"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Rabu, 04 Mei 2011

"TONI BLANK" DAN PIJAR-PIJAR POSMODERN

"TONI BLANK" DAN PIJAR-PIJAR POSMODERN

Oleh: Wahyu Budi Nugroho



Apa dan Siapa Toni Blank?
Kiranya, sidang pembaca tak asing lagi dengan nama "Toni Blank", seorang pesakitan—sakit jiwa—penghuni salah satu bilik Rumah Sakit Jiwa (RSJ), Pakem, Sleman, Yogyakarta. Beberapa waktu lalu, ia sempat tampil dalam salah satu program televisi swasta tanah air. Kehadirannya di layar kaca tentu menjadi perihal yang ditunggu-tunggu para penggemarnya, jauh sebelumnya mereka telah meneriakkan, "Dukung Tony Blank masuk TV!". 

Hingga kini, tak jelas asal-usul atau latar belakang dari "Mas Toni Blank"—panggilan akrabnya. Kalaupun ada, itu pun masih bersifat simpang siur. Hanya saja, sempat ketika ia ditanya terkait asalnya, Ia menjawab berasal dari Jerman dan memiliki nama lengkap "Tonikum Bayer". Darimana asalnya, bagaimana latar belakangnya, mengapa ia dapat menjadi gila dan sampai singgah di salah satu RSJ Yogyakarta, tak ada yang tahu tepatnya.

Namun, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, meskipun dicap sebagai orang yang sakit jiwa faktual Toni tetap memiliki banyak penggemar. Hal tersebut lantaran kepiawaiannya dalam menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan padanya. Apabila anda mendengarnya berbicara, maka ia lebih tampak sebagai seorang "filsuf" dengan filosofi tingkat tinggi. Setiap jawaban yang diberikannya "nyambung-nyambung tidak", namun jika kita teliti menyimaknya, sesungguhnya perkataannya ada benarnya juga, meskipun kita perlu memutar otak dua sampai tiga kali.

Apa rahasia Toni Blank yang meskipun "gila" tetap dikagumi dan dipuja banyak orang? Jawabnya sederhana, ia rajin membaca!       

Posmodern, Posmodernitas, Posmodernisme dan Teori Sosial Posmodern
Tak dapat dipungkiri, para ahli telah sepakat untuk membedakan masing-masing istilah dari posmodern, posmodernitas, posmodernisme dan teori sosial posmodern. Menurut mereka, posmodern adalah "segala sesuatu" yang ada pada saat, atau setelah entitas yang dinamakan modern, sedangkan posmodernitas mengacu pada periodesasi—pembagianwaktu modern dengan posmodern. Di satu sisi, posmodernisme mengacu pada berbagai bentuk karya seni (film, lukisan, arsitektur rumah, dsb.) yang begitu berbeda dengan era modern—umumnya karya seni bersifat massal di era ini. Sedangkan, teori sosial posmodern menunjukkan karakteristik epistemologinya yang berbeda dengan teori sosial modern—posmodern: relativistik, spesifik, nihilistik. 

Toni Blank dan Dimensi Posmodern yang Dibawanya
Terkait kajian Toni Blank dalam ranah posmodern, kiranya ditemui bahwa perihal tersebut dapat dikonseptualkan baik dalam dimensi posmodernitas, posmodernisme maupun dijelaskan melalui teori-teori sosial posmodern yang ada. Dalam kerangka posmodernitas, di mana dominasi produksi informasi lebih masif ketimbang produksi manufaktur, kiranya sebagaimana publik luas mengenal Toni Blank untuk pertama kalinya, yakni melalui media jejaring sosial dunia maya, Facebook. Tak dapat dipungkiri, Facebook dapat ditempatkan sebagai avant garde posmodernitas dewasa ini. Bagaimana tidak, angka lima ratus juta pengguna aktif merupakan jumlah yang fantastis bagi sebuah wadah jejaring sosial yang setiap detik dan menit memproduksi jutaan informasi di seluruh dunia—instrumen update status, comment, top news, recent news, search engine dan online chat dalam satu wadah

Dalam ranah posmodernisme, reality show berupa video/film pendek berseri dengan menampilkan "orang gila" yang diwawancara dan disorot secara serius setiap perkataannya merupakan perihal yang tak lazim, aneh, lucu namun cukup "memukau", dan nyatanya mampu memenuhi nilai-nilai estetika seni. Diakui atau tidak, perihal tersebut telah mendobrak pakem-pakem yang ada dalam seni peran modern—umumnya yang menjadi tokoh utama dan disorot kamera adalah mereka yang tampan/cantik, berpikiran sehat, pandai dan tentunya tak menderita penyakit mental. Singkat kata, film Toni Blank mengisyaratkan perlawanan atas berbagai pakem yang selama ini telah mapan dalam seni modern, oleh karenanya ia selaras dengan karakteristik posmodernisme.


Pada ranah yang berlainan, eksistensi Toni Blank dapat dijelaskan melalui salah satu varian teori sosial posmodern, yakni dimensi normalitas dan abnormalitas-Mitchel Foucault. Dalam eksemplar Kegilaan dan Peradaban, Foucault menegaskan bahwa sesungguhnya perihal normal-tak normal, baik-buruk serta gila-tak gila tidaklah dapat didefiniskan. Ia mengacu pada keberadaan orang yang "dipasung" saat ini dapatlah dikatakan "gila", sedangkan dahulu Yesus dipasung justru disembah-sembah. Di samping itu, ia turut menilik reputasi orang-orang seperti Marquis de Sade dan Mirebau yang kerap dicap gila oleh kaum bangsawan, namun di satu sisi didaulat sebagai pahlawan revolusi oleh rakyat. Hal tersebut kiranya menunjukkan betapa pelabelan baik-buruk berikut normal-tak normal tergantung pada siapa yang melabelkan dan memiliki legitimasi. 



Sebagaimana halnya Toni Blank, banyak orang mencapnya sebagai orang gila. Namun, apabila akal sehat kita berpikir dan menimbang sekali lagi, manakah yang lebih gila antara seorang Toni Blank dengan salah seorang anggota dewan partai agamis konservatif yang tertangkap basah menyaksikan video porno saat sidang digelar? Manakah yang lebih gila antara Toni Blank dengan salah seorang manajer bank swasta tanah air yang berpenghasilan 70 juta rupiah per bulan dengan bonus 250 juta rupiah per tiga bulan namun masih saja menggelapkan dana nasabahnya?—Saya kira dua orang yang disebut terakhir ini jauh lebih gila ketimbang Toni Blank...  




~ Vote for Toni Blank, Nietzsche of Yogyakarta! ~



          

9 komentar:

Suryawan mengatakan...

jadi posmodernisme adalah suatu produktivitas yang itu adalah percampuran daripada tonikumbayer dan wahyu budi nugroho :)

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

haha, tepatnya itu adalah suatu go public yang puskesmas dan mengisyaratkan original soundtrack, saparatos for bung surya! :)

Rofiek mengatakan...

hahaha....teman saya ada yang di panggil mas TONY blank...karena ngeblank saat di tanya soal kuliah..

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

hehe, yang penting nggak sakit jiwa bung ;)

Mr. Wong mengatakan...

yah Postmodernisme sesungguhnya adalah pengejawantahan dari pada yang mana separatos blank.............

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

betul sekali mr. wong; baik sebagai "manusia" atau "lha" (komentar dalam kerangka posmo2an juga) salam hangat.

angga krisna mengatakan...

setidaknya, seorang toni blank tidak dijebak dalam oposisi biner, lebih tepatnya itu telah diruntuhkannya. salute

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

iya bung, mas toni adalah orang yang paling bebas. hehe. salam.

Anonim mengatakan...

di zaman sekarang yang serba memiliki kewajaran dalam sinar laser canggih,, adakalanya kedewasaan akal sapi tidak bisa membahana dalam wadah seorang pakar presiden liga champion,, tapi jika tidak mungkin saja perfeksyen di balik konspiresyen dalam mecari nilai seni kampanye.. #Tony Blank for Presiden!

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger