"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 12 Maret 2011

Teori Pembangunan dari Kiri ke Kanan

RESUME: TEORI PEMBANGUNAN DARI KIRI KE KANAN
Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Judul Asli        : From Right to Left in Development Theory
(Diterjemahkan seizin penulisnya)
Kevin P. Clements
Penerjemah      : Endi Haryono (Dosen FISIP UPN, Yogyakarta)
Penyunting      : Kamdani
Cetakan I, Agustus 1997
PP.97.130
Desain Cover   : Ari Widjaja
Ilustrasi            : “Dari Pintu ke Pintu”, karya Dede Eri Supria
Tata Letak        : Ayu
Pracetak           : Widodo
Penerbit           : Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI)
Glagah UH IV/343 Telp. (0274) 381542
Yogyakarta 55164
Pencetak          : Pustaka Pelajar Offset
ISBN                : 979-9075-02-5


KATA PENGANTAR
            Tulisan ini membahas implikasi politik dari beberapa teori pembangunan terkemuka, meliputi :
  1. Asumsi-asumsi dasar setiap teori
  2. Kesimpulan-kesimpulan politik khusus yang bersumber dari beberapa teori tersebut
Tulisan ini bermain dalam ranah teori sebagai alat legitimasi politikus dan cendekiawan dalam perumusan pembangunan, dan kedua, teori sebagai solusi masalah-masalah sosial dan ekonomi. Dalam hal tertentu, perlu dipertegas bahwa teori akan menjadi ideology ketika ia digunakan sebagai rasionalisasi ilmiah bagi promosi kepentingan-kepentingan tertentu.
Kesimpulan dari buku ini menegaskan bahwa teori Marxis dan Neo-Marxis memberikan penjelasan terbaik mengenai pembangunan dan keterbelakangan  pada tingkat nasional maupun internasional. Di samping itu juga karena penerapan Neoklasik dan Strukturalis yang cenderung membuat gap yang lebih tajam antara si kaya dan si miskin.

Kevin P. Clements

PENDAHULUAN
            Telah diketahui dengan pasti bahwa dunia saat ini berada dalam hagemoni Barat, tiga puluh negara maju menguasai 90% pendapatan, cadangan finansial dan produksi baja dunia (Andre Gunder Frank, Millenium : Journal of International Studies, Vol. 7, No. 2, 1978, hal. 153). Di sisi lain, usaha guna meningkatkan produktivitas negara-negara Asia yang disokong oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) buatan AS yang memberikan sumbangan dana 4 juta dollar terbukti gagal. Teori dunia yang cenderung kapitalistik terbukti selama tiga puluh tahun terakhir ini menghasilkan ketimpangan dunia, baik di Asia, Afrika dan Amerika Latin.
            Teori dalam struktur ilmu sosial membantu menjelaskan fenomena ekonomi, sosial dan politik. Menurut definisi, teori adalah suatu abstraksi dunia nyata yang telah diuji dalam hubungannya dengan fakta-fakta objektif mengenai peristiwa-peristiwa sehari-hari, tetapi teori juga merupakan bagian dari kesadaran subjektif tentang dunia, dan memberi pengaruh yang besar terhadap paramater prilaku manusia.
            Teori-teori sosial kental dengan muatan politik dan ekonomi, sehingga menjadi tugas sosiolog guna memberikan jawaban apakah sebuah teori digunakan sebagai sarana legitimasi atau pembenaran ilmiah atas kepentingan tertentu, khususnya bagi teori-teori pembangunan yang kental dengan muatan Sosiologi, Ekonomi dan Politik. Bagi W. Elkan, perlu diamati lebih mendalam, terutama negara-negara berkembang yang menjadi sasaran “tembak” negara-negara maju, Elkan mengatakan bahwa ekonomi pembangunan merupakan masalah negara-negara yang belum maju.
            Bagaimanapun juga, teori-teori pembangunan yang ada belumlah jelas tertata, hal ini tidak menutup kemungkinan mengundang kepentingan-kepentingan asing di dalamnya, seperti Bank Dunia (IBRD), IMF, ADB dan berbagai badan pembangunan PBB. Para pengambil keputusan yang berada di belakang badan-badan tersebut berusaha mengambil keputusan-keputusan berdasarkan teori-teori yang paling masuk akal (ilmiah?) dan secara politis dapat diterima. Namun, dengan mudahnya ketika suatu teori pembangunan gagal merealisasikan impiannya, dengan mudah para pengambil kebijakan tersebut berubah halauan.
            Suatu realitas yang tak terbantahkan bahwa para pembuat keputusan di negara-negara berkembang didominasi oleh teknokrat, menjadi penting bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi asumsi dari teori-teori yang digunakan teknokrat tersebut mengingat sebagian besar teori-teori pembangunan disusun di negara-negara maju. Terkadang, menjadi suatu penyakit ketika proposisi-proposisi tersebut diuniversalkan atau kemudian diterapkan di negara dunia ketiga. Pertimbangan tersebut tidak lepas dari teguran seorang ekonom bernama Paul Streeten yang menyatakan bahwa Neoklasik sendiri secara tiba-tiba menjadi seolah ketinggalan zaman, hal ini membuktikan pula bahwa sejarah akan menerangkan baik-buruknya suatu teori.
            Sebagai contoh penerapan Neoklasik yang tidak pada tempatnya adalah filosofi “pasar bebas” Milton Friedman di Argentina, Cile, Uruguay dan Brazil yang cenderung mengandung muatan kepentingan negara-negara maju. Untuk lebih jelasnya, Todaro membagi paradigma pembangunan menjadi dua, antara lain Teori-Teori Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi-yang sangat berkaitan dengan Neoklasik dan Teori-Teori Internasionalis-Struktural.

I
TEORI PERTUMBUHAN NEOKLASIK
            Neoklasik digawangi oleh Hicks, Samuelson, Johnson-dan terutama sekali Milton Friedman. Mereka beranggapan efektifitasnya pembangunan ketika diserahkan pada mekanisme pasar. Neoklasik muncul ketika Keynesian dianggap tidak mampu menyelesaikan krisis yang ada. Teoretisi Neoklasik berasumsi pada :
1.       Membiarkan system ekonomi dunia seperti apa adanya
2.       Tidak menghendaki penyusunan kembali ekonomi domestic secara radikal
3.       Dapat diakomodasikan dengan filsafat politik yang konservatif
4.       Terbukti telah menunjukkan keberhasilan di Korea Selatan, Brazil danTaiwan
5.       Mengganti pengeluaran tidak produktif menjadi investasi industri
Teoretisi Neoklasik beranggapan bahwa masalah keterbelakangan adalah ketidakmampuan negara-negara nonindustri mengikuti jejak industrialisasi negara-negara Barat. Rostow yang tergolong penyokong mahzab Neoklasik, populer dengan teori tahapan yang dikemukakannya, antara lain :
  1. Masyarakat tradisional
  2. Masyarakat prakondisi tinggal landas
  3. Tinggal landas
  4. Pematangan
  5. Konsumsi massa yang berlebihan
Rostow berasumsi bahwa kegagalan negara-negara Asia pada tahapan tinggal landas dikarenakan kesulitan dalam memobilisasi tabungan domestic dan luar negeri dalam rangka mempercepat investasi produktif. Rostow menyamakan pembangunan sebagai kemampuan suatu negara menabung, berinvestasi, meningkatkan produktivitas dan menambah pendapatan riil. Bagi Rostow, pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan tujuan nasional sebagai jaminan pasaran produksi barang-barang mereka di masa depan dan menangkal Sosialisme-Komunisme. Di sisi lain Daniel Lerner cukup sinis beranggapan bahwa keterbelakangan negara-negara dunia ketiga diakibatkan oleh budaya masyarakat itu sendiri sehingga sangat penting melakukan pendidikan transformasi dari tradisional ke modern.
Beberapa Akibat Politik
Akibat politik yang disebabkan oleh Neoklasik antara lain :
  1. Campur tangan negara terjadi ketika muncul krisis yang mengancam kesejahteraan individu dan sosial
  2. Intervensi negara hanya diperbolehkan guna mengatasi distorsi harga
  3. Investasi hanya diperbolehkan dengan timbal-balik keuntungan maksimal
  4. Pengendalian terhadap militansi serikat buruh
  5. Menguntungkan negara-negara yang telah mapan
Negara-negara yang menggunakan varian Neoklasik umumnya berhasil meningkatkan GNP mereka namun disertai pengorbanan sosial yang besar sehingga yang kemudian muncul adalah wacana banyak negara yang ekonominya meningkat secara kuantitatif  namun disertai juga dengan peningkatan kemiskinan “tumbuh dengan kemiskinan”. Trickle down effect tidak berjalan seperti yang diharapkan, oleh karena itu kemudian  muncul varian teori-teori lain guna menjelaskan :
  1. Berbagai hambatan pertumbuhan
  2. Paradoks “tumbuh dengan kemiskinan” dalam pertumbuhan ekonomi.
II
MODEL STRUKTURALIS
            Raul Prebisch adalah tokoh yang paling erat dengan model Strukturalis, sementara tokoh-tokoh lain yang selalu mendukung seperti C. Furtando dan Dos Santos. Strukturalis muncul sebagai respon atas Neoklasik yang tak menjelaskan mengapa negara-negara Amerika Latin tidak mampu berkembang sendiri. Prebisch dan tokoh-tokoh lain pada dasarnya memusatkan perhatian pada berbagai hambatan “structural” yang merintangi negara-negara Amerika Latin. Lebih jelasnya, strukturalis telah jauh pesimis menanggapi keuntungan yang didapat melalui perdagangan bebas.
            Pioner-pioner tokoh ini menganggap bahwa industrialisasi yang berorientasi ekspor sebagai halangan besar terhadap pembangunan nasional karena kebijaksanaan tersebut menumbuhkan kantong-kantong asing dengan seabrek kepentingan yang tidak sejalan dengan penduduk asli. Dengan kata lain, Strukturalis menekankan pemecahan masalah pada tingkat masing-masing negara, bahkan Prebisch selaku sekjen UNCTAD saat itu merubah halauan pemecahan masalah ekonomi dari skala internasional ke nasional, inilah yang secara jelas membedakannya dengan aliran Marxis dan Neomarxis mengenai pembangunan yang tergantung karena mereka beranggapan bahwa pembangunan nasional tidak akan berubah selama ekonomi dunia tidak berubah. Bagi Strukturalis hubungan dengan negara-negara lain merupakan hambatan-yang sampai pada tahap tertentu dapat diatasi melalui penerapan teknologi modern. Prebisch lebih jauh mengatakan bahwa di bawah system sosial yang semacam ini (Neoklasik) tabungan potensial, sumber daya manusia, tanah dan modal tersembunyi begitu saja.
Dengan kata lain, Strukturalis berasumsi pada :
  1. Mengakui pentingnya akumulasi modal
  2. Kekuatan teknologi sebagai factor pedorong utama perekonomian
  3. Hambatan pembangunan adalah distribusi pandapatan dan kekayaan, oleh karena itu Strukturalis menganjurkan adanya redistribusi pendapatan.
Bagi Strukturalis, redistribusi pendapatan berarti :
  1. Memberantas kekayaan yang bersifat oligarkhi
  2. Mampu membebaskan elemen “sosial dinamis”
  3. Penguasaan keterampilan teknik, administrasi dan akhirnya keberhasilan alih teknologi.
4.       Elemen terpenting dalam pembangunan dan redistribusi pendapatan adalah “kemauan politik”
Teori Strukturalis dan Neoklasik mengakui usaha-usaha bebas, perbedaan yang mencolok adalah Strukturalis memilki penjelasan lebih terperinci mengapa suatu pembangunan dapat berhasil atau gagal. Strukturalis dan Neoklasik menegaskan intervensi dalam perombakan pasar secara mendalam guna mencapai redistribusi dan full of employment ‘padat karya’. Teori Neoklasik sangat percaya pada keuntungan pasar sedangkan Strukturalis meragukannya mengingat kerugian yang selalu ditimbulkan pada negara penyedia bahan baku.
Strukturalis beranggapan bahwa pembangunan tidak dapat dilakukan dalam keadaan internasional dan nasional yang cacat, seperti ekspor yang tidak bisa memberikan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut (keadaan nasional yang cacat) dapat dipecahkan dengan jalan pembatasan pertumbuhan penduduk, peningkatan tabungan nasional, penggunaan teknologi yang tepat serta pengurangan kantong-kantong modal asing. Modal asing, menurut Prebisch perlu diatasi dengan campur tangan pemerintah.

III
BEBERAPA AKIBAT POLITIK
            Kebijaksanaan ekonomi dan politik Strukturalis dan Neoklasik pada umumnya dilihat bertentangan satu sama lain.
  1. Tujuan utama pembangunan  Strukturalis adalah pertumbuhan ekonomi agar pendapatan riil dan redistribusi berlangsung sehingga muncul kekuatan sosial dinamis
  2. Hambatan structural akan jatuh pada kewajiban pemerintah untuk menghilangkannya dengan tanpa paksaan, sebab pasar tidak mampu menetapkan kebijakan yang dapat mengatasi hambatan-hambatan structural.
  3. Pentingnya tindakan pemerintah guna mengawasi persediaan inelastic barang dan jasa untuk mengatasi permintaan yang meningkat, dengan kata lain mereka berusaha mempercepat mobilisasi sumber daya (tanah, tenaga kerja dan modal), akibat yang ditimbulkan antara lain:
a)       Sektor pertanian      : reformasi kepemilikan tanah
b)       Sektor industri         : diversifikasi ekspor untuk menjaga impor, konsekuensi à berkembang industri substitusi impor
c)       Sebagai akibat logis dari b), redistribusi pendapatan akan mengurangi ketimpangan tabungan antara yang kaya dengan yang miskin. Si kaya akan berhenti mengkonsumsi barang-barang mewah yang tidak produktif
4.       Pemerintah dapat campur tangan dalam memperbesar pendapatan melalui kebijakan pajak
5.       Mengatur kebijakan luar negeri dalam upaya mendukung pembangunan nasional, berupa :
a)       Menganut dua atau tiga tingkat system pertukaran dan memberikan insentif bagi eksportir
b)       Ekspor sebagai pelopor pertumbuhan ekonomi
Namun demikian, bagaimanapun juga, keberhasilan program-program di atas terutama sekali ditentukan oleh kemauan politik rakyat dan birokrasi yang efisien. Di sisi lain, tidak diterimanya kerangka solusi ini, menunjukkan masih kuatnya kepentingan politik dan ekonomi yang dominan yang berakar di dunia ini.


IV
TEORI KETERBELAKANGAN DAN KETERGANTUNGAN
MARXIS DAN NEOMARXIS
            Terdapat kesamaan pendapat antara Marxis dan Neomarxis dalam kaitannya dengan keberhasilan dan kegagalan pembangunan suatu negara. Teori Marxis dan Neomarxis-bagaimanapun juga berbeda dengan teori Neoklasik dan Strukturalis. Implikasi sosial dan politik pendekatan ini lebih luas dibandingkan Neoklasik dan Strukturalis. Marxis dan Neomarxis memiliki latar belakang historis yang sangat kuat, dan berbagai proposisi dari teori ini dibuat melalui realitas konkret, artinya dipusatkan pada dampak khusus dan nyata dari imperialisme dan kolonialisme di negara-negara berkembang di Afrika, Asia dan Amerika Latin.
            Marxis dan Neomarxis menjadikan ekonomi dunia atau kapitalis global sebagai alat analisis utama, mereka menggunakan analisis :
1.       Untuk menentukan bagaimana produksi kapitalis merubah formasi sosial dan ekonomi prakapitalis
2.       Untuk menerangkan keterbelakangan dan bukan perkembangan yang dialami negara dunia ketiga
3.       Untuk memahami peran apa yang dimainkan negara dunia ketiga dalam pembagian kerja ekonomi internasional
4.       Untuk menunjukkan kepentingan yang saling bertentangan antara negara-negara industri dengan negara pinggiran dan semi pinggiran
5.       Untuk menjelaskan perpindahan sumber daya produksi dalam ekonomi kapitalis
6.       Untuk menunjukkan bahwa pembangunan dalam kapitalis tidak memperkecil ketimpangan melainkan memperbesar
Frank menunjukkan bahwa sumber daya alam berpindah pada negara-negara metropolitan/pusat sedangkan negara-negara satelit/pinggiran dibiarkan kehabisan bahan mentah yang seyogyanya dibutuhkan bagi pembangunan mereka sendiri. Marxis dan Neomarxis meyakini bahwa apa yang terjadi atau tidak terjadi di negara dunia ketiga ditentukan oleh negara-negara dunia pertama, mereka mengatakan bahwa pusat pembangunan berada di negara-negara metropolitan, bukan pada satelit. Marxis dan neomarxis juga menyatakan bahwa dorongan akumulasi di negara-negara pusat mengakibatkan ketimpangan bagi negara pinggiran, lebih jauh, secara tegas dijelaskan bahwa prasyarat pembangunan negara kapitalis adalah dengan menciptakan ketimpangan dalam negara dunia ketiga, bahkan apabila terjadi industrialisasi di negara dunia ketiga, ini pun cenderung akan menjadi industri yang tergantung.
Berkelanjutannya ketidakadilan ekonomi di atas, diterangkan Marxis dan Neomarxis sebagai berikut :
1.       Ada kesamaan kepentingan antara borjuis di negara maju dan negara terbelakang, biasanya mereka dipertemukan dalam sebuah konferensi internasional dan menyepakati aturan tertentu
2.       Negara kapitalis lebih berperan dalam kepentingan modal, bukan mayoritas penduduk
3.       Harga mahal yang harus dibayar negara terbelakang apabila memutuskan hubungan dengan negara maju adalah teknologi yang notabene dikuasai mereka
4.       Jurang pemisah antara negara maju dan terbelakang adalah konsentrasi modal, baik keuangan maupun industri
5.       Perusahaan multinasional sebagai upaya mengorganisasi dan  memusatkan modal di tingkat internasional
6.       Negara maju menciptakan ketergantungan cultural dan ideology atas negara terbelakang yang diciptakan melalui saluran-saluran media massa seperti TV, radio, koran, dll.
7.        Imperialisme dan pertukaran tidak seimbang yang diakibatkan kolonialisme maupun neokolonialisme adalah aspek multidimensional
Sesungguhnya sangat sulit mengidentifikasi suatu factor tertentu yang menyebabkan ketergantungan sehingga penjelasan yang diterima bersifat asumtif. Sebagai contoh misi Biily Graham yang tekenal dengan sebutan Perang Suci Kristen di Singapura, sangat kental dengan misi hagemoni cultural Barat, hal tersebut dapat dilihat melalui :
a)       Di dalamnya tersembunyi sekumpulan asumsi cultural/etika mengenai tingkah laku manusia
b)       Asumsi-asumsi tersebut mencerminkan moral Amerika Pertengahan dan diberlakukan secara universal dan diterapkan di Singapura dan tempat lain yang dimasuki Graham
c)       Seruan keagamaan agar individu menyelamatkan diri sendiri (individualistic)
d)       Misi politik untuk menggalang dukungan bagi Amerika Serikat
Beberapa hal di atas kiranya cukup untuk melihat implikasi politik yang diterapkan teori Marxis dan Neomarxis.

V
BEBERAPA AKIBAT POLITIK
            Implikasi politik teori pembangunan Marxis dan Neomarxis jauh lebih radikal dibanding Strukturalis dan Neoklasik. Dapat dianalisis memang, teori ini sangat minim diterapkan di negara-negara dunia ketiga, bahkan lebih sedikit pendukungnya dibanding teori Strukturalis. Ironisnya, teori tersebut justru diterima oleh ekonom-ekonom borjuis berkait dengan penjelasannya atas keterbelakangan.
            Di bawah ini beberapa implikasi politik akibat diterapkannya Marxis dan Neomarxis,
              I.      Alternatif setiap transformasi harus mulai dengan buruh di desa dan urban, akibat politik lain yang juga penting adalah munculnya partai politik yang cukup radikal guna merefleksikan kepentingan buruh
            II.      Kaum intelektual dan buruh terlibat bersama dalam studi terhadap situasi sosial, ekonomi dan politik local yang mereka alami
          III.      Setelah mempelajari situasi sosial, ekonomi dan politik, partai radikal harus berusaha membuat buruh ditempatkan pada porsi yang sesuai baik dalam tingkat nasional maupun internasional
          IV.      Campur tangan  negara dalam perekonomian adalah suatu tema sentral, sebab nasib buruh tidak akan baik ketika kebijakan yang lahir dari pemerintah tidak mendukung mereka
            V.      Partai Sosialis memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan bagi masyarakat luas
Strategi ekonomi tersebut dapat ditempuh dengan beberapa jalur, antara lain :
Program Sosialis Ultraradikal :
  • Memutuskan hubungan dengan negara-negara kapitalis secara total
  • Revolusi sosial dan ekonomi internal berkait peramaan dan nasionalisasi
  • Menolak imperialisme cultural dan ideology Kapitalisme dengan segala manifestasinya
Program Sosialis Radikal Realistik :
  • Pembangunan yang bersifat tertutup adalah mustahil
  • Mengembangkan kemandirian kolektif antarnegara-negara tetangga yang memiliki kesamaan kepentingan dan kebudayaan semisal ASEAN, EEC, COMECON, dll.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger