"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Jumat, 10 Juni 2011

PROBLEM KAPITALISME: DARI KRISIS KE KRISIS

PROBLEM KAPITALISME: DARI KRISIS KE KRISIS

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


            Krisis ekonomi Amerika Serikat dan Eropa pada akhir dekade ini faktual bukanlah krisis yang pertama kalinya mereka alami, setidaknya dalam tujuh dekade terakhir krisis ekonomi skala besar telah lima kali melanda negara-negara yang populer dengan “kebebasannya” tersebut.

             Great depression di era 1930-an menjadi awal sejarah kelam kapitalisme. Krisis yang jauh hari telah diramalkan nabi kaum proletar, Karl Marx tersebut disebabkan oleh overproduksi kapitalis. Dalam Das Kapital Marx menjelaskan akan masa di mana kapitalis “bingung” hendak dikemankan lagi modalnya akibat akumulasi yang dilakukan telah demikian besarnya yakni melalui sirkuit modal Uang-Komoditas-Uang-Uang¹-Uang²-dan seterusnya (U-K-U-U¹-U²…). Pada tahapan tersebut kapitalis hanya mampu terus berproduksi, celakanya dibarengi daya beli masyarakat yang kian lemah akibat tersedot guna membelanjakan berbagai produk kapitalis sebelumnya. Hal ini menyebabkan barang-barang kapitalis tak laku di pasaran sehingga profit yang diperoleh dari waktu ke waktu pun kian kecil, dampaknya dapat ditebak kemudian, berbagai pabrik “gulung tikar” dan pengangguran melonjak drastis, terjadilah depresi ekonomi.

           Namun demikian, great depression 1930-an faktual tak sekonyong-konyong menghantarkan kapitalisme pada “peristirahatan terakhir” layaknya ungkap Marx, dalam hal ini John Maynard Keynes didaulat sebagai dokter kapitalisme yang tengah sekarat. Guna mengatasi depresi ekonomi, Keynes menghimbau pemerintah untuk andil dalam penciptaan lapangan kerja dan tak begitu saja meyakini supply-demand pasar yang terbukti tak pernah mencapai equilibrium, ia menekankan pula arti penting investasi pemerintah pada sektor publik berupa pendidikan, pelayanan kesehatan, berbagai bentuk asuransi, tunjangan kerja dan sebagainya. Berbagai resep yang dianjurkan Keynes kala itu terbukti ampuh meredakan krisis ekonomi yang terjadi, berikut menandai dimulainya penerapan ekonomi keynesian atau lebih populer dengan sebutan wellfare state di saentaro Amerika Serikat dan Eropa.

           Namun malang tak dapat dielak, pada tahun 1950-an krisis kembali menjangkiti Amerika Serikat dan Eropa. Apabila krisis 1930-an disebabkan overproduksi kapitalis, lain halnya dengan krisis 1950-an yang terjadi akibat “membengkaknya biaya sektor publik”. Menurut sosiolog kenamaan Inggris, Anthony Giddens moral hazard ‘moral ketergantungan’ memang menjadi penyakit akut wellfare state, “Sering kali kita melihat banyak orang berpura-pura tak dapat bekerja di Amerika Serikat dan Eropa agar mendapat tunjangan negara”, tegasnya. Singkatnya, mekanisme keynesian atau wellfare state terlampau memanjakan masyarakat sehingga pada akhirnya justru membunuh nilai-nilai need of achievement masyarakat itu sendiri.

         Konsepsi neokeynesian yang digagas sebagai penyempurna keynesian yakni “pengetatan” pemerintah pada berbagai sektor investasi publik juga tak mampu menjawab persoalan, lagi-lagi krisis ekonomi melanda negara-negara kampiun liberalisme tersebut pada dekade 1970-an disebabkan oleh faktor yang sama dengan krisis sebelumnya yakni pembengkakan biaya sektor publik. Di satu sisi, periode ini menjadi tonggak penting sejarah ekonomi dunia mengingat munculnya “neoliberalisme” ke permukaan yang digawangi Frederick von Hayek, Margareth Thatcher dan Ronald Reagan.

            Neoliberalisme yang muncul menggantikan konsepsi keynesian dan neokeynesian pada dasarnya merupakan “revitalisasi” liberalisme klasik yang faktual mengalami kejatuhan pada 1930-an akibat great depression. Dalam neoliberalisme mekanisme supply-demand pasar kembali berkuasa berikut filosofi manusia sebagai homo economicus yang berarti segala tindakannya selalu dikerangka dalam rasionalitas untung-rugi ekonomi semata.


          Namun demikian, hadirnya neoliberalisme ke permukaan pun tak serta-merta membebaskan kapitalisme dari mimpi buruk krisis ekonomi berkalanya. Faktual, krisis ekonomi kembali menyapa pada akhir dekade 1990-an terkait fenomena buble economic ‘gelembung ekonomi’ yang juga berdampak akut pada negara-negara macan asia-eight asian magic-termasuk Indonesia. Buble economic terjadi ketika banyak investor asing menanamkan modal dengan orientasi profit jangka pendek, setelah keuntungan mereka kantongi dengan serta-merta modal mereka tarik kembali sehingga memungkinkan suatu negara ambruk sewaktu-waktu dan dalam “tempo yang sesingkat-singkatnya”.

           Ulah neoliberalisme tak cukup sampai di sini, krisis global yang dipicu kredit macet Amerika Serikat dewasa ini terkait erat dengan ketimpangan sirkuit modal dunia, ibarat jaring laba-laba, ketika sepintal benang tertarik segera berimplikasi pada seluruh jejaring tersebut, dalam hal ini kita melihat kocar-kacirnya berbagai lembaga keuangan besar dunia akibat stagnasi modal yang memiliki “efek domino” pada reinvestasi profit, penanaman modal dan sebagainya.

           Melalui uraian singkat di atas, tampaklah jelas bahwa krisis ekonomi berkala dipastikan bakal tetap terjadi selama ekonomi dunia dilandasakan pada kapitalisme cs (liberalisme klasik, keynesian, neokeynesian, neoliberal). Di sisi lain, berbagai pemikir dunia telah gencar menyuarakan “restrukturasi” tatanan ekonomi global guna menyudahi mimpi buruk “rutinitas” krisis ekonomi ini, sebut saja diantaranya Anthony Giddens, Karl Polanyi dan Maurice Allais.

Disadari atau tidak, berbagai alternatif telah hadir di hadapan kita, dari konsep New Institutional Economic (NIE), jalan ketiga, ultra sosialis radikal-realis ala Chavez dan kawan-kawan hingga sistem ekonomi berlandaskan nilai-nilai transendensi layaknya syariah berikut sosialisme religius. Namun demikian, apakah berbagai alternatif tersebut benar-benar mampu menjawab persoalan ekonomi global yang kita hadapi, hal ini tentunya masih membutuhkan penyelidikan dan pengujian lebih jauh lagi.



Referensi:

§  Djojohadikusumo, Soemitro.  1994. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: LP3ES.
§  Giddens, Anthony. 1999. The Third Way. Jakarta: Gramedia.
§  Marx, Karl. 2004. Kapital (Buku I). Jakarta: Hasta Mitra.
§ Ormerod, Paul. 1998.  Matinya Ilmu Ekonomi Jilid 1: Dari Krisis ke Krisis. Jakarta:   Kepustakaan Gramedia Populer.


0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger