"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 12 Maret 2011

Fasisme Terorisme Negara

RESUME: FASISME TERORISME NEGARA
Oleh: Wahyu Budi Nugroho



IDENTITAS BUKU

Judul Buku                  : Fasisme Terorisme Negara
Penulis                         : Ery Syahrian
Desain cover               : M. Amirudin
Penerbit                : Pondok Edukasi, Jl. Semeru Blok A1 No.4, Klodran Indah-Solo
Telpon                         : 0271-730512
E-mail                          : pondokedukasi@yahoo.com
Cetakan pertama         : Januari 2003
ISBN                           : 979-3305-19-3
Tebal buku                  : 136 halaman

Dicetak oleh Percetakan AMANAH
Isi di luar tanggung jawab percetakan


 PENDAHULUAN
KEKERASAN DAN KRIMINALITAS YANG LEKAT DENGAN FASISME

            Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kriminalitas dapat diartikan sebagai "hal-hal yang bersifat kriminal, perbuatan yang melanggar hukum pidana atau kejahatan". Alasan kami memilih buku “Fasisme Terorisme Negara” sebagai salah satu bahan sari literatur dikarenakan adanya pembahasan menarik mengenai tindakan kriminal yang tumbuh dan berkembang di dalam ideologi ini (fasisme) yang notabene sengaja ditumbuh-kembangkan oleh pemerintah kepada masyarakatnya yang memiliki kesamaan “-isme” melalui dogma-dogma dan doktrin-doktrin dalam rangka mencapai tujuan pemurnian ras (Arya) dan pemusnahan ras lain (Yahudi).
            Partai Fasis Itali dan Nazi Jerman secara terang-terangan menolak eksistensi nilai-nilai transedensi serta agama dalam kehidupan karena dinilai hanya akan melemahkan mental suatu bangsa. Apabila kita mengkaji lebih jauh mengenai Fasisme maka akan tampak sekali identitas mereka yang lekat dengan tindakan-tindakan kekerasan dan kriminal, anehnya lagi justru dengan kedua hal itulah mereka mampu naik ke puncak tertinggi tampuk kepemimpinan.
            Tampaknya akan sangat menarik bagi kita untuk mengetahui bagaimana lika-liku dan strategi yang dikembangkan gerakan-gerakan bertopeng anarki dan akrab dengan tindakan kriminal untuk mampu meraih posisi tertinggi dalam pemerintahan. Bukan hanya itu saja, setelah meraih tampuk kepemimpinan, pemerintah anarki yang berkuasa dengan terang-terangan mengajarkan kekerasan dan tindakan kriminal pada rakyatnya untuk mengintimidasi ras lain yang dianggap lebih rendah dan harus dimusnahkan.

FASISME TERORISME NEGARA


Fasisme
·         Sejarah dan Perkembangan Fasisme
Barisan di Roma
            Kata fasisme berasal dari kata fascio, dalam bahasa latin ‘fasces’ yang berarti seikat tangkai atau tongkat yang dililitkan pada sebuah kapak yang merupakan lambang pertama persatuan bangsa Romawi Kuno (Elson, 1986;25). Kata inilah yang digunakan Mussolini untuk partai yang didirikannya yaitu “fascio dicombattimento” tahun 1921. Oleh karena itu, berbicara masalah fasisme tidak akan lepas dengan pembicaraan mengenai Mussolini.
            Mussolini bernama lengkap Benito Amilcare Andrea Mussolini, lahir pada tanggal 29 Juli 1883 di desa Dovia, timur Itali. Sejak kecil Mussolini dikenal dengan sifatnya yang pemberontak dan pemberani. Jiwa kepemimpinan Mussolini telah tampak sejak muda, dia memimpin geng kecil di kampungnya. Mussolini dikeluarkan dari sekolah karena beberapa kali berkelahi tanpa jera dengan temannya, di luar itu semua, pemuda Mussolini tertarik pada sejarah tentang kejayaan Romawi Kuno, Ia mulai berangan-rangan dan terobsesi menjadi seorang pemimpin besar Itali yang akan mengembalikan kejayaan Romawi Kuno.
            Beranjak dewasa, Mussolini merantau ke kota dan sering ditangkap oleh pihak berwenang karena sering mengadakan hasutan pada kaum buruh untuk mogok kerja. Karir politik Mussolini dimulai ketika menjadi seorang penulis harian Itali, tulisan Mussolini sebagian besar berisi kritik keras terhadap pemerintahan. Melalui tulisannya, Ia mendapatkan banyak pendukung dan penggemar yang memiliki kesamaan pola pikir. Berawal dari inilah Mussolini merintis terbentuknya partai Fasis. Pada tahun 1922 Mussolini berhasil merebut kekuasaan dengan menjabat sebagai perdana menteri dengan cara mengerahkan massa yang dimilikinya untuk menduduki Roma.
Salah satu buku penting yang ditulis Mussolini sebagai acuan pemerintahan dan pengikutnya adalah “The Doctrine of  Fascism”. Pada tahun 1937 berhasil terbentuk Aliansi Fasis yang terdiri dari Itali, Jerman dan Jepang. Perang Dunia II yang turut diciptakan oleh pemerintah fasis Mussolini berakhir pada keruntuhan pemerintahan itu sendiri.

·         Negara-Negara Penganut Fasisme
1. Jerman
            Pada dasarnya fasisme Jerman dan Itali memiliki perbedaan, Fasisme Jerman berbentuk nasional sosialis (Nazi) sedangkan fasisme Itali berbentuk partai fasis yang didirikan Mussolini. Namun perlu diingat bahwa fasisme itali mencapai kekuasaan terlebih dahulu dibanding nasional sosialis Jerman.
            Pemimpin Nazi adalah Adolf Hitler. Hitler lahir pada tanggal 20 April 1889 di Braunan Austria. Cita-cita Hitler untuk mejadi seniman kandas di tengah jalan karena gagal masuk akademi seni Vienna, kegagalannya ini menghantarkan dia menjadi seorang gelandangan yang hidupnya tak menetu di jalanan kota Berlin.
            Kemelaratan yang dirasakannya di jalanan membentuknya sebagai seorang anti-Semit karena menganggap Yahudi-lah yang bertanggung jawab atas segala penderitaan bangsa Jerman yang menyebabkan kemerosotan ekonomi bangsa Jerman. Hitler mulai belajar politik di jalanan melalui diskusi-diskusi terbuka, disanalah jiwa nasionalismenya terbentuk.
            Setelah karirnya dalam Perang Dunia I, Hitler bergabung dengan partai buruh Jerman, dan melalui kemampuan orasi yang dimilikinya dengan cepat mengantarkannya pada kursi kepemimpinan. Pada tahun 1923 Hitler mencoba melakukan kudeta namun gagal dan akhirnya dipenjara. Di dalam sel, Hitler menulis buku terpenting sebagai pedoman pergerakan Nazi dan pengikutnya yaitu Mein Kampf (Perjuanganku). Dalam bukunya tersebut, Hitler mampu memberikan rumusan yang sistematis dan analitis mengenai pergerakan Nazi. Kepandaian Hitler membangkitkan emosi massa tampak jelas di dalam buku ini, salah satunya ia berulang kali menyadarkan ketidakadilan yang diterima bangsa Jerman berkait dengan Perjanjian Versailles yang diciptakan pihak musuh akibat kekalahan dalam Perang Dunia I, yang antara lain berisi:

  1. Jerman menanggung semua kerugian perang sebesar 2 milyar marks
  2. Angkatan perang Jerman harus diperkecil, dan
  3. Daerah jajahan Jerman diberikan pada negara yang menang perang begitu juga sebagian dari wilayah Jerman.
            Selepas dari penjara pengikut Hitler bertambah dan dengan politik teror segera mendesak Presiden Paul Von Hidenbergh untuk mengangkatnya sebagai Kanselir yang akhirnya dengan alot disetujui. Setelah menjadi kanselir Jerman, tak lama kemudian Hitler menduduki kursi kepemimpinan Jerman dikarenakan meninggalnya Presiden Hidenberg.
            Hitler memulai sepak terjangnya dengan mengamalkan segala yang tertulis dalam buku Mein Kampf. Pada tanggal 1 September 1939 Hitler mencaplok Polandia dan sekaligus memberikan pertanda dimulainya Perang Dunia II. Pada akhirnya Perang Dunia II berakhir dengan kehancuran pemerintahan Nazi Hitler dengan pembantaiannya yang sadis terhadap 6 juta Yahudi Eropa yang terkenal dengan nama ‘Holocaust’.   

2. Spanyol
            Sejarah fasis Spanyol dimulai dengan kudeta terhadap Raja Alfonso XIII oleh Jendral Miguel pada tahun 1923. Kekuasaan Miguel tidak berlangsung lama karena terjadinya krisis ekonomi yang memaksanya untuk mundur-dan kembali digantikan oleh Raja Alfonso XIII. Langkah pertama yang dilakukan Alfonso adalah merubah Spanyol dari pemerintahan monarki ke republik.
            Terbentuknya pemerintahan republik menuntut digelarnya kembali referendum untuk menentukan siapa saja yang patut duduk dalam kursi pemerintahan. Akhirnya kursi pemerintahan dikuasai oleh kaum marxis sedangkan parlemen diisi oleh kaum fasis dan nasionalis. Persekutuan antara kaum fasis dan nasionalis menciptakan konflik dengan pemerintahan yang berakhir dengan kemenangan fasis-nasionalis. Dibawah kekuasaan fasis Franco, kedaan ekonomi Spanyol membaik, Ia juga menjalin hubungan dengan Hitler dan Mussolini hingga meletusnya Perang Dunia II.

3. Jepang
            Di Jepang, fasisme diajarkan oleh Kita Ikki dan berhasil mempengaruhi para perwira militer sehingga terjadi pergolakan politik. Setelah militer berkuasa, Jepang mulai menjalankan politik imperialisme di seluruh Asia. Jepang menganggap pantas menjadi penguasa Asia dikarenakan rasa superioritas rasnya yang kuat.
            Tindakan paling brutal yang dilakukan oleh pemerintahan Jepang adalah penyerangan terhadap pangkalan militer Amerika di Pearl Harbour tahun 1941. kekuasaan fasis Jepang berakhir tatkala dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki oleh AS yang juga merupakan pertanda berakhirnya Perang Pasifik.

4. Negara-Negara Lain
            Adapun negara lain penganut fasisme yang tidak begitu terdengar gaungnya adalah Portugal, Perancis, Belgia, Belanda, Norwegia, Hongaria dan Rumania terutama pada masa sebelum Perang Dunia II.

·         Ajaran Fasis
1. Mussolini
            “Thus fascism could not be understood in many of its practical manifestations as a party organization, as a system of education, as a discipline, if were not always looked at in the light of its whole way conceiving life, a spiritualized way.”
            Jadi, fasisme tidak dapat dimengerti  dalam beberapa dari manifestasi praktisnya sebagai organisasi partai, sebagai suatu sistem pendidikan, sebagai suatu disiplin, jika ia tidak selalu dipandang pada pancaran dari semua jalannya dari kehidupan yang diijinkan, jalan yang dispiritualkan (Mussolini, 1942 : 24)
            “Against individualism, the Fascist conception is for the state; and it is for the individual in so far as he coincides with the state, which is the conscience and universal will of man in his historical existence.”
            Berlawanan dengan individualisme, konsep Fasis adalah untuk negara; dan bagi individu sejauh ia sejalan dengan negara, yang merupakan kesadaran dan kehendak yang universal dari manusia dalam keberadaannya yang historis (Mussolini, 1942 : 27)

2. Hitler
            “There is only one right in this world and this right is one’s own strength.”
            Hanya ada satu hak di dunia ini dan hak ini adalah kekuatan seseorang itu sendiri (Pustilnik, 1966: 241)
            “World history made by minorities when this minority of number embodies the mayority of will and determination (Hitler, 1940, Volume 2, Chapter 2)
            Ras yang paling unggul atau superior harus menjadi pemimpin bagi masyarakatnya atau bangsanya walaupun ras tersebut adalah minoritas.
Dengan kata lain fasisme memiliki pandangan :
1. Nasionalisme yang fanatik
2. Anti demokrasi dan parlementer
3. Menghapuskan keyakinan tentang kerukunan, saling pengertian, perdamaian  dunia, Liga Bangsa-Bangsa dan solidaritas internasional karena keyakinan tersebut akan melemahkan mental suatu bangsa atau dengan kata lain melegalkan adanya permusuhan, peperangan serta segala tindakan kekerasan.

Beberapa Pandangan Tentang Ajaran Fasisme
            Negara fasis memiliki kecenderungan sebagai negara totalitarian yaitu suatu negara yang menempatkan militer sebagai posisi tertinggi dalam pemerintahan. Fasisme sendiri kadang disebut sebagai suatu paham yang menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan dengan kecenderungan melakukan tindakan kekerasan dan kriminal. Berikut ciri-ciri negara fasis yang lebih spesifik,

1. Irrasionalisme
            Fasisme menolak unsur-unsur ilmiah dari ilmu pengetahuan tentang politik dan negara. Fasisme lebih menekankan pada doktrin, dogma serta mitos-mitos. Doktrin dan dogma tersebut berupa unsur tanah (bangsa), unsur darah (ras) dan unsur kekerasan (anarki).
            Fasisme Jerman sangat lekat dengan kepercayaan Pagan kuno, yaitu penyembahan terhadap matahari atau disebut juga paganisme. Lambang swastika Nazi pada dasarnya adalah simbol matahari yang dari zaman ke zaman telah mengalami pembaharuan. Untuk menghidupkan suasana Pagan kuno, Hitler sering mengadakan upacara-upacara besar yang menyerupai ritual-ritual Pagan kuno.
            Dalam fasisme yang dikembangkan baik Hitler maupun Mussolini terdapat beberapa teori/doktrin yang sangat jelas bertentangan dengan logika diantaranya adalah Lebensraum (Hitler) dan Italia Irradenta (Mussolini). Lebensraum adalah konsep keruangan yang dikembangkan Hitler, ia menganggap bahwa tanah Jerman sudah tidak muat lagi ditempati bangsa Arya, oleh karena itu bangsa “barbar” ini harus mengadakan ekspansi ke segala penjuru Eropa untuk mencari ruang hidup baru.
            Lain dengan Hitler, Mussolini mengembangkan teori “Italia Irradenta” yang berarti dimanapun ada orang Itali, disitulah tanah orang Itali. Hal ini berarti dimanapun orang Itali berada, daerah itu adalah kekuasaan orang Itali, entah ia berada dekat maupun jauh dari negaranya.

2. Darwinisme Sosial
            Fasisme sangat memegang teguh prinsip-prinsip teori Darwin, diantaranya teori evolusi yang menyatakan manusia berasal dari kera, teori perjuangan hidup dimana setiap suku bangsa harus mengadakan peperangan untuk terus menjaga kelangsungan hidup ras-nya dan yang paling dominan adalah prinsip hukum alam yaitu siapa yang kuat, dia yang menang. Prinsip-prinsip inilah yang menyebabkan tindak kekerasan dan kriminal dalam fasisme dilegalkan terhadap ras lain yang dianggap lebih rendah dan perlu dimusnahkan.
            Darwinisme yang tertuang dalam buku karangan Darwin “The Origin of Species” juga memberikan embrio lahirnya teori eugenika Nazi, yaitu teori mengenai pemurnian ras dengan mengeliminasi golongan lain yang dianggap cacat dengan dalih memperlambat proses evolusi. Tak hanya fasisme saja, teori Darwin juga menjadi landasan berpijak bagi kaum matrealis, atheis, marxis dan komunis.
  
3. Elitisme Kekuasaan
            Fasisme menolak adanya demokrasi karena menganggap hanya akan memperlambat kemajuan suatu bangsa, begitu juga oposisi yang dianggap akan mengancam persatuan nasional. Ciri-ciri kediktatoran dari pemerintah ini telah tercermin dari lambangnya yaitu kapak yang berarti kekuasaan tunggal yang semena-mena dan membabi buta terhadap golongan lain yang dianggap berseberangan.
            Penerimaan sebagian besar masyarakat terhadap model pemerintahan yang seperti ini juga dikarenakan kejayaan masa lalu mereka yang sama sekali tidak melibatkan sistem demokrasi. Lebih jauh Hitler mengatakan,”Salah satu jalan untuk menjadi bangsa yang maju adalah dengan melihat kejayaan masa lalu” dan kejayaan mereka dilahirkan melalui kediktatoran sayap kiri yang bersifat mutlak ‘can do no wrong’.

Tindakan Kekerasan dan Kriminal Fasisme
·         Suatu Langkah Mencapai Tujuan
Seperti kita ketahui, pemerintahan teror yang dilakukan Hitler dan Mussolini bukanlah yang pertama kali ada di dunia, sebelumnya tipe pemerintahan ini pernah dijalankan oleh Robespierre, seorang tokoh politik pasca revolusi Prancis 1789. Pemerintahan teror pada dasarnya bertujuan untuk membuat rakyat secara total tunduk kepada pemerintah melalui jalan represif. Tak berjalan lama, pemerintahan teror yang dijalankan Robespierre mengalami goncangan dan ambruk karena tak mampu menghadapi pemberontakan rakyat Prancis. Begitu juga dengan Fasis dan Nazi, mereka melakukan teror kepada rakyat yang tidak sejalan dengannya baik sebelum meraih kekuasaan maupun sesudah meraih kekuasaan, bedanya, mereka lebih dominan melakukan teror untuk mencapai kekuasaan. Dalam pembahasan ini, Jepang yang juga pernah dikenal sebagai salah satu negara fasis terkuat tidak disertakan karena memang dalam mencapai kekuasaan tidak melalui tindak kekerasan dan kriminal melainkan sekedar melalui jalan agitasi-agitasi.

1. Strategi Mussolini
Mussolini, pemimpin Itali membentuk laskar elit tersendiri untuk menyebarkan teror ke saentaro Itali demi meraih tujuannya mencapai kekuasaan, pasukannya dia beri nama “Black Shirt Troopers” atau Pasukan Jaket Hitam. Pasukan ini menyebabkan kekacauan dan kerusuhan selama bertahun-tahun di Itali sehingga berdampak dengan selalu silih bergantinya perdana menteri Itali.
Kekacauan dan kerusuhan yang diciptakan pasukan ini cenderung pada tindakan kekerasan dan kriminal, seperti melakukan penganiayaan terhadap kelompok-kelompok yang berhalauan dengannya, mengadakan politik adu domba antara beberapa partai yang berseberangan, penjarahan pasar-pasar dan toko-toko, pembakaran tempat-tempat peribadatan dan markas partai lain  bahkan beberapa tindakan kriminal asusila dan amoral seperti pencabulan dan pemerkosaan.
Pada Oktober 1922 Mussolini mengadakan aksi terbesar yang dia anggap sebagai puncak strategi kerusuhannya yaitu memimpin ratusan ribu pendukungnya bergerak menuju Roma-unjuk kekuatan untuk memaksa pemerintah mangangkat dirinya menjadi perdana menteri. Aksi ini dikenal dengan ‘March on Rome’ dengan akhir yang gilang-gemilang bagi Mussolini karena mampu menghantarkannya pada puncak kepemimpinan pemerintahan.

2. Strategi Hitler
            Setelah menjadi pemimpin Partai Buruh Jerman yang kemudian ia rubah namanya menjadi Nazi atau National Sozialistsche, Hitler membentuk dua pasukan khusus yaitu SS atau Staffelschutz yang berarti pasukan pelindung dan SA atau Sturmabteilung yang berarti laskar badai. Sesuai namanya, SS bertugas sebagai pengawal keamanan pribadi Hitler sedangkan SA sebagai pasukan lapangan yang melakukan politik kerusuhan.
            Kerusuhan yang dilakukan SA tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Jubah Hitam Mussolini yaitu cenderung pada tindakan kekerasan dan kriminal seperti menciptakan perkelahian, adu domba, penganiayaan, pembakaran rumah-rumah dan gedung-gedung serta tindakan asusila. Melalui skenario kerusuhan yang mengacu pada kekerasan dan tindak kriminal inilah Jerman mengalami instabilitas politik dan keamanan sehingga menuntut terjadinya perombakan jabatan kanselir berulang-ulang kali.
            Berbeda dengan Mussolini, Hitler menerapkan strategi yang lebih picik dan kejam yaitu pengkhianatan. Demi ambisinya menjadi kanselir, Hitler memenuhi janji untuk mengatasi semua kerusuhan dengan menangkap orang-orang yang diakuinya sebagai dalang dari kerusuhan. Roehm, Strasser dan Von Papen yang merupakan pendukung terpentingnya serta ratusan prajurit SA dijadikan semacam tumbal. Mereka ditangkap dan dijatuhi hukuman mati hanya untuk mendapat simpati dari presiden dan para jendral akan kesungguhan janjinya tersebut.
            Walaupun terkesan otoriter bahkan cenderung brutal namun apa yang dilakukan Hitler tersebut dianggap sah secara konstitusional karena menyangkut kepentingan dan keselamatan negara serta direstui oleh presiden. Setelah peristiwa itu Hitler diangkat menjadi kanselir dan segera menjadi pemimpin tertinggi Jerman menggantikan presiden yang wafat.

Indoktrinasi Terhadap Masyarakat
·         Pelegalan Kekarasan dan Tindak Kriminal Terhadap Ras Lain
            Indoktrinasi terhadap masyarakat fasis di Jerman sangatlah brutal, berbagai doktrin mengenai superioritas secara membabi-buta diberikan pada rakyat Jerman melalui manajemen menteri propagandanya, Paul Joseph Goebles. Tentu saja, doktrin-doktrin yang diberikan tidak lepas dari pemikiran fasis, rasis dan ultra-nasionalis Hitler dalam bukunya Mein Kampf. Mein Kampf ditulis Hitler ditengah pengasingan penjara karena kegagalannya melakukan kudeta terhadap pemerintahan resmi, namun justru dengan pengasingannya ini Hitler mampu membuat suatu buku sebagai pedoman langkah ke depan dan landasan berpijak yang kuat bagi Nazi. Dalam buku propagandanya tersebut, terdapat beberapa poin penting yang menjadi pedoman masyarakat fasis, diantaranya Anti-agama samawi, Deutchland Uber Alles, Hukum Alam dan Eugenika, doktrin-doktrin tersebutlah yang dijejalkan pemerintahan Nazi kepada masyarakatnya yang secara tidak langsung diharapkan dapat membantu negara mempercepat tujuannya yaitu pemusnahan ras lain secara membabi-buta melalui tindakan kekerasan dan kriminal.
            Hitler menganggap bahwa agama adalah sumber petaka karena dengannya manusia dibatasi dalam bingkai-bingkai tertentu sehingga tidak dapat berpikir secara bebas, malang-lang buana, menembus batas-batas dunia. Ajaran tentang cinta, kasih sayang dan pengertian dianggap hanya akan memperlemah bangsa Jerman. Hitler juga berpendapat bahwa agama tidak bisa menjadi spirit pengisi dan pendorong dalam kekaisaran ketiga atau “Third Reich”. Melalui pemikiran anti agama inlah yang menjadi gerbang pembuka masuknya ajaran-ajaran bengis dan kejam selanjutnya.
            Deutchland Uber Alles berarti “Jerman di atas segala-galanya”, doktrin ini merupakan pengembangan ajaran seorang filsuf Posmodern Jerman yang terkenal, Fredrich Wilhem Nietzche. Dua ajaran Nietzche yang terkenal adalah ‘Pengulangan Kekal’ dan ‘Uber March’ atau manusia unggul. Dalam karya-karyanya seperti Thus Speak of Zarathura, The Birth of Tragedy, Ecca Homo mencerminkan adanya etnosentris Jerman.
            Deutchland Uber Alles inilah yang menjadi senjata Hitler untuk melakukan ekspansi ke berbagai belahan penjuru dunia. Lebih parahnya lagi, melalui doktrin ini pemerintahan Nazi Jerman membolehkan rakyatnya berlaku sewenang-wenang terhadap ras lain. Perlu digarisbawahi bahwa ras lain yang paling menderita adalah Yahudi dikarenakan tujuan utama “Third Reich” (Imperium Hitler) adalah mengenyahkan bangsa Yahudi dari seluruh dunia. Teror, intimidasi, kekerasan dan tindak kriminal menjadi makanan sehari-hari bangsa Yahudi di Jerman dan daerah Eropa lainnya yang telah dikuasai Hitler, bahkan terjadi tindak kriminal internasional terhadap bangsa Yahudi yaitu Holocaust atau pembantaian 6 juta rakyat Yahudi di saentaro Eropa.
            Hukum alam adalah pemahaman Hitler yang merupakan gabungan dari dua teori raksasa yaitu teori evolusi Darwin dan teori matrealisme Hegel. Teori Darwin kiranya telah jelas diuraikan di atas sedangkan teori Hegel di sini adalah teori “Tesa” yang mengatakan bahwa tesa bertemu anti-Tesa akan menjadi sintesa, artinya dua hal yang berbeda antara A dan B apabila bertemu dan disatukan akan menciptakan suatu hal baru atau sintesa yang dianggap Hegel tuhan tidak turut campur dalam proses ini.
            Secara sederhana Hegel mengacu pada proses pembuahan zigot, ia mengatakan bahwa sperma yang bertemu ovarium akan menciptakan zigot. Kesalahan Hegel di sini adalah kurangnya pemahaman tentang pembentukan zigot itu sendiri. Ternyata, setelah diteliti ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam proses terjadinya zigot yaitu jumlah kromosom harus berimbang yaitu 23-23, apabila syarat ini tidak dipenuhi maka zigot tidak akan terbentuk. Hegel menganggap bahwa setiap pertemuan sperma dan ovarium akan selalu menghasilkan zigot padahal kenyataannya tidak demikian.
            Hukum alam yang syarat dengan Darwinisme dan Matrealisme menganggap bahwa siapa yang kuat dia akan menang (hukum rimba), tampak jelas sekali di sini bahwa kapitalisme mengambil peranan penting. Hukum alam pada dasarnya dapat disamakan dengan teori seleksi alam Darwin yang mengatakan bahwa pada akhirnya ras yang superior (tertinggi) akan bertahan hidup dan menguasai dunia, doktrin inilah yang menjadi salah satu acuan terhadap pelegalan penindasan yang dilakukan Nazi dan masyarakatnya.
            Eugenika muncul di pertengahan abad ke-20. Eugenika berarti membuang orang-orang berpenyakit dan cacat, serta “memperbaiki” ras manusia dengan memperbanyak jumlah individu sehat. Sebagaimana hewan jenis unggul dapat dibiakkan dengan mengawinkan induk-induk hewan yang sehat, maka berdasarkan teori ini ras manusia pun dapat diperbaiki melalui cara yang sama.
            Seperti telah diduga, yang memunculkan program eugenika adalah para Darwinis. Para pemuka pergerakan eugenika di Inggris adalah sepupu Charles Darwin, Francis Galton dan anaknya, Leonard Darwin. Telah jelas bahwa gagasan eugenika merupakan akibat alamiah Darwinisme. Bahkan, kebenaran tentang eugenika ini mendapatkan tempat istimewa dalam berbagai penerbitan yang mendukung eugenika, “eugenika adalah pengaturan mandiri evolusi manusia”, bunyi salah satu tulisan tersebut. Seperti halnya dengan program-program eugenika, banyak sekali orang-orang cacat di Jerman yang menjadi korban teori ini…

Runtuhnya Fasisme
·         Perang Dunia II
Berbeda dengan keruntuhan komunisme di Eropa Timur yang disebabkan oleh krisis ekonomi yang berkepanjangan, keruntuhan fasisme disebabkan oleh perang yang ia ciptakan sendiri.
Setelah menjadi perdana menteri, Mussolini mulai melakukan politik ekspansif, daerah pertama yang menjadi tujuannya adalah Afrika terutama Mesir, benua ini dianggap sebagai daerah kekuasaan Itali mengingat dahulu kala pernah dikuasai oleh Kekaisaran Romawi Kuno. Untuk menguasai Afrika, pada awalnya Mussolini melakukan penyerbuan terhadap Ethiopia karena dianggapnya sebagai gerbang Afrika. Saat melakukan invasi terhadap Ethiopia sesunguhnya pasukan Inggris sedang menduduki daerah tersebut namun karena sedikitnya pasukan Inggris yang ditempatkan maka dengan mudahnya Ethiopia direbut Itali.
Mussolini juga mengadakan hubungan dengan penguasa fasis lainnya seperti Jendral Franco di Spanyol dan Jendral Salazar di Portugal, ia mengirimkan pasukan untuk membantu meredakan perang saudara di kedua negara tersebut. Pada tahun 1937 terbentuk aliansi fasis yang terdiri dari Jerman di bawah Hitler, Itali di bawah Mussolini dan Jepang di bawah PM Tojo.
Akibat keterlibatan Itali dalam perang menyebabkan ekonomi kian hari kian memburuk, akhirnya masyarakat mengeluarkan tuntutan agar jabatan Mussolini sebagai perdana menteri dicabut dan segera dipenjarakan, sementara itu kekuasaan dikembalikan pada Raja Victor Emmanuel. Saat Jerman berhasil menguasai Italia Utara, Mussolini dibebaskan dan dijadikan presiden boneka Italia Utara oleh Hitler. Saat Jerman kalah dalam perang, Mussolini yang mencoba melarikan diri tertangkap oleh kelompok komunis dan ditembak mati, mayatnya digantung terbalik di sebuah tiang di kota Milan, disinilah fasisme Itali era Mussolini berakhir.
Hitler meraih kekuasaan pada tahun 1933 dengan politik kerusuhan dan pengkhianatannya, segera setelah itu Hitler melakukan politik teror terhadap pihak-pihak yang kontra dengan Nazi bahkan tak sungkan-sungkan menculik pihak-pihak tertentu dan melenyapkannya. Hitler mulai menyuntikkan ‘ultra nasionalisme’ kepada rakyat Jerman dengan semboyannya yang terkenal “Deutchland Uber Alles” atau Jerman di atas segala-galanya.
Hitler mulai mengamalkan bukunya, Mein Kampf dalam usahanya menguasai dunia. Invasi terhadap Polandia yang menandakan dimulainya Perang Dunia II terjadi pada 1 September 1939, 3 tahun setelah itu Hitler nyaris menguasai seluruh Eropa terkecuali Inggris dan Rusia, hal dikarenakan Inggris yang memiliki armada laut yang kuat dan terkenal, sekaligus merupakan sekutu Amerika, berdasar pertimbangan ini Hitler mencabut perjanjian damai dengan Rusia yang dipimpin oleh Diktator Josef Stalin dan langsung mengadakan invasi besar-besaran yang dikenal dengan operasi Barbarosa. Selang beberapa bulan, kota Stalingrad dan Leningrad berhasil direbut namun tanpa diduga, musim dingin yang berkepanjangan membuat pasukan Nazi Jerman dengan mudahnya dipukul mundur pasukan Merah Rusia. Stalingrad menjadi tempat akhir hidup-mati pasukan Jerman, di sana mereka ditawan oleh pasukan Merah Rusia, tak sedikit dari pasukan Jerman yang mengalami gangguan jiwa dan bunuh diri karena tahu bahwa hari-hari terakhir mereka sudah bisa dihitung dengan jari.
Kekalahan pasukan Hitler dalam perang Siberia di Rusia dan kegagalannya dalam memukul mundur angkatan udara Inggris RAF seolah membalikkan keberuntungan sang Fuehrer. Berangsur-angsur pasukan Nazi mengalami berbagai kekalahan di banyak medan pertempuran hingga pada akhirnya koalisi pasukan sekutu antara Amerika dan Rusia berhasil memasuki kota Berlin, pasukan Amerika memasuki Jerman melalui jalur barat sedangkan pasukan Merah Rusia memasuki Jerman dari jalur timur, hal inilah yang pada akhirnya akan memecah Jerman menjadi dua bagian yaitu Jerman Barat dengan kapitalismenya dan Jerman Timur dengan Komunismenya, inilah akhir dari fasisme Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler.
Tragedi memillukan yang terjadi selama Perang Dunia II adalah pembantaian besar-besaran tehadap bangsa Yahudi oleh Nazi yang dikenal dengan nama Holocaust, salah satu kamp pembantaian yang terkenal bernama Auschwitz yang terletak di Polandia. Kejadian inilah yang  mengawali kesadaran akan tingginya nilai kemanusiaan bagi dunia internasional sehingga kedepannya suatu lembaga dunia yang bernama UNO dibentuk untuk menjaga perdamaian dunia.
Jepang dibawah Kaisar Hirohito dengan Perdana Menteri Tojo, melakukan invasi brutal terhadap pangkalan militer Amerika di Pearl Harbour, Hawai pada tahun 1941. Serangan ini dirancang oleh seorang perwira militer cakap yang bernama Yamamoto. Dampak dari serangan ini adalah tewasnya lebih dari dua ribu pasukan Amerika yang ditempatkan disana, perang ini sekaligus menandai dimulainya Perang Pasifik yang membawa Amerika terlibat langsung di dalamnya. 4 tahun kemudian Amerika berhasil membalas kekalahan dalam peristiwa Pearl Harbour dengan menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki yang juga bersamaan menandai berakhirnya pemerintahan fasis Jepang periode Hirohito saat itu.

KESIMPULAN
            Kajian mengenai tindakan kekerasan dan kriminal dalam fasisme memanglah tidak akan ada habisnya jika ditelaah dan ditelusuri lebih jauh. Ternyata, tindakan-tindakan tersebut tidak luput dari sintesa/campuran berbagai paham, filosofi bahkan mitos-mitos yang ada. Melalui hal ini, kita dapat mengkaji lebih jauh apa saja paham, filosofi dan mitos yang menyokong fasisme berkait dengan kelahiranya, penciptanya bahkan perbedaan ekplanasi paham, filosofi dan mitos dari beberapa narasumber yang berbeda.
            Berbeda dengan tindakan kekerasan dan kriminal lainnya, dalam hal ini fasisme memiliki tujuan tertentu dengan memboncengi kedua hal tadi yaitu kekuasaan. Adapun perlunya kita mengkaji mengenai fasisme salah satunya adalah mengetahui karakteristiknya atau tindak-tanduknya karena saat ini pun masih perlu diwaspadai keberadaannya yang samar-samar. Dengan kata lain, tujuan kita mempelajari fasisme adalah untuk mencegah bangkitnya kembali paham ini yang dapat dikatakan sebagai bahaya laten mengingat paham ini membawa bencana bagi puluhan juta umat manusia tak terkecuali di Indonesia yang pernah menjadi korban kekejaman fasisme Jepang.
            Besar harapan kami untuk dapat menjadikan sari literatur yang ringkas ini memberikan pemahaman pada pembaca sekalian mengenai tindakan kekerasan dan kriminal fasisme yang memilki tujuan terselubung. Semoga apa yang telah kami kerjakan dan usahakan ini memberikan manfaat baik berupa wawasan maupun hiburan bagi pembaca sekalian. Terimakasih.



Penyusun.





TOKOH-TOKOH FASIS
Adolf Hitler



Benito Mussolini



Hirohito





5 komentar:

Erry Syahrian mengatakan...

terima kasih buku saya sudah dimuat disini

Erry Syahrian

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

Saya yang berterima kasih, Pak. Berkat buku bapak pemahaman saya akan fasisme menjadi mudah. Sebelumnya mohon maaf, ulasan singkat saya di atas jauh dari berkualitas, sebetulnya dibuat kala masih duduk di bangku semester pertama kuliah.

Salam hangat, Pak.

bernadita maya mengatakan...

makasih udah di bantu

Wahyu Nugroho mengatakan...

u r welcome ;)

herry shanjaya mengatakan...

Sungguh menambah ilmu. Mksih.

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger