"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Selasa, 26 Juli 2011

Membiasakan Menulis: Belajar dari Anne Frank

Membiasakan Menulis: Belajar dari Anne Frank

Oleh: Wahyu Budi Nugroho

(Anne Frank)
Pada suatu saat aku harus berpegang pada idealismeku.
Barangkali waktunya akan tiba, saat aku mampu mewujudkannya."
(Anne Frank)

Apa dan Siapa Anne Frank?
Anne Frank adalah seorang gadis kecil yang lahir dari keluarga Yahudi-Jerman. Pada awal tahun 1940-an, menyusul kian menguatnya pengaruh Hitler di Jerman, ia dan keluarganya memutuskan untuk hijrah ke negeri Belanda, tepatnya di kota Amsterdam. Ayahnya, Otto Frank, adalah seorang pengusaha rempah-rempah, sedang ibunya, Edith, adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Anne sekedar memiliki satu saudara kandung, seorang kakak perempuan bernama Margot. Keluarga Frank merupakan keluarga terpandang, perusahaan yang dimilikinya berkembang pesat dan mempekerjakan banyak orang. Hal tersebut tak lepas dari kuatnya naluri bisnis sang ayah, Otto Frank.

Di antara kedua orang tuanya, Anne Frank memiliki kedekatan khusus dengan sang ayah. Tak jarang, ibunya bersedih dan menangis akibat hal itu, ia serasa menjadi ibu yang gagal untuk Anne. Perlu diketahui, Anne dan kakak perempuannya, Margot, memiliki karakter yang jauh berbeda. Anne adalah seorang anak yang berpikiran bebas, kritis, banyak bicara dan imajinatif. Sedang, Margot adalah seorang perempuan yang pendiam dan penurut, mirip dengan gambaran seorang perempuan “tradisional” Eropa sebagaimana ibunya kala itu. Apabila ayah Anne berhalauan liberal, ibunya berhalauan konservatif, hal tersebutlah yang menyebabkan Anne merasa lebih nyaman berada di dekat ayahnya. Di bawah asuhan Otto Frank, imajinasi Anne berkembang jauh.

Hidup dalam Persembunyian
Pada Juli 1942, invasi Jerman berikut menguatnya pengaruh Nazi di Belanda memaksa Anne dan keluarganya bersembunyi dalam ruangan rahasia. Ruangan itu terletak di atas gedung perusahaan ayahnya, rak dengan buku tertata rapat pun sengaja dibuat guna menyamarkan pintu masuk ke ruangan itu. Jauh sebelumnya, Otto memang telah merencanakan persembunyiannya dengan keluarga, ia membuat kesan seolah-olah melarikan diri ke Swiss bersama keluarga—meninggalkan kucing Anne dan mengobrak-abrik rumah agar seolah tampak tergesa-gesa pergi. Dalam persembunyian itu, turut hadir keluarga Van Pels bersama puteranya bernama Peter, menyusul kemudian seorang dokter gigi bernama Fritz. Untuk bertahan hidup, mereka dibantu oleh orang-orang kepercayaan Otto di perusahaan, antara lain Victor, Mieps, Bep dan Kleiman.

(Tempat persembunyian Anne Frank dan keluarganya)
Anne Frank dan Tulisan-tulisannya
Tepat sebulan sebelumnya (Juni), Anne memperoleh hadiah ulang tahun ke-13 berupa buku diary berwarna merah bercorak garis-garis dari ayahnya. Segera, ia menuliskan secara detail pengalaman, pikiran, perasaan juga rahasia-rahasianya dalam buku harian itu. Aku berharap bisa mencurahkan isi hatiku kepadamu dengan cara yang belum pernah aku lakukan kepada siapapun, tulisnya pertama kali. Di situ, Anne juga menuliskan cita-citanya untuk menjadi wartawan dan berkeliling dunia, ia pun telah berencana membuat beberapa publikasi ke depannya. Dan, layaknya wanita dewasa, ia bakal meradang hebat apabila seseorang secara diam-diam membuka buku hariannya.

Di hari-hari awal persembunyiannya, Anne menulis, Aku tetap percaya bahwa orang-orang masih benar-benar berhati baik, meski keadaan sekarang seperti ini…”. Namun, ia tak dapat menyembunyikan perasaan bencinya yang kian menjadi pada sang ibu semakin hari, “Ia masih juga tak memahamiku…”, tulisnya mengenai Edith Frank. Sempat, pada suatu momen ia bertanya pada ayahnya, apakah ia benar-benar mencintai istrinya. Karuan, mendengar pertanyaan yang “tak sopan” dari puterinya, Otto Frank pun memarahi Anne habis-habisan, Anne pun meminta maaf pada sang ayah kemudian.

Kengerian Anne akan perang yang tengah berlangsung diungkapnya dengan menulis, “Semua orang takut. Malam hari ratusan pesawat terbang melintasi Belanda menuju kota-kota di Jerman, menjatuhkan bom di tanah Jerman. Tiap jam ratusan bahkan ribuan orang terbunuh…”. Ia juga menulis, “Aku melihat dunia lambat laun berubah menjadi hutan belantara, aku mendengar suara guruh mendekat, dan suatu hari juga akan membuat kami hancur, aku ikut merasakan penderitaan berjuta-juta orang. Di samping itu, Anne menulis pula harapan akan segera tibanya hari baik: Namun saat aku menatap langit, aku merasakan bahwa semuanya akan berubah menjadi lebih baik, dan perang ini akan berakhir, aku juga berpikir, perdamaian dan ketenangan sekali lagi akan kembali. Pada suatu saat aku harus berpegang pada idealismeku. Barangkali waktunya akan tiba, saat aku mampu mewujudkannya".    

 (Buku harian Anne Frank)
Pada Agustus 1944, setelah dua tahun lamanya terasing dari dunia luar, akhirnya tempat persembunyian Anne dan keluarganya pun terbongkar juga. Hingga kini, masih menjadi perdebatan, siapakah yang sesungguhnya membocorkan tempat persembunyian Anne dan keluarga pada Gestapo-Nazi. Terkait hal tersebut, terdapat dua versi cerita: seorang pencuri yang berupaya membongkar brankas perusahaan di malam hari dan curiga terdapat orang lain di atap, ataukah seorang pegawai baru yang kerap melancarkan pertanyaan-pertanyaan kritis kepada Victor perihal keberadaan Otto Frank dan keluarganya. Namun, kuat disinyalir, pegawai baru tersebutlah yang membocorkan tempat persembunyian Anne pada Gestapo-Nazi.

Ketika pasukan Nazi menggrebek dan menangkap seluruh penghuni tempat persembunyian itu, ayah Anne, Otto Frank, menyemangati mereka dengan berkata, “Setelah dua tahun lamanya kita hidup dalam ketakutan, kini kita dapat hidup dalam harapan”. Anne dan seluruh penghuni tempat persembunyiannya dikirim ke kamp konsentrasi Nazi di Bergen-Belsen. Sebelum berpisah dengan keluarganya, Otto sempat berkata, “Teruslah bekerja dan berharap!”. Anne Frank tak membawa buku hariannya, ia menyembunyikannya. Dan ketika Mieps menemukannya, ia berjanji pada dirinya bakal mengembalikan buku itu kepada Anne sekembalinya nanti.

Sayang, selepas perang usai, hanya Otto Frank lah yang kembali hidup-hidup. Anne, kakak perempuannya, Margot, dan ibunya, Edith, meninggal dalam kamp konsentrasi kurang-lebih dua bulan sebelum masa pembebasannya tiba. Terkait hal tersebut, ayah Anne berkata sedih, “Andaikan tubuh mereka mampu bertahan dua bulan lagi…”. Mieps pun begitu terpukul dengan tak kembalinya Anne, ia kemudian menyerahkan buku harian Anne pada Otto.          

Pada tahun 1947, Otto menerbitkan buku harian puterinya. Segera setelahnya, buku harian Anne Frank pun dikenal khalayak luas. Publik tersentuh dengan tulisan-tulisan Anne yang mendalam mengenai pahit-getirnya hidup dalam persembunyian selama dua tahun. Tak jarang, para pembaca pun menemukan untaian-untaian kalimat inspiratif di dalamnya. Hingga kini, jutaan orang di dunia telah terinspirasi dengan kalimat-kalimat yang ditulis Anne Frank. Beberapa sejarawan pun menganggap buku hariannya sebagai salah satu catatan masa perang terlengkap yang pernah ditemui. Pada tahun 1959, dibuatlah sekuel film layar lebar buku harian Anne Frank untuk pertama kalinya. Pastinya, hal tersebut kian mempopulerkan nama Anne Frank di saentaro dunia.        

Apa yang Dapat Dipetik Pelajaran?
“Menulislah sekarang juga!”. Itulah yang dapat kita petik pelajaran dari kisah singkat Anne Frank di atas. Apapun itu, baik-burukkah itu, kita syarat terbiasa menuliskannya. Karena bisa jadi, kini tulisan-tulisan kita yang dianggap remeh, sepele atau tak berharga sama sekali oleh banyak orang, dapat menjadi catatan penting nan berharga di kemudian hari. Ambilah misal kebiasaan kita menuliskan situasi dan kondisi lingkungan sekitar, seratus tahun kemudian tulisan tersebut akan menjadi rekam jejak mengenainya. Begitu pula, kebiasaan kita menulis buku harian, bisa jadi bakal menginspirasi anak-cucu kita yang membacanya nanti. Terlebih, dengan tak menutup mata bahwa setiap dari kita berpotensi untuk menjadi “orang besar” dan terkenal di kemudian hari, pastilah apa yang kita tulis dan catatkan selama masa “berproses” bakal menginspirasi khalayak luas.


*****


Referensi;
Buku:
  • Frank, Anne. 2006. Catatan Harian Anne Frank. Yogyakarta: Jalasutra.
Film:
  • “The Diary of Anne Frank” (1959) by George Stevens.      
  • “Anne Frank, The Whole Story” (2001) by  Robert Dornhelm. 

4 komentar:

honeylizious mengatakan...

terharu membacanya, saya tidak pernah salah memilih ketika memutuskan untuk menuliskan tentang keseharian saya dan pikiran2 saya

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

Terus menulis. "Aku adalah apa yang aku tuliskan".

Salam Hangat.

Johansyah Hasan mengatakan...

Penting menjadikan menulis sebagai suatu kebiasaan. Betapa sering saya melihat mahasiswa yang terkendala dalam menyelesaikan skripsi di akhir masa perkuliahannya karena gagap dalam membuat karya tulis itu.
Dan untuk menjadikan menulis sebagai suatu kebiasaan perlu dimulai sejak dini sehingga seiring berjalannya waktu kebiasaan itu menjadi keterampilan yang menyatu dalam diri kita.

Terima kasih atas informasi anda yang menginspirasi.

Salam,

Wahyu Nugroho mengatakan...

maskasih juga Bung boeat komentarnya. salam ;)

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger