Donate to recover this blog: BNI 0232008541

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Minggu, 01 Mei 2011

DISTORSI PEMIKIRAN ADAM SMITH & DAVID RICARDO DALAM RANAH EKONOMI MODERN

DISTORSI PEMIKIRAN ADAM SMITH & DAVID RICARDO DALAM RANAH EKONOMI MODERN
ULASAN SINGKAT TEMUAN PAUL ORMEROD DALAM "THE DEATH OF ECONOMICS"

Oleh: Wahyu Budi Nugroho, S.Sos



"Bukan karena kedermawanan seorang penjual anggur atau tukang daging, Anda dapat meminum anggur atau memakan daging, melainkan karena mereka mementingkan dirinya sendiri..."
- Adam Smith -

"The Invisible Hand"-Adam Smith, Tangan Pasar?
Dalam The Inquiry to The Nature and Causes of The Wealth of Nations, Adam Smith, salah seorang ekonom dan profesor moral kenamaan Skotlandia mencetuskan teorinya yang paling terkenal di saentaro dunia: the invisible hand 'tangan tak terlihat' (baca: "Tangan Tuhan") dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Secara umum, banyak pihak menerjemahkan konsep the invisible hand-Adam Smith sebagai mekanisme pasar, yakni supply-demand 'permintaan-penawaran' yang terdapat di dalamnya. Agaknya, pandangan kita mengenai perihal tersebut syarat dikoreksi. Pasalnya, Paul Ormerod, seorang ekonom Prancis melalui pengkajiannya yang seksama menemukan bahwa terjadi pen-distorsi-an berbagai konsep ekonomi klasik dalam ranah ekonomi modern, beberapa di antaranya—dan sangat sentral—adalah konsep the invisble hand-Adam Smith serta konsep "pasar bebas" ala David Ricardo.



Menurut Ormerod, Smith sendiri tak pernah menjelaskan bahwa konsep the invisible hand atau "Tangan Tuhan" adalah mekanisme permintaan dan penawaran dalam pasar. Jauh-jauh hari, Smith telah mewanti-wanti pada sidang pembacanya bahwa untuk menelaah karyanya, The Wealth of Nations, tak dapat lepas dari buah karya sebelumnya yakni The Theory of Moral Sentiments. Kenyataan berkata lain, lambat laun "kitab" pertamanya (Moral Sentiments) kian dinafikkan dalam pembacaan The Wealth of Nations, seakan dua kitab tersebut dianggap memiliki dimensi epistemologi berikut aksiologi yang saling berbeda dan berlainan, jadilah keduanya dibaca secara terpisah.

Bagi Smith, mengandalkan mekanisme pasar adalah nonsense 'omong kosong'—berdasarkan penjelasan Ormerod—mengingat tak pernah ditemuinya titik equilibrium 'keseimbangan' pasar dalam catatan sejarah. Di sisi lain, dengan mengandalkan pada kekuatan pasar semata, maka dapatlah ditebak bahwa sekedar mereka para pemilik modal kuatlah yang nantinya bakal menguasai pasar. Dalam kerangka pikir dan kerangka kerja The Theory of Moral Sentiments terhadap The Wealth of Nations, dijelaskan bahwa esensi dari invisible hand adalah eksistensi "moral" dari, dan antar-Individu (masyarakat). 

Menurut Smith, setiap individu di dunia ini memiliki dua corak sentimen: "sentimen untuk mementingkan diri sendiri" dan "sentimen untuk bergabung dengan masyarakat". Pada gilirannya, kedua sentimen tersebut bertemu dan terhubung satu sama lain ke dalam simpul self restraint (baca: "simpul menahan diri"). Melalui simpul tersebutlah kemudian lahir rule of justice 'nilai keadilan' dan rule of law 'nilai hukum'. Oleh karenanya, pada akhirnya Smith menelurkan sebuah kesimpulan kontroversial: "Semakin individualis seseorang, semakin ia berguna bagi masyarakatnya". Lebih jauh ia berkata, "Bukan karena kedermawanan seorang penjual anggur atau tukang daging, Anda dapat meminum anggur atau memakan daging, melainkan karena mereka mementingkan dirinya sendiri...". Bagaimana hal tersebut menjadi mungkin? Berdasarkan epistemologis Moral Sentiments, Smith menjelaskan bahwa seorang penjual anggur atau tukang daging yang individualis, dalam arti ter-spesialisasi dan memiliki totalitas dalam pekerjaannya, pastilah suatu hari nanti besar kemungkinan bakal menuai kesuksesan, dan dalam kesusksesan tersebut di mana modal yang dimilikinya telah begitu berlimpah, maka ia takkan segan-segan untuk berbagi pada sesamanya. Semisal, memberikan anggur atau daging secara cuma-cuma pada mereka yang tak dapat membelinya. Hal tersebut disebabkan oleh "sentimen untuk bergabung dengan masyarakat" yang dimilikinya di samping "sentimen untuk mementingkan diri sendiri".

Ilustrasi lain:
Pada masa kuliah, Max Weber dicap sebagai seorang mahasiswa yang individualis—beberapa menilainya angkuh dan sombong. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk pergi ke perpustakaan dan mengkaji berbagai literatur ketimbang berkumpul dengan teman-temannya. Namun terbukti, beberapa dekade kemudian berbagai karya Weber di bidang sosiologi, hukum dan ekonomi mampu menyelesaikan beragam persoalan yang dihadapi masyarakatnya di kemudian hari. Kiranya hal tersebut cukup membuktikan tesis Smith: "Semakin individualis seseorang, semakin ia berguna bagi masyarakatnya".  

Pasar Bebas-David Ricardo, Pencegah Fenomena "Gelembung Ekonomi"
Satu hal mengejutkan lagi yang ditemui Ormerod dalam pengkajiannya atas beberapa konsep sentral ekonomi klasik, distorsi terhadap konsep "pasar bebas"-David Ricardo. Sebagaimana kita ketahui, saat ini pasar bebas identik dengan jalinan perdagangan antarbangsa/negara semisal antara Inggris dengan Filipina, Jerman dengan Jepang, Amerika Serikat dengan Indonesia, dan lain sebagainya. Tegas dan jelasnya, di era kontemporer ini pasar bebas syarat menyertakan satu, dua atau lebih negara di dalamnya. Namun demikian, pencetus teori absolute advantage dan comparative advantage ini, sebagaimana dijelaskan Ormerod, memaksudkan pasar bebas sebagai "pasar bebas dalam negeri", bukannya pasar bebas antarnegara. Sebagai misal, pasar bebas antara pasar A di kota X dengan pasar B di kota Y, atau pasar bebas antara pasar A dan C di kota yang sama (X). Mengapa demikian? Karena Ricardo beranggapan bahwa pasar bebas antarnegara rentan memunculkan apa yang kerap diistilahkan sebagai fenomena bubble economic 'gelembung ekonomi'.



Terkait hal di atas, bukannya Ricardo sama sekali menolak ide mengenai pasar bebas antarnegara, hanya saja ia mengajukan beberapa syarat guna berlangsungnya perihal tersebut. Pertama, tenaga kerja tak dapat berpindah secara cepat dari satu negara ke negara lain. Kedua, modal tak mudah berpindah pula dari satu negara ke negara lain. Era globalisasi dewasa ini di mana kecanggihan teknologi komunikasi dan transportasi telah demikian pesatnya, sudah tentu tak memenuhi seluruh persyaratan yang diajukan Ricardo bagi berlangsungnya pasar bebas antarnegara mengingat apabila tetap dilangsungkan, maka berpotensi besar menelurkan bencana ekonomi sebagaimana telah disinggung sebelumnya—gelembung ekonomi.

Fenomena gelembung ekonomi terjadi apabila ditemui begitu banyak investor asing yang masuk dan menanamkan modalnya di suatu negara, namun dengan orientasi profit jangka pendek. Setelah profit mereka "kantongi", maka dengan segera seluruh modal pun bakal ditariknya kembali. Akhirnya, gelembung tersebut pun pecah, pembangunan yang mulanya terjadi dimana-mana, penggemukan modal yang terakumulasi, dengan sekejap dapat lenyap tak tersisa. Kriris ekonomi yang melanda Indonesia berikut Seven Asian Magic lainnya pada akhir dekade 1990-an adalah contoh nyata terjadinya fenomena bubble economic 'gelembung ekonomi' sebagaimana dikhawatirkan David Ricardo. Katakanlah, sekedar dibutuhkan waktu 5 menit bagi Warren Buffet untuk menarik seluruh modalnya melalui telpon seluler, dan dampak yang ditimbulkannya pun bersifat sistemik lagi berkepanjangan bagi suatu negara. 

Motivasi
Menurut Olmerod, pen-distorsi-an yang terjadi sedemikian rupa terhadap konsep ekonomi klasik oleh ekonomi modern semata-mata didasari oleh motivasi "akumulasi modal". Dengan kata lain, konsep ekonomi klasik tak luput dari kooptasi ekonomi modern guna memberikan legitimasi akan tindakan para pemilik modal/korporat yang gemar mengumpulkan pundi-pundi emas di berbagai belahan dunia—dalam bahasa Weber: auri sacra fames 'rakus untuk mendapatkan emas'. Lebih jauh, berbagai analisis Paul Ormerod di atas dapat ditemui dalam exemplar The Death of Economics 'Matinya Ilmu Ekonomi'.    

Paul Ormerod

Referensi:
  • Ormerod, Paul. 1998. Matinya Ilmu Ekonomi Jilid 1: Dari Krisis ke Krisis. Jakarta: Kepustakaan Gramedia Populer.
  •  Ormerod, Paul. 1999. Matinya Ilmu Ekonomi Jilid 2: Menuju Ilmu Ekonomi Baru. Jakarta: Kepustakaan Gramedia Populer.



3 komentar:

Anonim mengatakan...

boleh sy copy materinya? Agi

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

mari bung :)

Anonim mengatakan...

rebut kembali~

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger