihadapi sekaligus “tak dimaui” manusia, sebentuk kejadian yang tak diharapkan namun sarat diterima. Marx mendaulat alienasi terbesar (umat) manusia terjadi pada sekitar abad 14-15, yakni ketika “sekelompok orang kuat” (baca: bangsawan) merenggut tanah-tanah yang dimiliki para petani subsisten dan kemudian menempatkan mereka secara paksa dalam pabrik-pabrik yang diciptakannya. Bagi Marx, saat-saat tersebut menandai alienasi terbesar dalam sejarah umat manusia mengingat untuk pertama kalinya manusia dipisahkan langsung dari alat produksinya. Masa-masa yang diistilahkan Marx sebagai “periode pertumbuhan sejarah dan proses pengambilalihan” ini sekaligus menandai perubahan tata masyarakat sedari primitif menuju feodal-kapitalis dalam konsepsi sosiologis Marx—terutama Marx Tua.

Lebih jauh, penelisikan Marx atas alienasi berlanjut pada kondisi ex-Petani subsisten—sekarang kita menyebutnya “buruh”—dalam pabrik-pabrik yang diciptakan feodal-kapitalis. Setidaknya, Marx mengidentifikasi adanya beberapa gejala alienasi yang didera buruh, antara lain; alienasi buruh di tempat kerja, alienasi buruh dengan sesama buruh, alienasi buruh dengan produk yang dihasilkannya, alienasi buruh terhadap potensi dirinya, serta alienasi beragama pada buruh. Lebih jelasnya, lihat tabel paparan di bawah ini.


Bersambung…

* Sedianya tulisan ini saya persiapkan sebagai tulisan perpisahan dengan kota Jogja, tapi dikarenakan serangkai kesibukan yang tak terhindarkan saat hendak bertolak ke Denpasar; saya pun terpaksa berhutang beberapa subbab pada tulisan ini.

Jogja, 22 Agustus 2015.

Minggu, 16 Agustus 2015

Ribut Logo PKI; Tanda Terdistorsinya Pemahaman Masyarakat?

Ribut Logo PKI; Tanda Terdistorsinya Pemahaman Masyarakat?

(Sumber: indonesiatimes.co.id)
Wahyu Budi Nugroho

“PKI itu ganas, nggak beragama! Sukanya mbunuh! Minumnya darah!”, demikian kurang-lebih ucap ibu penulis saat penulis masih duduk di bangku sekolah dasar. Penulis masih ingat betul, sekejap gambaran PKI bagi penulis yang kala itu masih usia anak menjadi begitu kejam, brutal, dan menyisakan traumatis. Begitu pula, tercetak dalam pikiran penulis bahwa “tidak beragama” merupakan sinonim dari kejahatan, keberingasan, dan hal-hal menakutkan lainnya, intinya, yang baik adalah “beragama”. Tentu, saat itu penulis urung mampu mempertanyakan jika jangan-jangan agamalah yang justru menjadi biang kejahatan dan keberingasan manusia. Namun agaknya, gambaran PKI semasa penulis usia anaklah yang juga telah lama tertanam di alam pikir dan rasa masyarakat Indonesia; apapun itu, asalkan PKI, pasti buruk.

Saat memasuki SMA, penulis yang menjadi seorang soekarnois secara tak langsung turut berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Karl Marx, adalah marhaenisme-nya Soekarno yang pertama kalinya menghantarkan penulis pada ide-ide Kiri, saat itu penulis masih duduk di bangku kelas dua, dan buku tentang (pemikiran) Marx yang pertama kali penulis baca adalah Das Kapital untuk Pemula karya David Smith dan Phil Evans (Resist Book, 2004), buku ini berbentuk komik, dan masih kerap penulis acu saat menulis paper berkenaan dengan ide-ide Kiri di bangku kuliah. Dari situ, penulis mulai berani mempertanyakan; kenapa ide-ide sosialisme ataupun komunisme dianggap kejam? Bukankah isme-isme ini justru berupaya memperjuangkan terbentuknya tata masyarakat yang berkeadilan, dengan slogannya sama rasa, sama rata? Apakah cara yang mereka gunakan salah? Bukankah menjadi wajar ketika revolusi sosial menumpahkan darah? Hanya terdapat dua revolusi di dunia ini yang tak menumpahkan darah; Pertama, Fathu Makkah ‘Pembebasan Mekkah’ oleh Nabi Muhammad, dan Kedua, revolusi kelas menengah Inggris di bawah kepemimpinan Oliver the Cromwell. Selebihnya, setiap revolusi di dunia ini menumpahkan darah; dari Revolusi Industri, Revolusi Islam Iran, bahkan Revolusi Kemerdekaan Indonesia sendiri.

Penulis pun kembali merunut sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang nyatanya tak luput dari andil tokoh-tokoh Kiri (baca: komunis). Sebut saja Alimin dan Darsono yang turut menjadi guru politik Soekarno di Surabaya, lalu Mas Marco Kartodikromo yang menjadi pelopor terbentuknya organisasi wartawan pribumi pertama di tanah air. Meski Mas Marco sekedar lulusan SD, namun tulisan-tulisannya terbukti ampuh menghasut rakyat menentang kolonial Belanda—mungkin juga karena ia lulusan SD sehingga menjadikan tulisan-tulisannya terbaca begitu frontal dan vulgar. Mas Marco pulalah yang menjadi tokoh kunci di balik pemberontakan PKI 1926 yang membuat londo begitu kewalahan, pun membuat dirinya diasingkan ke Boven Digoel-Irian kemudian, hingga wafat akibat malaria di tahun 1935. Banyak pihak terlambat menyadari kala itu betapa pemberontakan PKI 1926 merupakan momen penting pembaharuan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlawanan fisik terhadap penjajah, meski hal serupa telah dilakukan oleh Imam Bonjol, Diponegoro, ataupun Pattimura, namun “penyegaran kembali” selalu perlu dilakukan mengingat generasi terus berganti.

Apakah Marco Kartodikromo seorang atheis? Tidak. “Hidup Medan Moeslimin! Hiduplah kaum Muslim sedunia!”, tulis Mas Marco.

Barangkali, ini pula kesalahpahaman yang telah lama dan luas menjangkiti masyarakat Indonesia; komunis adalah atheis, atau dengan kata lain, jika seseorang menjadi anggota PKI, maka otomatis ia menjadi atheis. Memang, isu seputar “theistik” maupun “atheistik” masih menjadi ihwal sensitif bagi masyarakat Indonesia yang penduduknya sangat alim lagi religius. Namun, tak dapat dibenarkan, sekali lagi penulis tegaskan, tak dapat dibenarkan jika komunis ujug-ujug adalah atheis. Nyatanya, kita mengenal tokoh seperti Haji Misbach yang seorang komunis—haji, lho!. Begitu pula, penerapan komunisme di negara-negara seperti Tiongkok, Kuba, Vietnam, Polandia, Yugoslavia-Tito, atau Jerman Timur pra-Keruntuhan Tembok Berlin, tak lantas memberangus agama dari kehidupan masyarakatnya. Malah, jarang diketahui bahwa begitu asertifnya komunisme di Tiongkok disebabkan oleh infrastruktur confusionisme yang melandasinya, yakni satu doktrinnya yang berbunyi “pentingnya mewujudkan kebaikan bersama”.

“Kesalahsambungan”—meminjam istilah PK—anggapan komunis sebagai atheis agaknya lahir dari upaya generalisasi penerapan komunisme Rusia yang memang cukup “galak” terhadap hal-hal berbau agamis, ini juga digambarkan secara apik lewat karya-karya penulis Rusia yang menyirat kegalauan transformasi keyakinan sedari “percaya Tuhan” menuju “tidak percaya Tuhan”. Begitu pula, tulisan-tulisan tokoh-tokoh Kiri yang umumnya bernada sinis terhadap agamalah yang agaknya kuat memunculkan anggapan bahwa komunis adalah anti-Agama, atau “komunis adalah atheis”. Padahal, seseorang yang melancarkan kritik terhadap agama tidak bisa serta-merta langsung dicap “tak beragama”, bahkan, beberapa sumber menyebutkan jika sesungguhnya Marx, nabi kaum komunis, bukanlah seorang atheis; ia hanya tak suka pergi ke gereja dan mendengar khotbah-khotbah yang melegitimasi kaum pemilik modal.

Hal di atas tak ubahnya tuduhan atheis terhadap Charles Robert Darwin oleh khalayak, sedang Darwin sendiri beristrikan seorang penganut Katolik yang taat—dan dia bukan atheis! Sudah tentu, diperlukan kedewasaan berpikir dalam memilah antara pemikiran seorang tokoh yang lahir melalui aktivitas ilmiah-akademik berbanding kehidupan pribadinya. Sebagai misal, andaikan tokoh-tokoh besar Islam seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, atau Al-Farabi hidup di era sekarang; maka mereka akan menjadi tokoh Islam paling liberal ketimbang gembong-gembong Islam liberal dunia yang masih ada—bahkan ketauhidannya perlu dipertanyakan. Hal tersebut dikarenakan, terdapat sekat antara kehidupan agamis dengan aktivitas dalam berfilsafat. Akan tetapi terbukti, aktivitas filsafat tak lantas menjadikan mereka atheis.

Namun, yang menjadi pokok persoalan di sini adalah: apakah mereka yang tak beragama lantas bersikap kejam lagi beringas? Dalam beberapa dasawarsa terakhir, dunia justru disuguhi berbagai kekejaman dan keberingasan yang dibiangi oleh (konflik) agama. Sebaliknya, agnotisme masyarakat Barat justru menampakkan keharmonisan konstelasi sosial yang dibangun berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan—manusia Barat lebih islami ketimbang orang Islam. Dengan demikian, hingga titik ini kita telah mencapai beberapa kesepakatan; komunis belum tentu atheis, dan jikapun seseorang menjadi atheis, itu tak lantas menjadikannya kejam lagi beringas mengingat di samping nilai-nilai ketuhanan masih terdapat nilai-nilai kemanusiaan.

Upaya guna menyamakan komunisme dengan atheisme dapat dilihat sebagai upaya guna menjelekkan citra komunisme (baca: PKI) di tanah air. Upaya semacam ini salah satunya dapat ditemukan dalam tulisan orang-orang seperti Taufik Ismail. Dalam bukunya, Katastrofi Mendunia, Ismail mencuplik perkataan—atau puisi—Lenin ihwal anehnya seorang komunis yang masih agamis atau memeluk agama. Tampaknya, Taufik Ismail menjadikan perkataan tersebut sebagai dalil, prototipe, utawa percontohan penganut komunisme seluruh dunia. Dengan kata lain, ia secara sengaja menggalakkan proyek “leninisasi”-nya sendiri, seakan komunisme adalah leninisme, dan seorang komunis itu ya seperti Lenin yang tak beragama. Tentu, anggapan ini begitu mengerdilkan penerapan komunisme di berbagai belahan dunia, baik secara kolegial, utamanya secara individual: bahwa menjadi seorang komunis sesungguhnya tak lantas menjadi sama sekali seperti Lenin. Perlu diingat dan ditegaskan kembali, hal terpenting yang dibawa komunisme adalah ide tentang penciptaan masyarakat tanpa alienasi (keterasingan), sama rasa-sama rata, serta ketiadaan penindasan antarkelas sosial; bukannya isu agamis, terlebih tentang ada-tidaknya Tuhan.

Lalu, bagaimana dengan beberapa rezim komunis yang terkesan “menggigit” institusi agama? Penulis menganggap hal tersebut sebagai euforia sesaat pasca kaum komunis berhasil menggalakkan revolusi. Ini dikarenakan, kala itu institusi agama kerap “berselingkuh” dengan kaum feodal maupun kelas borjuis dalam merepresi kelas bawah (proletar). Penulis cukup berat mengatakan hal ini, tetapi argumen para fungsionalis-struktural ada benarnya juga: “Perubahan sosial merupakan sarana untuk mencapai keseimbangan baru”. Setidaknya, kita dapat melihat praktek kehidupan beragama di Kuba dan Tiongkok yang sampai detik ini masih dikuasai partai komunis.

Ide yang dibawa komunisme baik, hendak mengentaskan ketertindasan kaum kelas bawah, tapi mengapa ia—komunisme—dicap buruk?

Ini sangat politis; sangat politis. Tentu kita masih ingat, konstelasi dunia pasca-Perang Dunia II yang terbagi dalam Blok Barat dan Blok Timur. Blok Barat diistilahkan Soekarno dengan “Oldefo” (old emerging forces), negara-negara atau kekuatan lama yang telah lama merdeka, negara-negara Barat yang sistem ekonominya bercorak kapitalis, sementara, Soekarno mengistilahkan Blok Timur sebagai “Nefo” (new emerging forces), yakni negara-negara Asia-Afrika yang baru merdeka, yang antikolonialis, dan umumnya bercorak sosialis. Baik kedua poros kekuatan dunia tersebut saling tarik-ulur memperebutkan hagemoni dunia, masing-masing blok melancarkan kritik dan propaganda untuk menjelekkan satu sama lain. Blok Timur, atau setidaknya negara-negara sosialis, memperoleh momen ketika Amerika Serikat dan Eropa Barat didera Great Depression tahun 1930-an; peristiwa tersebut didaulat sebagai bukti kegagalan sistem kapitalisme. Selanjutnya, Blok Barat memperoleh momen ketika Revolusi Hijau tercetus—keberhasilan rekayasa genetika tanaman pangan oleh Borlaugh, istilah Revolusi Hijau sengaja digunakan untuk melawan “Revolusi Merah”; revolusi pangan yang diyakini bakal menggugurkan diktum tersohor Malthus. Di bidang teknologi, Blok Timur berhasil menampar Blok Barat lewat keberhasilannya mengirim astronot pertama ke luar angkasa, Yuris Gagarin. Beberapa tahun berselang, Blok Barat pun membalasnya dengan mendaratkan Neil Amstrong ke bulan; demikian seterusnya kedua blok ini saling “mempromosikan” kelebihan masing-masing dan mencecar kekurangan  satu sama lain.

Alasan kedua disebabkan oleh kesalahan Soviet sendiri dalam penerapan marxisme yang serampangan. Padahal, Marx telah mewanti-wanti jika negara berformat “diktator-proletariat” hanyalah bersifat sementara dalam transisi menuju masyarakat sama rasa-sama rata, namun rezim komunis Soviet sedari Lenin-Stalin-Kruschev tampak berupaya melanggengkannya. Begitu pula, lambat-laun dimensi humanisme pemikiran-pemikiran Marx tergerus dalam rezim ini; komunisme yang sedianya hendak mengentaskan ketertindasan, malah menjadi alat penindasan baru. Aneh, kan?!. Di sini kita dapat mengatakan jika yang salah bukan komunisme-nya, tapi orang-orang yang menerapkannya. Itulah mengapa kemudian muncul Frankfurt Schule yang berupaya merevisi penerapan marxisme-Soviet, juga pemikiran dari manusia-manusia seperti Adam Schaff, George Lukacs, Vejko Korac, dan Ernst Bloch.

Fenomena PKI di Indonesia tak jauh berbeda dengan poin pertama; nyatanya tarik-ulur kepentingan antara Blok Barat dan Timur juga terhelat di tanah air, bahkan Indonesia menjadi medan pertempuran yang sangat krusial bagi keduanya. Kita telah jemu dengan cerita seputar G30S-PKI yang berimplikasi besar pada tercorengnya nama PKI kemudian. Baik G30S-PKI (Gerakan 30 September-PKI), Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), maupun Gestok (Gerakan Satu Oktober); masing-masing memiliki versi ceritanya sendiri. Namun, satu analisis Peter Dale Scott dalam Peran CIA dalam Penggulingan Soekarno (2007) yang masih penulis ingat adalah; bagaimana mungkin PKI sebagai organisasi besar dengan struktur yang sangat terkoordinir dari pusat hingga daerah bisa begitu “amburadulnya” dalam merencanakan coup ‘kudeta’—jika mereka memang berniat melakukan kudeta di tahun 1965. Begitu pun, Aidit yang langsung “ditembak di tempat” juga dirasa janggal, seolah tak diberi kesempatan untuk membela diri di pengadilan. Ini mirip seperti kasus tertangkapnya gembong DI/TII, S.M Kartosoewirjo di era Soekarno.   

What is to be done, now?

Pertama, hilangkan jauh-jauh anggapan bahwa komunisme berbahaya bagi agama. Hal ini mengingat, penerapan sebuah ide selalu membuka peluang bagi modifikasi atau penyesuaiannya dengan kondisi nilai, norma, serta budaya setiap masyarakat. Kedua, bagi penulis pribadi, perkara yang kiranya kini “lebih pantas untuk diributkan” pasca-Gestok adalah tersensornya serangkai sejarah penting yang dimiliki bangsa Indonesia. Akibat Gestok, Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang tak memiliki pelajaran sastra—bukan pelajaran bahasa Indonesia, lho!. Ini dikarenakan lahirnya karya-karya sastra berkelas dunia dari para penulis Lekra seperti Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, dan Agam Wispi. Begitu pula, para pelukis Lekra yang karya-karyanya telah diakui dunia seperti Hendra Gunawan, S. Soedjojono, dan Abdul Salam; kecuali Affandi; urung memperoleh penghargaan semestinya—penganugerahan Bintang Jasa pada Hendra Gunawan baru diberikan Presiden Joko Widodo pada Kamis (13/8) lalu. Manusia-manusia seperti H. Misbach, Marco Kartodikromo, dan Tan Malaka yang berjasa besar bagi perjuangan kemerdekaan juga masih luput dan belum memperoleh tempat semestinya dalam catatan sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Di usianya yang telah mencapai kepala tujuh, bangsa ini memiliki PR besar untuk merekonstruksi sejarahnya dan mulai menempatkan segala sesuatu pada porsinya masing-masing; tanpa dilebih-lebihkan, juga dikurangi. Bukankah menjadi aneh ketika suatu bangsa tak mengenal kegemilangan bangsanya sendiri? Keadilan milik semua orang.

Diskusi alias Tanya-jawab:

Kapan PKI berdiri?
Embrio PKI dapat dilacak lewat berdirinya ISDV (Indische Sociaal Democratiscshe Vereeniging) di tahun 1914. Kemudian di tahun 1920 ia berubah nama menjadi PKH (Perserikatan Komunis di Hindia), dan barulah pada tahun 1924 berubah nama menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) seperti yang kita kenal sampai sekarang ini.

Komunisme sudah runtuh di tahun 1990-1 lewat kebijakan glasnost dan perestorika-nya Gorbachev, apa masih relevan menerapkan komunisme?
Komunisme itu kan’ berakar dari pemikiran-pemikirannya Marx (marxisme), masih banyak varian lain pemikiran Marx yang bisa, dan relevan diterapkan untuk saat sekarang, lagian, komunisme-Soviet itu sudah diakui sebagai penyimpangan atas pemikiran-pemikiran Marx (baca: anak haram marxisme). Ambilah misal Venezuela di bawah Hugo Chavez, utawa Bolivia di bawah Evo Morales; mereka mendirikan rezim berhalauan Kiri dan mampu menyejahterakan rakyatnya. Rezim mereka itu kalau di ranah akademik dijuluk sebagai: “ultrasosialis-radikal-realis”; panjang, ya?

Tapi, saya masih juga suka ambil contoh Kuba di bawah Fidel Castro. Kalau Anda sudah nonton film dokumenternya Michael Moore, Sicko (2007), di situ tampak jelas kalau sistem kesehatan dan jaminan sosial Amerika Serikat kalah jauh dibanding Kuba. Sekolah dokter di sana gratis, dan di setiap kampung ada dokter yang ditempatkan pemerintah, harga obat-obatan juga sangat murah, banyak juga yang gratis; bahkan warga AS yang diajak Moore melawat ke Kuba sampai menangis karena merasa lebih dimanusiakan di Kuba ketimbang di negaranya sendiri. Ternyata, selama ini gambaran negara-negara sosialis yang “jahat” lagi “busuk” di mata mereka sama sekali tak terbukti; kenyataan justru sebaliknya: negara tempat asal merekalah yang jahat lagi busuk—he he.

Yang jelas, kalau boleh ngutip Derrida dalam The Specter of Marx (boleh, dong), yang namanya ideologi itu nggak akan pernah bisa mati; kalaupun ia sedang tak kelihatan, sebetulnya ia cuma sedang tertidur dan melatenkan diri, pun sewaktu-waktu bisa muncul dan menguat kembali ke permukaan—jadi pengen tidur siang. Fasisme misalnya, yang dinilai banyak orang sudah mati pasca-Perang Dunia II, nyatanya kini banyak muncul lagi dalam bentuk neo-Fascism, Nazi-Punk, de el el.

Bagaimana dengan anggota-anggota PKI di daerah yang ikut bikin kisruh saat Gestok?
Mereka terprovokasi saja, termakan isu revolusi. Tapi toh, tak pernah ada anjuran atau arahan dari pusat untuk melakukan coup saat itu juga, hari itu juga, dan di tanggal itu juga.

Penulis berjanji menyertakan paparan tentang mungkinnya perpaduan antara ide-ide marxisme dengan agamis, kenapa paparan itu tak ada dalam tulisan ini?
Saya capek melanjutkan tulisan ini, mungkin kalau dilanjutkan, tulisan ini cocoknya jadi jurnal; tinggal direparasi di sana-sini, dikasih bodynote dan daftar pustaka. Saya mau lanjut baca Metamorfosis-nya Kafka dulu, udah sejak bulan lalu nggak rampung-rampung!

Tapi yang jelas—aduh kepancing—tokoh seperti H. Agus Salim pun pernah berkata, “Saya Islam, jadi ya, saya sosialis!”. Manusia seperti Soekarno pun tak sungkan menggabungkan pemikiran antara Islam, nasionalisme, dengan marxisme. Kalau mau lebih dahsyat lagi, baca pemikiran Islam-sosialis Ali Syariati, dia menemukan kemiripan antara Islam dengan marxisme, seperti; perintah jihad sebagai bentuk perjuangan kelas, larangan mengambil riba sebagai doktrin anti-Kapitalis, dan konsep-konsep seperti infaq, sedekah sebagai redistribusi kekayaan bagi mereka yang tak berpunya. Begitu juga, Anda boleh membaca pemikiran Islam-kiri Asghar Ali Engineer atau Fazlur Rahman yang tak kalah menarik. Oh iya, bahkan di Amerika Latin Uskup Gustavo Gutierrez menelurkan “teologi pembebasan”; buah perpaduan unik antara marxisme dengan doktrin gereja. Asyik, kan’?

Apakah penulis seorang komunis?
Dulu “marxis” mungkin iya; marxis lho, bukan komunis. Tapi saya sudah lama meninggalkan marxisme sejak di pertengahan bangku kuliah S1 sekitar tahun 2007-2008.

Kenapa penulis meninggalkan marxisme?
Ada deh, mau tahu aje, Lu!
* Beralih ke eksistensialisme yang sangat borjuis dan individualis.

Kalau begitu, mengapa penulis menuliskan tulisan ini? (*Pertanyaan apa sih*&^%$#@?!)
Saya menulis jika ingin menulis. Udah dulu, ya. Daaaaa…


*****

Senin, 10 Agustus 2015

Kisah di Balik Foto Legendaris “The Vulture and the Child”

Kisah di Balik Foto Legendaris “The Vulture and the Child”
“Amende Honorable” bagi Fotografer dan Ilmuwan Sosial


Wahyu Budi Nugroho
Sosiolog Universitas Udayana

Foto di atas diambil oleh Kevin Carter (1994) saat bencana kelaparan dan krisis politik tengah berkecamuk di Sudan. Foto yang populer dengan sebutan The Vulture and the Child [Burung Bangkai dan Gadis Kecil] ini pun segera diganjar anugerah Pulitzer jurnalistik. Sebelumnya, Carter merupakan fotografer Afrika Selatan yang mendokumentasi konflik antara massa pendukung Mandela (ANC) dengan massa anti-Mandela (Inkatha), ia tergabung dalam The Bang Bang Club bersama fotografer lain seperti Ken Oosterbroek, Joao Silva, dan Greg Marinovich. Dinamai demikian—The Bang Bang Club—karena kelompok fotografer ini memang menghasilkan foto-foto bombastis bagi dunia. Ketergantungan Carter pada narkoba-lah yang menyebabkannya didepak dari kelompok ini, dan kemudian bersama Jaoa Silva hijrah ke Sudan. Karuan, Sudan yang dianggap Carter sebagai tempat pembuangan karir fotografernya justru menghantarnya pada penganugerahan Pulitzer yang didambakan hampir setiap fotografer; anugerah yang telah diperoleh teman segengnya di The Bang Bang Club, Greg Marinovich (1990), lewat foto kekerasan jalanan di bawah ini.


Namun, anugerah Pulitzer yang diterima Carter tak lantas memuluskan karirnya atau membuatnya senang, ia malah depresi dan memutuskan bunuh diri tiga bulan kemudian. Ini dikarenakan, saat jumpa pers digelar untuk membahas fotonya yang mencengangkan dunia itu, muncul banyak pertanyaan yang dirasa Carter sebagai bentuk “serangan” atas dirinya, yakni seputar kelanjutan nasib gadis kecil tersebut; Apakah Carter menolongnya? Apakah gadis itu selamat? Apakah gadis itu kembali ke keluarganya? Dan serangkai pertanyaan senada-sinis lainnya. Nyatanya, Carter tak menolongnya dan tak mengetahui kelanjutan nasib gadis kecil itu, ia sekedar mengambil potretnya dan meninggalkannya begitu saja; inilah kesalahan besar yang membuat Carter begitu tertekan hingga memutuskan untuk mengakhiri hidup.

Hal serupa dapat pula terjadi pada seorang ilmuwan sosial, ketika ia melihat “kesengsaraan” di hadapannya, apakah ia sekedar mengambilnya bagi kepentingannya semata; semisal keperluan skripsi, tesis, disertasi, jurnal ilmiah, buku, artikel koran, maupun kepentingan publikasi lainnya; ataukah ia turut andil dalam pemecahan kesengsaraan tersebut?—dengan kata lain: emansipa(si)toris. Bagi mereka yang sekedar memanfaatkannya untuk kepentingan diri, sudah selayaknya “amende honorable” dilakukan. Hal ini memang seyogyanya ditradisikan guna mencegah kian menjamurnya ilmuwan sosial-humaniora yang sekedar “gemar jual kemiskinan dan kesengsaraan”, tak terkecuali menjadi autokritik bagi penulis pribadi yang secara sengaja atau tak sengaja, pun secara langsung atau tak langsung pernah melakukannya.

*****

Amende honorable was originally a mode of punishment in France which required the offender, barefoot and stripped to his shirt, and led into a church or auditory with a torch in his hand and a rope round his neck held by the public executioner, to beg pardon on his knees of his God, his king, and his country; now used to denote a satisfactory apology or reparation.

Selasa, 14 Juli 2015

Keinsyafan dan Kesadaran

Keinsyafan dan Kesadaran
(satu lagi tulisan saya yang tak bertanggung jawab)



Wahyu Budi Nugroho

Orang-orang seperti Marx dan Bourdieu menganggap kesadaran sebagai pemahaman akan segala sesuatu yang tak bersifat sui generic, atau taken for granted, atau “apa adanya”; melainkan sebentuk pengetahuan bahwa segala sesuatunya sengaja dikonstruksi oleh kuasa adikodrati atau transenden—kekuatan yang melampaui segala yang diciptanya: sebuah infrastruktur yang menopang superstruktur. Marx akan dengan senang hati menyebutnya sebagai kekuatan ekonomi, sedangkan Bourdieu: “struktur kognitif”. Pemahaman bahwa segala sesuatunya dikonstruksi, dan kita selaku subyek maupun kolektif, dapat turut andil dalam penciptaan konstruksi tersebut; merubahnya, atau bahkan meruntuhkannya: inilah yang dinamakan kesadaran! Secara lebih spesifik, Marx menyebutnya sebagai true consciousness ‘kesadaran yang benar’, sedangkan Bourdieu, doxa ‘lompatan habitus’. Bagi Bourdieu, doxa bukanlah tujuan akhir, masih terdapat ortodoxa dan heterodoxa; namun kali ini, saya tak tertarik mendiskusikan apa yang hadir setelah kesadaran, bolehlah dikata sementara ini: There is nothing behind it.

Apakah hadirnya keinsyafan sama dengan proses munculnya kesadaran? Inilah yang ingin saya bahas sekarang. Semenjak kesadaran bersifat intensional—consciousness is always consciousness of something—maka, begitu pula dengan keinsyafan: keinsyafan selalu keinsyafan akan sesuatu. Bisa jadi, keinsyafan terhadap rokok, minuman keras, sex bebas, atau yang lainnya. Di awal paparan ini, kita menemukan titik temu antara keinsyafan dengan kesadaran, bahwa baik keduanya memerlukan obyek bagi pondasi eksistensinya. Akan tetapi, sebentar lagi, ya, sebentar lagi, kita akan sampai pada perenggangan titik tersebut hingga mencipta jalan masing-masing, katakanlah; keinsyafan ke samping kanan, dan kesadaran ke samping kiri (hehe). Ini terjadi manakala kita beralih pada konsep kesadaran yang berbasis pada keragu-raguan cartesian, serta spontanitas impersonal yang lahir melalui ex-nihilo. Dapatkah keinsyafan lahir dari keragu-raguan? Bukankah keinsyafan merupakan keteguhan tanpa celah, keyakinan akan dunia baru sehingga kita mantap mendiaminya?

Dalam doktrin teistis, keragu-raguan selalu identik dengan setan, iblis, atau mereka yang tak beriman, bahkan terdapat pula adagium: “Setan adalah keragu-raguan”. Seperti halnya waktu senggang, keragu-raguan ditempatkan sebagai akar dari segala kejahatan. Begitu pula, keinsyafan selalu identik dengan hak prerogatif Tuhan; hidayah, rahmat; yang turut menjadi persoalan adalah, mungkinkah kita merasionalkan hidayah sebagaimana konsep kesadaran? Jika ini dimungkinkan, maka persamaan antara keinsyafan dengan kesadaran akan kian dekat, namun jika tidak, keinsyafan pun akan berlari menjauhi kesadaran, dan begitu pula sebaliknya. Ada satu paparan Kierkegaard yang memberi harapan titik temu antara keinsyafan dengan kesadaran, yakni perihal “lompatan iman” yang dilakoni manusia sedari kehidupan estetis menuju etis, dan pada akhirnya menuju kehidupan religius. Masing-masing lompatan tersebut mengandaikan kehampaan manusia yang muncul lewat keragu-raguan—Apakah aku terselamatkan?—sehingga ia memilih beralih pada kehidupan selanjutnya (etis), dan selanjutnya (religius). Kehampaan di setiap tahap tersebut pun berkelindan dengan konsep spontanitas impersonal yang muncul melalui ex-nihilo: bahwa kekosongan itulah yang menuntut kita untuk bertindak, juga memilih.

Poin penting yang dapat diambil dari konsep keinsyafan-kesadaran Kierkegaard di atas adalah “merasai” dan “mengalami”. Pengalaman merupakan sebab urgen bagaimana keinsyafan dan kesadaran dapat timbul; mengutip Heidegger: kita tak berada dalam kehidupan, melainkan kitalah kehidupan itu sendiri; kita tak berada dalam dunia, kitalah dunia. Namun persoalannya, bukankah tak setiap pengalaman memunculkan keinsyafan atau kesadaran. Di sini, konsep “mengalami” Kierkegaard telah gagal menjelaskan proses hadirnya keinsyafan ataupun kesadaran. Bisa jadi, konsep Heidegger tentang “dunia yang tak berjalan semestinya” sehingga menimbulkan angst ‘kegelisahan’ lebih dapat diterima bagi munculnya kesadaran; bahwa sekedar pengalaman-pengalaman spesifik-lah yang memungkinkan munculnya hal tersebut. Ini dapat diterima bagi kesadaran, namun tidak sepenuhnya bagi keinsyafan mengingat keinsyafan dapat muncul secara tiba-tiba—ingat ilmu laduni—ia seperti tirai yang tersibak begitu saja, dan seketika kita dapat berkata: “Aku melihat terang!”.

Di sini, tampak jelas jika keinsyafan tak memerlukan keragu-raguan, juga ex-nihilo. Secara rasional, keinsyafan merupakan totalisasi tanpa totalisator yang tegas lagi jelas. Bisa jadi, keinsyafan telah ada dan tergeletak begitu saja bagi kita; hingga kita memungut untuk kemudian memilih atasnya, dan bertindak akannya. Namun, apa yang membuat kita memutuskan untuk memungut atau tidak memungutnya? Bagaimana mungkin ada totalisasi tanpa totalisator???

There is something behind it.

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger