"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 12 Maret 2011

Pengantar Sosiologi VIII

PENGANTAR SOSIOLOGI VIII

Disusun Oleh:
Wahyu Budi Nugroho

Bab VIII
Globalisasi & Perubahan Sosial

            Kita telah cukup mengkaji perihal “perubahan sosial”; definisi, teori-teori yang menjelaskannya berikut berbagai hal yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Pada kesempatan kali ini, kembali akan dibahas perihal di atas, hanya saja melalui titik tolak yang berbeda yakni terkait bagaimana fenomena globalisasi dewasa ini mampu mempengaruhi beragam masyarakat di berbagai belahan dunia.

Glosarium
§  Negara dunia pertama: negara-negara maju seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Jepang dan Korea Selatan.
§  Negara dunia kedua: menunjuk pada Uni Soviet dan China sebagai kompetitor sosial, politik, ekonomi dan budaya negara-negara dunia pertama. Setelah komunisme runtuh pada tahun 1991 istilah negara dunia kedua tak digunakan lagi.
§  Negara dunia ketiga: negara terbelakang maupun tengah berkembang seperti negara-negara Afrika dan Amerika Latin, Indonesia, Malaysia, India, dll.  

Pengertian Globalisasi
            Seorang sosiolog kenamaan asal Inggris, Anthony Giddens, mengatakan bahwa globalisasi adalah era di mana penyempitan “ruang” dan “waktu” terjadi. Lebih jauh, ia menjelaskan bagaimana sebentuk kebijakan yang dibuat di sebuah ruangan kecil dan tertutup di suatu belahan dunia dapat mempengaruhi situasi dan kondisi belahan dunia lainnya. Menurutnya, globalisasi sebagai dampak pesatnya kemajuan teknologi informasi dan transportasi dewasa ini memunculkan apa yang diistilahkannya dengan “era postmodern” (era setelah modern), yakni suatu era di mana informasi datang bertubi-tubi menyerang manusia dari berbagai penjuru; internet, televisi, radio, media cetak, dll.

Lahirnya Globalisasi: “Direncanakan” atau “Tak Direncanakan”
            Hingga saat ini, selisih paham dan silang pendapat antar berbagai pakar terkait globalisasi sebagai fenomena yang “direncanakan” ataukah “tak direncanakan” masih saja menjadi diskusi hangat yang menghiasi kolom-kolom jurnal ilmiah. Menurut saintis (kaum pengikut paham kemajuan iptek [saintisme]) seperti Alan D. Sokal menegaskan bahwa globalisasi adalah fenomena yang tak direncanakan atau “tak disengaja”. Artinya, globalisasi merupakan konsekuensi logis dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang informasi dan transportasi.
            Berseberangan dengan kaum saintis, para ilmuwan sosial dan ekonom mencium aroma lain dari globalisasi. Para tokoh seperti James Petras, George Ritzer, John Pilgrim dan Andre Gunder Frank menganggap globalisasi sebagai fenomena yang direncanakan atau “disengaja”. Menurut mereka, hal tersebut tampak melalui kentalnya nuansa kepentingan ekonomi yang dibawa oleh arus globalisasi. Kepentingan ekonomi tersebut semisal upaya pencarian pasar baru bagi berbagai komoditas produksi negara-negara maju.
“3F” Globalisasi: Fun, Food and Fashion


  Fun, food and fashion kiranya menjadi isu penting yang syarat diperhatikan dalam globalisasi. “Fun” dapat kita lihat melalui dominannya media hiburan Barat yang membanjiri tanah air seperti film-film Hollywood dan sejenisnya. “Food” dapat kita tilik melalui menjamurnya makanan cepat saji asal Barat yang mulai bermunculan di tanah air. Sedang, fashion adalah mode berpakaian ala Barat yang dibawa melalui berbagai media informasi seperti internet, televisi dan majalah-majalah gaya hidup yang beredar di pasaran tanah air.
Hadirnya “3F” memiliki berbagai dampak dalam kehidupan sosial-ekonomi tanah air atau banyak negara dunia ketiga lainnya. Analisis seorang sosiolog bernama Denzin atas media hiburan Barat (film) menyebutkan setidaknya terdapat dua hal yang dibawa olehnya. Pertama, muatan perlawanan sosial seperti budaya “pillholik” (ketergantungan akan obat-obatan medis), alkoholik, narkoba dan berbagai bentuk budaya “candu” lainnya. Dan kedua, budaya konsumerisme. Terkait food yang dibawa globalisasi, hal tersebut dapat berdampak pada tergerusnya berbagai makanan lokal di mana generasi muda saat ini lebih familiar dan lebih memilih makanan ala Barat yang kerap dijuluki sebagai junk food ‘makanan sampah’. Begitu pula, mewabahnya fahion ala Barat sebagaimana tampak melalui hadirnya banyak distro dewasa ini, dapat menyebabkan tergerusnya pakaian adat lokal di mana generasi muda akan lebih merasa “modis”, “gaul” dan modern ketika memakai berbagai pakaian yang berbau Barat, bukan pakaian yang berasal dari tanah kelahirannya sendiri.

Dampak Negatif Globalisasi

Eksploitasi Ekonomi
            Eksploitasi ekonomi sebagai salah satu dampak negatif globalisasi dapat ditilik melalui muatan “3F” globalisasi di atas. Mewabahnya berbagai produksi media hiburan dan makanan cepat saji Barat di tanah air terutama, menyebabkan mengalirnya sumber daya ekonomi banyak negara berkembang atau negara dunia ketiga pada berbagai negara maju atau negara dunia pertama secara terus-menerus.
            Argumen eksploitasi ekonomi kedua terkait globalisasi disampaikan oleh seorang pakar ekonomi-politik kenamaan Amerika Latin bernama Andre Gunder Frank. Menurutnya, terjadi pertukaran ekonomi yang tak seimbang antara negara maju dengan negara berkembang. Hal tersebut tampak melalui harga berbagai komoditas teknologi (informasi, transportasi, dll.) asal negara maju yang jauh lebih mahal dibandingkan harga berbagai komoditas pangan (pertanian) asal negara berkembang. Sehingga, bilamana pertukaran terjadi di antara keduanya, maka pastilah pertukaran yang terjadi tak seimbang. Hal tersebut akan diilustrasikan melalui kolom “Ide-ide Menarik” sebagai berikut.

Ide-ide Menarik
            Tahukah Anda? Sekedar dibutuhkan waktu satu jam saja untuk memproduksi satu unit mobil Volvo seharga satu milyar rupiah di Amerika Serikat. Harga satu unit mobil tersebut setara dengan harga satu ton beras yang kurang-lebih membutuhkan tiga bulan waktu panen di Indonesia. Menurut Frank, hal tersebutlah yang menyebabkan “surplus” negara dunia ketiga tersedot pada negara-negara maju; satu jam produksi seunit Volvo, berbanding tiga bulan masa produksi satu ton beras, terjadi pengorbanan sumber daya yang tak seimbang antara negara maju dengan negara berkembang terkait banyaknya waktu, energi dan sumber daya ekonomi yang terbuang.

Eksploitasi Buruh Pribumi
            Penelitian seorang ekonom bernama John Pilgrim menunjukkan bagaimana berbagai negara maju mengambil untung secara maksimal pada negara-negara dunia ketiga melalui arus globalisasi. Hal tersebut tampak melalui “hijrahnya” berbagai perusahaan raksasa negara-negara maju pada negara dunia ketiga. “Hijrahnya” berbagai perusahaan tersebut dimaksudkan akan beberapa hal yang antara lain,

1. Memperluas pasar bagi berbagai komoditas produksi negara maju.
2. Mendekatkan pada berbagai bahan mentah keperluan produksi.
3. Biaya buruh yang murah di negara dunia ketiga.

            Terkait hal di atas, Pilgrim menemukan bahwa setiap satu pasang sepatu sebuah perusahaan asing terkemuka seharga “lima ratus ribu rupiah” yang terjual, para buruh di Indonesia sekedar mendapatkan “lima ratus rupiah”. Dengan demikian, terdapat “surplus” senilai “empat ratus sembilan puluh sembilan ribu lima ratus rupiah” dari negara dunia ketiga yang tersedot pada negara-negara maju.

Westernisasi
Dalam era globalisasi yang tengah berlangsung dewasa ini, seyogyanya, proses “modernisasi” lah yang diharapkan, yakni suatu proses di mana “alih teknologi” berikut penggunaan mesin guna mencapai efisiensi dan efektifitas produksi terjadi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, dalam era globaliasasi, justru proses “westernisasi” lah yang berlaku lebih dominan pada negara-negara dunia ketiga.
            Istilah westernisasi sebagaimana dimaksudkan dalam pembahasan ini adalah, suatu proses sosial di mana nilai, norma berikut kebudayaan masyarakat Timur mengalami transfomasi (perubahan) sedemikian rupa layaknya nilai, norma dan kebudayaan masyarakat Barat. Hal tersebut setidaknya tampak melalui beberapa hal berikut ini,

  1. Lunturnya penghargaan dan penghormatan golongan muda terhadap golongan tua.
  2. Lunturnya adat-istiadat, seni dan bentuk-bentuk kebudayaan lokal.
  3. Merebaknya pergaulan bebas, budaya alkoholik, narkoba dan berbagai bentuk candu lainnya dalam masyarakat.
  4. Munculnya budaya konsumerisme masyarakat.
  5. “Desakralisasi”, “demitologi” atau lunturnya penghargaan berikut penghormatan akan berbagai bentuk tradisi dan budaya warisan leluhur.
Disadari atau tidak, berbagai proses di atas apabila dibiarkan saja berlarut-larut, maka bukannya tak mungkin bakal menggerus habis karakter berikut jati diri bangsa.

Ide-ide Menarik
            Seorang sosiolog asal University of Maryland, Amerika Serikat bernama George Ritzer mencetuskan sebuah konsep yang dikenal dengan istilah “Mc Donaldisasi” terkait fenomena globalisasi. Sebagaimana kita ketahui, tak ditemui perbedaan mendasar antara rumah makan cepat saji Mc Donald di Amerika Serikat, Inggris, India atau Indonesia; bentuk pelayanan, warna cat yang digunakan, simbol, produk yang ditawarkan, dll. Singkat kata, kesemua rumah makan cepat saji di berbagai negara belahan dunia tersebut seragam satu sama lain. Menurut Ritzer, hal tersebut dapat mendeskripsikan muatan penyeragaman yang dibawa arus globalisasi pada masyarakat berbagai belahan dunia; fun, food and fashion.  

Dampak Positif Globalisasi
Glokalisasi: Think Locally, Act Globally
            Dalam buah karya yang berjudul Globalization of Nothing, Ritzer mengemukakan sebuah argumen bahwa, faktual dalam proses globalisasi, berbagai masyarakat Timur tak serta-merta dirugikan begitu saja di dalamnya. Hal tersebut dapat ditilik melalui munculnya beragam fenomena dewasa ini layaknya Bollywood di India, seni karikatur manga asal Jepang dan pakaian Batik ala Indonesia yang mana kesemuanya mampu mempengaruhi kebudayaan masyarakat Barat. Ini menunjukkan bagaimana kebudayaan lokal masyarakat timur memiliki kuasa guna melawan proses westernisasi yang berlangsung dalam arus globalisasi. Hal tersebutlah yang diistilahkan Ritzer sebagai “glokalisasi”.
            Dalam glokalisasi, pola pikir yang berlaku adalah, “think locally, act globally”, artinya, bagaimana seseorang dapat memahami barbagai kekayaan sumber daya lokal di sekelilingnya dan memperkenalkannya pada dunia di mana berbagai “keuntungan” pun bakal didapatinya kemudian. Senada ditegaskan Eman Hermawan, menurutnya teori yang berlaku ialah survival of the fittest dan bukan survival of the greatest. Artinya, justru “yang kecil” lah yang selamat, bukannya “yang besar”, karena “yang kecil” justru memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih baik ketimbang “yang besar”.

Modernisasi
            Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, “modernisasi” merupakan salah satu dampak yang lebih diharapkan ketimbang “westernisasi” dalam fenomena globalisasi. Modernisasi menunjuk pada proses penggunaan mesin dan teknologi dalam berbagai sendi kehidupan manusia dan masyarakat. Hal tersebut dimaksudkan guna tercapainya efisiensi dan efektifitas dalam keseharian hidup. Dalam hal ini, efisiensi dapat diartikan dengan penghematan atau pengorbanan sekecil mungkin dalam alokasi waktu dan tenaga, sedang efektifitas dapat diartikan dengan “tepat guna”.
            Beberapa misal negara berkembang atau negara dunia ketiga yang mampu mengambil keuntungan taktis modernisasi melalui globalisasi antara lain China dan Pakistan. Dua pakar peradaban dunia, baik Samuel P. Huntington maupun Francis Fukuyama mengakui China sebagai salah satu peradaban dunia yang cepat atau lambat bakal menyaingi Barat. Setelah stagnasi kehidupan sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan pada dekade 1960-an akibat kebijakan “Revolusi Kebudayaan” yang dicetuskan Mao Tse Tung, China mulai membuka diri pada dunia internasional. Apa yang dilakukan negara tersebut tak sekedar mengimpor berbagai tekonologi canggih asal negara lain, tetapi juga mempelajari dan kemudian memproduksinya sendiri. Kemajuan pesat China akan teknologi persenjataan berikut perindustrian masif (besar) menjadi bukti berbagai hal di atas.
            Namun demikian, proses modernisasi yang hendak digalakkan negara berkembang atau negara dunia ketiga seyogyanya bukanlah modernisasi yang bersifat “serampangan”. Proses modernisasi yang dilakukan hendaknya syarat memperhatikan aspek demografi (komposisi penduduk). Hal tersebut mengingat efisiensi dan efektifitas teknologi yang memiliki potensi besar guna menggantikan tenaga manusia sehingga pada akhirnya justru menimbulkan masalah baru, efek “domino” berupa pengangguran.

Internalisasi
            Internalisasi menunjuk pada suatu proses penyerapan berbagai nilai, norma dan kebudayaan suatu masyarakat. Dalam era globalisasi sebagaimana dijelaskan Giddens sebelumnya, manusia berada dalam situasi dan kondisi “terkepung informasi” di mana beragam informasi datang melalui berbagai penjuru; internet, televisi, radio, media cetak, dll.
            Apabila penelaahan lebih jauh dilakukan terhadap fenomena di atas, maka ditemui beberapa sisi positif terhadapnya. Hal tersebut bilamana kita secara cerdas menggunakan berbagai arus informasi yang ada guna mencari formulasi kehidupan individu maupun sosial masyarakat Barat yang terbukti mampu menghantarkan pada kemajuan. Namun demikian, internalisasi yang dilakukan atas nilai, norma dan kebudayaan masyarakat Barat syarat memperhatikan karakter berikut jati diri bangsa. Nilai-nilai sosial layaknya need of achievement (kehendak berprestasi), norma-norma menyangkut keteraturan dan tertib sosial serta budaya “berkompetisi” syarat diinternalisasi masyarakat negara dunia ketiga. Sedang, nilai, norma berikut kebudayaan masyarakat Barat layaknya pergaulan bebas, pillholik, alkoholik dan candu semestinya dibuang jauh-jauh.

Budaya Hibrid
            Budaya hibrid merupakan bentuk fenomena persilangan budaya yang muncul akibat globalisasi (proses penyempitan ruang dan waktu). Sebagai misal, orang Indonesia yang dapat menikmati musik Jazz lantunan kaum negro Amerika Serikat, begitu pula sebaliknya, kaum negro Amerika Serikat dapat menikmati tari kecak asal Indonesia. Budaya hibrid menunjuk pada fenomena lintas budaya antarberbagai masyarakat di berbagai belahan dunia yang mana pada akhirnya dapat memunculkan bentuk-bentuk akulturasi atau asimilasi budaya sehingga kian memperkaya khazanah budaya yang ada.

Ide-ide Pokok
  • Globalisasi adalah fenomena penyempitan ruang dan waktu.
  • Globalisasi adalah fenomena yang “direncanakan” bagi sebagian pihak dan “tak direncanakan” bagi sebagian yang lain.
  • Isu penting yang dibawa globalisasi adalah “3F” (Fun, Food and Fashion).
  • Globalisasi memiliki dampak positif maupun negatif pada negara berkembang atau negara dunia ketiga.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger