"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 12 Maret 2011

MEMBUKA WAWANCARA DENGAN METODE “LABELLING”

MEMBUKA WAWANCARA DENGAN METODE “LABELLING”
WAWANCARA TERHADAP MANTAN KEPALA ACCOUNTING PERUSAHAAN
Oleh: Wahyu Budi Nugroho
----------------------------------------------------------------------------------
            Metode baru wawancara ini dilakukan terhadap mantan kepala accounting suatu perusahaan swasta yang saat ini memegang jabatan selaku kepala keuangan sebuah factory outlet. Pewawancara tidak menemui kesulitan dalam melakukan kontak terkait dimana dan kapan wawancara hendak dilangsungkan sebab narasumber yang bersangkutan tinggal satu atap bersama pewawancara. Keunikan yang dapat disoroti lebih jauh adalah metode yang dilakukan pewawancara untuk menggali informasi secara mendalam, sistematis dan ilmiah dari narasumber dengan metode labelling.
            Setting wawancara bertempat di ruang makan, waktu menunjukkan pukul 19.30, seusai waktu Isya. Narasumber tampak hendak mengambil air panas dari dispenser yang ada di ruangan tersebut untuk membuat secangkir kopi, tanpa basa-basi pewawancara mendatangi dan mengemukakan niatnya untuk bertanya sesuatu karena pewawancara menganggap situasi dan kondisi demikian ideal untuk melakukan wawancara. Selain itu, waktu saat wawancara berlangsung merupakan hari libur dimana narasumber telah beristirahat seharian.
            Pewawancara yang telah cukup lama mengenal narasumber begitu paham dengan karakter dan sifat narasumber yang bersangkutan, salah satunya adalah komunikasi/berbicara yang secukupnya (sekedar menyentuh permukaan atau kulit). Di sini pewawancara menggunakan metode labeling agar dapat menggali lebih jauh berbagai akar atau dasar dari persoalan ekonomi, bukan sekedar pada tataran cabang atau permukaan semata. Labelling yang dilakukan pewawancara dilakukan sedemikian rupa dengan spontanitas seolah-olah kedua belah pihak baik pembicara dengan lawan bicara sedang berada pada status dan peran tertentu serta seolah dalam kondisi formal yang mencakup kepentingan nasional.
            Sebagai pembukaan wawancara, pewawancara seolah bertindak sebagai moderator dalam sebuah acara diskusi televisi dengan mengatakan,”Berjumpa lagi dengan saya, Wahyu Budi Nugroho dengan acara Today Dialogue Metro TV, saat ini di studio telah hadir Prof. Dr. Yopi Pakasi, MA selaku Guru Besar Fakultas Ekonomi UST yang juga merupakan lulusan Flinders University, Australia.” Status dan peran tersebut hanyalah candaan belaka (pemanis) kecuali narasumber yang memang benar-benar lulusan UST dan mendapat gelar S.E, mendengar apa yang pewawancara lontarkan, narasumber tersenyum kecil dan tampak mulai terbawa suasana (seolah-olah benar-benar berada pada acara Today Dialogue Metro TV).
            Dalam hal ini, pengaruh suasana dianggap penting bagi pewawancara sebab dengan situasi dan kondisi yang biasa, narasumber cenderung hanya akan berbicara pada taraf permukaan masalah, bukan pada dasar atau inti masalah.
Contoh,
Pertanyaan :             
Kenapa Indonesia sulit lepas dari julukan masyarakat agraris?
Jawaban Permukaan :        
Karena mayoritas penduduk Indonesia bermatapencaharian di sektor tersebut  
Jawaban Mendasar :           
Adanya kesalahan strategi pembangunan Indonesia yang cenderung condong pada strategi neoklasik yaitu….
            Dengan adanya pe-label-an tersebut pewawancara hendak memposisikan narasumber sedemikian rupa (menjadi seorang Guru Besar FE dalam suatu acara diskusi bertaraf nasional/internasional) agar jawaban yang diharapkan tampak seolah-olah keluar dari mulut dan pemikiran seorang Guru Besar dalam suatu diskusi formal, dan nyatanya memang demikian. Jawaban yang keluar dari narasumber tidak seperti dalam situasi dan kondisi biasa sehari-hari dimana penuh bahasa-bahasa prokem (pergaulan) dan secukupnya, jawaban yang terlontar dari narasumber lebih “ilmiah”, formal dan tampak dengan jelas adanya ekplanasi yang bersifat kausal (sebab-akibat) maupun fungsional (kondisi saling mempengaruhi), ekplanasi yang keluar pun didukung dengan teori-teori ekonomi yang dulu pernah beliau pelajari, melalui hal ini pewawancara beranggapan bahwa adanya labelling seolah benar-benar menuntut keras narasumber yang bersangkutan memposisikan diri seperti apa yang diharapkan oleh pemberi label (pewawancara).       
Inti pertanyaan yang diajukan pewawancara :
v  Mengapa pengangguran akan banyak sekali ditemukan dalam suatu negara yang sektor ekonominya didominasi oleh swasta?

*****

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger