"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Selasa, 19 Juli 2011

Memainkan Musik Beethoven dengan Perangkat Teknologi Modern = “Pelecehan Karya Seni”

Memainkan Musik Beethoven dengan Perangkat Teknologi Modern = “Pelecehan Karya Seni”

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Pernahkah terpikirkan oleh Anda bahwasanya ketika Anda meminkan musik Beethoven, entah Fur Elise atau Symphony No.5 melalui perangkat-perangkat teknologi modern, sesungguhnya merupakan bentuk pelecehan terhadapnya? Jarang, bahkan nyaris tak pernah. Hal ini juga berlaku pada karya-karya seni musik klasik lainnya. Mengapa hal tersebut merupakan bentuk pelecehan? Baca lebih lanjut uraian berikut ini.

Dahulu kala, ketika orang-orang hendak menikmati musik Beethoven, mereka menjumpai banyak kesulitan; menunggu jadwal konser, mencari tiket, menanti digelarnya konser dengan penuh ketidaksabaran, hingga biaya berikut kesulitan transportasi yang dihadapi guna menuju ke lokasi konser kala itu. Namun, ketika konser tersebut tiba dan digelar, perasaan yang didapatkan benar-benar “total”.[1] Dengan kata lain, kenikmatan menikmati lantunan musik Beethoven kala itu bercampur-aduk dengan kepuasan hal-hal yang telah dikorbankan bersamanya—pengorbanan finansial, waktu, energi dan lain sebagainya. Itulah mengapa “orang zaman dulu” lebih dapat menikmati karya seni secara sempurna—tak parsial—oleh karena maksud dan makna dari karya seni pembuatnya (Beethoven) benar-benar tersampaikan. Mengapa? Faktual, setiap karya seni tersirat pesan usaha keras, keteguhan dan pengorbanan dari penciptanya. Penikmat baru benar-benar bisa memahami dan menikmati karya seni itu secara utuh apabila merasakan perihal yang sama sebagaimana yang dirasakan penciptanya—pengorbanan yang setimpal/impas.[2]       

Di era modern sekarang ini, di mana segalanya dibuat “serba mudah” oleh teknologi, tanpa kita sadari berdampak pula pada berkurangnya nilai karya seni. Munculnya kaset pita, kepingan CD hingga file komputer yang abstrak menjadi penyebab utama terjadinya perihal terkait. Kini, dengan sederet perangkat modern tersebut, kita dapat memainkan musik Beethoven secara berulang-ulang; dari pagi hingga siang, siang hingga malam, demikian seterusnya. Musik Beethoven bermain ketika kita sedang makan, mencuci piring, bercanda ria dengan kolega, menonton tv, bahkan ia tetap bermain kala kita tengah berada di kamar mandi. Dapatlah dilihat, betapa “tak berharganya” musik Beethoven saat ini. Ia tak menjadi “fokus utama” dari jiwa, pikiran berikut segenap indera kita, melainkan sekedar “pelengkap situasi” dan “sambil lalu saja” saat ini… Itulah mengapa, kini, memainkan musik Beethoven melalui perangkat teknologi modern dapatlah dikatakan sebagai bentuk “pelecehan”: pelecehan terhadap karya seni tersebut, sekaligus pelecehan terhadap penciptanya—Beethoven.


Nyatanya, Beethoven dan musiknya menjadi sesuatu yang sangat “sepele” saat ini!




*****

Bacaan lebih lanjut:
Soetomo, Greg. 2003. Krisis Seni, Krisis Kesadaran. Yogyakarta: Pustaka Filsafat.



[1] Dalam bahasa awam, kita sering mengatakan, “Feel-nya dapet!”.
[2] Hal ini pula lah yang mendorong munculnya UU antipembajakan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger