"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 12 Maret 2011

Pengantar Sosiologi VI

PENGANTAR SOSIOLOGI VI

Disusun Oleh:
Wahyu Budi Nugroho

Bab VI
Mobilitas Sosial


Pengertian Mobilitas Sosial
         Mobilitas sosial adalah perpindahan individu, kelompok atau komunitas sosial pada segi status sosial yang dimilikinya dalam masyarakat. Mobilitas sosial merupakan perihal yang ajeg (baca: pasti) terjadi dalam masyarakat. Hal tersebut sebagaimana telah dijelaskan dalam bab sebelumnya bahwa begitu utopis mengandaikan masyarakat sebagai suatu kesatuan yang selalu berada dalam kondisi tenang-tanpa perubahan. Pun, mobilitas sosial memiliki keterkaitan erat dengan struktur sosial, dalam hal ini diferensiasi maupun stratifikasi sosial. Pengkajian mengenai mobilitas sosial setidaknya mencakup bentuk-bentuk mobilitas sosial dan sebab-sebab terjadinya mobilitas sosial sebagaimana akan dipaparkan lebih lanjut sebagai berikut.
Bentuk-bentuk Mobilitas Sosial

Mobilitas Sosial Fisik
            Mobilitas sosial fisik merupakan perpindahan individu atau kelompok dari satu tempat ke tempat lain, dapat pula disebut dengan “migrasi”. Perpindahan ini (migrasi) terbagi dalam dua bentuk, permanen dan remanen. Mobilitas sosial fisik permanen dapat dimisalkan dengan transmigrasi, imigrasi dan emigrasi (bilamana imigrasi dan emigrasi bertujuan untuk menetap). Motif perpindahan tersebut umumnya berkutat pada upaya peningkatan taraf hidup yang dengan demikian terkait erat dengan motivasi guna memperbaiki status sosial. Namun, terdapat pula motif lain yang ditemui dalam perpindahan di atas seperti,

1.  Perbaikan citra sosial
            Seorang residivis (mantan napi) yang berpindah tempat tinggal untuk melepaskan citra negatif yang telah melekat padanya.
2. Konstelasi politik
        Ditemuinya konflik perebutan kekuasaan yang menyebabkan kehidupan sosial-ekonomi tak berjalan semestinya, bahkan membahayakan keselamatan jiwa sehingga memaksa individu atau kolektif meninggalkan tempat menetap lama dan mencari tempat menetap yang baru. Apabila perpindahan tersebut telah melewati batas-batas negara di mana warga negara baik individu maupun kolektif meminta permohonan legal-formal (resmi) pada pemerintahan negara lain maka disebut dengan “suaka” (suaka politik).
3. Motif keagamaan
    Motif ini dapat dimisalkan dengan individu atau kolektif yang meninggalkan suatu tempat dan menuju tempat yang baru dengan tujuan melakukan kegiatan dakwah agama. Pun, dapat pula disebabkan oleh keadaan sosial-politik tempat menetap yang tak memungkinkan individu atau kolektif mengamalkan ajaran-ajaran agamanya. Sebagai misal, ditemuinya konsep hijrah dalam Islam, atau perpindahan orang-orang Tengger guna mempertahankan keyakinan Hindhu yang dipeluknya.
4. Keinginan melihat daerah lain
        Motif ini disebabkan oleh kejenuhan individu atau kolektif terhadap tempat menetapnya yang lama sehingga menimbulkan dorongan kuat untuk mencari tempat menetap yang baru. Dapat pula disebabkan oleh dorongan suatu karakter individu yang khas seperti jiwa petualang, kesukaan akan menemukan hal-hal baru, dll.
5. Demografi
          Perpindahan fisik ini disebabkan oleh tekanan pertumbuhan penduduk (kepadatan penduduk) yang menyebabkan kurangnya ketersediaan air bersih, bahan makanan, pelayanan kesehatan, dsb. sehingga mendorong individu atau kolektif untuk meninggalkan daerah tersebut.
   
Mobilitas Sosial Horizontal
            Mobilitas sosial horizontal adalah perpindahan individu atau kolektif dalam masyarakat yang “tidak” menyebabkan terjadinya perubahan status sosial terhadap yang bersangkutan (pelaku mobilitas) karena terjadi dalam tingkat pelapisan sosial yang sama. Mobilitas sosial horizontal dibagi dalam beberapa bentuk antara lain,

1. Mobilitas horizontal intragenerasi
         Adalah mobilitas sosial yang dilihat dalam lingkup satu generasi individu saja.
Contoh: Seseorang yang berhasil menjadi dosen perguruan tinggi negeri setelah sebelumnya menjadi dosen perguruan tinggi swasta.
2. Mobilitas horizontal intragenerasi temporer
            Bentuk mobilitas sosial yang dilihat dalam lingkup satu generasi individu dan bersifat sementara (temporer) saja.
Contoh: Pada musim kemarau, petani berubah profesi menjadi buruh bangunan, namun ketika musim penghujan, petani kembali pada profesinya semula.  
3. Mobilitas horizontal antargenerasi
            Adalah mobilitas sosial yang dilihat dalam lingkup lebih dari satu generasi (antargenerasi: orang tua-anak-cucu-dst.).
Contoh: Seseorang merupakan anggota TNI, sedang anaknya kemudian menjadi seorang dosen.
            Perlu ditegaskan sekali lagi kiranya bahwa mobilitas sosial pada berbagai deskripsi di atas terjadi dalam satu pelapisan sosial yang sama (horizontal).

Mobilitas Sosial Vertikal
            Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan individu atau kolektif dalam masyarakat yang menyebabkan terjadinya perubahan status sosial. Dalam hal ini, perpindahan atau pergeseran terjadi pada pelapisan sosial yang berbeda, semisal dalam suatu hierarki atau suatu struktur struktur sosial. Mobilitas sosial vertikal dibedakan dalam dua bentuk sebagai berikut.

1. Mobilitas Sosial Vertikal Naik
            Mobilitas sosial vertikal naik adalah bentuk mobilitas sosial individu atau kolektif yang menyebabkan terjadinya kenaikan atau peningkatan status sosial pada yang bersangkutan (pelaku mobilitas).
Contoh:
  • Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mengalami peningkatan golongan kepegawaian.
  • Seseorang yang naik jabatan dalam suatu perusahaan.
  • Salah seorang anggota aparatur negara yang naik pangkat.
2. Mobilitas Sosial Vertikal Turun
            Mobilitas sosial vertikal turun adalah bentuk mobilitas sosial individu atau kolektif yang menyebabkan terjadinya penurunan status sosial pada yang bersangkutan (pelaku mobilitas).
Contoh:
  • Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mengalami penurunan golongan kepegawaian.
  • Seseorang yang turun jabatan dalam suatu perusahaan.
  • Salah seorang anggota aparatur negara yang turun pangkat.
Adapun fenomena mobilitas sosial vertikal baik naik maupun turun dalam kaitannya dengan generasi yang terlibat di dalamnya terbagi dalam beberapa bentuk sebagai berikut.
1. Mobilitas Vertikal Naik Intragenerasi
            Mobilitas sosial vertikal naik intragenerasi adalah bentuk mobilitas sosial individu atau kolektif yang menyebabkan terjadinya kenaikan atau peningkatan status sosial pada yang bersangkutan (pelaku mobilitas) dalam satu generasi. Contoh dapat dilihat dalam mobilitas vertikal naik.
2. Mobilitas Vertikal Naik Antargenerasi
Mobilitas sosial vertikal naik antargenerasi adalah bentuk mobilitas sosial individu atau kolektif yang menyebabkan terjadinya kenaikan atau peningkatan status sosial pada yang bersangkutan (pelaku mobilitas) dalam dua atau lebih generasi.
Contoh:
  • Seorang buruh memiliki anak yang menjadi guru, kemudian memiliki cucu yang menjadi pejabat.
  • Seorang petani memiliki anak yang menjadi dosen, kemudian memiliki cucu yang menjadi menteri.
  • Seorang dosen memiliki anak yang menjadi menteri, kemudian memiliki cucu yang menjadi presiden.
3. Mobilitas Vertikal Turun Intragenerasi
Mobilitas sosial vertikal turun intragenerasi adalah bentuk mobilitas sosial individu atau kolektif yang menyebabkan terjadinya penurunan status sosial pada yang bersangkutan (pelaku mobilitas) dalam satu generasi. Contoh dapat dilihat dalam mobilitas vertikal turun.
4. Mobilitas Vertikal Turun Antargenerasi
Mobilitas sosial vertikal turun antargenerasi adalah bentuk mobilitas sosial individu atau kolektif yang menyebabkan terjadinya penurunan status sosial pada yang bersangkutan (pelaku mobilitas) dalam dua atau lebih generasi.
Contoh:
  • Seorang pejabat memiliki anak yang menjadi guru, kemudian memiliki cucu yang menjadi buruh.
  • Seorang menteri memiliki anak yang menjadi dosen, kemudian memiliki cucu yang menjadi petani.
  • Seorang presiden memiliki anak yang menjadi menteri, kemudian memiliki cucu yang menjadi dosen.
Sebab-sebab Terjadinya Mobilitas Sosial

Masyarakat dengan Sistem Stratifikasi Sosial Terbuka
            Mobilitas sosial hanya dapat terjadi pada suatu masyarakat dengan sistem stratifikasi sosial terbuka. Dalam masyarakat tipe tersebut tatanan struktur sosial tidaklah ajeg, tidaklah stagnan, tidaklah diam atau tidak mandeg, melainkan dinamis dan terbuka luas kemungkinan bagi terjadinya perubahan-perubahan di dalamnya. Masyarakat dengan karakter seperti ini dapat diibaratkan dengan tumpahan air pada permukaan lantai yang tak tentu kemana ianya akan mengalir. Masyarakat yang demikian dapat ditemui pada negara-negara demokratis dengan tingkat rasionalitas masyarakatnya yang telah mapan seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, Perancis, Jepang dan negara-negara maju lainnya.

Masyarakat dengan Sistem Stratifikasi Sosial Tertutup
            Mobilitas sosial tak dapat terjadi dalam masyarakat dengan sistem stratifikasi sosial yang bersifat tertutup. Dalam masyarakat tipe tersebut tatanan struktur sosial bersifat ajeg, stagnan, diam atau mandeg, tak ditemui dinamisasi sosial di dalamnya. Oleh karenanya, masyarakat dengan tipe tersebut tertutup rapat kemungkinan bagi terjadinya perubahan-perubahan di dalamnya. Perubahan bukannya tak mungkin terjadi sama sekali, tetapi minim atau kecil kemungkinan terjadinya, dan bilamana terjadi, maka perubahan tersebut umumnya berbentuk mobilitas sosial horizontal yakni perpindahan individu atau kolektif dalam masyarakat yang tak menyebabkan terjadinya perubahan status sosial. Masyarakat yang demikian dapat ditemui pada negara-negara dengan tingkat rasionalitas masyarakatnya yang belum mapan dan cenderung mendewakan pengkultusan tokoh atau kelompok tertentu layaknya sistem kasta di India atau Korea Utara dan Kuba dengan sistem pemerintahannya yang diktatorial (tiran).

Dampak-dampak Mobilitas Sosial

1. Dampak Positif
  • Memunculkan dan menyuburkan jiwa need of achievement.
            Dengan adanya stratifikasi sosial masyarakat yang bersifat terbuka, maka muncul harapan bagi individu atau kolektif untuk dapat memperbaiki nasib atau keadaan hidupnya. Inilah yang diistilahkan David Mc Clelland sebagai need of achievement atau “semangat untuk berprestasi”. Hal ini pulalah yang nantinya turut memunculkan semangat berkompetisi antara satu individu dengan individu lainnya.

  • Kehidupan yang lebih baik
            Dengan munculnya need of achievement, maka individu atau kolektif dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya, bahkan hingga mencapai puncak-puncak kesejahteraan dan kemakmuran yang tak terduga-duga sebelumnya. Hal tersebut secara jelas tampak dalam mobilitas fisik di mana individu atau kolektif melakukan perpindahan guna mendekati sumber-sumber ekonomi yang lebih memadai.

  • Kepuasan batin dan emosional
            Melalui serangkaian keberhasilan yang dicapainya, pastilah individu bakal merasakan kepuasan batin dan emosional pada dirinya. Hal tersebut mengingat pencapaian individu sebagai manusia seutuhnya di mana naluri alamiahnya sebagai makhluk yang berkreasi (mencipta/berkarya) dapat diaktualisasikan (dieskpresikan/disalurkan) sedemikian rupa.

2. Dampak Negatif
  • Individualisme
            Jiwa need of achievement yang berlebih dapat menjadikan seseorang memiliki kepribadian yang individualis. Hal tersebut dikarenakan kesadaran yang muncul kemudian bahwa ia dapat mencapai atau mewujudkan segala hal yang dicita-citakannya dengan segenap kemampuannya sendiri, inilah yang kemudian memunculkan bibit-bibit apatisme sosial, seakan dirinya “tak membutuhkan” masyarakat.

  • Konflik
              Pun, jiwa kompetisi yang berlebihan berdampak negatif pada kepribadian seseorang. Hal tersebut dapat mendorong seseorang untuk “menghalalkan” segala cara demi mewujudkan keinginanya, bahkan dengan cara-cara tak sehat semisal “menjegal” para kompetitornya.

  • Permasalahan sosial multidimensional
          Permasalahan sosial yang bersifat multidimensional secara sederhana dapat dicontohkan dengan berbagai dampak negatif mobilitas sosial fisik. Sebagai misal, keinginan orang-orang desa untuk memperbaiki taraf hidupnya dilakukan dengan urbanisasi melalui asumsi banyaknya lapangan kerja yang tersedia di perkotaan. Hal tersebut akan membawa efek domino negatif seperti terjadinya kepadatan penduduk, kurangnya ketersediaan air bersih dan pelayanan kesehatan, meningkatnya angka pengangguran yang nantinya berujung pada meningkatnya pula angka kriminalitas.   

Ide-ide Pokok
  • Mobilitas sosial adalah perpindahan individu, kelompok atau komunitas sosial pada segi status sosial yang dimilikinya dalam masyarakat.
  • Mobilitas sosial terbagi dalam tiga bentuk, antara lain mobilitas sosial fisik, horizontal dan vertikal.
  • Mobilitas sosial horizontal adalah perpindahan individu atau kelompok yang tidak menyebabkan terjadinya perubahan status sosial dalam masyarakat.
  • Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan individu atau kelompok yang menyebabkan terjadinya perubahan status sosial dalam masyarakat.
  • Ditinjau melalui generasi yang terlibat di dalamnya, mobilitas sosial dapat digolongkan ke dalam mobilitas sosial intergenerasi dan mobilitas sosial antargenerasi.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger