"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 11 Juni 2011

PROGRAM “COMMUNITY DEVELOPMENT” MENGENTASKAN KEMISKINAN (CD-MK)

PROGRAM “COMMUNITY DEVELOPMENT” MENGENTASKAN KEMISKINAN (CD-MK)
MENINJAU PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS PEDUKUHAN
KABUPATEN BANTUL TAHUN 2006-2007
Oleh:
Wahyu Budi Nugroho


Latar Belakang
            “Mandulnya” developmentalisme yang hadir bersamaan paradigma neoklasik dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan metode top-down yakni dengan melakukan pembangunan besar-besaran melalui industrialisasi dan mengharapkan apa yang disebut sebagai trickle down effect ‘efek rambatan’ faktual tak terwujud. Kiranya 32 tahun kekuasaan rezim Orde Baru yang mengamini berikut mengimplementasikan developomentalisme justru berdampak pada kian tajamnya kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Hal tersebut dapat ditelaah secara jelas sebagai konsekuensi trickle down effect yang tak berjalan semestinya.    
            Berbagai permasalahan yang muncul akibat mandulnya konsepsi developmentalisme pada tahapan selanjutnya memaksa berbagai pakar keilmuan yang bergelut di sekitar masalah pembangunan guna menciptakan suatu perangkat konsepsi baru yang lebih sesuai dan tepat guna bagi pembangunan masyarakat negara berkembang. Pada perkembangannya kemudian munculah konsep community development atau pemberdayaan masyarakat/komunitas. Konsepsi tersebut mngisyaratkan suatu jalur pembangunan dengan alur bottom-up (dari bawah ke atas) guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pada intinya, konsep tersebut memiliki orientasi atau tujuan menciptakan suatu masyarakat yang mampu berdiri sendiri, mandiri dan mampu menentukan arah kehidupannya sendiri-terbebas dari perangkap kemiskinan dan berbagi instrumennya. Konsep commuinty development telah dan sedang diterapkan pada berbagai negara-negara berkembang tak terkecuali Indonesia yang mana salah satunya berupaya diimplementasikan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul.     
Dalam rangka melakukan proses percepatan pengentasan kemiskinan yang langsung menyentuh kelompok masyarakat kelas bawah, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul memandang perlunya pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat yang berbasis pedukuhan dalam bentuk Community Development Mengentaskan Kemiskinan (CD-MK) yang telah berlangsung. Tujuan diselenggarakannya program tersebut yang faktual telah berlangsung sejak tahun 2003 hingga kini antara lain, pertama, mewujudkan produksi dan nilai tambah serta pemanfaatan hasil potensi daerah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Kedua, mewujudkan peningkatan investasi, kemantapan kelembagaan dan kesejahteraan Usaha Kecil Menengah dan Koperasi.
            Melalui serangkaian pengamatan seksama faktual ditemui bahwa kabupaten Bantul memiliki potensi di berbagai sektor, antara lain sektor industri, perdagangan, koperasi dan  perusahaan PMA berikut PMDN. Seyogyanya, dengan adanya program Community Development Mengentaskan Kemiskinan (CD-MK) yang dicetuskan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul berbagai potensi tersebut dapat dikembangkan guna meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Kiranya, hal tersebut patut diangkat ke dalam suatu tema penelitian guna meninjau lebih jauh implementasi, perkembangan, kekuatan dan peluang berikut kelemahan dan hambatan yang hadir bersamaan penerapan program pemberdayaan masyarakat tersebut. Di satu sisi, guna melakukan penelitian yang seksama dan komprehensif maka dalam kesempatan ini penelaahan lebih dalam dilakukan pada program dan pelaksanaan CD-MK antara tahun 2006 hingga 2007.   
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah yang hendak diajukan dan dicari jawabannya dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
§  “Bagaimana implementasi dan perkembangan program CD-MK yang dicetuskan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul dalam upaya melakukan percepatan pengentasan kemiskinan masyarakat kelas bawah”.
§  “Apa saja kekuatan dan peluang berikut kelemahan dan hambatan yang hadir bersamaan implementasi dan perkembangan program CD-MK yang dicetuskan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul dalam upaya melakukan percepatan pengentasan kemiskinan masyarakat kelas bawah”.
Tujuan Penelitian
Dengan demikian, tujuan penelitian yang hendak diajukan adalah:
§  Mengetahui bagaimana implementasi dan perkembangan program CD-MK yang dicetuskan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul dalam upaya melakukan percepatan pengentasan kemiskinan masyarakat kelas bawah.
§  Mengetahui kekuatan dan peluang berikut kelemahan dan hambatan yang hadir bersamaan implementasi dan perkembangan CD-MK yang dicetuskan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul dalam upaya melakukan percepatan pengentasan kemiskinan masyarakat kelas bawah.   
Manfaat Penelitian
          Adapun manfaat penelitian yang diharapkan di dalamnya antara lain sebagai refrensi berikut sarana memperluas wawasan terkait sejauh mana tanggung jawab pemerintah atas pemenuhan kesejahteraan pada masyarakat sekitar.  
Keterbatasan Penelitian
        Harus diakui memang, penelitian ini memiliki berbagai keterbatasan, satu di antaranya adalah penggunaan pisau bedah yang bias disiplin yakni condong pada disiplin Sosiologi dan mengabaikan berbagai disiplin lain semisal Ekonomi, Politik, Hukum, Budaya dan sebagainya.
Asumsi
        Kabupaten Bantul memiliki berbagai potensi yang apabila digali lebih jauh sangat berguna bagi upaya peningkatan taraf hidup atau kesejahteraan rakyat. Melalui program CD-MK seyogyanya hal tersebut dapat terealisir atau terwujudkan.  
Kerangka Teori                       
SACHS STRATEGY (2005):
“Poverty trap must be first be solved. The poor must be helped to exit from the poverty trap.”
            Sachs Strategy merupakan jawaban atas paradigma yang menyatakan bahwa kemiskinan yang menimpa suatu masyarakat atau komunitas selayaknya diatasi oleh masyarakat atau komunitas itu sendiri. Terkait hal tersebut, Sachs Strategy menekankan bahwa kemiskinan yang menimpa suatu masyarakat atau komunitas seharusnya diatasi melalui “bantuan” pihak luar dengan tujuan masyarakat atau komunitas yang bersangkutan pada akhirnya mampu berdiri sendiri atau mandiri serta memenuhi kebutuhan hidupnya secara otonom. Dalam hal ini, paradigma yang berupaya dibangun sebagai berikut,
§  Paradigma lama       : lebih baik memberi kail daripada ikan
§  Paradigma baru       : bagaimana seseorang dapat berdiri dan memancing bila lapar?
            Tegas dan jelasnya, Sachs Strategy menekankan perlunya bantuan pihak pemerintah (negara) maupun swasta guna membebaskan suatu masyarakat atau komunitas dari kemiskinan.  
Metode Penelitian
Kualitatif
Melalui:
            Wawancara mendalam (depth interview) dengan salah satu fasilitator program CD-MK bernama saudara Samsudin, SE yang juga merupakan anggota dari Lembaga Keswadayaan Masyarakat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (LKM PNPM). Terkait dengan program CD-MK, saudara Samsudin ditetapkan secara langsung melalui SK Bupati Bantu sebagai Tenaga Kerja Sukarela Otonom (TKS-O) yang antara lain memiliki tanggung jawab sebagai berikut,
  1. Memberikan motivasi kepada anggota kelompok untuk terlibat secara aktif dalam program dan bertanggung jawab terhadap keberhasilan pelaksanaan program;
  2. Memfasilitasi kelompok dalam pengelolaan manajemen organisasi;
  3. Memberikan pelatihan dan bimbingan teknis pengembangan usaha ekonomi produktif yang dikelola oleh kelompok;
  4. Meningkatkan kemampuan kelompok dalam pemanfaatan dana stimulan program sebagai modal dan pengembangan usaha;
  5. Mengidentifikasi dan memberikan saran pemecahan terhadap setiap permasalahan kelompok;
  6. Melakukan koordinasi dengan fasilitator tingkat kecamatan dan kabupaten;
  7. Memfasilitasi pengembangan jaringan antarkelompok sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat.
Di satu sisi, dalam pelaksanaan tugasnya TKS-O bertanggung jawab langsung pada Bupati Bantul.
Pembahasan
Implementasi dan Perkembangan Program CD-MK
            Melalui wawancara yang dilakukan pada saudara Samsudin selaku fasilitator program CD-MK, tercatat 17 kecamatan di Bantul telah terdaftar dalam pelaksanaan program CD-MK dan memiliki total 92 orang fasilitator yang masing-masing menangani satu kelompok berjumlah 15 orang. Dengan demikian, dapatlah dianalisis kurang-lebih 1.380 jiwa terserap dalam program pemberdayaan di atas.
Dalam perjalanannya, program-program pengentasan kemiskinan telah diimplementasikan pada keseluruhan kelompok yang terdaftar. Beberapa konsep yang telah diterapkan guna mengentaskan kemiskinan antara lain dalam bidang koperasi dan UKM  melakukan kegiatan pelatihan dan pemupukan modal kepada koperasi maupun UKM dengan harapan terjadi perkembangan di dalamnya, dalam bidang penanaman modal melakukan promosi pada investor asing untuk menanamkan modalnya dengan harapan menyerap cukup banyak tenaga kerja yang bersifat padat karya bagi masyarakat miskin sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, di bidang perdagangan yakni pasar tradisional melakukan pelatihan kewirausahaan dan pemupukan modal sehingga tenaga kerja terutama dari keluarga miskin dapat terserap.
Adapun pengembangan dalam sektor pertanian dilakukan dengan jalan kegiatan lelang yang bertujuan meningkatkan pemasaran dalam partai besar sehingga terjadi perkembangan di dalamnya. Di sisi lain, dalam sektor industri dilakukan pemberdayaan melalui kegiatan pelatihan, bantek, studi banding, magang dan pendamping UPT sehingga dengan harapan dapat berkembang baik dan berdampak pada besarnya penyerapan tenaga kerja.  
Berbagai implementasi program pengentasan kemiskinan CD-MK di atas faktual mampu mengembangkan beberapa sektor usaha yang terdapat dalam masyarakat. Tercatat, pada tahun 2006 unit industri berjumlah 17.865 dan meningkat menjadi 17.911 di tahun 2007, sektor perdagangan pada tahun 2006 berjumlah 4.561 unit menjadi 4.970 unit pada tahun 2007, unit koperasi pada tahun 2006 memiliki jumlah total 302 berkembang menjadi 323 pada 2007, sedangkan perusahaan PMA dan PMDN pada tahun 2006 berjumlah 64 meningkat menjadi 71 unit pada 2007.      
            Adapaun investor dan jumlah investasi yang diberikan bagi perusahaan PMA yang tercatat pada tahun 2007 antara lain,
  1. PT Sanyo Sales Indonesia                     200.000 US$
  2. PT Ameya Living Style Indonesia            525.000 US$
  3. PT Multina Jaya Abadi                           400.000 US$
  4. PT Indonesia Production                                    250.000 US$
  5. PT Group Melika ID                               100.000 US$
  6. PT Server Indonesia                              330.000 US$
  7. PT Okey Internasional                            350.000 US$
  8. PT Larise Trading Internasional               200.000 US$
  9. PT Dong Yung Indonesia                        2.000.000 US$
Dengan demikian, total investasi yang diberikan bagi perusahaan PMA sebesar 4.335.000 US$. Total investasi tersebut diharapkan mampu mengembangkan kehidupan ekonomi berikut menyerap tenaga kerja yang ada.
Peluang dan Hambatan Program CD-MK
            Namun demikian, sebagaimana dijelaskan saudara Samsudin, faktual pada perjalanannya pelaksanaan program CD-MK menjumpai berbagai kekuatan dan peluang yang memang begitu potensial bagi terealisasinya program, tetapi juga berbagai hambatan dan ancaman yang dapat mengganggu keberlanjutan program. Terkait kekuatan dan kelemahan implementasi program CD-MK diperoleh melalui Analisis Lingkungan Internal (ALI). Adapun aspek kekuatan dari program tersebut sebagai berikut,
  1. Memiliki empat buah perda: izin perindutrian, SIUP, TDP dan izin gudang
  2. Tingginya usaha ekonomi di bidang perdagangan dan industri kerajinan
  3. Adanya tiga buah MOU (BPPI dan STTL, Universitas Widya Mataram dan BATAN berikut P3G Kesenian Yogyakarta)
  4. Memiliki Pasar Seni Gabusan
  5. Potensi industri sentra maupun menyebar
  6. Memiliki empat unit pelayanan teknis (UPT Kasongan, Manding dan PIK Gunung Sempu, Potorono).
  7. Memiliki kawasan industri
  8. Revitalisasi teknologi industri kecil
  9. Potensi pasar tradisional berikut pedagang
  10. Potensi ekportir
  11. Potensi koperasi
  12. Memadainya bantuan modal kepada UKMK melalui APBD, APBN dan BUMN
  13. Sumber Daya Alam yang potensial
Adapun kelemahannya sebagai berikut,
  1. Kualitas sarana dan prasarana publik yang belum memadai
  2. Bahan baku sebagian besar diperoleh dari luar daerah
  3. Motivasi pengrajin masih rendah
  4. Terjadinya kerusakan akibat gempa bumi
  5. Letak Kabupaten Bantul kurang strategis
  6. Minimnya distributor
  7. Belum berfungsinya kelompok sentra industri
  8. Kurang kesadaran UKMK
  9. Panjangnya rantai penjualan produk UKM
  10. Promosi investasi belum maksimal
Di satu sisi, Analisis Lingkungan Eksternal (ALE) menyajikan berbagai peluang bagi pelaksanaan program CD-MK yang antara lain,
  1. Akan dibangunnya jalur selatan
  2. Telah dibangunnya jalur kereta api double track
  3. Makin banyaknya tawaran kerja sama
  4. Dukuangan pemerintah pusat atas penguatan modal
  5. Perencanaan Bantul sebagai Kota Mandiri
  6. Perencanaan pembangunan dermaga nelayan di Pantai Selatan
  7. Dry Port di Argosari, Sedayu
  8. Kawasan Gabusan Manding Tembi (GMT)
Sedangkan berbagai ancaman yang muncul kemudian antara lain,
  1. Lemahnya koordinasi antarwilayah
  2. Persaingan global, tenaga ahli dan teknologi
  3. Persaingan kebijakan pengembangan wilayah (perumahan, perkotaan, kelautan, jasa dan perdagangan)
  4. Tuntutan masyarakat yang kian kuat atas pelayanan yang mengedepankan kemudahan, kesederhanaan, kecepatan dan kepuasan pelayanan terhadap birokasri publik
  5. Kekhawatiran pasca gempa: beralihnya konsumen dan investor ke daerah lain
  6. Potensi pencemaran lingkungan akibat perkembangan industri

Kesimpulan dan Penutup
            Melalui berbagai uraian dan penjabaran singkat di atas, dapatlah dianalisis bahwa implementasi dari program CD-MK telah berjalan semestinya meskipun memang beberapa hambatan tetap saja ditemui di lapangan. Namun demikian, melalui penelaahan lebih lanjut yang dilakukan dan mengambil perkembangan terakhir yang terdata yakni pada tahun 2006 dan 2007, faktual terjadi berbagai peningkatan sektor industri, perdagangan, koperasi, dan perusahaan PMA berikut PMDN.  


Daftar Pustaka
Primer
§  Wawancara dengan Sdr. Samsudin, SE, salah satu fasilitator program Community Development Mengentaskan Kemiskinan (CD-MK).

Sekunder
§  Surat Keputusan Bupati Bantul No. IV Tahun 2009 Mengenai Penetapan Tenaga Kerja Sukarela Otonom (TKS-O) Program Community Development Mengentaskan Kemiskinan Kabupaten Bantul Tahun 2009
§  Bahan Pendamping CD-MK Tahun 2009 Kepada TK-SO Se-Kabupaten Bantul yang Disajikan Oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul Pada Tanggal 30 Maret 2009.
§  Dr. Suharko, “Sachs Strategy 2005”, Bahan Kuliah Problema Kemiskinan Dunia Ketiga, FISIPOL UGM Yogyakarta.
§  Abimayu, Anggoto (et.al). Pembangunan Ekonomi dan Pemberdayaan Rakyat. Yogyakarta: BPFE.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger