"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 12 Maret 2011

Sejarah Pornografi & Pornoaksi

SEJARAH PORNOGRAFI & PORNOAKSI
MENILIK PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI DARI MASA KE MASA
Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Sekilas Sejarah Istilah Pornografi dan Pornoaksi
            Istilah "porno" dalam terminus pornografi dan pornoaksi berasal dari mitologi Yunani. Alkisah, terdapat seorang perempuan bernama "Phryne" yang memiliki hobi bersenang-senang dengan para jejaka Athena semasa hidupnya. Suatu waktu, Phryne dituduh telah melakukan pencurian atas beberapa jejaka, segeralah ia diseret dalam pengadilan. Dalam pengadilan tersebut terdapat pembela Phryne yang bernama Hyperides, dalam pembelaanya Hyperides meminta Phryne untuk berdiri di suatu tempat yang mana seluruh orang dalam pengadilan tersebut dapat melihatnya. Tak hanya sampai di situ, Hyperides pun meminta Phryne untuk menanggalkan pakaiannya satu persatu, segeralah Phryne melakukan hal tersebut hingga tak sehelai kain pun menutupi tubuhnya. Ketika hal tersebut terjadi, sontak seluruh hadirin dalam pengadilan terpesona dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Phryne, segeralah Phryne dibebaskan dari segala tuduhan.[2]  

Bagi banyak pihak, apa yang dilakukan Phryne di atas kerap dianggap sebagai streape-tease show maupun pornografi dan pornoaksi pertama dalam sejarah umat manusia. Kata “grafi” atau “graphos” yang melekat pada kata “porno” merupakan suatu bentuk penggambaran atau ekspresi atas berbagai hal yang berbau porno.[3]

Pornografi dan Pornoaksi dari Masa ke Masa[4]
            Taufik Abdullah menegaskan bahwa dunia penuh dengan catatan sejarah berbagai peradaban. Peradaban pertama yang muncul ke permukaan adalah India Kuno, disusul Mesir Kuno kemudian Yunani, Romawi, Islam dan terakhir serta sedang menunjukkan taringnya saat ini adalah Barat (baca: kapitalis).[5] Apabila penelaahan lebih dalam dilakukan maka ditemui bahwa pornografi dan pornoaksi-tak terkait istilah melainkan praksis-telah ditemui sejak peradaban India Kuno eksis.

India Kuno
Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa di era peradaban India Kuno ditemui banyak kuil atau sejenis tempat peribadatan lainnya dengan ornamen yang kental dengan muatan pornografi. Tak sampai di situ, berbagai kuil dengan bentuk palus ’penis’ dan alat kelamin wanita dijumpai pula dalam peradaban tersebut. Dalam hal ini, meskipun terlalu jauh dan tak ditemui fakta sekitar kehidupan konkret masyarakat India Kuno kala itu, namun demikian ditemuinya berbagai kuil dan tempat peribadatan layaknya di atas cukup mempresentasikan bagaimana relasi sosial yang terjalin dalam masyarakat peradaban India Kuno saat itu.  
Mesir Kuno
            Peradaban yang muncul setelah kejatuhan India Kuno adalah Mesir Kuno. Sama halnya dengan peradaban sebelumnya, muatan pornografi ditemui pula dalam berbagai ruang publik masyarakat Mesir Kuno. Satu hal yang begitu tampak di antaranya adalah ikon terkenal peradaban tersebut yakni piramida. Faktual, ditemui bahwa piramida Mesir disusun dalam konteks manusia yang sedang berhubungan seksual, bahkan ditemui pula ukiran dewa Mesir Kuno tengah melakukan “onani” yang diyakini masyarakat sebagai pembawa kemakmuran Mesir.

Yunani Kuno
                Sejak peradaban Yunani Kuno muncul, catatan sejarah berikut prilaku umat manusia mulai terdokumentasikan dengan baik, hal tersebut tak mengherankan mengingat berkembang pesatnya tradisi fixasi ‘tulis menulis dan simbol’ dalam Yunani Kuno. Tercatat, pada 300 SM terdapat suatu konsili Yunani yang memutuskan wanita sebagai makhluk setingkat hewan. Hal tersebut pun berdampak pada prilaku semene-mena yang diterima perempuan kemudian, sering kali terjadi hubungan interseks dalam masyarakat Yunani Kuno di mana satu wanita memiliki banyak suami sedangkan kehamilan yang terjadi kemudian tak disertai tanggung jawab pria-pria tersebut. Di sisi lain, incest ‘perkawinan sedarah’ pun lumrah terjadi dalam konstruksi masyarakat tersebut, bahkan sodomi yang terjadi antara seorang ayah dengan anak laki-lakinya merupakan sesuatu yang dimaklumi pula. Dalam masyarakat Yunani Kuno berbagai muatan pornografi pun tersebar luas dalam masyarakat, entah melalui media ukir, patung, sastra hingga lukisan-lukisan.

Romawi
            Tak jauh berbeda dengan Yunani Kuno, budaya fixasi dalam masyarakat Romawi pun berkembang dengan demikian pesatnya. Di satu sisi, ditemui pula pornomedia dalam berbagai ruang publik masyarakatnya seperti dinding jalan, colosseum, berbagai ukiran dan patung berikut karya sastra yang berkembang kala itu.

Implikasi Negatif Pornografi dan Pornoaksi[6]
            Di antara peradaban Romawi dan Islam, faktual terdapat peradaban Kristen yang kerap dikucilkan dalam catatan sejarah. Namun demikian, dalam menilik dampak negatif yang dihasilkan pornografi dan pornoaksi bagi masyarakat tampaknya pengkajian atas peradaban Kristen dan perkembangannya kemudian layak disertakan sebagai pembanding satu sama lain.  

            Terdapat satu tokoh menonjol dalam peradaban Kristen yakni Santo Agustinus dengan julukan “Agustinus dari Hippo” yang terkenal melalui eksemplarnya, Confessiones.[7] Menurutnya, tidak ada satu hal pun yang harus dihindari umat Kristen melainkan hubungan seks, bahkan lebih jauhnya Santo Agustinus menganjurkan pada umatnya untuk tidak menikah.

            Ketika periode-periode Perang Salib II terjadi, sepulang pasukan salib dari perang, mereka membutuhkan tempat guna “membudalkan” onak atau libido, oleh karenanya dengan berbagai legitimasi atasnya, Raja Phillip Augustus menyewa ribuan pelacur guna menghibur dan memuaskan hasrat libido pasukan Salib. Segera, berbagai tempat di Prancis layaknya kolam renang dan public sphere lainnya menjadi media pornoaksi pasukan salib dan ribuan pelacur.

            Namun demikian, hal di atas bukannya tanpa konsekuensi sama sekali, di era-era tersebutlah penyakit kelamin sipilis muncul untuk pertama kalinya di dunia. Pada tahapan selanjutnya, Vasco Da Gama yang melakukan pelayaran ke India menularkan penyakit  tersebut. Faktual, dalam kamar dagang India terdapat pula para pedagang China yang segera setelah mereka kembali ke tempat asalnya menularkan pula sipilis. Sehingga, dalam waktu tak kurang dari sepuluh tahun penyakit kelamin sipilis telah tersebar ke seluruh dunia.  

            Pada perkembangannya, Perang Dunia I dan Perang Dunia II yang terjadi pada abad 20 secara tidak langsung membawa kemajuan besar bagi dunia kedokteran. Era pasca Perang Dunia II (1940-an hingga 1950-an) menandai ditemukannya penicillin sebagai penawar sipilis. Ditemukannya obat tersebut berdampak pada kian menggilanya kegiatan seks bebas masyarakat Barat kala itu, penyakit yang pada mulanya menjadi ketakutan akut masyarakat, kini dapat disembuhkan dalam waktu beberapa jam saja.

Hal di atas diperparah dengan konstruksi sosial yang ada di mana berbagai band besar layaknya Rolling Stones dan Beatles turut membentuk tradisi seks bebas pemuda saat itu. Di satu sisi, institusi agama pun praktis telah kehilangan kontrol masyarakat sejak renaissance Eropa abad 15-18 yakni sejak Nietzsche mendiktumkan, “Allah telah mati”.[8] Hal tersebutlah yang kiranya memunculkan virus baru yang lebih ganas akibat hubungan seks bebas di era 1980-an yakni AIDS dan hingga kini belum ditemukan obatnya.

Pornografi dan Pornoaksi di Era Kapitalisme Lanjut
            Berakhirnya great depression 1930-an dan terutama Perang Dunia II menandai kelahiran spat kapitalismus ‘kapitalisme lanjut’. Di era tersebut cara-cara eksploitatif dan penindasan telah ditinggalkan kapitalisme, sebaliknya ia berubah menjadi ‘kapitalis dengan wajah humanis’. Kapitalisme lanjut tak segan-segan memberi jaminan kerja, berbagai bentuk asuransi dan bonus akhir tahun bagi pekerjanya guna merangsang produktivitas.[9]

Namun demikian, di satu sisi spat kapitalismus memunculkan apa yang disebut dengan “budaya pop” atau “budaya massa”. Melalui budaya tersebut kerap kali kapitalis menciptakan kebutuhan-kebutuhan semu guna merangsang konsumerisme masyarakat dengan jalan mengeksploitasi psikis dan batin yakni melalui berbagai konstruksi semu yang diciptakannya.[10] Sebagai misal kapitalis menciptakan mitos kecantikan guna menjual produk-produk kosmetiknya di pasaran dan sebagainya. Dalam hal ini, kerap kali wanita menjadi korban konstruksi dan marketing kapitalis, hal tersebut tampak melalui berbagai iklan yang mengeksploitasi aspek seksualitas perempuan.

Tak dapat dipungkiri bahwa di era spat kapitalismus perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berdampak pula pada berkembang pesatnya pornomedia. Kiranya berbagai terbitan majalah porno semisal playboy, pent house berikut channel porno dalam berbagai stasiun televisi yang ada, belum ribuan situs porno yang terdapat dalam internet menjadi bukti akan hal ini. Bagi seorang sosiolog sekligus futurolog kenamaan, Robert Nisbett, tak heran perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat sekedar menyebabkan degradasi nilai-nilai kemanusiaan pada masyarakat. Terlebih dengan menilik pandangan Fredrick Jameson bahwa saat ini kita telah memasuki era postmodern yang ditandai dengan dominanya sektor jasa-konsumsi-ketimbang produksi dan terutama beralihnya produksi manufaktur pada peroduksi informasi.[11] Hal tersebut disadari atau tidak, memiliki konsekuensi pada serangan bertubi-bertubi informasi pada masyarakat yang dengan demikian berdampak pada kian gencarnya penyebaran pornografi dan pornoaksi di tengah-tengah mereka.

Pornografi dan Pornoaksi
dalam Pandangan Michael Foucault



            Berbeda halnya dengan teori sosial modern, teori sosial postmodern ditandai dengan karakter relativisme, irasionalisme bahkan nihilisme.[12] Salah satu tokoh besar dalam mahzab tersebut yang kerap bicara mengenai seksualitas adalah Michael Foucault. Dalam hal ini motivasi Foucault mengkaji sejarah seksualitas lebih dikarenakan pengalaman pribadinya sebagai gay yang sempat di-streotipe-kan oleh mereka yang mengaku “pakar”.[13]   

Eksemplar Kegilaan dan Peradaban Foucault menjadi salah satu catatan penting atas  sejarah seksualitas yang kerap diacu banyak pihak. Dalam karya tersebut Foucault menyimpulkan bahwa normal-abnormal, kegilaan-kewarasan, baik-buruk tidaklah dapat didefinisikan. Hal tersebut dikarenakan setiap periode yang memiliki episteme-nya tersendiri-total set relasi-relasi yang menyatukan pada satu periode tertentu.[14] Lebih jauh, ia memisalkan dengan seorang yang dipasung saat ini bakal dilabelkan sebagai gila, tak waras dan sebagainya, namun ia menemui bahwa dulu ketika Yesus dipasung justru disembah-sembah dan dituhankan masyarakat luas, hal ini menurutnya membuktikan bahwa pemaknaan “gila” selalu diskursif-berubah dari waktu ke waktu. Begitu juga dengan kondisi mereka yang dicap memiliki kelainan jiwa, pada era pra-Revolusi Prancis orang-orang tersebut dipenjara, namun setelah revolusi berlangsung dan berhasil, mereka yang dicap gila dibebaskan, hidup berdampingan layaknya orang normal dengan kita, dan di era sekarang mereka yang dilabelkan memiliki penyakit jiwa kembali dibui. Kiranya penekanan episteme dalam contoh tersebut ialah ditemuinya seorang tokoh bernama Mirebeau yang dicap “gila seks” oleh pemerintah namun merupakan pahlawan revolusi bagi masyarakat Prancis kala itu.[15] Begitu pula dengan tradisi incest, hubungan seks sesama jenis yang dianggap menyimpang di era kontemporer namun merupakan hal yang biasa dan normal dalam peradaban Yunani Kuno.     

Hal di atas menurut Foucault terjadi karena bentuk-bentuk kekuasaan yang bermain di dalamnya. Di mana mereka yang memegang kekuasaan kala itu dapat dengan bebas melabelkan siapapun yang dianggapnya “mengganggu”. Oleh karenya, layaknya Fancis Bacon hanya saja dengan makna yang berbeda, Foucault menyimpulkan bahwa “pengetahuan adalah kekuasaan”. Berbeda dengan Bacon, bila ia menganggap upaya memahami alam sebagai jalan guna menaklukkannya,[16] maka Foucault menegaskan bahwa definisi baik dan buruk, normal dan abnormal, karakter kemajuan dan kemunduran sepenuhnya ditentukan oleh mereka yang tengah berkuasa.[17] Itulah mengapa bagi Foucault dan teoretisi postmodern kebanyakan segala konstruksi yang ada merupakan “omong-kosong” belaka sehingga tak heran mahzab postmodern dicirikan dengan relativisme dan nihilismenya.

Lebih jauh, Foucault menekankan relativisme dalam pemikirannya di mana manusia pada dasarnya bebas memilih nilai dan norma yang dianggapnya terbaik bagi diri. Sebagai misal, meskipun seseorang hidup di era kini namun ia tetap memiliki pilihan bebas guna menganut sistem nilai dan norma masyarakat yang telah eksis ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Hal tersebut dikarenakan eksistensi manusia yang memang sui generic ‘apa adanya’, sebelum individu ada  masyarakat telah ada, ketika individu ada masyarakat ada dan ketika individu mati masyarkat tidak ikut mati, jadi antara individu dan masyarakat dapat dipisahkan satu sama lain.     

Kesimpulan dan Penutup
            Melalui berbagai penjabaran di atas dapatlah dianalisis bahwa komodifikasi perempuan dalam bentuk pornografi dan pornoaksi tidak hanya terjadi di era kapitalisme, melainkan telah eksis pula dalam berbagai peradaban yang ada sebelumnya. Di satu sisi, terdapat argumen cukup menarik yang hadir melalui salah satu tokoh kenamaan teori sosial postmodern yakni Foucault yang juga concern pada pengkajian sekitar seksualitas di mana menurutnya berbagai motif kehidupan seksual semisal kecintaan pada pornografi dan pornoaksi, pergaulan bebas, hubungan cinta sesama jenis faktual tidaklah dapat disederhanakan dalam kategori baik dan buruk, normal dan abnormal serta gila dan waras. Begitu juga, pengkajian kita atas dampak negatif yang ditimbulkan pornografi dan pornoaksi faktual tak hanya dikarenakan menjamurnya budaya tersebut, melainkan dapat disebabkan pula melalui “pengekangan” kondisi alami manusia terkait libido atau hasrat seksual layaknya yang terjadi pada periode-periode Perang Salib II di bawah kepemimpinan Phillip Augustus, Prancis.     


Daftar Pustaka
Buku
·         Djubaedah, Neng.  2004. Pornografi dan Pornoaksi Ditinjau dari Hukum Islam. Bogor:  Kencana.  
·         Azhar, Muhammad. 2001. Fiqh Peradaban. Yogyakarta: Ittaqa Press.
·         Smith, Linda-Raeper, William. 2000. Ide-Ide. Yogyakarta: Kanisius.
·         Adian, Donny Gahral.  2006. Percik Pemikiran Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra.
·         Ritzer, George- Goodman, Douglas J. 2006. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
·         Deleuze, Gilles. 2002. Filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Ikon.
·         Fillingham, Lydia Alix. 2001. Foucault Untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius.
·         Hardiman, F. Budi. 2004. Filsafat Modern. Jakarta: Gramedia.
Internet
·         Ing, Balkan Kaplale Terima 6.013 SMS, http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/28/18221583/balkan.kaplale.terima.6.013.sms 
Film
·         Sebagian besar dicuplik dari film dokumenter “Sejarah Pornografi”  






[1] RUU APP yang diajukan Komisi Fatwa MUI dapat dilihat dalam Neng Djubaedah, Pornografi dan Pornoaksi Ditinjau dari Hukum Islam, Kencana, Bogor, 2004, h. 367-386. Sekitar pengesahan RUU APP akses Ing, Balkan Kaplale Terima 6.013 SMS,  http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/28/18221583/balkan.kaplale.terima.6.013.sms 
[2] Neng Djubaedah, op. cit., h. 138.
[3] Loc.cit.  
[4] Sebagian besar dicuplik dari film dokumenter “Sejarah Pornografi”, El-Moesa Production.   
[5] Muhammad Azhar, Fiqh Peradaban, Ittaqa Press, Yogyakarta, 2001, h. 12.
[6] Sebagian besar dicuplik pula dari film dokumenter “Sejarah Pornografi”, El-Moesa Production.  
[7] Linda Smith & William Raeper, Ide-Ide, Kanisius, Yogyakarta, 2000, h.
[8] Gilles Deleuze, Filsafat Nietzsche, Ikon, Yogyakarta, 2002, h. 214.
[9] Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer, Jalasutra, Yogyakarta, 2006, h. 193.
[10] Ibid., h. 57.
[11] George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Kencana, Jakarta, 2006, h. 105.  
[12] Ibid., h. 631.
[13] Lydia Alix Fillingham, Foucault Untuk Pemula, Kanisius, Yogyakarta, 2001, h. 22.  
[14] Donny Gahral Adian, op. cit., h. 85.
[15] Lydia Alix Fillingham, op. cit., h. 48.
[16] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern, Gramedia, Jakarta, 2004, h. 27-28.
[17] Lydia Alix Fillingham, op. cit., h. 6-7. 

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger