"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 12 Maret 2011

The End of History and The Last Man

CRITICAL REVIEW
“THE END OF HISTORY AND THE LAST MAN”
KEMENANGAN KAPITALISME DAN DEMOKRASI LIBERAL
KARYA FRANCIS FUKUYAMA
(MENGGUGAT KEMENANGAN KAPITALISME DAN DEMOKRASI LIBERAL)
Oleh: Wahyu Budi Nugroho«



Keterangan Buku
Diterjemahkan Dari Judul Asli:
THE END OF HISTORY AND THE LAST MAN
Karya: Francis Fukuyama
Copyright © Francis Fukuyama, 1999
Published in Penguin Book 1992
Edisi Bahasa Indonesia Diterbitkan Oleh:
PENERBIT QALAM
Jl. Kaliurang Km. 7,5 Kayen Gg. Anggrek 57A Yogyakarta 55283
Telp. 082 274 4699, Fax: (0274) 884-797
Penerjemah: M.H. Amrullah
Penyelaras Akhir: Chusnul Murtafiin
Tata Letak: Endriyani Suprapti
Desain Sampul: Emte Firdaus
Tim Pracetak: Dede Nurdin, L. Manfaluti & M. Shafwan

                 
Cetakan ketiga Juni 2004

ISBN: 979-9440-00-9




« Mahasiswa Jurusan Sosiologi, Fisipol UGM 2006,
PimRed. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Profetik,
Peneliti bidang ideologi pada Taimiyyah Institute,
Fasilitator Islamic Political Forum (IPF), Fisipol UGM.  

Pendahuluan    
“Seandainya Marx hidup hari ini, dia akan bergulingan di dalam kuburnya”, demikian ungkap Randy Newman yang dikutip Marshall Berman pada pengantar Bertualang Dalam Marxisme.[1] Diakui atau tidak, upaya kita dalam melakukan interpretasi atas untaian kalimat tersebut berpotensi besar memunculkan beragam makna dan maksud yang berbeda. Namun demikian, apa yang dilontarkan Newman di atas dapatlah pula kita tempatkan sebagai bentuk pembelaannya atas Marx pada semisal, seorang seperti Taufiq Ismail yang mendistorsi kalimat penutup Manifesto Komunis, “buruh sedunia bersatulah” menjadi, “buruh sedunia maafkan saya”.[2] Hal tersebut tak begitu mengherankan mengingat tak sejalannya “kitab suci” Matrealisme Historis dengan pertumbuhan sejarah umat manusia di kemudian hari sehingga apologi termudah yang dapat dilakukan para loyalis Marx adalah dengan mengatakan hal senada  seperti apa yang Newman lontarkan.
Apabila sekilas penelusuran sejarah atas berbagai “pemikiran besar” Marx-marxisme-kita lakukan, maka ditemui bahwa prediksinya terkait revolusi buruh yang bakal digawangi buruh-buruh industri berbagai negara kapitalis dunia berikut transformasinya pada bentuk-bentuk negara sosialis-komunis tak terbukti kemudian, begitu pula dengan ramalan akan nasib buruh yang kian menderita di kemudian hari yang faktual menemui berbagai bentuk asuransi, jaminan kerja dan sebagainya.[3] Kiranya satu “ramalan besar” Marx yang terbukti kurang-lebih lima puluh tahun setelah kematiannya kemudian yakni Great Depression yang melanda negara-negara kapitalis Amerika dan Eropa di era 1930-an akibat overproduksi, namun hal tersebut pun tak berlangsung lama setelah John Maynard Keynes didaulat sebagai “dokter” kapitalisme yang tengah sekarat.[4] Dengan demikian, bisa jadi, hal inilah yang melatarbelakangi pernyataan Newman bahwa Marx akan benar-benar bergulingan dalam kuburnya andaikan ia hidup saat ini, dalam arti sebuah kepastian bahwa Marx akan berupaya keras membenahi berbagai teori dan postulat yang ditelurkannya dan mengalami kesenjangan di era kontemporer andaikan ia masih-atau-hidup kembali.
Dalam hal ini, pembahasan kita atas validitas marxisme menghantarkan pada sebuah poin penting berupa “gulung tikarnya” berbagai rezim pemerintahan dunia yang mengatasnamakan diri sebagai “marxis-leninis” pada akhir dekade 1980-an. Keruntuhan Komunisme Soviet melalui Glasnost dan Prestorika Gorbachev berikut penghancuran Tembok Berlin sebagai puncak perayaan seolah memberi jalan lapang kapitalisme dan demokrasi liberal sebagai satu-satunya bentuk ideologi yang mampu mewujudkan kesejahteraan individu maupun masyarakat. Pada periode-periode tersebutlah-di tengah kegamangan massal atas marxisme-The End of History and The Last Man disusun Fukuyama sebagai penegas kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal. Pada tataran ini, apa yang hendak disampaikan Fukuyama bukan hanya kemenangan kapitalisme atas komunisme, melainkan pula atas berbagai ideologi yang eksis sebelumnya, “…ia menaklukkan ideologi-ideologi pesaingnya seperti monarki turun-temurun, fasisme dan baru-baru ini komunisme”, pungkasnya.[5] Dengan demikian, tak mengherankan ketika banyak pihak menempatkan karya ini sebagai “kitab suci” kapitalis di era kontemporer-meski tetap menuai kontroversi dan diskursus berkepanjangan hingga kini.  
Singkatnya, beberapa hal di ataslah yang kiranya menyebabkan penulis tertarik lebih dalam mengkaji buah karya Francis Fukuyama The End of History and The Last Man (selanjutnya disingkat “EH” atau “End of History”) dalam kesempatan ini. Diakui atau tidak, suatu hal yang naif memang bagi kita, upaya melakukan kritik serta interpretasi ulang secara menyeluruh atas beratus-ratus halaman dan luasnya cakupan kajian karya Fukuyama ini dalam sebentuk critical review yang terbatas dalam beberapa jumlah halaman saja. Oleh karenanya, dalam hal ini penulis berupaya melakukan kritik serta re-Interpretasi atasnya pada beberapa aspek dan konsep yang kerap menjadi penekanan Fukuyama dalam bukunya yang begitu tebal tersebut.
Pada tahapan ini, setidaknya upaya pengkajian seksama dan mendalam penulis atas beratus-ratus lembar (EH) menemui beberapa hal yang agaknya kerap menjadi penekanan Fukuyama dalam tiap bab maupun sub-Bab, antara lain filsafat dialektika Hegel, demokrasi liberal sebagai “akhir sejarah” umat manusia serta konsep-konsep mengenai “manusia akhir”. Dengan demikian. Ketiga hal tersebutlah yang nantinya bakal menjadi fokus utama kajian penulis dalam critical review ini. Adapun upaya penulis dalam melakukan pengkajian tersebut lebih pada bentuk peninjauan kembali relevansi maupun inrelevansi (EH) berikut pergeseran asumsi serta postulat pada periode disusunnya (EH) hingga era kontemporer sehingga diharapkan berbagai kesenjangan asumsi dan postulat yang telah terjadi dalam sekian rentang waktu dapat ditilik secara jelas, terlebih dengan terjadinya peristiwa kelam 11 September 2001 yang membuat Fukuyama mau tak mau harus berpikir ulang mengenai kemenangan kapitalisme sebagai ideologi terbaik dan terakhir dalam perjalanan sejarah umat manusia.

Beberapa Peninjauan Kembali

Dialektika Hegel
             Tak diragukan lagi jika dialektika[6] Hegel sepenuhnya menjiwai End of History Fukuyama, hal ini begitu tampak pada bentuk-bentuk pemikiran mungkinnya pengkoreksian berbagai hal irasional di masa lampau guna menuju pada tahapan yang lebih baik atau lebih rasional di kemudian hari. Di sisi lain, layaknya Hegel, Fukuyama meyakini eksistensi sejarah universal umat manusia berikut optimisme akan ketertujuan arah di dalamnya.[7] Dengan demikian, dapat dianalisis bahwa secara garis besar Fukuyama mewarisi baik “isi” maupun “metode” filsafat Hegel.[8] Namun, bila kita turut berupaya memahami perbedaan antarkeduanya maka ditemui bahwa Fukuyama melakukan dekonstruksi atas dialektika ruh-transendensi-sejarah Hegel kepada bentuk logika sains alam modern.[9]  
            Di sisi lain, keterkaitan dialektika Fukuyama dengan konsep thymos Plato syarat kita perhatikan lebih lanjut. Dalam End of History “thymos” didefinisikan sebagai kecenderungan untuk merasakan penghargaan diri atau hasrat akan “pengakuan”, thymos yang merupakan salah satu bagian dari jiwa manusia menurut Plato selain nafsu dan akal, dibaptis sebagai penggerak roda sejarah oleh Hegel dan Fukuyama.[10] Bagi Fukuyama, thymos yang terutama terwujud dalam bentuk perang bukanlah suatu masalah besar, ia tak pernah manganggap dua perang “besar” dunia pada abad 19 sebagai bentuk kemunduran sejarah, bahkan ia memuji invasi Napoleon jauh sebelumnya sebagai bentuk penyebaran pemerintahan republik.[11]  Melalui jalan tersebutlah konsepsi Fukuyama mengenai akhir dari sejarah akan tiba. Dengan demikian, deretan uraian singkat di atas menunjukkan pada kita setidaknya beberapa pemikiran sentral Fukuyama yang kental dengan positivisme maupun historisisme berikut atavisme.
            Namun demikian, seperti kita ketahui bahwa baik historisisme yang terkandung dalam positivisme keduanya telah melalui diskursus panjang vis a vis “Frankfurt School” dan menjadikan sisi lain darinya yang bebas nilai (sejarah liniear-direksional) tak populer lagi dalam kajian ilmu-ilmu sosial. Bagi Mahzab Frankfurt upaya mengukur dan menentukan arah fenomena serta perkembangan sosial adalah sia-sia, hal ini dikarenakan penolakannya atas penerapan berbagai prinsip ilmu-ilmu eksakta dalam kajian ilmu-ilmu sosial yang tak bijak menempatkan individu maupun kolektif sebagai suatu mekanisme ataupun objek mati yang jelas mengesampingkan  keunikan dan spesifikasi karakternya satu sama lain.[12] Begitu juga, hal tersebut memperoleh penekanannya yang serius oleh Popper dalam The Poverty of History, bagi Popper bentuk-bentuk pemahaman atas pentahapan-pentahapan dalam sejarah hanya akan melahirkan kekejaman, penindasan dan pola pemerintahan militeristik,[13] masih segar dalam ingatan kita bagaimana keyakinan Fuhrer akan bangkitnya Third Reich memakan tumbal puluhan juta nyawa manusia, sama halnya dengan Italia Irradenta-nya Mussolini, fasisme Hirohito berikut Leninisme, Stalinisme maupun Maoisme ataupun keyakinan Zionisme Israel cetusan Theodor Hezerl. Deretan fakta tersebut diakui atau tidak menghantarkan kita pada “pemakluman” atas keyakinan buta Amerika Serikat akan demokrasi dan liberalisme yang justru membuahkan jatuhnya begitu banyak korban tak berdosa di Vietchong, Palestina, Afghanistan maupun Irak.   
            Dalam ranah filsafat, dialektika Hegel menjumpai tantangan keras dua filsuf kenamaan Inggris dan Denmark, David Hume serta Soren Kierkegaard. Dalam Treatise on Human Nature Hume menegaskan bahwa manusia sama sekali tak memiliki hak mengatakan esok matahari akan terbit karena pernyataan yang demikian hanyalah sebentuk dorongan nafsu yang muncul melalui “kebiasaan”-tak layak menjadi ilmu pengetahuan.[14] Begitu juga, kritik tajam atas dialektika Hegel hadir melalui Kierkegaard yang dianggapnya “mengacau” kehidupan agamis umat manusia, dalam hal ini Kierkegaard mempertanyakan kesudahan dari tesis-antitesis-sintesis yang disebutnya sebagai “terjebak dalam kebingungan dialektika Hegel”.[15]
            Faktual, berbagai pernyataan yang dilontarkan Hume maupun Kierkegaard bukan sekedar isapan jempol belaka dan menemui relevansinya pada selang waktu kemudian. Kita telah melihat bagaimana pentahapan masyarakat “primitif-feodal-kapitalis-sosialis” Marx melenceng dari kenyataan sejarah, begitu pula dengan fasisme seperti apa yang telah disinggung sebelumnya. Di satu sisi, “kebingungan dialektika Hegel” tampak melalui berbagai upaya para pemikir “mencomot” berbagai konsep tanpa praksis dan landasan epistimologi yang jelas, ambilah misal usaha Giddens menggabungkan “kiri” dan “kanan” melalui The Third Way-nya, atau para pastur Amerika Latin yang meleburkan nilai-nilai trasendensi dengan marxisme dan memunculkan “Teologi Pembebasan”, begitu pula dengan bermacam upaya kreatif eklektik dalam bentuk Sosialisme Religius, Nasionalisme Religius atau “Paduka Yang Mulia” Soekarno melalui NASAKOM-nya, apabila kita mencermati lebih jauh maka kesemuanya dilandaskan pada praksis dan epistimologi yang rapuh serta sulit dipertanggungjawabkan. Belum lagi, dalam ranah ilmu sosial kita mengenal dua siklus ilmu pengetahuan yang hadir melalui Walter Wallace dan Thomas Kuhn yang faktual kian mempertegas kesahihan kritik Kierkegaard terhadap dialektika Hegel.[16]   
     
Demokrasi Liberal Sebagai “Akhir Sejarah”
            Bagi Fukuyama akhir sejarah adalah demokrasi liberal, layaknya Hegel, ia meyakini bahwa sistem pemerintahan tersebut sebagai tujuan akhir umat manusia dan sama sekali tak peduli bagaimana cara yang digunakan dalam upaya pencapaian tersebut-meskipun melalui media kekerasan semisal perang dan sebagainya. Dalam hal ini, apa yang dimaksudkan Fukuyama sebagai “akhir sejarah” bukanlah kejadian dari suatu peristiwa-bahkan peristiwa besar dan penting-melainkan pemahaman sejarah sebagai proses tunggal, memiliki koherensi, bersifat evolusioner serta memperhitungkan pengalaman seluruh umat manusia di setiap zaman.[17] Pada tataran ini kita melihat pula bagaimana Hegel dan Marx meyakini evolusi manusia bakal berakhir ketika telah mencapai tatanan masyarakat yang sempurna, Hegel dengan bentuk negara liberal dan Marx melalui masyarakat komunisnya.[18]   
            Disadari atau tidak, berbicara mengenai akhir dari sejarah merupakan prihal yang begitu sensitif, hal ini mengingat cukup banyaknya entitas masyarakat dunia yang memiliki pola pikir, norma dan terutama “nilai” yang berbeda-beda. Apabila Hegel memahami akhir sejarah melalui alur dialektia ide (ruh transendensi) sebagai penggeraknya, sedangkan Marx lebih pada ekonomi deterministik, maka Fukuyama meyakini logika sains alam modern sebagai roda penggerak menuju akhir sejarah. Di satu sisi, dalam (EH) Fukuyama menempatkan Injil sebagai pelopor penulisan sejarah universal,[19] dalam pengkajian kita akan hal ini tidaklah bijak memfokuskan pembicaraan pada urutan terlebih dahulu-tidaknya pewahyuan suatu kitab suci dibanding kitab suci lainnya, apa yang semestinya kita lakukan adalah menempatkan keseluruhan kitab suci yang ada sebagai penegas antara yang sakral dan profan. Hal tersebut bukannya tanpa alasan sama sekali, tetapi lebih pada realitas eksisnya berbagai bentuk dan versi sejarah universal maupun akhir sejarah yang tertuang dalam berbagai kitab suci agama  dunia.
            Pada tataran nontransendensi, bagaimanapun juga kita menemui berbagai bentuk kelemahan pada konsepsi akhir sejarah konstruksi manusia. Hal ini selain sesuai dengan apa yang dikatakan Hume dan Kierkegaard juga dikarenakan tidak adanya “aksioma”[20] dalam perspektif ilmu-ilmu sosial. Dalam hal ini, suatu ilmu yang tak memiliki aksioma tidaklah memiliki legitimasi yang kuat disebabkan oleh samarnya pandangan mengenai yang baik ataupun yang buruk, itulah mengapa Giddens mengkritik ilmu-ilmu sosial sebagai sarana keserakahan manusia. Secara konkret hal ini dimisalkan dengan perbedaan pandangan antara Marx dan Weber dalam melihat fenomena kapitalisme. Bagi Marx kapitalisme begitu irasional karena melakukan ekploitasi sewenang-wenang pada buruh-buruh pabrik, sebaliknya dengan Marx, Weber menganggap kapitalisme begitu rasional karena melakukan akumulasi modal secara sistematis.[21] Dalam tataran dunia akademis, kita kerap melihat bagaimana perdebatan antar-Ideologi tak kunjung menemui titik temu, seorang mahasiswa yang dengan tekun mempelajari Manifesto Komunis berikut Das Kapital menghadapi kesia-siaan setelah menemui Manifesto Kapitalis dan End of History Fukuyama, begitu pula dengan seorang mahasiswa yang dengan hebatnya mendalami kapitalisme dan neoliberalisme mengalami kehancuran harapan setelah menemui Manifesto Komunis dan Specter of Marx Derrida. Ilustrasi tersebut menunjukkan pada kita pragmatisme yang berpotensi besar menghantarkan pada relativisme dan skeptisisme radikal sehingga pada akhirnya sekedar memunculkan nihilisme layaknya usungan Nietzsche, Dostovesky, Camus atau Sartre.
            Dengan demikian, seperti apa yang telah diuraikan di atas, satu pelajaran penting yang dapat kita petik dalam (EH) adalah lemahnya argumen Fukuyama terkait fenomena sebagian besar negara dunia yang menganut demokrasi liberal sebagai indikasi akhir dar  sejarah umat manusia dengan orientasi puncak demokrasi liberal itu sendiri. Faktual, kita menemui di era 1950-an hingga 1960-an sebagian besar negara dunia mengklaim berdiri di atas nilai-nilai marxisme dan mengalami kehancuran mengenaskan kurang-lebih dua atau tiga dekade kemudian (akhir 1980-an),[22] dan fenomena yang sama kiranya tetap tak tertutup kemungkinan terjadi pula pada konsepsi demokrasi liberal yang saat ini diamini sebagian besar negara-negara dunia.   
Lemahnya argumen yang dilontarkan Fukuyama di atas terlebih terbukti melalui tanda-tanda bangkitnya kembali peradaban lama yang mengancam kedudukan Barat yakni confusiunisme dan Islam seperti apa yang diungkapkan Samuel P. Huntington dalam majalah Foreign Affairs, “Suatu hubungan Islam-Konfusianisme telah bangkit menentang kekuatan, nilai-nilai dan kepentingan Barat”,[23] begitu pula dalam The Clash of Civilizations sebagai penjelas dan penegas sekaligus kelanjutan majalah tersebut Huntington menegaskan, “Islam adalah satu-satunya peradaban yang mampu membuat Barat selalu berada dalam keraguan antara hidup dan mati, dan ia telah melakukannya, setidak-tidaknya, dua kali”.[24] Di satu sisi, kajian kita mengenai bentuk-bentuk kebangkitan kembali suatu peradaban faktual memperoleh dukungannya melalui pernyataan Derrida dalam Specter of Marx bahwa baginya ideologi-ideologi lain tak pernah benar-benar mati melainkan hanya bersembunyi dan melatenkan diri.[25] Kiranya satu hal penting yang patut kita insyafi dan menjadi catatan tersendiri sekaligus penulis tempatkan sebagai penutup pembahasan kita mengenai konsepsi “akhir sejarah” Fukuyama yakni mengarahkan kembali perhatian pada pernyataan Huntington dalam bab akhir The Clash of Civilizations, “Masyarakat-masyarakat yang menganggap bahwa sejarah mereka telah berakhir biasanya adalah masyarakat yang sedang berada di ambang keruntuhan.”[26]   

Manusia Akhir
Setelah “puas” berbicara panjang lebar mengenai dialektika Hegel dan demokrasi liberal sebagai bentuk akhir sejarah, sampailah Fukuyama pada bab akhir analisisnya mengenai the last man ‘manusia akhir’. Dalam hal ini Fukuyama mengadopsi konsep “manusia akhir” Nietzsche yang syarat dengan kenyamanan pribadi, kesenangan material, secara membabi-buta menerima “moralitas gerombolan” serta dogma-dogma politik dan eksis sebelum ubermensch ‘manusia unggul’ hadir.[27] Menurut Fukuyama kondisi kehidupan manusia yang demikian merupakan konsekuensi diterapkannya demokrasi liberal, di mana setiap orang pada akhirnya menjadi borjuis atau kelas menengah karena sokongan pemerintah pada berbagai bentuk pertanggungjawaban sosial seperti Social Security and Medical di Amerika Serikat hingga berbagai sistem kesejahteraan yang lebih komprehensif di Jerman atau Swedia.[28] Singkatnya-dengan kata lain-manusia modern adalah manusia terakhir dengan kehidupan penuh keamanan fisik serta kelimpahan material.[29]   
Namun demikian, kesalutan kita atas Fukuyama adalah pengakuannya bahwa “manusia terakhir” yang demikian justru menemui kebosanan dan kejenuhan hebat dalam diri dan hidupnya serta berpotensi mengulang kembali jalannya sejarah sehingga sejarah tak lagi menjadi sebuah pertumbuhan liniear melainkan siklus. Terkait hal tersebut Fukuyama mencontohkan dengan apa yang terjadi pada munculnya pemerintahan Shogun Hideyoshi pada abad ke-15 di mana kala itu Jepang memasuki era penuh kedamaian selama beberatus tahun lamanya yang begitu mirip dengan postulat akhir sejarah Hegel, namun faktual “perang besar” terjadi lagi kemudian.[30] Peristiwa kontemporer yang terjadi di Prancis tak luput pula dalam sorotan Fukuyama di mana kala itu Prancis di bawah pimpinan Jendral De Gaulle menjadi negara paling bebas dan paling makmur di muka bumi faktual mengalami pemberontakan hebat mahasiswa yang berupaya melengserkannya.[31] Begitu juga dengan peristiwa 1914 setelah seratus tahun perdamaian sejak konflik terbesar di saentaro benua Eropa telah dihentikan oleh Konferensi Wina faktual petaka kembali terulang melalui Perang Dunia I (1914-1918).[32] Kesemuanya diakui Fukuyama sebagai dampak dari isothymia yang tak lagi mencukupi dan berubah menjadi megalothmia, dan bila kita menilik kembali pemikiran Fukuyama sebelumya, hal tersebut disebabkan oleh thymos yang menjadi penekanannya sejak awal (hasrat akan pengakuan). Namun demikian, pemikiran Fukuyama mengenai “manusia akhir” tidaklah ujug-ujug memunculkan ubermensch ‘manusia unggul’ layaknya Nietzsche kemudian, atau seperti Sartre dengan etre-en-soi-etre-pour-soi yang pada akhirnya menyimpulkan manusia sebagai useless passion ‘hasrat kesia-siaan’ sehingga berakhir pada absurditas dan nihilisme semata.[33] Fukuyama tampaknya melihat secercah harapan dalam konsepsi “manusia akhir”-nya sendiri, yakni dengan lebih melatih dan menyempurnakan thymos sehingga mampu melayani kebaikan bersama karena seperti halnya Plato, ia menganggap bahwa thymos tidaklah baik atau buruk (netral) namun lebih bagaimana cara kita melatihnya. “Thymos harus dikendalikan oleh akal dan dijadikan sekutu hasrat, dengan keadaan demikianlah jiwa memperoleh kepuasan dan dan dibawa menuju keseimbangan di bawah bimbingan akal,” ungkapnya.[34]   
Melalui berbagai penjabaran “manusia akhir” Fukuyama di atas setidaknya terdapat beberapa hal yang patut kita kritisi atau jadikan peninjauan kembali lebih lanjut. Pertama, mekanisme wellfare-state seperti apa yang dikemukakan Fukuyama sebelumnya apakah benar “semanis” dalam realitas, dalam hal ini kita menemui analisis Giddens terkait moral hazard yang muncul melalui mekanisme tersebut,[35] dan memang, hal yang sama telah menjadi petaka ekonomi di era 1950-an dan 1970-an yang kemudian menghantarkan konsepsi ekonomi Keynesian berikut neo-Keynesian ke “liang kubur” sebagai konsekuensi atas pembengkakan belanja publik yang kembali melahirkan depresi ekonomi. Di satu sisi, neoliberalisme yang diusung Reagan dan Thatcer, terlebih peletak dasar pondasinya, Frederick Von Hayek mengenai keyakinan kehidupan ekonomi yang baik harus dimulai dengan ketimpangan-ketimpangan ekonomi menuai kejemuan masyarakat terkait hingga kapan ketimpangan tersebut harus terus berlangsung, hal tersebut diperparah dengan munculnya fenomena buble economic ‘gelembung ekonomi’ yang beberapa waktu lalu sempat menjadi sebab-musabab petaka krisis ekonomi pada penghujung tahun 1990-an.[36]  
Di sisi lain, solusi dan optimisme yang ditawarkan Fukuyama berupa “manajemen” tiga elemen dalam manusia dan masyarakat berupa akal, hasrat dan terutama thymos lebih tampak pada tatanan masyarakat utopia Thomas More.[37] Faktual, tak pernah sebelumnya umat manusia melihat tatanan kehidupan yang sedemikian apik dalam perjalanan sosio-historisnya sehingga tak berlebihan kiranya bila pemikiran Fukuyama terkait hal tersebut kita tempatkan sebagai utopis sebelum hal tersebut benar-benar pernah terwujud.
    
Kesimpulan & Penutup
            Berbagai uraian dan kritik yang telah dipaparkan penulis tak pelak hanyalah sebagian kecil saja dari luasnya cakupan bahasan yang terdapat dalam buku The End of History and The Last Man karya Francis Fukuyama, dan seperti apa yang telah dikatakan penulis sebelumnya bahwa terlalu “naif” menyusun keseluruhan critical review dari beratus-ratus halaman karya Fukuyama ini dalam beberapa halaman paper saja yang terbatas. Di satu sisi, penulis sepenuhnya sadar akan keterbatasan pengetahuan dan tumpulnya daya analisis yang praktis membuat paparan kritik ini sama sekali tidak berkualitas.  
Namun demikian, dengan kehati-hatian yang teramat sangat, penulis hendak menyimpulkan bahwa pertama, The End of History and The Last Man karya Francis Fukuyama
tak memiliki landasan dan pijakan yang kuat sebagai klaim atas kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal. Kedua, berbagai analisis dan uraian yang telah dipaparkan Fukuyama dalam buku setebal kurang-lebih lima ratus halaman tersebut lebih mengesankan pada pola-pola maupun tatanan kehidupan masyarakat yang utopis, suatu tatanan masyarakat yang sama sekali belum pernah terwujud dalam catatan sejarah umat manusia.
Kiranya demikian critical review atas The End of History and The Last Man karya Francis Fukuyama disusun.




“Di bawah komunisme manusia menindas manusia,
di bawah kapitalisme sebaliknya.”
(Pepatah Polandia)







[1] Marshall Berman, Bertualang Dalam Marxisme, Pustaka Promethea, Surabaya, 2002, h. vii.
[2] Taufik Ismail, Katastrofi Mendunia, Yayasan Titik Infinitum, Jakarta, 2004, h. vi.
[3] Laak Paskalis, Urgensi Masyarakat Terbuka, Bigraf, Yogyakarta, 2001, h. 55. 
[4] Analisis lebih lanjut pada Great Depression dapat dilihat dalam Soetatwo Hadiwigeno-Faried Wijaya, Lembaga-Lembaga Keuangan dan Bank, Liberty, Yogyakarta, 1984, h. 172 lihat pula Paul Ormerod, Matinya Ilmu Ekonomi Jilid 1: Dari Krisis ke Krisis, Kepustakaan Gramedia Populer, 1998, h. 69-71. 
[5] Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man, Qalam, Yogyakarta, 2004, h. 1.
[6] Ibid., h. 103. Dialektika adalah pemecahan berdasar prinsip-prinsip kontradiksi: yaitu mengurangi kontradiksi dari sisi pemenang, atau bila keduanya dibangun dalam cara percakapan untuk menjadi kontradiksi diri, kemudian suatu posisi yang ketiga muncul untuk membebaskan kontradiksi-kontradiksi itu dari kedua pada awal sebelumnya.  
[7] Ibid., h. xii.
[8] Terkait sekilas isi dan filsafat Hegel, baca Hegel, Nalar Dalam Sejarah, Teraju, Jakarta, 2005, h. xxiii.
[9] Francis Fukuyama, op. cit., h.  6.
[10] Ibid, h. 8-9.
[11] Ibid., h. 22-23.
[12] F. Budi Hardiman, Kritik Ideologi, Kanisius, Yogyakarta, 1990, h. 26 & Ben Agger, Teori Sosial Kritis, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2006. h. 9.
[13] Laak Paskalis, op. cit., h. 48.
[14] Paul Ormerod, op. cit., h. 44-45.
[15] Vincent Martin, Filsafat Eksistensialisme, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, h. 8.
[16] Sekilas pemikiran Thomas Kuhn dapat dilihat dalam Ziauddin Sardar, Thomas Kuhn dan Perang Ilmu, Jendela, Yogyakarta, 2002.
[17] Francis Fukuyama, op. cit., h. 2.
[18] Ibid., h. 3.
[19] Ibid., h. 96.
[20] Oesman Arif, Ilmu Logika, Bina Ilmu, Surabaya, 1978, h. 19. Aksioma adalah kebenaran yang tak membutuhkan pembuktian, merupakan bentuk patokan dasar atau prinsip bagi ilmu pengetahuan. 
[21] Sunyoto Usman, Sosiologi: Sejarah, teori dan Metodologi, Cired, Yogyaklarta, 2004, h 43.  
[22] Nuswantoro, Daniel Bell: Matinya Ideologi, Indonesiatera, Magelang, 2001, h…
[23] Noor Arif Maulana, Revolusi Islam Iran, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2003. h. 11.   
[24] Samuel P. Huntington, Benturan Antarperadaban, Qalam, Yogyakarta, 2006, h. 376.
[25] Stuart Sim, Derrida dan Akhir Sejarah, Jendela, Yogyakarta, 2002, h. vi.
[26] Samuel P. Hutington, op. cit., h. 567-568.
[27] Dave Robinson, Nietzsche dan Posmodernisme, Jendela, Yogyakarta, 2002, h. 76-77.
[28] Francis Fukuyama, op. cit., h. 446.
[29] Ibid., h. 465, 473.
[30] Ibid., h. 483.
[31] Ibid., h. 498.
[32] Ibid., h. 499.
[33] Vincent Martin, op. cit., h. 34-35.
[34] Francis Fukuyama, op. cit., h. 506.
[35] Anthony Giddens, The Third Way, Gramedia, Jakarta, 2002, h. 133.
[36] M. Ramdhan Adi, Globalisasi Skenario Mutakhir Kapitalisme, Al-Azhar Press, Bogor, 2005, h. 70.
[37] Karl Mannheim, Ideologi dan Utopia, Kanisius, Yogyakarta, 1991, h. xvii.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

cari buku ini dimana yaa???
ak ud cari di gramed sama toga mas, tp gak nemu...

Wahyu Nugroho mengatakan...

paling oke di perpus dan fotokopi :)

Salam Hangat,
Wahyu BN :)

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger