"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 11 Juni 2011

MALIOBORO: DULU DAN SEKARANG (MENILISIK DIMENSI MODERNITAS DAN POSTMODERNITAS MALIOBORO DARI WAKTU KE WAKTU)

MALIOBORO: DULU DAN SEKARANG
MENILISIK DIMENSI MODERNITAS DAN POSTMODERNITAS MALIOBORO DARI WAKTU KE WAKTU

Oleh: Wahyu Budi Nugroho



a. Eksistensi Bangunan Kuno
            Menurut catatan sejarah, Jalan Malioboro telah eksis sejak era kolonial Belanda, hal ini merupakan konsekuensi dari konsep pembangunan konsentrik yang diterapkan kala itu, di mana Gedung Agung yang berdekatan jarak dengan Keraton Kesultanan Yogyakarta ditempatkan sebagai pusat pertumbuhan kota (ditinjau kembali dalam sejarah Yogya dan Malioboro). Namun demikian, meskipun rentang waktu sejak pertama kalinya Jalan Malioboro eksis sebagai core kota hingga saat ini, faktual beberapa bangunan kuno atau klasik bergaya Eropa-Belanda-dan Cina masih juga bertahan di tengah “kepungan” berbagai bangunan modern.
            Dalam hal ini, bisa jadi tersembunyi berbagai motif dalam upaya mempertahankan bangunan kuno tersebut. Aspek idealitas terkait romantisme historis dapat pula menjadi pertimbangan, terlebih dengan melihat fenomena munculnya berbagai peraturan pemerintah kota terkait pelestarian benda-benda cagar budaya di beberapa kota besar. Di satu sisi, logika dan rasionalitas ekonomi tak kalah “menggoda” dilakukannya upaya di atas. Hal tersebut mengingat kota Yogyakarta sendiri yang ditempatkan sebagai salah satu provinsi pariwisata sehingga keberadaan berbagai bangunan kuno yang ada dinilai sebagai salah satu sarana penarik minat wisatawan. Apabila penelaahan lebih jauh kita lakukan atas fenomena di atas, maka pola pikir modernitas begitu kental di dalamnya, yakni terkait rasionalitas instrumental (efisiensi dan efektifitas) berikut rasionalitas formal (akumulasi pendapatan melalui kehadiran wisatawan).
            Namun demikian, terdapat pula analisis postkolonial Baudrillard yang dapat disertakan dalam fenomena bertahannya rumah tua di atas (terutama rumah tua Cina) yakni terkait “pemberontakan simbol” di mana keterkaitan variabel era modern (saat ini) tidak serta-merta menghantarkan “peluluhlantahan” berbagai bangunan kuno dan menggantinya dengan konstruksi yang dianggap modern oleh orang-orang Barat saat ini, dalam arti sesuatu yang dianggap “wahid” bukanlah segala sesuatu yang sekonyong-konyong datang dari Barat.
b. Eksistensi Bangunan Baru
Muncul berbagai bangunan seperti Malioboro Mall, Ramayana, Ramai Mall yang kesemuanya menguatkan kesan bahwa Malioboro merupakan kawasan perbelanjaan, bangunan tersebut tentunya menggeser bangunan yang ada sebelumnya. Kawasan ini semula adalah kawasan pertokoan tradisional (kampung Cina) yang bangunannya sebagian besar merupakan bangunan tradisional, namun karena ramainya kawasan ini maka terjadi suatu perubahan dan dibuatlah berbagai bangunan yang menjual berbagai kebutuhan dalam satu atap (mall-mall).
à Kajian Postmodern: ekonomi libidinal, membuat bangunan bukan berdasarkan efisiensi dan kebutuhan melainkan hasrat/nafsu belaka (teori Anthony Giddens-Runaway World, buku: Teori Sosiologi Modern by George Ritzer). Dalam satu jalan Malioboro, apakah memang perlu dan mendesak dibuat banyak mall?
à Kajian Postmodern: “drugs store” dalam istilah Bauman yakni satu toko yang menjual berbagai kebutuhan manusia dari low need hingga high need seperti mall, toko-toko sebelumnya umumnya terspesialisasi (Teori Sosiologi Modern by Ritzer).

c. Perpaduan Bangunan Kuno dan Baru
d. Sampah Visual
            Apabila kita melakukan kajian seksama atas cultural studies, mahzab kritis serta beberapa teori sosial kritis terkait analisis media massa kiranya istilah “sampah visual” bakal kerap kita temui di dalamnya. Sampah visual terkait erat dengan kebiasaan akut kapitalis berupa sergapan berbagai iklan dan promosi pada masyarakat luas. Dalam hal ini, sampah visual menunjuk pada berbagai barang yang ditawarkan para kapitalis yang notabene sama sekali tak berguna atau tak dibutuhkan secara personal, hal ini tak pelak berpotensi besar menimbulkan alienasi manusia dengan lingkungannya, diakui atau tidak, alienasi tersebut muncul melalui berbagai alasan, entah terkair erat dengan aspek finansial yakni ketidakmampuan seseorang membeli barang-barang yang dipromosikan tersebut ataukah dikarenakan ketiadaan nilai guna barang bagi subyek bersangkutan. Dalam konteks ini, kedua gambar Malioboro di atas menunjukkan eksistensi sampah visual dan dengan berselangnya waktu tampak bahwa sampah visual kian banyak dijumpai.
            Sampah visual, terutama dalam bentuk baliho, spanduk ataupun banner yang terdapat di pinggiran jalan kiranya memiliki konsekuensi tak jauh berbeda dengan berbagai media promosi lain layaknya televisi, radio maupun media cetak. Layaknya ungkap Granovetter bahwa kapitalis kerap melakukan manipulasi struktur sosial, sebagai misal, iklan shampo antiketombe yang hadir melalui media elektronik maupun cetak berpotensi besar menyebabkan dikucilkannya orang yang berketombe di masyarakat, dan berbagai contoh lainnya. Di satu sisi, analisis Baudrillard terkait berbagai iklan dan promosi yang didaulat sebagai sampah visual menemui relevansinya dengan konsep “hiper-Realitas” yang ditawarkannya yakni berbagai media promosi yang sering kali membuat ilustrasi sebuah produk di luar ambang batas rasional manusia sehingga kehadirannya tak lebih dari sebuah lelucon yang pada dasarnya tak perlu diperhatikan, sebagai misal iklan permen yang dapat membekukan manusia dan lain sebagainya.      

f. Fungsi jalan
Perbuhan fungsi yang menyolok antara malioboro tahun…… dan malioboro tahun 2008, jalan malioboro pada awalnya terdapat satu lajur tanpa sekat pembatas yang memungkin kan setiap kendaraan hanya berjalan dalam satu jalur saja,
Pada masa sekarang terjadi penyekatan jalan sehingga terjadi perbedaan penggunaan lajur jalan, lajur kiri fungsinya sebagi jalur kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat sedangkan lajur kanan di gunakan untuk kendaraan tak bermotor khususnya becak dan andong.
Perubahan fungsi jalan tersebut dapat dipengaruhi karena kawasan malioboro merupakan sentra pariwisata, dan dengan penerapan dua lajur tersebut menjadikan kehasan tersendiri, kendaraan tradisional seperti becak dan andong lebih menarik bagi wisatawan asing karena kehasanya yang mungkin tidak dapat dijumpai dinegaranya. Pemisahan jalan tersebut mampu menjadikan malioboro tetap terjaga sisi tradisional nya, walapun disamping kanannya terdapat berbagi kendaraan bermotor.
à Kendaraan kian banyak, membuat lajur searah adalah “rasionalitas formal” (efisiensi dan efektifitas) menurut Weber .
à Rasionalitas ekonomi terkait dengan turisme. Rasionalitas ekonomi Paul Samuelson, Robert Solow, Hicks dan Friedmannàbuku salah satunya dalam ([Paul Ormerod, Matinya Ilmu Ekonomi], [P.Samuelson, Ekonomi], [Karl Polanyi, The Great Transformation]).
à Rasionalitas tradisional Weber terkait pengembangan budaya dan teknologi tradisional (becak, andhong)

g. Public Sphere
            Public sphere ‘ruang publik’ kerap menjadi tema yang diangkat pemikir kenamaan Jerman sekaligus teoretisi mahzab Frankfurt, Jurgen Habermas. Baginya, ruang publik yang pada mulanya tercipta melalui tatanan sosial dan budaya masyarakat primitif merupakan suatu tempat yang seyogyanya dapat digunakan untuk melepas ketegangan, membuang “ampas-ampas” berikut berbagai beban dalam pikiran. Oleh karenanya, ruang publik sendiri haruslah menjadi suatu tempat yang bebas dari penindasan, tekanan berikut berbagai distorsi. Disadari atau tidak, pengkajian atas public sphere begitu erat hubungannya dengan “sampah visual” seperti apa yang telah disinggung sebelumnya.
            Dalam pengkajian kita atas perbandingan dua gambar Malioboro di atas (masa lalu dan era kontemporer), maka ditemui bahwa public sphere masih dijumpai pada kelapangan sisi jalan gambar Malioboro pertama, sedangkan tidak demikian halnya pada gambar kedua (saat ini). Public sphere yang tersedia pada gambar pertama telah berubah fungsi sebagai tempat parkir kendaraan bermotor maupun menjelma menjadi pertokoan berikut disesaki sampah visual yang terpampang di hadapannya.
             
               

1 komentar:

Vidia mengatakan...

... dan cepat sekali perubahan malioboro dari detik ke detik

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger