"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 28 Maret 2015

PEMBUNUHAN

PEMBUNUHAN


Wahyu BN

Aku dituduh membunuh mahasiswaku. Ini bermula saat ia terbahak keras dengan sebab tak jelas di kelas, hingga ia jatuh dan kepalanya membentur lantai, tapi ia tak berhenti; bahaknya malah menjalak, meski suar’nya mulai serak; ia terus tertawa wa wa wa.

“Heh, kamu kenapa?!” tujuku padanya dengan suara cukup keras.
“Hahahaha. Hahahaha,” ia masih saja tertawa. “Kurang ajar…”, batinku.

“Heh, diam kamu!” kucoba menggertaknya.
“Hahahaha. Hahahaha,” tak ada yang berubah, ia justru menunjukku dari kejauhan. Asem.

Kesalku telah diubun-ubun, kuhampiri dirinya. Dan… “Braaaaaak!!!”. Kubanting keras kursi kosong di sampingnya. Ia kaget, matanya sedikit membelalak, bagusnya; ia mulai diam.

Kuawasi dirinya sambil melangkah pelan ke belakang. “Bagus, ia tetap diam…”, lagi sua’ batinku. Perkuliahan pun berlanjut.

“Tak ada ‘benar-salah’ dalam sosiologi, melainkan ‘diterima atau ditolak’. Ini mengingat…,” paparanku terhenti. Sesaat kuamati bocah barusan, ia tampak gusar dan meraut gelisah, dicari-carinya sesuatu dalam tas yang sekira tak ditemunya. Ia mencari dan terus mencari, seperti pria gaek mencari pasangan. Kepayahan mukanya kulihat betul; eh, ia tampak putus asa. “Kasihan deh, Lu…”, lagi batinku bercuap. Apakah aku jahat?

Bocah itu tak lagi berkutik. Matanya menatap lurus sedikit melotot, kedua tangannya bertumpu dengkul kanan dan kiri terkesan menahan sesuatu, mirip orang kontraksi: Apa ia buang air di kelas *&^%$#@!?

Tak kuhiraukan lagi bocah itu, setidaknya ia sudah hening. Hanya saja, kalau nanti tercium bau busuk; pastilah itu bersumber darinya. Memang, sejak dulu kuperhatikan perangainya cukup aneh. Ia sering terlihat was-was, tatapannya kerap hampa, sesekali kupergok ia tampak menahan sakit, tapi tak sampai merintih. Au ah.

Empat puluh menit berselang. Kuliah usai.

Segerombol mahasiswa pria-wanita-waria mulai menyerbu pintu. Kadang ku bertanya-tanya tentang pintu kelas ini. Dari luar, ia dinamakan “pintu masuk”; sedang dari dalam, ia dijuluk “pintu keluar”. Kok bisa ya? Oh iya, inilah kuldesak; satu pintu untuk keluar-masuk. Tuhan, kenapa aku memikirkan hal-hal yang tak penting?

Kelas mulai sepi, sekedar tertinggal beberapa mahasiswa, tapi bocah itu sama sekali tak bergeming. Posenya tetap sama, tak bergeser barang sesenti pun. Beberapa mahasiswa juga mulai terheran-heran, bertataplah mereka satu sama lain: “Ada apa gerangan?”. Eng-ing-eng.

Ku melangkah pelan menghampirinya. Ia balas tak mengacuhkanku; tatapannya tetap sama: melotot lurus ke depan, dan … kosong.

“Heh, kamu nggak kenapa-napa kan?” aku mencoba dirinya.
“…” tak ada respon.
“Heh, halooo?” kugerakkan pergelangan tangan kananku tuk menghalau pandangannya. Sama saja.

Sejurus, kulancarkan tangan kiri pada lengan kanan bocah itu tuk menggodanya bergerak.

Ya, ia bergerak; tapi langsung ambruk begitu saja. Kutadah hidungnya tuk meraba hembusan nafas, kosong. Kupegang tangannya, dingin.

…ia MATI!

Tak menunggu lama, lima personel poliysi tiba di TKP, satu di antaranya mengenakan jeans biru, pakaian putih kerah, dan jaket kulit hitam; tampilannya bak detektif, “…atau mungkin ini ya yang namanya penyidik? Entah.”, ucap batinku nan suci-murni. “Memang, ku tak tahu-menahu istilah dalam kepoliysian, juga cara kerja mereka; kecuali poliysi tidur yang kerjanya tidur terus”, lanjut batinku.

“Bapak harus ikut kami ke kantor,” ucap si poliysi detektif.
“Hah, saya Pak?” aku terhenyak.
“Iya, kamu. Siapa lagi, masa bapakmu,”
“Ya tak apa Pak, kalau mau ambil bapak saya,”
“Heh, kamu itu lho! Kamu yang ikut! Kamu beneran dosen bukan sih, dodol beud!”
“Iya, saya dosen Pak, tapi bapak saya juga dosen; guru besar malah. Gimana, mau ambil bapak saya aja, Pak?”
“Dodol! Kamu ikut kami!”

Karuan, kepalaku mual, perutku pusing; ini kali pertama ku berurusan dengan pihak berwajib. Aku betul-betul digelandang, aku diciduk.

Sesampainya di kantor poliysi, aku ditanya-tanya; pun kujelaskan kronologi kejadian yang menimpa bocah itu; mahasiswa yang meregang nyawa di kelasku.

“Kamu tersangka!” seketika, ucapan itu terlontar dari mulut pak poliysi di hadapanku, ia juga tengah mengoperasikan mesin tik. Aku ingin pingsan, tapi tak bisa pingsan; aku ingin milkshake vanila, tapi hanya ada segelas air putih.
Kukuatkan diri tuk berkata-kata. “Pak, bagaimana bisa Anda langsung menetapkan saya sebagai tersangka?!”
“Ya bisya dong, saya kan poliysi,”
“Dasarnya apa, Pak?!”
“Anak itu tertawa karena melihatmu, itu salahmu; mungkin penampilan atau caramu mengajar membuatnya tertawa. Kamu memarahinya, membuatnya kaget, dan membuatnya membutuhkan suntikan insulin yang tak dibawanya; itu salahmu. Ia terlalu takut menelpon atau keluar kelas karena barusan kau marahi; itu salahmu. Pokoknya kamu yang salah!”
“Oh, begitu ya, Pak?”
“Iya, simpel kan!”
“Iya e Pak, kok simpel banget ya, Pak?”

Segera ku dijebloskan ke penjara; tanpa pengacara, tanpa persidangan. Aku yang sejam lalu masih berstatus sebagai dosen dan mengajar, kini menjadi tahanan. Status kepegawaianku dicabut, dan mungkin; sebentar lagi istriku juga bakal mencabut cintanya dariku; semoga tidak anak-anakku…

Malam pertama di penjara adalah tragedi besar kemanusiaanku. Ketakutanku akan ketidakbebasan benar-betul comes true. Aku terpenjara. “Eh, beneran nih aku dipenjara? Jangan becanda gitu dong. Beneran nih? Eh, bener ya?! Masa sih? Becanda, Lu? Masa aku dipenjara? Aku kan orang baik-baik…”, demikian upayaku meyakinkan diri; bercuap dengan diri sendiri.

Keesokan paginya…

Teng! Teng! Teng! Teng! Seorang poliysi memukuli jeruji sel tempatku menghabiskan nyawa dengan percuma.

“Bangun kau! Bangun!”
“Ya … ada apa ya, Pak…?” harusnya ia tak perlu berteriak, karena memang aku tak tidur semalaman.
“Putusanmu sudah keluar dari pengadilan,”
“Hah, putusan?”
“Iya, putusan. Masa sambungan!”
“Oh, iya ya. Gimana Pak putusannya?” penuh rasa ingin tahu ku bertanya, meski diriku sama sekali tak tahu-menahu soal persidangan. Harapku, semua tak lebih dari salah paham.
“Kamu dihukum mati!”
“Lho, kok bisa seenaknya gitu, Pak?!”
“Bisa dong, ini kan Republik Endoneysa,”
“Ya sudah, kalau gitu saya jadi warga negara yang seenaknya saja!”
“Ya sana enak-enakin aja di penjara,”
“Bajigur kamu, Pak!”
“Mending ya saya bajigur, daripada kamu: PEMBUNUH!”
“Kampret!”
“Kamu itu!”
“Kamu!”
“Kamu!”
“Aku!”
“Nah, tuh kan!”
“Bajigur! Salah ngomong!”

Well, aku dihukum mati. Hendak bagaimana lagi? Dan ini Endoneysa.

Ada dua kematian yang dilalui setiap manusia dalam hidup; aku telah melalui yang pertama: kematian karakter. Dan kini, menanti kematian kedua sekaligus terakhirku: kematian biologis.

Seminggu berselang. Aku bak seonggok daging yang membangkai. Tapi, yang terparah bukan itu, tiada orang sudi menjengukku; orangtua, istri, anak; semua tak ada. Seketika, teringatku pada kata-kata seorang sastrawan besar dari negeri seberang, Pramoedya Ananta Toer: “Orang bisa merampas kebebasan bercakap dengan orang lain, tapi, bercakap dengan diri sendiri; siapa gerangan bisa merampasnya?!”. Itulah rutinitasku sekarang; mengajar diri sendiri.

“Betul kamu dosen pembunuh itu?” tiba-tiba seorang poliysi menanyaiku. Sama sekali tak kudengar derap langkah mendekat dari luar sel sebelumnya. Dan memang, aku tengah membelakangi jeruji, meratapi tembok absurditasku.
Segera ku berbalik dan berkata lirih, “Iya, benar…,”

Tak pernah ku melihat atau bertemu papas dengan poliysi yang satu ini. Apakah ia malaikat penjemput nyawaku? Wajahnya cerah, pembawaannya tenang, cara bicaranya juga halus. Apa memang orang-orang seperti ini yang ditugaskan tuk membawa “kabar gembira” itu?

“Betul kamu dulu mengajar sosiologi?” ia kembali menanyaiku.
“Iya, betul…”
“Bagus, ini hari keberuntunganmu,”
“Ya, cepat-lambat hari itu bakal tiba…” jawabku pasrah.
“Apa maksudmu?” tanya balik si poliysi cepat.
“Hari yang dijanjikan, hari kematianku…”
“Oh, bukan itu, bukan,”
“Hah, bukan ya? Lalu apa ya?”
“Begini, kami sedang mengalami kekosongan jabatan di divisi humas kepoliysian. Kami berniat mengangkatmu untuk mengisi kekosongan itu,”
“Hah, saya? Ciyus?!”
“Ciyus!”
“Kok saya, Pak? Kok nggak poliysi-poliysi yang lain?!”
“Yang lain pada nggak mau e, kamu aja ya,”
“Tapi, saya kan tersangka, Pak. Sebentar lagi saya dihukum mati lho,”
“Hukumanmu sudah dicabut. Beres kan?”
“Kok enak banget gitu ya Pak, nyabut hukuman?”
“Enak dong, ini kan Endoneysa. Kemarin aku udah bilang sama poliysi-poliysi lain di warung kopi,”
“Oh gitu ya Pak, oke deh Pak kalau gitu,”
“Nah, gitu dong… Deal?”
 “Deal!”
“Jadi, mau tirai nomor berapa?”
“*&^%$#@!”

Demikianlah keabsurdanku. Betapa mudah hidupku berubah 360 derajat. Sedari dosen, menjadi tahanan, lalu kini: menjadi seorang poliysi yang taat. Betapa kurang ajar nasib dan perasaan mempermainkanku.

Aneh ya? Aneh dong. Ini kan cuma TULISAN.

*****

Denpasar, 28.03.15 | 09.39

Sabtu, 21 Maret 2015

“MR 73”: Tinjauan Psikoanalisis Tokoh dan Kejadian

“MR 73”: Tinjauan Psikoanalisis Tokoh & Kejadian
TRANSKRIP Bedah Film @Bentara Budaya Bali, 15/03/15


Wahyu Budi Nugroho

Pendahuluan
Baik ketiga tokoh yang disorot dalam film ini: inspektur polisi, Schneider; Justine; dan tersangka pembunuh berantai, Subra; ketiganya merupakan “orang sakit”. Schneider yang kecanduan alkohol akibat kematian istri dan anaknya, Justine yang mengalami trauma dan keparanoidan akut akibat pembantaian kedua orang tuanya, serta Subra sendiri sang psikopat pembunuh berantai.

Schneider & Justine
Kedua tokoh ini mengalami trauma dalam hidupnya; trauma, dalam bahasa Yunani berarti, “luka yang membekas”. Trauma inilah yang kemudian menyebabkan keduanya merasa terdapat kekurangan atau “kekosongan” dalam dirinya untuk dipenuhi; Schneider yang menghendaki istri dan anaknya kembali, kemudian memanipulasinya dengan minum-minuman keras (baca: alkohol); Justine yang begitu kekurangan akan rasa aman, lalu memenuhinya dengan fantasi tentang si pembunuh berantai. Dalam ranah psikologi, apa yang menimpa mereka disebut “katarsis”; yakni penghempasan kekalutan pada hal lain.

Sebetulnya setiap kita pun memiliki kekosongan, celah; karena manusia merupakan makhluk berkesadaran. “Aku sadar akan diriku”, ada dua “aku” di situ, antara “aku” pertama dan “aku” kedua terdapat jarak atau kekosongan yang menuntut untuk diisi. Hanya saja, kekosongan yang kita alami tak separah dan seakut Schneider serta Justine. Sedangkan jika kita bandingkan dengan benda, benda itu tidak memiliki celah atau kekosongan; ia solid.

Namun demikian, sesungguhnya penyakit yang dialami Schneider dan Justine lebih parah ketimbang Subra. Baik Schneider dan Justine secara aktif menghancurkan (baca: membunuh) dirinya sendiri, sedang tidak Subra yang berhasrat membunuh orang lain. Dalam batas-batas tertentu, secara naluriah, menjadi wajar ketika manusia berhasrat mengeliminasi manusia lain—bukan dirinya sendiri (homo homini lupus).

Psikopatologi
Secara tidak langsung, film ini ingin mengatakan bahwa psikopat ada di sekitar kita; dan ini benar adanya. Beberapa waktu lalu, Prof. Dr. Azrul Azswar dari kemenkes mengatakan bahwa “satu dari empat orang di Indonesia menderita sakit jiwa”—ini artinya, kalau tiga teman Anda baik-baik saja, berarti Anda yang sakit jiwa. Ada di sini yang psikopat? Salah satu ciri psikopat itu menganggap diri lebih tinggi, lebih spesial, atau lebih penting dari orang lain. Nah ini, jangan-jangan kita jadi psikopat karena diciptakan lingkungan. Seorang psikopat tidak untuk dilahirkan, tetapi diciptakan. Coba lihat iklan-iklan di TV sekarang, semua menekankan betapa spesialnya diri kita: “Karena Anda begitu spesial…”.

Sama seperti fenomena penembakan sekolah-sekolah di Amerika Serikat. Para pelakunya adalah psikopat yang dihasilkan (diciptakan) oleh lingkungan, dalam hal ini media: game. Game seperti tembak-tembakan membuat mereka larut dalam apa yang diistilahkan Baudrillard sebagai “hiperrealitas”: ihwal yang melampaui kenyataan. Ini pada akhirnya membuat mereka tak bisa membedakan antara mana realitas (kehidupan nyata) dengan kehidupan khayal (kehidupan artifisial/buatan yang diciptakan oleh media); jadilah koboi-koboian di sekolah atau jalanan.

Hal yang menjadi persoalan adalah, film ini menggiring pandangan kita bahwa psikopat adalah orang yang dicirikan dengan penampilannya yang lusuh, rambutnya yang acak-acakan, dan tak punya pekerjaan jelas. Padahal, psikopat bisa jadi siapa saja; bahkan bisa saja polisi. Seperti beberapa waktu lalu, ada kasus karyawan perusahaan di Bali yang bekerja sambilan sebagai guide, dan dia membunuh turis-turis yang dipandunya, turis yang jadi sasarannya selau turis Jepang; entah kenapa. Secara pembawaan, karyawan ini sopan, murah senyum, dan baik. Tak ada yang menyangka kalau dia bisa membunuh; tapi kenyataan berkata lain.

Demonstration Effect
Sebetulnya, dengan mengangkat (baca: membuat) film ini, sesungguhnya si produser/sutradara membuka kemungkinan/potensi pada penonton untuk meniru tokoh psikopat yang ada di film ini. Mengapa? Karena seperti diutarakan Veblen, media (baca: TV) memiliki demonstration effect ‘efek demontrasi’. Siapa tahu kebut-kebutan motor di jalan itu terpengaruh (terinspirasi) setelah menonton tayangan balapan motor GP?. Di Amerika Serikat misalnya, kejar-kejaran mobil antara sipil dengan polisi itu hampir jadi makanan tiap hari. Ini karena di setiap film Hollywood selalu menampilkan adegan kejar-kejaran mobil; coba Anda amati film-film Hollywood, tak satu pun yang tak ada adegan kejar-kejaran mobil. Seperti kasus begal motor di tanah air, awalnya sedikit, tapi karena kemudian diangkat di televisi, lalu jadi banyak. Saya yakin tak semua dari begal motor itu awalnya betul-betul serius dan niat melakukan aksi begal; tapi karena mereka mendapat “banyak contoh” dari TV, mereka pun lalu ikut-ikutan. Nah, ini seperti ungkapan Johan Huizinga bahwa manusia adalah homo ludens ‘makhluk yang suka bermain-main’.

Seperti yang pernah saya bilang juga ke mahasiswa-mahasiswa saya; cara paling mudah melihat efek film atas individu atau publik itu mudah. Tunggu dan berdiri saja di dekat pintu exit bioskop. Kalau habis nonton film action, biasanya orang keluar sambil petantang-petenteng, tapi sebaliknya kalau habis nonton film romantis, wajahnya melankolis.

Apabila ini kisah nyata, maka film ini justru melipatganda teror. Seperti wawancara yang dilakukan Giovanna Borradori pada Jurgen Habermas dan Jacques Derrida tentang WTC (2001); tayangan yang berulang-ulang tentang tragedi WTC itu justru melipatganda teror bagi masyarakat.

Subra
Tokoh ini pun sebetulnya juga korban; kenapa ia bisa jadi seorang psikopat? Ingat, seorang psikopat tidak untuk dilahirkan, tapi diciptakan. Dalam film serupa—film-film psikopat—seperti Hannibal misalnya, di seri pertama dan kedua, ditampakkan sekali kalau Hannibal merupakan sosok yang bersalah. Baru di sekuel selanjutnya dijelaskan bagaimana proses Hannibal menjadi seorang psikopat. Dari situ kita tidak bisa lagi secara serampangan mengatakan bahwa Hannibal adalah sosok yang benar-benar bersalah; ia menjadi psikopat juga disebabkan oleh orang lain; bukan salahnya sendiri. Seperti para pelaku sodomi misalkan, nyatanya sebagian besar pelaku sodomi adalah mereka yang pernah menuai pengalaman serupa sewaktu kecil. Nah, ini kita kembali ke konsep katarsis: penghempasan kekalutan pada hal lain atau orang lain.

Film ini, sejak awal sudah menempatkan sang psikopat sebagai sosok yang bersalah dan jahat. Kalau kita gunakan konsep camera lucida dari Roland Barthes; mata kamera itu selalu bersifat satu dimensi; dimana ada citra yang ditampilkan, di situ selalu ada citra yang disembunyikan. Nah, tokoh yang paling banyak disorot dalam film ini adalah Schneider dan Justine, menjadi mudah bagi kita untuk mengidentifikasi siapa pemeran utamanya, juga siapa yang baik, dan siapa yang jahat. Sama seperti sekarang, karena banyak mata memandang ke arah saya, seolah sayalah yang jadi tokoh utama dalam acara ini; saya menjadi sentris, pusat. Padahal belum tentu analisis saya lebih bagus ketimbang kalian yang duduk di sana memperhatikan saya. Bisa jadi, kalian yang lebih pantas berada di depan sini untuk “berkhotbah”.

Konsep camera lucida-Roland Barthes di sini juga tampak lewat ketidaklengkapan alur film; ada yang sengaja disembunyikan. Dalam hal ini, kisah atau proses Subra menjadi seorang psikopat. Seolah di-cut begitu saja, dan tiba-tiba kita mendapati sosok Subra sebagai yang jahat. Dalam film ini, sekali lagi, saya memandang, Schneider dan Justine lah yang sebetulnya jauh lebih bermasalah.

Motif Pembuat Film: Tinjauan Psikoanalisis Media
Kita berhak bertanya ihwal seputar motivasi produser atau sutradara MR 73 membuat film ini. Kalau kata Feurbach, produser atau sutradara yang membuat film sebetulnya tengah merefleksikan kehidupannya sendiri. Dalam arti, ketika ia mendapati ketidakpuasan dalam dirinya atau hidupnya, ia mensubstitusi hidupnya dengan kehidupan tokoh utama yang diciptakannya dalam film. Di sini kita kembali pada katarsis; yakni film sebagai sarana penghempas kekalutan pembuatnya. Bisa jadi sang pembuat film ingin membagi pengalamannya terteror/terintimidasi pada khalayak. Penerawangan ihwal seputar motivasi pembuat film memang sangat samar, ini seperti menerawang motivasi “wanita yang merokok”; apakah wanita yang merokok itu betul-betul menginginkan rokok tembakau, atau jangan-jangan “rokok-rokok yang lainnya”; sementara rokok tembakau sekedar digunakannya untuk mensubstitusi atau memanipulasi keinginan lain yang sesungguhnya.    

Penutup
Pada akhirnya, saya menemui simpulan bahwa apa yang sebetulnya diharapkan sang inspektur polisi, Schneider, dan si wanita bernama Justine, adalah kematian dirinya sendiri. Ini seperti konsep the lost paradise ‘surga yang hilang’; bahwa apa yang sebetulnya kita cari “di luar sini” adalah kenyamanan dan keamanan seperti saat dikandung ibu. Schneider yang mengharap kenyamanan saat berkumpul dengan anak-istrinya, serta Justine yang mendamba keamanan ketika kedua orangtuanya masih hidup. Tegas dan jelasnya, Schneider dan Justine sebetulnya merupakan sosok (tokoh) yang jauh lebih berbahaya ketimbang si pembunuh berantai, Subra.


*****

Berita;


Senin, 09 Maret 2015

Menyoal Geng Motor Dewasa Ini

Menyoal Geng Motor Dewasa Ini
Suara Publik, TVRI Bali 09/03/15


Apa yang melatarbelakangi munculnya geng motor remaja?
Pertama, kita perlu membedakan antara geng motor dengan klub motor. Klub motor umumnya tercatat di kepolisian dan masyarakat, menggunakan satu jenis (merek) motor, dan umumnya membawa agenda-agenda advokasi, seperti; mensosialisasikan cara berkendara yang baik dan benar, advokasi lingkungan, tak jarang juga mereka turun memberikan bantuan sosial saat terjadi bencana alam. Tegas dan jelasnya, klub motor lebih sebagai bentuk komunitas hobi.

Sebaliknya, geng motor tidak tercatat di kepolisian ataupun masyarakat, mereka menggunakan beragam jenis motor, serta memiliki aturan atau nilai-normanya sendiri.

Sesungguhnya, fenomena “geng-gengan” di usia remaja merupakan hal yang wajar, anak dengan usia remaja memang cenderung menjadikan teman sebaya atau sepermainan (peer-group) sebagai acuan. Hal ini menjadi tak wajar ketika tindakan mereka mulai menyalahi nilai dan norma sosial, bahkan mengarah ke tindakan-tindakan vandal; pengrusakan, kekerasan, dan sejenisnya. Di sisi lain, sering kali muncul rasa bangga pada remaja yang memiliki keanggotaan suatu geng; merasa berbeda dari yang lain, istimewa, atau serasa mempunyai prestige tersendiri. Dan umumnya, anak-anak yang tergabung dalam geng motor adalah mereka yang kurang memiliki saluran untuk beraktualisasi dan mengekspresikan diri.

Mengapa geng motor identik dengan kriminalitas?
Para anggota geng motor adalah mereka yang mengalami desosialisasi; tercerabut dari akar sosial, kemudian memasuki suatu perkumpulan baru yang memiliki nilai dan normanya sendiri. Sering kali, perkumpulan ini menjelma menjadi massa di mana benar-salah menjadi tersamarkan, inilah mengapa, tindakan mereka cenderung mengarah pada anarkisme dan vandalisme.

Di sisi lain, kultur masyarakat kita yang kental dengan konsumerisme mendorong masyarakat untuk “terus memiliki dan memiliki”, inilah yang kemudian mendorong mereka yang tak kritis untuk memperoleh segala sesuatu secara instan; tanpa pikir panjang.

Bagaimana dengan masyarakat yang main hakim sendiri dalam merespon munculnya geng motor?
Ketika negara atau aparat tak hadir, menjadi lumrah ketika nantinya msyarakat “bergerak sendiri”. Akhirnya, masyarakat sendiri pun menjadi sekumpulan massa layaknya geng motor di mana benar-salah tersamarkan. Inilah mengapa, tindakan-tindakan seperti main hakim sendiri pun kemudian dilumrahkan—oleh masyarakat.

Tak ada hal lain yang ditimbulkan anarkisme kecuali munculnya bentuk-bentuk anarkisme baru sebagai balasan. Di sinilah peran penting pemerintah atau aparat untuk memutus mata rantai anarkisme tersebut mengingat merekalah yang sesungguhnya memiliki legitimasi untuk menggunakan berbagai instrumen kekerasan.

Apa solusi jangka pendek dan jangka panjang yang bisa diambil untuk mengatasi persoalan ini?
Pertama, keluarga sebagai unit sosial terkecil harusnya mempunyai peran lebih dalam mengontrol anggotanya (baca: anak). Kedua, sekolah. Ihwal yang patut disayangkan, tak diragukan lagi jika guru memiliki basis pedagogi—ilmu kependidikan—yang baik, namun sering kali mereka, entah secara sadar atau tidak, “keceplosan” melabelkan siswa-siswi yang dianggap nakal dengan berbagai label negatif, inilah yang membuat mereka—anak didik—justru tercerabut dari akar dan kian ter-eksklusi. Pada gilirannya, mereka pun bakal beralih pada kelompok atau komunitas-komunitas sosial yang tak terkontrol.

Jangka panjang. Satu hal yang sangat disesalkan adalah, Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang tak memberikan pelajaran sastra bagi siswa-siswi di sekolah—bukan pelajaran bahasa Indonesia, tetapi sastra. Pelajaran sastra memiliki fungsi strategis dalam melunakkan pola pikir berikut perasaan para peserta didik, sekaligus memberikan saluran berekspresi yang konstruktif. Dengan demikian, apabila remaja tengah membutuhkan sarana untuk bereskpresi, mereka akan lari ke puisi, cerpen, dan sejenisnya; ini justru melahirkan kreativitas tersendiri. Pembelajaran sastra juga dapat meredam tumbuhnya bibit-bibit radikalisme.

Begitu pula, patut disayangkan, sepuluh-dua puluh tahun lalu kultur menulis diary atau buku harian sempat menggejala, namun sekarang mulai jarang ditemui, berganti gadget dan media sosial yang menyiratkan ketiadaan ruang privat. Apabila tak terkontrol, bentuk-bentuk ekspresi yang diejawantahkan di ruang publik ini pun dapat menimbulkan provokasi-provokasi baru dan serangkaian hal negatif kemudian.


*****

“HIJAB”: ANTARA RITUAL DAN KONSUMERISME

HIJAB”: ANTARA RITUAL DAN KONSUMERISME
~ Tulisan Terpilih Mahasiswa ~

Ilustrasi hijab: aquila-style.com

Oleh: Elisa Linda Yulia
Ketua Ikatan Mahasiswa Sosiologi (IMSOS) UDAYANA 2014/2015
Editor: Wahyu Budi Nugroho

Abstrak
Tulisan ini berupaya memaparkan pergeseran makna “hijab” (jilbab) di era kontemporer. Tema terkait dirasa menarik mengingat dewasa ini praktek komodifikasi agama (jual-beli agama) menjadi fenomena yang tengah menggejala secara luas dalam masyarakat tanah air. Hubungan yang tampak akrab antara hijab dengan dunia fashion kiranya menimbulkan pertanyaan yang cukup mengusik, apakah hijab mampu mempertahankan “makna awalnya” setelah bersentuhan dengan dunia fashion. Begitu pula, bagaimana motivasi para pengguna hijab setelah ditemui banyaknya komunitas hijab yang menawarkan hijab dengan beragam bentuk dan model, masihkah penggunaannya didasarkan pada motivasi agamis, ataukah sekedar fashion semata. Lebih jauh, tulisan ini berupaya mengkaji berbagai persoalan tersebut.

Kata kunci; hijab, fashion, konsumerisme.

Pendahuluan : Mendefinisikan Hijab
Secara etimologis, kata “hijab” (Al-Hijab) berasal dari bahasa Arab yang artinya “menutupi”. Istilah ini juga sering dijelaskan sebagai, “segala sesuatu yang menghalangi kedua belah pihak”, atau dengan kata lain, “suatu benda yang menghalangi penglihatan terhadap orang lain”. Sebagai misal, ditemuinya tembok atau tirai penghalang bagi kedua belah pihak yang tengah berinteraksi sehingga antarsatu sama lain tidak dapat saling berpandangan (Ramadhan, 2012). Berdasarkan pendefinisian tersebut, setidaknya terdapat dua pengertian tersurat mengenai hijab: Pertama, hijab sebagai instrumen yang menutupi sesuatu; dan Kedua, hijab sebagai instrumen yang memisahkan sesuatu. Dalam pembahasan ini, istilah hijab yang dimaksud lebih pada pengertiannya yang pertama, yakni hijab sebagai penutup aurat, atau yang selama ini lebih dikenal sebagai “jilbab” atau “kerudung”.[1]
Tidak dapat dipungkiri, selama ini jilbab begitu lekat dengan simbol agama Islam. Mereka—wanita—yang berjilbab seolah meneguhkan identitasnya sebagai muslimah[2] yang taat. Memang, secara doktriner, agama Islam mewajibkan setiap wanita yang telah dewasa untuk mengenakan jilbab dengan alasan-alasan tertentu, salah satunya untuk “menjaga kehormatan” mengingat rambut wanita ditempatkan sebagai “perhiasan” dalam agama Islam. Meskipun memang, dewasa ini turut ditemui berbagai upaya untuk menafsirkan kembali kewajiban penggunaan jilbab, terutama wacana-wacana yang dilancarkan oleh kelompok Islam moderat maupun Islam liberal, namun demikian, terlepas dari diskursus seputar wajib-tidaknya penggunaan jilbab, kiranya jilbab tetap ditempatkan sebagai instrumen yang memiliki “makna khusus” dalam agama Islam, bahkan telah menyentuh dimensi ritual[3] dari agama terkait.
Lebih jauh, muatan ritual yang terkandung dalam jilbab dapat dilihat melalui tata cara berpenampilan yang telah ditentukan agama ini. Dalam hal ini, selain wanita tidak diperkenankan menggunakan pakaian yang menunjukkan lekuk tubuh (ketat) dari pundak hingga kaki, ia juga diharuskan (baca: direkomendasikan) menggunakan penutup kepala, yakni hijab. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa hijab memiliki dimensi “kesakralan” tertentu, ia tidak bisa ditempatkan secara profan seperti instrumen atau benda-benda lainnya dalam Islam mengingat telah menjadi bagian dari aturan atau rekomendasi agama. Akan tetapi patut disayangkan, dewasa ini hijab mengalami pergeseran makna, dari instrumen yang bersifat sakral menuju pada keberadaannya yang bersifat profan di mana dimensi agamis darinya lambat-laun mulai tergerus. Kiranya, persoalan pergeseran makna hijab ini menjadi menarik mengingat merepresentasikan berbagai persoalan serupa yang tengah dihadapi, yakni bagaimana hal-hal yang seyogyanya bersifat sakral lambat-laun menjadi profan dikarenakan faktor-faktor eskternal yang melingkupinya. Lebih jauh, pembahasan ini tidak berada dalam kerangka kajian agamis, melainkan sosiologi budaya. Meminjam argumen Max Weber bahwa jika segala sesuatunya telah mengalami “desakralisasi”[4], maka tidak ada lagi yang menarik sekaligus menyentuh di dunia ini.

Dari Ritual ke Fashion
            Telah disinggung sebelumnya bagaimana jilbab menjadi bagian dari dimensi ritual agamis yang memiliki kualitas-kualitas metafisik. Pada ranah berlainan, derasnya laju rasionalisasi dan kapitalisasi seakan tidak bisa tidak turut mencaplok hal-hal yang bersifat sakral ke dalamnya, tak terkecuali hijab. Beralaskan argumen-argumen agamis, hijab kemudian dikomodifikasi atau diperjual-belikan untuk memperoleh profit. Hal ini tampak melalui keberadaan hijab sebagai tren atau fashion dewasa ini. Sebagaimana diketahui bersama, fashion bukanlah fenomena yang hadir begitu saja, melainkan suatu bentuk arus kebudayaan yang sengaja diciptakan dan memuat kepentingan-kepentingan tertentu, terutama dalam menggiring dan mengarahkan khalayak untuk “menggunakan” atau “tidak menggunakan” suatu produk kebudayaan.
            Berdasarkan penelisikan yang dilakukan, tercatat bahwa merebaknya penggunaan hijab di kalangan wanita muslim[5] tanah air dimulai sekitar tahun 2009, yakni ketika sosok Dian Pelangi, desainer muda tanah air, mampu mencuri perhatian lewat busana muslim rancangannya dalam perhelatan Jakarta Fashion Week. Tingginya animo publik terhadap berbagai hasil karyanya mendorong Dian mendirikan Hijabers Community pada tahun 2011. Melalui Hijabers Community inilah tren penggunaan hijab (jilbab) menjadi kian luas dan masif. Hijabers Community sendiri digadang-gadang memiliki misi memperkenalkan “hijab modis” bagi para remaja putri tanah air, sekaligus mengikis anggapan bahwa wanita pengguna hijab adalah kuno (Sartika, 2014).
Pasca berdirinya Hijabers Community, bermunculan banyak komunitas serupa di tanah air seolah hendak mengulang sukses Dian Pelangi. Harus diakui, menjamurnya komunitas hijab secara tidak langsung turut melipatganda “promosi” penggunaan hijab di kalangan remaja putri muslim tanah air. Namun pertanyaannya, sejauh mana berbagai komunitas ini memotivasi penggunaan hijab sebagai dimensi ritual yang sarat nilai-nilai agamis, dan bukannya demi orientasi profit semata?.

Hijab sebagai Fashion dan Berbagai Implikasi Negatifnya
            Kemunculan hijab modis seakan mampu “mendamaikan” antara dimensi ritual dengan penampilan. Dalam arti, terkikisnya anggapan “kuno” atau “tak gaul” bagi mereka remaja putri yang mengenakan hijab. Di satu sisi, motivasi pewacanaan penggunaan hijab oleh komunitas-komunitas hijabers pun masih dipertanyakan, apakah murni dakwah (motivasi agamis), ataukah orientasi profit (keuntungan ekonomi). Namun, apabila pemikiran kritis didayagunakan, maka agaknya dimensi profit berbagai komunitas hijabers lebih kentara ketimbang dimensi dakwah yang dibawanya.
            Lebih jauh, hal di atas disebabkan oleh beberapa hal; Pertama, eksistensi fashion sebagai perihal yang memang “sengaja” dimunculkan. Kedua, munculnya berbagai konstruksi yang sengaja diciptakan oleh berbagai komunitas hijabers, seperti “hijab modis”, “hijab gaul”, “hijab yang tak kuno”, dan lain sejenisnya. Ketiga, beragam konstruksi tersebut seakan menggiring publik untuk menggunakan model jilbab tertentu, dalam hal ini, jilbab yang diproduksi oleh komunitas hijabers. Keempat, digunakannya media sosial (internet) secara masif sebagai sarana promosi hijab ala komunitas hijabers. Penggunaan media sosial secara masif ini kian menunjukkan secara jelas kuatnya muatan kepentingan ekonomi komunitas hijabers untuk mengarahkan opini publik terhadap produk yang dihasilkannya. Melaluinya, komunitas hijabers seolah membuat dikotomi antara “jilbab modern dengan jilbab kuno”, “jilbab bagus dengan jilbab jelek”, serta “jilbab layak-pakai dengan jilbab tak layak-pakai”.
            Kekhawatiran banyak pihak akan implikasi negatif dari tren hijab ini pun terbukti. Beberapa waktu lalu, publik dunia maya dihebohkan oleh perbincangan seputar munculnya fenomena jilboobs. “Jilboobs” adalah julukan bagi mereka yang berhijab namun turut menunjukkan lekuk (baca: kemolekan) tubuh. Fenomena jilboobs menyirat penampilan “setengah agamis dan setengah non-agamis”. Hal ini tentu berdampak pada kacaunya simbol-simbol agamis mengingat “yang sakral” telah bercampur dengan “yang profan”. Bahkan, apabila ditilik secara seksama, dapatlah dikatakan bahwa sesungguhnya gaya berpenampilan jilboobs sama sekali telah kehilangan dimensi agamisnya. Hal tersebut dikarenakan tidak terpenuhinya satu persyaratan dalam berbusana agamis yang baik dan benar, sehingga dapat menggugurkan keseluruhannya. Perlu ditegaskan sekali lagi kiranya, kemunculan fenomena jilboobs ini berkaitan erat dengan pengonstruksian hijab sebagai fashion sehingga memungkinkan munculnya modifikasi-modifikasi jilbab yang justru menjauh serta menyalahi dari aturan (pakem) semula.
            Implikasi negatif hijab sebagai fashion berikutnya adalah munculnya jiwa konsumtif pada remaja putri muslim tanah air. Sebagaimana diketahui, tren atau fashion adalah sesuatu yang bersifat dinamis, selalu berubah, dan memiliki daya persuasif bagi mereka yang menyaksikannya. Dengan ditempatkannya hijab sebagai fashion, maka dapatlah dikatakan bahwa mode (bentuk-bentuk) hijab pun akan selalu berubah, mengalami modifikasi, serta mengalami perkembangan model dan rupa yang tidak terkira. Pada akhirnya, pemakaian hijab pun akan sebatas pada tren/fashion, bukannya sebagai kewajiban agamis yang memang telah digariskan. Apabila telah demikian, maka konsumsi (pemakaian) hijab pun akan lebih terpaku pada “simbol”, antara lain simbol kemodisan, simbol kemodernan, simbol melek fashion, dan berbagai simbol keduniawian lainnya. Dengan kata lain, hijab yang digunakan bukanlah hijab yang berasal dari “dalam” (hati), melainkan sekedar tampilan luar yang kosong dan telah kehilangan makna. Dengan demikian, tidak ada lagi yang tersisa kecuali konsumerisme, hasrat untuk membeli dan terus membeli.
Di sisi lain, persoalan di atas pernah pula dibahas oleh Jean Baudrillard dalam Masyarakat Konsumsi (2009), yakni bagaimana manusia sekarang lebih terpacu mencari ketenangan batin dari luar dan bukannya dari dalam. Sebagai misal, bagaimana individu saat ini merasa menjadi penganut agama yang taat apabila menggunakan pakaian serba baru dalam upacara atau perayaan-perayaan keagamaan. Begitu pula, bagaimana individu merasa menjadi penganut agama yang baik apabila telah menggunakan produk-produk berbau agamis, seperti minuman dan makanan berlabel agamis, handphone dengan aplikasi-aplikasi agamis, bahkan hingga layanan “paket pesan singkat” para pemuka agama yang berisi nasehat-nasehat agamis di mana sesungguhnya semua itu menunjukkan bentuknya sebagai upaya komodifikasi agama atau “jual-beli agama”.

Kesimpulan
            Berbagai uraian singkat di atas kiranya telah menunjukkan secara jelas terjadinya pergeseran makna hijab di era kontemporer, yakni, dari instrumen atau atribut yang awalnya bersifat sakral (agamis), menjadi atribut yang bersifat profan (sekedar duniawi), yakni menemui bentuknya sebagai fashion semata. Lebih jauh, penempatan hijab sebagai fashion pun memunculkan beberapa implikasi negatif, antara lain: Pertama, ditemuinya bentuk-bentuk hijab yang justru menjauh dan menyalahi dari aturan hijab semula; Kedua, tergenjotnya jiwa konsumerisme wanita muslim tanah air akibat terjebak pada “pengonsumsian simbol-simbol” penggunaan hijab yang selalu berkembang dan mengalami inovasi. Fakta sosial tersebut menunjukkan betapa tipisnya benang pemisah antara praktek atau ritual keagamaan dengan konsumerisme. Dalam konteks ini, dapatlah disimpulkan bahwa “hati yang behijab” kiranya lebih baik daripada fisik yang berhijab namun tanpa makna.  


*****


Daftar Pustaka

Buku;
Baudrillard, Jean, 2009, Masyarakat Konsumsi, Kreasi Wacana.

Internet;
Ramadhan, Haifa, 2012, Meluruskan Kembali Makna Hijab, http://www.suara-islam.com/read/index/5194/Meluruskan-Kembali-Makna-Hijab (diakses pada 03 Maret 2015).



[1] Selanjutnya akan digunakan kata “hijab” atau “jilbab” untuk menyederhanakan uraian.
[2] Julukan bagi wanita Islam, sedangkan bagi pria Islam: muslim.
[3] Tata cara keagamaan atau tata laku beragama.
[4] Hilangnya kesakralan sesuatu secara berangsur-angsur.
[5] Terutama remaja putri atau pemudi Islam tanah air.

Rabu, 04 Maret 2015

Kejatuhanku

KEJATUHANKU



Wahyu BN


1 Maret, sekiranya pukul empat sore, aku mulai baikan.

Enam kali muntah; dua kali di kamar mandi, empat kali di kamar kos. Keracunan ikan.

Masih ingat betul diriku, sepagi tadi dengan hati riang menyambangi Pasar Sanglah tuk membeli setengah kilo tongkol. Tak ada yang janggal pagi itu. Aku mulai berkeliling melihat ikan. “Ini sekilo berapa, Bu?”, sambil kutunjuk ikan tuna seukuran betis orang dewasa. “Empat puluh ribu,”. “Oh,” wajahku mulai tak antusias, kuambil ancang-ancang untuk pergi, tapi ibu itu berupaya menghalauku, “Kurang bisa Mas, mau berapa?”. Terlambat, karena memang, sekedar iseng ku bertanya. Tak mungkin kuhabiskan ikan seukuran itu seorang diri, lagian Arif dan pacarnya masih di Jepang.

Sampailah diriku pada ibu-ibu penjual ikan dengan cukup ramai pelanggan. Aku menanti giliran; menanti dengan riang.

Tibalah saatku. “Cari apa, Mas?” ibu itu menyapa dengan hangat.
“Tongkol ada, Bu?” 
“Ini, tinggal dua. Mau ya?” ia tampak merayuku.
“Oke, dua berapa Bu?”
“Delapan ribu,”
“Tujuh ribu ya?” aku balik merayunya.
“Iya deh, saya tambah ikan ini satu lagi,” diambilnya seekor ikan yang begitu asing bagiku; moncongnya lancip, sisiknya banyak, mirip marlin, tapi bukan marlin.

Tujuh ribu, dengan tiga ekor ikan sepanjang telapak tangan pemain basket: puas tak terperi. Jujur, belanjaan pagi itu membuatku jumawa; nyatanya, tak kalah ku dari ibu-ibu rumah tangga yang biasa ke pasar saban pagi. Bayangkan, tiga ekor ikan; dua tongkol, satu ikan antah-berantah; tujuh ribu perak! Mamamia!

Sesampainya di kos, langsung kuambil pisau, lalu kutuju dapur bersama; tempat cuci piring tepatnya, dapur terlalu mewah. Masih dengan hati riang.

Saat-saat membersihkan “jeroan” ikan adalah momen yang meletupkan rasaku, sama seperti ketika hendak menyantapnya. Begitu nikmat kala bisa menarik seisi perut ikan melalui insangnya yang kemerah-merahan. Tapi, prediksiku meleset. Dua jeroan tongkol berhasil kubersihkan tuntas tak tersisa, sedang tidak si marlin KW, ikan antah-berantah.

Mulai kubuat sayatan di samping kanan-kiri tubuh tongkol yang licin. Tentu, agar matangnya merata di penggorengan nanti. Tapi, ada yang aneh, sesaat setelah pisauku menusuk tubuhnya, dagingnya hancur tak karuan. “Ini ikan posmo!”, jerit batinku, “Ia tak berbentuk!”.

Tak kuhiraukan dzwaq dagingnya, terlebih saat kubuat sayatan di sisi lain, dan itu mulai menindih sisi sayatan sebelumnya; dagingnya keluar dari kulit yang sedianya cukup tebal lagi kuat tuk mengikatnya. Cukup menjijikkan juga, mungkin inilah le nausee yang dimaksudkan Sartre: ihwal yang menjijikkan, sebentuk muntah-muntahan, sejenis jeli lengket yang memuakkan. Tololnya diriku, sama sekali tak menganggapnya berbahaya: “Mungkin kalau kugoreng kering tak jadi soal…”.

Saat-saat yang dijanjikan pun tiba, sekira dua puluh menit pasca menyantap tiga ekor ikan goreng kering dengan nasi porsi kuli; jantungku mulai berdegup kencang, kepalaku terasa berat, pun di cermin: kulihat mataku memerah darah. Kutanggung pusing yang tak tertahankan. Seluruh darah serasa terpompa ke kepala. Kekhawatiran akut jelas mendera: pembuluh darahku bisa pecah!

Kuminum dua gelas besar air putih, kemudian kucoba berebah, harapku tak muluk-muluk: bisa lelap barang sekejap. Pernah kubaca, tubuh manusia punya mekanisme luar biasa tuk menyembuhkan penyakit. Indeed, seperti itulah kebiasaanku, tak pernah minum obat saat demam, melainkan mengikuti alurnya hingga get well soon. Moga sebangun nanti aku kembali bergairah.

SALAH BESAR. Setelah kurang-lebih 60 menit tertidur, kondisiku tetap sama, urung jua membaik, bahkan mataku kian memerah. Oh, tidur sekedar memanipulasinya. Sejurus, kuingat pengalaman Kamajaya saat teracun ikan. Kelapa! Ya, air kelapa! Tapi, dimana aku bisa memperolehnya? Kelapa…

Beruntung, ingatanku membantu. Dulu saat menuju Jogja sedari Solo berboncengan dengan Sony, sempat kuminta barang dua-tiga teguk air kemasan yang dibawanya, dan itu air kelapa: Hydro Coco!

Segera kutuju minimarket langganan, menunggangi motor dengan kepala selalu hendak menemu aspal. Di sepanjang jalan, mobile phone tak henti-hentinya bergetar. Belakangan kutahu, Dr. Muhammad Supraja dan calon ibu anak-anakku, Dhila Meutia, menghubungi. Tak kuhiraukan kuatnya getaran hp di saku celana, meski sedikit geli. Air kelapa, air kelapa … ught!

Sesampainya di kos, kuhubungi Dhila, kukatakan kesakitanku. Seperti pikirku, ia mengucap air kelapa, plus satu lagi: “susu beruang”. Bergegaslah kupinta bantuan Komang tuk membelikan susu yang termaksud. Aku memanggilnya parau: “Mang…, Maaangh…,”.

Habis kotak pertama, air kelapa kemasan ini langsung bereaksi. Aku merasa mual dan ingin ke WC. Karuan, aku pun muntah saat B*B. Satu kali. Sesaat, kurasa tugasku belum rampung, ada yang masih harus disemburkan. Kubayangkan lagi daging ikan hancur pagi tadi yang nyatanya memang menjijikkan, dan… Hoeeeek…!. Dua kali.

Aku mulai merasa ringan, tapi masih sangat linglung. Sesampainya di kamar kuhabiskan kotak kedua. Dan … aku muntah untuk ketiga kalinya. Tapi, kali ini muntahku tak sepadat seperti bubur saat di kamar mandi. Muntah keempat dan selanjutnya adalah yang terberat. Tak ada lagi yang bisa dikeluarkan kecuali air, dan air. Muntahan yang sangat pahit dan menekak; aku tercekik-cekik hingga tungkai kaki terangkat, aku sekarat!

Mati. Itulah yang kupikirkan. Akankah aku mati di sini? Telanjang, jauh dari orangtua, dan rumah. Ah, betapa bahagianya mereka yang bisa berkarir di kampung sendiri: s’gala t’lah tersedia. Tak ada badai yang terlalu garang, tiada terik menyengat sangat; dekat keluarga dan teman-teman lama: hangat…

Ya, aku bisa mati di sini. Di kamar kosku, seperti Mahar. Eh, Aku mati di Sanglah-Denpasar, bukan di Jogja. Betapa semua serba tak terencana.

“Kau tak boleh mati!”, sekerat suara menyerua dari dadaku yang terengah. Itu “manusia kecil” dalam diriku. Oh, si manusia kecil, ia berkata-kata! Si manusia kecil!

“Kau tak boleh mati sekarang! Kau bakal menikah tengah tahun ini! Kau akan menulis naskah-naskah penting! Kau masih hendak mengajar dan bercengkrama dengan siswa-siswimu hingga usia enam puluhan! Masih banyak yang perlu dilakukan! Kau tak boleh mati!”

Manusia kecil, apakah aku berhutang pada dunia? Atau, sebaliknya?. Manusia kecil, mungkinkah hidup cuma kebetulan?

Manusia kecil, ini hari kucatat sebagai KEJATUHAN-ku. Kejatuhan pertamaku di Denpasar. Sebelum kau bersuar’ nyaring tentang betapa-betapanya segala...

Manusia kecil; akulah manusia kecil yang berhutang pada manusia kecil. Kupikir kita sepakat: tak ada wanita sejalang ibu-ibu penjual ikan busuk yang membahayakan kehidupan manusia lain. Tak ada.

Aku kembali.

Denpasar, 03.03.15 | 22.26 WITA.

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger