"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 11 Juni 2011

GLOBAL SOCIAL JUSTICE: THE WORLD WITHOUT “EXPLOITATION DE L’HOMME PAR L’HOMME” AND “DE NATION PAR NATION”

GLOBAL SOCIAL JUSTICE:
THE WORLD WITHOUT
“EXPLOITATION DE L’HOMME PAR L’HOMME” AND “DE NATION PAR NATION”
Oleh:
Wahyu Budi Nugroho


“Kenaikan pendapatan tidaklah meningkatkan konsumsi bahan pangan,
melainkan barang-barang industri”
(Engels)

                “Kenaikan pendapatan tidaklah meningkatkan konsumsi bahan pangan, melainkan barang-barang industri”, demikian ungkap Engels, sahabat karib Marx. Tak dapat dipungkiri bahwa pernyataan di atas begitu syarat dengan caeteris paribus dan tak pelak menghantarkan kita pada pemahaman “ilmu ekonomi ortodoks” sebagaimana secara tegas dan lugas ditolak Ormerod dalam The Death of Economics. Di satu sisi, bila pernyataan tersebut memang benar-benar tengah berlangsung dalam konstelasi sosial, politik dan ekonomi dunia maka tak berlebihan kiranya jika isyarat “ketidakadilan” terlontar di dalamnya.

                Namun bukanlah prihal utopis, ataukah sekedar ortodoksi ilmu ekonomi semata, faktual pernyataan Engels di atas tetap menemui relevansinya di era kontemporer. Dan tak khayal, pandangan serupa ditemui pula pada para pemikir mahzab ekonomi-politik layaknya Raul Prebisch, Dos Santos, Samir Amin, C. Furtando dan Andre Gunder Frank. Sedikit mengoreksi pernyataan Marx yang menegaskan “kemajuan” negara-negara “terbelakang” bakal terjadi melalui “sentuhan ajaib” negara-negara kapitalis nyatanya justru terjadi sebaliknya, negara terbelakang kian miskin dan tak berdaya.

                Dalam pandangan ekonomi-politik hal di atas setidaknya disebabkan oleh beberapa hal, pertama, negara-negara maju yang ditempatkan sebagai produsen komoditas industri, sedangkan negara terbelakang produsen komoditas pangan. Kedua, pertukaran yang terjadi antara keduanya tidaklah proporsional. Berbagai barang industri memiliki nilai tukar yang jauh lebih tinggi ketimbang komoditas pangan. Hal inilah yang menurut Frank menyebabkan surplus value ‘nilai lebih’ negara-negara terbelakang terserap pada berbagai negara maju. Terkait hal tersebut, perlu dijelaskan pula kiranya bahwa “nilai lebih” tidaklah serta-merta berbentuk modal finansial semata, melainkan pula waktu produksi, energi yang keluar berikut berbagai faktor-faktor penunjang produksi lainnya.

                Sebagai misal, perusahaan mobil Volvo membutuhkan waktu satu jam saja guna memproduksi satu unit mobil baru. Di sisi lain, apabila pengukuran nilai tukar komoditas tersebut atas komoditas pertanian dilakukan maka ditemui bahwa, katakanlah, satu unit mobil tersebut setara dengan nilai jual satu ton panen komoditas pangan yang membutuhkan waktu produksi tiga bulan. Dengan demikian, dapatlah ditelisik lebih jauh terjadi penyerapan waktu dan energi produksi cuma-cuma selama tiga bulan lamanya oleh negara dunia pertama atas negara dunia ketiga.

                Pada ranah yang berlainan, kiranya perlu pula sedikit dikoreksi dan “dipercanggih” proposisi Engels bahwa kenaikan pendapatan bukannya sama sekali tak berdampak pada konsumsi komoditas pertanian, hal tersebut juga berdampak pada kenaikan konsumsi komoditas pangan, hanya saja tak terjadi secara signifikan layaknya produk-produk industri. Di satu sisi, munculnya “Mc Donaldisasi” dalam globalisasi sebagaimana ditegaskan Ritzer dalam Globalization of Nothing, kian menguatkan saja asumsi food, fun and fashion yang disuntikkan negara-negara maju pada saentaro dunia. Dengan demikian, sebagaimana hukum liniear konsumsi di mana peningkatan kualitas bahan pangan bakal sejalan dengan kenaikan pendapatan namun hal tersebut agaknya tak memiliki dampak berarti bagi negara dunia ketiga mengingat perbenturannya dengan ”Mc Donaldisasi”.[1]

                Terkait dengan konsumsi barang-barang industri yang kian meningkat dari waktu ke waktu di era global dan kontemporer, kiranya penjelasan logis-sosiologis hadir melalui para pemikir Frankfurt Schule (Mahzab Frankfurt/Kritis) generasi pertama layaknya Herbert Marcuse, Theodor Adorno, Max Hokheimer dan Erich Fromm. Marcuse menggunakan istilah one dimensional society ‘masyakat dengan kesadaran tunggal’ bagi mereka yang kerap “termakan” berbagai iklan dan isu kapitalis.

Sebagai misal, satu pabrik handphone mengeluarkan seri handphone baru, suatu yang cukup aneh memang ketika kemudian tiba-tiba seluruh masyarakat dunia menganggapnya sebagai sesuatu yang “bagus”. Terkait hal tersebut, faktual ditemui berbagai kontruksi kapitalis yang disuntikkan pada masyarakat bahwa, “Anda yang tak memakai hanphone ini adalah kuno, anda yang tak menggunakan hanphone ini adalah ketinggalan zaman”, demikian kira-kira berbagai kontruksi kapitalis yang kerap disuntikkan pada masyarakat dunia melalui media cetak maupun elektronik.

Bagi Marcuse, contoh konkret di atas cukup mempresentasikan bagaimana masyarakat dengan kesadaran tunggal, masyarakat yang merasa sukses ketika telah memiliki beberapa stel jas armani, mobil BMW dan rumah mewah. Lagi-lagi menurut Marcuse, hal tersebut menandakan masyarakat yang lebih condong pada modus “memiliki” ketimbang modus “menjadi” sebagaimana diungkapkan Fromm melalui To Have and To Be. Di satu sisi, terdapat analisis menarik Granovetter terkait hal di atas di mana kapitalis kerap melakukan manipulasi struktur sosial. Katakanlah, berbagai iklan shampo “antiketombe” yang dibuat kapitalis bakal menghasilkan perubahan struktur sosial bagi masyarakat tersebut yakni dikucilkannya mereka yang “berketombe”.

Sedikit uraian di atas kiranya memberikan gambaran singkat betapa “hebatnya” barang-barang industri “menghipnotis” masyarakat dunia dan mendorong tumbuh suburnya konsumerisme. Pertanyaan yang bisa jadi muncul kemudian adalah, bagaimana dengan nasib komoditas pertanian dalam kancah perdagangan dunia? Harus diakui memang, cukup sulit menjawab pertanyaan tersebut, namun, dengan melihat kontelasi perdagangan dunia yang “meng-anak-emas-kan” barang-barang industri agaknya cukup sulit menaikkan “pamor” komoditas pertanian. Terlebih dengan kerap munculnya kebijakan proteksi pertanian negara-negara maju atas komoditas pertanian negara dunia ketiga yang kian mensyaratkan ketidakadalian di dalamnya. Menganggapi hal tersebut, Prof. Wertheim pernah berkata, “Jangan sekali-kali negara dunia ketiga mengikuti apa yang mereka (negara maju) katakan, melainkan apa yang mereka lakukan”. Free fight liberalism kerap menjadi jargon negara-negara maju, namun faktual proteksi pada berbagai sektor pun ajeg mereka lakukan.

Secara ringkas, dapatlah disimpulkan bahwa pengembangan sektor pertanian di era global tidaklah menemui relevansinya. Namun demikian, hal tersebut bakal begitu berbeda bila struktur dunia yang eksploitatif dapat dirombak. Di satu sisi, pembatasan industrialisasi negara dunia ketiga sudah seharusnya turut dilakukan mengingat perkembangannya yang tak sejalan dengan “sabda agung teori evolusi sosial” dan sekedar memunculkan “dualisme ekonomi” sebagaimana ditekankan H. J. Boeke. Industrialisasi yang berlebihan, sebagaimana ditegaskan Revrisond Bawir, sekedar membebani sektor pertanian mengingat kesesuainnya bagi efisiensi namun tidak demikian halnya bagi lapangan pekerjaan. Di sisi lain, Giddens menambahkan bahwa dalam era kontemporer sektor konsumsi mengambil peranan yang lebih penting ketimbang sektor produksi.

    Namun demikian, benarkah sektor pertanian sama sekali tak memiliki sumbangsih bagi kemajuan bangsa. Kiranya, “restrukturasi” pertanian bagi kebutuhan pangan dalam negeri begitu dimungkinkan. Namun lagi-lagi, hal tersebut membutuhkan political will pemerintah terkait berbagai kebijakan yang memihak kaum tani sehingga bentuk-bentuk monopoli dan muculnya para pencari “rente” sebagaimana terjadi pada era Orde baru melalui monopoli Bulog dan Bogasari Flour tak terulang kembali.   

Betapapun demikian, tidak semestinya negara dunia ketiga berkecil hati mengingat berbagai sektor lain yang berpotensi memperbaiki bergaining position, semisal sektor sumber daya energi layaknya minyak, gas bumi berikut sumber daya fosil lainnya seperti batu bara. Terkait hal tersebut, John Perkins dalam The Confenssion of Economic Hitman menegaskan bahwa di era kontemporer, ”Minyak adalah kehidupan itu sendiri”.


“Kalau petani jual berasnya sendiri, mati itu orang-orang kota!”
(Achmad Mubarok, mantan ketua GMNI UGM)





Inspirasi:
Bung Karno dan Tata Dunia Baru, kumpulan pidato editor Iman Toto K. Rahardjo & Herdiato WK
Bung Karno dan Ekonomi Berdikari, kumpulan pidato editor Iman Toto K. Rahardjo & Herdianto WK
Keluarga Suci by Marx & Engels
The Death of Economics by Paul Ormerod
Pengantar Ekonomi Pertanian by Mubyarto
Pembangunan Tanpa Perasaan by Revrisond Baswir, dkk.
Teori Sosial Kritis by Ben Agger
The Confenssion of Economic Hitman by John Perkins

     

                         


[1] “Mc Donaldisasi” tidaklah diartikan secara gamblang sebagai penyebaran restauran cepat saji “Mc Donald” ke seluruh penjuru dunia melainkan istilah bagi “westernisasi”. Faktual, negara dunia ketiga memiliki kesempatan pendapatan atas komoditas bahan pangan “dalam negeri”, namun dengan munculnya berbagai bentuk “Mc Donald”-dalam arti sebenarnya-kiranya kesempatan tersebut kian ciut-meskipun memang jumlahnya masih sangat terbatas saat ini-mengingat pembagian pendapatan yang terjadi antara penyedia komoditas pangan dalam negeri dengan “luar negeri”.   

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger