"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 11 Juni 2011

MENILIK LAPANGAN PEKERJAAN DOMINAN DEWASA INI

MENILIK LAPANGAN PEKERJAAN DOMINAN DEWASA INI
Oleh: Wahyu Budi Nugroho


            Menurut Revrisond Baswir, kemiskinan dapat disebabkan oleh tiga hal, antara lain faktor struktural, kultural dan natural. Kemiskinan akibat faktor struktural disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang tak tepat guna atau tak tepat sasaran, kemiskinan kultural menunjuk pada budaya suatu masyarakat yang memang tak memungkinkan bagi kemajuan masyarakat tersebut, sedangkan kemiskinan akibat faktor natural disebabkan oleh kondisi “asali”, semisal cacat sejak lahir dan sebagainya.   
Dalam hal ini, bila kita menilik fenomena kemiskinan di Indonesia maka diakui atau tidak faktor struktural lah yang menjadi penyebab utamanya. Apa yang dimaksud adalah, tak dapat dipungkiri bahwa problem pengangguran dewasa ini tak luput dari “warisan” kegagalan konsep pembangunan Orde Baru Smiling General, Soeharto.
Di era kekuasaan Orde Baru, developmentalisme menjadi jargon pembangunan yang dipercaya dapat membawa masyarakat Indonesia pada kesejahteraan. Asumsi yang dibangun konsep neoklasik ini adalah, kesejahteraan masyarakat bakal terwujud ketika terjadi pembangunan skala besar yakni dengan mengharapkan apa yang disebut sebagai trickle down effect ‘efek rambatan’. Namun faktual, sebagaimana ditegaskan oleh Alm. Prof Mubyarto dan Revrisond Baswir, konsep neoklasik begitu sesuai bagi efisiensi, tetapi tidak bagi penciptaan lapangan kerja.    
Hal di atas secara mudah dijelaskan sebagai berikut,
Tolak ukur keberhasilan dari pembangunan (industrialisasi) adalah mekanisasi, semakin banyak industri menggunakan mesin guna menggantikan tenaga manusia, maka semakin “sukseslah” industri tersebut. Dengan demikian, dapatlah dianalisis bahwa lapangan pekerjaan sektor industri kian sempit dari waktu ke waktu. Di satu sisi, tenaga kerja yang tak tertampung di dalamnya terpaksa beralih pada sektor pertanian, namun dapatlah dipastikan bila lahan pertanian kian susut dari tahun ke tahun sehingga jumlah lahan yang ada harus dibagi dengan jumlah tenaga kerja yang banyak. Pada akhirnya, pendapatan pun kian terbatas. Kiranya, inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia begitu sulit lepas dari siklus kemiskinan.      
Kurang-lebih satu dekade sudah konsep developmentalisme ditanggalkan bangsa Indonesia. Terkait hal tersebut, cukup menarik dan mengusik perhatian kiranya, penelusuran atas lapangan pekerajaan yang begitu dominan dewasa ini dilakukan. Hal tersebut bukannya tanpa alasan yang jelas, melainkan guna menilik eksistensi transformasi struktural yang terjadi pada lapangan pekerjaan Indonesia.
Melalui penelaahan seksama atas data yang dihimpun, yakni berdasarkan dua buah media cetak yang ditempatkan sebagai “sampel”, dengan rincian satu eksemplar koran Kedaulatan Rakyat (KR) dan satu eksemplar koran Kompas ditemui bahwa lapangan pekerjaan yang begitu dominan dewasa ini sebagai berikut,
Lowongan sebagai,
§  Karyawan perusahaan    : 23 lowongan
§  Karyawan wiraswasta    : 6 lowongan
§  Sales                            : 11 lowongan
§  Sektor Jasa                   : 19 lowongan
            Berdasarkan data di atas, tampak bahwa lowongan pekerjaan sebagai karyawan perusahaan baik kecil, menengah maupun besar lebih banyak ketimbang lowongan lain, di tempat kedua terdapat lowongan pekerjaan di sektor jasa, umumnya sebagai guru, sedangkan sales diurutan ketiga dan karyawan wiraswasta yakni membantu orang lain berwirausaha berada di urutan terakhir.
            Lebih jauh, data di atas kiranya mengindikasikan masih dominannya sektor produksi ketimbang konsumsi yang tampak melalui lebih besarnya kesempatan kerja menjadi karyawan pada berbagai perusahaan ketimbang pada sektor jasa. Di sisi lain, hal ini menyiratkan belum terjadinya transformasi struktural lapangan kerja di Indonesia layaknya negara-negara maju di mana aspek “konsumsi” atau “jasa” lebih dominan daripada aspek “produksi”. Dengan demikian, melalui data di atas dapatlah disimpulkan bila bangsa Indonesia belumlah memasuki era “postindustrial”.
Postindustrial:
Konsumsi > Produksi
Informasi > Manufaktur

Referensi
§  Baswir, Revrisond. 2002. Pembangunan Tanpa Perasaan. Jakarta: ELSAM.
§  Kompas, 27 April 2009
§  Kedaulatan Rakyat, 26 April 2009

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger