"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 12 Maret 2011

DESTRUKSI KAPITALISME DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI MASYARAKAT

DESTRUKSI  KAPITALISME
DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI MASYARAKAT
MENGGUGAT ANGGAPAN ATAS KEMENANGAN KAPITALISME
Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Sekilas Kapitalisme
            Kapitalisme merupakan salah satu bentuk “ideologi besar” dari sekian banyak ideologi besar lain yang mewarnai dunia layaknya sosialisme, fasisme, eksistensialisme dan tentunya berbagai ideologi yang berlandaskan nilai-nilai transendensi (ketuhanan). Hingga saat ini upaya dalam melakukan penelusuran atas sejarah asal-usul atau kelahiran kapitalisme menuai berbagai sudut pandang dan versinya masing-masing. Dalam hal ini, setidaknya ditemui enam versi sejarah kelahiran kapitalisme antara lain, era agriculture sebagai tonggak berdirinya kapitalisme, pandangan Weber mengenai etika protestan yang pada satu sisi berseberangan dengan Marx terkait kelahiran kapitalisme melalui pertumbuhan sejarah dan proses pengambilalihan abad 15,[1] di sisi lain terdapat pula beberapa pihak yang menganggap eksistensi kapitalisme bermula dari reformasi gereja abad 15-16, revolusi industri abad 19, begitu juga melalui The Inquiry To The Nature and Causes of The Wealth of Nations karya Adam Smith.  
            Namun demikian, analisis seksama kami atas diskursus yang berkepanjangan ini membuktikan bahwa versi pertama dan kedua sejarah kelahiran kapitalisme tak lagi menemui relevansinya di era kontemporer. Pada ranah yang berlainan, keempat versi sejarah kelahiran kapitalisme setelahnya (setelah dua versi sejarah kelahiran kapitalisme sebelumnya) menjadi versi sejarah kelahiran ideologi tersebut yang kerap menjadi acuan banyak pihak serta tetap menemui relevansinya di era kontemporer. Hal ini bukannya terkait dengan periodesasi waktu yang demikian sulit terlacak, melainkan tiadanya perhatian pada aspek “negara” dalam versi sejarah kelahiran kapitalisme era agriculture dan analisis Weber-yang notabene entitas “negara” memiliki peran penting dalam laju perkembangan kapitalisme.      
            Secara umum kapitalisme dicirikan sesuai dengan etimologis-nya yang merujuk pada “capital” atau “capitale” yang berasal dari bahasa latin “caput” dan dapat diartikan dengan “kepala”, muncul untuk pertama kali pada abad 12-13 yang berarti dana, persediaan barang, sejumlah uang dan bunga uang pinjaman. Dalam mengkaji hal ini sepatutnya kita mengalihkan sejenak perhatian pada Karl Marx yang untuk pertama kalinya menjelaskan dan menegaskan pengertian kapitalisme dalam Das Capital (Matrealisme Historis). Baginya, kapitalisme merupakan bentuk mode of production yang berupaya melakukan akumulasi modal tanpa batas.[2] Dengan demikian, kapitalisme utamanya dicirikan dengan pengakumulasian modal, atau, menempatkan modal, uang di atas segala-galanya. Hal inilah yang kemudian sekedar mendudukkan manusia sebagai homo econoimcus, yang dengan demikian begitu merendahkan martabat manusia serta mengalienasi dalam pergaulan antarsesamanya.          
            Tak dapat dipungkiri bahwa perdebatan mengenai pro-kontra penerapan ideologi tersebut belumlah berakhir hingga saat ini. Beberapa pihak meyakini ideologi tersebut sebagai “jembatan emas” menuju kesejahteraan masyarakat, hal ini agaknya diperkuat dengan runtuhnya rezim Komunis Soviet pada akhir 1980-an dengan puncak perayaan dihancurkannya Tembok Berlin pada tahun 1991. Salah seorang “tokoh kanan” kenamaan yang gencar melakukan propaganda atas kemenangan kapitalisme ialah Francis Fukuyama yang merayakan keruntuhan Komunisme Soviet dengan menelurkan buku The End of History and The Last Man di era 90-an pula. Baginya, “sejarah telah berakhir” yakni ditandai dengan kemenangan kapitalisme melewati berbagai periode tantangan sejarah, tegasnya kapitalisme telah menaklukkan feodalisme yang kental dengan kekuasaan atas dasar keturunan, fasisme yang kejam dan komunisme yang utopis sehingga ianya keluar sebagai “pemenang” dari sejarah dan merupakan tujuan akhir sistem kehidupan yang telah lama dicari umat manusia.[3] Dengan kata lain, Fukuyama hendak mengatakan bahwa kapitalisme merupakan ideologi ataupun tatanan sistem terbaik yang pernah dimiliki umat manusia sepanjang perjalanan sejarahnya.
            Lain halnya dengan Fukuyama, Hayek, Thatcer, Reagan dan kaum konservatif lainnya, Derrida melalui Specter of Marx berupaya menyusun antitesis atas pandangan Fukuyama di mana menurutnya berbagai peradaban lain tidaklah mati melainkan sekedar tidur, bersembunyi dan sewaktu-waktu dapat bangkit kembali.[4] Singkatnya, seperti apa yang telah Derrida lakukan-hanya saja melalui perspektif yang berbeda-dalam kesempatan ini kami berupaya melakukan peninjauan ulang atas klaim-klaim yang menyatakan kemenangan kapitalisme sebagai ideologi terbaik yang pernah dimiliki umat manusia. Dalam hal ini analisis mengenai berbagai kekurangan kapitalisme dalam pembangunan masyarakat kami cakupkan pada ranah makro maupun mikro ekonomi suatu negara, hal ini dilakukan sebagai upaya menghindari terlalu luasnya cakupan bahasan yang berpotensi menghantarkan kita pada tautologi.
Relevansi Kritik Marx Atas Kapitalisme
            Seperti apa yang telah disinggung sebelumnya terkait Marx sebagai salah seorang tokoh penting-bahkan terpenting-dalam melakukan pengkajian atas sepak terjang  kapitalisme, berbagai pemikiran sentralnya mengenai ideologi tersebut terangkum dalam mahakarya Das Capital yang terbit dalam tiga volume (jilid). Namun demikian, harus diakui memang sebagian besar analisisnya mengenai perkembangan masyarakat telah out of date, hal ini dikarenakan kentalnya muatan positivisme di dalamnya.[5] Meskipun demikian, diakui atau tidak tetap terdapat beberapa aspek pemikiran Marx yang tetap saja bertahan hingga kini dan memiliki relevansi dalam menjelaskan fenomena kerusakan masyarakat akibat ulah kapitalisme. Beberapa aspek pemikiran tersebut di antaranya mengenai alienasi nilai guna, manipulasi nilai benda, nilai lebih serta sirkuit modal yang melingkupi ranah mikro maupun makroekonomi.[6] Dalam hal ini, beberapa pisau bedah Marx tersebutlah yang berupaya kami gunakan dalam pengkajian “kebobrokan” kapitalisme dalam pembangunan ekonomi masyarakat.  
Alienasi Nilai Guna
            Pada mulanya konsep alienasi lahir dalam pemikiran Hegel mengenai dialektika ide atau roh. Namun, muatan dialektika Hegel yang terlampau metafisis menuai kritik oleh Marx dalam The Poverty of Philosophy dan dirombaknya kemudian pada tataran yang lebih praksis-bahkan emansipatoris.[7] Di tangan Marx konsep alienasi berkembang demikian jauhnya, dalam hal ini alienasi yang dikembangkan Marx mencakup ranah-ranah humaniora, ekonomi serta tatanan masyarakat. Namun demikian, dalam pembahasan yang terkait erat dengan pembangunan ekonomi ini, salah satu konsepnya dalam ranah ekonomi yakni “alienasi nilai guna” mutlak dijabarkan lebih jauh.
            Pemikiran Marx mengenai alienasi nilai guna dapat dicontohkan melalui beberapa hal. Salah satu yang terkenal ialah perumpamaan atas sepotong atau sebungkus roti yang ditempatkan di suatu sudut supermarket atau pasar. Ketika roti tersebut belum laku terjual, maka asumsi yang terbentuk kemudian, nilai guna dan nilai tukar roti tersebut sedang ditidurkan, ketika hingga batas waktu tertentu roti tersebut belum juga terjual, maka roti tersebut tetap berada di sudut supermarket atau pasar, membusuk, kadaluarsa, basi, tak peduli di luar cukup banyak orang kelaparan dan menderita membutuhkan roti tersebut. Di satu sisi, kapitalis tak akan memberikan roti tersebut secara cuma-cuma, sebelum roti tersebut diberikan, ia harus membuktikan kemampuan nillai tukarnya.[8] Dengan demikian, dapatlah kita lihat secara ekplisit bahwa banyak roti yang membusuk di sejumlah supermarket atau pasar bukan disebabkan tak ada orang yang tak ingin memakannya melainkan karena kapitalis lebih mendewakan nilai tukar ketimbang nilai guna, hal inilah yang kemudian memicu potensi kelangkaan pangan dan kelaparan di suatu tempat, meskipun daerah tersebut dikenal kaya akan sumber-sumber pangan.
Namun demikian, di satu sisi, faktual kapitalis tak begitu saja menafikkan keberadaan nilai guna, pada saat-saat tertentu kapitalis justru menggunakannya dalam upaya “mendongkrak” harga komoditas yang ditawarkannya, hal ini akan tampak dalam analisis berikut terkait dengan “manipulasi nilai benda”.    
Manipulasi Nilai Benda
            Konsep manipulasi nilai benda dapat dimisalkan dengan suatu benda yang dijual dengan harga tarlampau berlebih namun tak diikuti dengan kesadaran kritis masyarakat  atas  konstruksi tersebut. Sebagai contoh, handphone yang kita gunakan sehari-hari sering kali menjadi komoditas yang begitu mahal bagi masyarakat luas. Semisal seorang mahasiswa kelas menengah yang membeli ponsel dengan harga Rp 500.000,- pada dasarnya secara “nilai benda” ponsel yang ia beli berharga tak lebih dari Rp 50.000,- saja. Dapatlah kita berpikir kritis dalam mengkaji masalah ini bahwa benda plastik sekecil ponsel dengan lempengan besi (baterai) yang tak seberapa, dijual dengan harga yang begitu tinggi. Hal tersebut terjadi karena kesadaran kapitalis urgen-nya kegunaan ponsel sebagai sarana komunikasi dalam masyarakat sehingga katakanlah benda sekecil tersebut yang secara “nila benda” tak lebih dari Rp 50.000,-  kemudian dinaikkan nilai tukarnya menjadi seumpama Rp 400.000,- berikut biaya ekspor, cukai dan sebagainya yang telah dihitung per unit produksi serta marketing cost yang pada akhirnya menghasilkan total harga mutlak dibayar konsumen atau masyarakat sebesar Rp 500.000,-.[9]  
            Hal di atas disadari atau tidak, pada dasarnya menghasilkan pula ekses-bakal  kita bahas pada sub-Bab selanjutnya-yakni berupa “nilai lebih” hanya saja dengan strategi dan metode yang berbeda dengan nilai lebih dalam pengkajian kemudian. Begitu juga, di satu sisi hal ini memungkinkan kapitalis menenggak profit cukup dari 25% total produksi komoditasnya. Lebih jelasnya, semisal dalam satu kali unit produksi kapitalis mampu menghasilkan seribu batang ponsel, maka bila 25% atau 250 batang ponselnya saja dapat terjual maka ia telah menenggak profit yang begitu besar dan tak menjadi masalah meskipun 750 batang ponsel sisanya tak terjual.   
Nilai Lebih
            Bagi Marx, nilai lebih tercipta melalui perpanjangan dan percepatan waktu kerja. Asumsi yang bekerja di sini ialah, “kapitalis tidak membeli kerja melainkan pekerja”. Holly Family sebagai buah karya pertama kolaborasi Marx dan Engels mengungkap 12 jam waktu kerja nonstop yang berlaku baik bagi pekerja dewasa maupun anak-anak dalam berbagai pabrik kapitalis kala itu.  
            Secara sederhana, konsep nilai lebih dapat dimisalkan sebagai berikut, seorang buruh bekerja pada sebuah pabrik sepatu dengan upah Rp 20.000,- per hari, sedangkan dalam sehari pula ia mampu menghasilkan lima komoditas sepatu yang masing-masing seharga Rp 100.000,-. Jadi, dalam sehari ia diupah Rp 20.000,- sedangkan dalam sehari nilai komoditas yang dapat dihasilkan melalui produktivitasnya mencapai Rp 500.00,- maka dalam hal ini telah terbentuk nilai lebih sebesar Rp 480.000,- yang faktual masuk ke kantong-kantong kapitalis (pemilik pabrik) kemudian. Hal inilah yang bakal menyuburkan rolling class, si kaya semakin kaya dan sebaliknya dengan si miskin, jelasnya hal ini dipaparkan lebih lanjut melalui konsep Marx mengenai sirkuit modal.[10]


Sirkuit Modal
            Sebelumnya kita telah berbicara mengenai beberapa konsep Marx yang tetap saja menemui relevansinya di era kontemporer semisal alienasi nilai guna, manipulasi nilai benda serta nilai lebih. Faktual, ketiga hal tersebutlah yang menjadi instrumen utama akumulasi kekayaan kapitalis sedari dulu hingga dewasa ini. Pada tataran yang lebih tinggi, ketiga hal tersebut menghantarkan kita pada pemaparan mengenai sirkuit atau alur modal yang dimiliki berbagai kelas dalam masyarakat. Dalam ranah ini analisis seksama Marx atas kehidupan industrial saat itu-hingga sekarang-menemui adanya dua bentuk sirkuit modal dalam masyarakat, kaum proletar dan borjuis kecil (kelas menengah) dengan sirkuit modal K-U-K dan kaum borjuis dengan sirkuit modal U-K-U.
            Dalam hal ini, “K” merupakan singkatan dari “komoditas”, yakni segala hal yang diproduksi atau dibuat guna diperjual-belikan, sedangkan “U” merupakan singkatan dari “uang”. Dalam sirkuit modal proletar, ia menjual tenaga (komoditas) di berbagai pabrik kapitalis guna mendapatkan upah (uang), kemudian ia menggunakan upah atau uang yang didapatnya untuk membeli berbagai barang kebutuhan sehari-hari (komodaitas), dengan demikian dapat kita analisis bahwa sirkuit uang atau modal yang dimilikinya memiliki alur K-U-K. Dapat dipastikan, seseorang dengan alur kehidupan ekonomi yang demikian sulit mengusahakan kehidupan finansial yang lebih baik dikarenakan sedikitnya modal yang tersedia bagi fungsi saving.
            Sebaliknya dengan kaum proletar, menurut Marx borjuis memiliki alur kehidupan ekonomi U-K-U. Mereka memiliki uang, membeli suatu bentuk komoditas, dan komoditas itulah yang dengan sendirinya akan menghasilkan uang bagi mereka. Sebagai misal, seorang borjuis membeli sebuah rumah, kemudian ia sewakan, maka dengan sendirinya rumah tersebutlah yang dengan sendirinya menghasilkan uang bagi borjuis. Dalam tataran ini, bila “U” sesudahnya lebih besar ketimbang “U” sebelumnya maka “U” tersebut segera berubah menjadi “U1”, bila akumulasi modal yang terjadi demikian besarnya dan pengeluaran pada “U1” menghasilkan sisa yang tetap lebih besar dari “U” sebelumnya maka “U1” akan segera berubah menjadi “U2”, “U3”, “U4” dan seterusnya. Bagi Marx, mereka yang telah mencapai tahapan ekonomi “U2” maka ianya telah menjadi “kapitalis sejati”.[11]

Konsekuensi Tragedi Atas Sirkuit Modal
              Melalui uraian singkat di atas, kita telah memahami bagaimana sirkuit modal kelas proletar maupun borjuis bekerja, sebentuk alokasi modal yang menyebabkan keduanya semakin termiskinkan atau kaya. Namun demikian, sirkuit modal kelas borjuis tak hanya berhenti pada tahapan tersebut, terdapat implikasi negatif yang lebih parah ketimbang kesenjangan ekonomi dalam masyarakat yakni munculnya depresi ekonomi sewaktu-waktu. Hal tersebut dapat dicontohkan dengan peristiwa depresi ekonomi yang terjadi pada era 1930-an dan periode-periode setelahnya yakni depresi ekonomi 1950-an, 1970-an serta 1990-an.[12] Bila depresi ekonomi yang terjadi pada era 1950-an dan 1970-an diakibatkan oleh strategi guna mengatasi depresi ekonomi sebelumnya (konsep keynesian dan neo-Keynesian) maka depresi ekonomi yang terjadi pada tahunn 1930-an dan 1990-an adalah murni akibat permainan sirkuit modal.
            Depresi ekonomi yang terjadi pada tahun 1930-an di belahan bumi Amerika, Eropa yang kemudian merambat ke saentaro dunia terjadi akibat “overproduksi” para kapitalis. Apa yang dimaksudkan adalah, terdapat suatu titik atau masa di mana kapitalis “bingung” hendak ditempatkan di mana modalnya karena uang yang diakumulasi olehnya telah sedemikian besarnya. Pada akhirnya kapitalis hanya mampu untuk terus berproduksi dan berproduksi, di satu sisi daya beli masyarakat telah melemah karena teralokasi guna membeli produk-produk kapitalis sebelumnya, dengan demikian keuntungan yang diraup perusahaan-perusahaan menurun drastis dan berakhir pada kebangkrutan yang mengakibatkan timbulnya pengangguran besar-besaran, hal inilah yang kemudian memunculkan depresi ekonomi.[13]
            Layaknya depresi ekonomi yang terjadi pada 1930-an, begitu pula dengan krisis ekonomi yang terjadi pada akhir 1990-an yang disebabkan oleh sirkuit modal hanya saja dengan bentuk yang berbeda. Krisis ekonomi yang melanda kala itu lebih disebabkan oleh fenomena buble economic ‘gelembung ekonomi’ ketimbang overproduksi-bentuk depresi ekonomi yang lebih mengkhawatirkan ketimbang overproduksi. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan masuknya para investor asing dengan orientasi keunutungan jangka pendek, maka setelah keuntungan mereka dapatkan, dengan serta-merta mereka menarik begitu saja modalnya dari suatu negara, dengan demikian terjadilah “keruntuhan” ekonomi suatu negara secara tiba-tiba dan dalam tempo yang begitu singkat.[14] Diakui atau tidak, hal tersebut diperparah dengan kemungkinan tetap munculnya kedua bentuk depresi ekonomi di atas secara tiba-tiba di kemudian hari.         
Kesimpulan dan Penutup
            Melalui berbagai bentuk penjabaran singkat di atas, yakni mencakup dasar filosofi kapitalisme, instrumen akumulasi modal kapitalis berupa alinasi nilai guna, manipulasi nilai benda hingga nilai lebih berikut sirkuit modal serta dampaknya bagi pembangunan ekonomi masyarakat menunjukkan bahwa anggapan yang dengan tegas-lugas “memproklamirkan” kemenangan kapitalisme atas berbagai ideologi yang ada tak lebih dari economical joke ‘lelucon ekonomi’ semata dan perlu kita lakukan peninjauan ulang serta kritik atasnya. Faktual, kehidupan ekonomi masyarakat baik mikro, makro maupun internasional yang berdiri di atas sistem kapitalisme memiliki potensi besar mengalami depresi ekonomi dalam periode yang tak terduga-duga dan tempo yang begitu singkat.
            Dengan demikian, menjadi suatu yang mutlak bagi kita mencari bentuk-bentuk sistem perekonomian-melalui metode dialektis ataupun tidak-yang benar-benar mampu menjawab kebutuhan pembangunan ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat. Apakah mengkonstruksi kegiatan ekonomi sebagai sebuah “panggilan” tuhan yang dengan demikian secara tidak langsung meletakkan kembali dasar etika-etika kerja berbagai agama besar dunia menjadi jawaban, hal ini tentunya masih membutuhkan penyelidikan dan pengujian lebih jauh lagi.     



*****



[1] Karl Marx, Kapital (Buku I), Hasta Mitra, Jakarta, 2004, h. 800-821 & Anthony Brewer, Kajian Kritis Das Kapital Karl Marx, Teplok, Jakarta, 1999, h. 121-123 & David Smith-Phil Evans, Das Kapital Untuk Pemula, Resist Book, Yogyakarta, 2004, h. 34, 89-112 serta Max Weber, Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006.  
[2] Nuswantoro, Daniel Bell: Matinya Ideologi, Indonesiatera, Magelang, 2001, h. 61-62 dan Marshall Berman, Bertualang Dalam Marxisme, Pustaka Promethea, Surabaya, 2002, h. 54.
[3] Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man, Qalam, Yogyakarta, 2004, h. 1.
[4] Stuart Sim, Derrida dan Akhir Sejarah, Jendela, Yogyakarta,
[5] Laak Paskalis, Urgensi Masyarakat Terbuka, Bigraf, Yogyakarta, 2001, h. 55.
[6] Mikroekonomi memusatkan perhatiannya pada unsur-unsur terkecil dalam kegiatan perekonomian semisal kegiatan pembeli dan penjual dalam suatu pasar, dengan kata lain dapat pula dikatakan penelaahan pada bagian-bagian kecil dari keseluruhan kegiatan ekonomi. Sebaliknya dengan mikroekonomi, makroekonomi merupakan pengembangan berbagai teori ekonomi yang lebih mencerminkan kenyataan corak ekonomi masyarakat dan memiliki cakupan yang lebih luas ketimbang mikroekonomi. Selengkapnya baca Sadono Sukirno, Ekonomi Pembangunan, Bima Grafika, 1978, h. 248-254.
[7] Linda Smith & William Raeper, Ide-Ide, Kanisius, Yogyakarta, 2000, h. 116.  
[8] David Smith-Phil Evans, op. cit., h. 42.
[9] Ibid., h. 57-63. 
[10] Karl Marx, op. cit., h. 205-214 & Anthony Brewer, op. cit., h. 64-65 & David Smith-Phil Evans, op. cit., h. 113-149.
[11] Karl Marx, op. cit., h. 6.
[12] Terkait krisis ekonomi berkala kapitalisme lihat Paul Ormerod, Matinya Ilmu Ekonomi Jilid 1: Dari Krisis ke Krisis, Kepustakaan Gramedia Populer, 1998.
[13] Soetatwo Hadiwigeno-Faried Wijaya, Lembaga-Lembaga Keuangan dan Bank, Liberty, Yogyakarta, 1984, h. 172.
[14] M. Ramdhan Adi, Globalisasi Skenario Mutakhir Kapitalisme, Al-Azhar Press, Bogor, 2005, h. 70. 

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger