"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Kamis, 21 Juli 2011

Mengapa Birokrasi Menyebalkan?

Mengapa Birokrasi Menyebalkan?

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Apakah Anda pernah dibuat “jengkel” oleh birokrasi?
Apakah Anda kerap menjumpai wajah pegawai birokrasi yang “angker”?
Mengapa berbagai hal di atas dapat terjadi? Temukan jawabnya dalam uraian berikut ini…

Adalah Max Weber, sosiolog asal Jerman yang untuk pertama kalinya memperkenalkan kajian mengenai birokrasi. Menurutnya, birokrasi adalah “organisasi bentukan negara yang berfungsi melaksanakan berbagai tujuan negara”. Birokrasi mengadopsi konsep organisme biologis di mana tiap-tiap bagian memiliki peran dan fungsinya masing-masing (baca: spesialisasi). Namun demikian, dalam pandangan Weber, meskipun birokrasi pada mulanya ditujukan guna melayani masyarakat, faktual ia justru menciptakan “kesulitan-kesulitan” tersendiri bagi masyarakat. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal di bawah ini.

(Max Weber)

Formalitas Berlebih
Istilah terkait kerap pula diistilahkan sebagai “perutinan berlebih”. Apa yang dimaksudkan adalah, pola kerja birokrasi yang teramat “prosedural”. Sering, hal tersebut dirasa begitu merepotkan, membuang banyak waktu dan energi. Sebagai misal, ketika kita tengah mengurus SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian), jumlah pas foto 4X6 dengan latar belakang merah yang kita bawa ternyata telah habis dan tinggal tersisa pas foto dengan ukuran yang sama namun berwarna biru di dompet. Satu foto kurang yang dibutuhkan tersebut hendak digunakan sebagai arsip, meskipun pada akhirnya sekedar tersimpan rapat di dalam almari, mau tak mau kita tetap harus keluar dan mencetak pas foto dengan latar belakang merah kembali. Pas foto dengan latar belakang biru sama sekali tak berlaku, meskipun ukuran dan orang yang terdapat dalam foto tersebut adalah sama. Inilah salah satu contoh formalitas atau perutinan berlebih dalam birokrasi. Tak heran, banyak pihak mempertanyakan efisiensi dan efektifitas birokrasi kala dihadapkan dengan persoalan tersebut (formalitas berlebih).

*Contoh konkret lainnya adalah diharuskannya kita mengenakan baju berkerah atau sepatu ketika hendak memasuki suatu ruangan.

Impersonalitas
Impersonalitas menunjuk pada hubungan “sekunder” antara aparat birokrasi dengan warga negara (masyarakat). Hubungan sekunder ditandai dengan hubungan yang “tak saling tatap mata”, tanpa perasaan dan empati. Tegas dan jelasnya, hubungan yang terjalin sebatas pada “kepentingan” semata—berkebalikan dengan hubungan “primer”. Dalam hubungan yang demikian, kecenderungan yang ditunjukkan aparat birokrat adalah “tak mau tahu”. Sebagai misal, kita telah berencana membayar pajak STNK dua hari sebelum deadline, namun secara tak terduga pada tengah malam kita mendapat kabar bahwa orang tua di desa meninggal, mau tak mau kita harus pulang kampung. Alhasil, pajak STNK pun telat terbayarkan, dan ketika kita bertemu dengan petugas pajak, mereka tak mau tahu alasan kita atas keterlambatan tersebut, sekalipun kita sakit keras atau berhadapan dengan sakaratul maut, apa yang sekedar mereka ketahui adalah “kita terlambat”. Di sinilah ciri mencolok dari impersonalitas birokrasi; tak ada empati, rasa kasihan atau penghayatan terhadap individu lain.  


Begitu pula, faktual hubungan yang terjalin antarpegawai dalam birokrasi pun bersifat impersonal. Interaksi yang terjalin di dalamnya tak didasarkan pada faktor usia (penghormatan terhadap yang lebih tua), melainkan berdasarkan pangkat atau jabatan (prestasi)—dengan kata lain, hubungan berdasarkan status dan peran. Kerap kali, hal tersebut menimbulkan “sakit hati” berikut “kejengkelan” golongan tua mengingat mereka yang jauh lebih muda dengan pangkat yang lebih tinggi dapat memerintah (baca: menyuruh) dengan sesuka hati. Kiranya, hal tersebut pula lah yang turut menyumbang salah satu sebab “angkernya” wajah pegawai birokrasi—akibat sakit hati dan rasa jengkel.   


Alienasi Manusia    
Alienasi berasal dari kata alien yang berarti “asing”. Lebih jauh, “alienasi manusia” dapat diartikan sebagai “keterasingan manusia”. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa birokrasi dibentuk berdasarkan konsep organisme biologis di mana setiap bagian memiliki peran dan fungsinya masing-masing (spesialisasi). Ditilik secara positif, hal tersebut memungkinkan pekerjaan ditangani oleh orang-orang yang ahli di bidangnya. Sedang, ditilik melalui sudut pandang yang berseberangan dengannya, birokrasi menyebabkan serangkain keterasingan pada diri aparat/pegawai birokrasi itu sendiri. Keterasingan diri yang mereka alami antara lain, keterasingan atas potensi (kemampuan) yang dimilikinya dan keterasingan terhadap pekerjaan yang mereka lakukan.


Keterasingan atas potensi diri dapat dimisalkan dengan seorang pegawai birokrasi-struktural yang selama karirnya berada pada posisi pencatatan atau keuangan. Ia menghabiskan berpuluh-puluh tahun masa produktifnya dengan pekerjaan yang sama setiap harinya hingga masa pensiun tiba. Dapatlah dibayangkan, betapa jenuhnya setiap individu yang berada dalam situasi berikut kondisi demikian. Weber mengomentarinya dengan berkata, “Manusia-manusia kecil dengan pekerjaan kecil, mereka sesekali berharap dapat melakukan ‘pekerjaan besar’, namun hal yang diharapkannya tak pernah terwujud”. Dan pada hakekatnya, setiap individu—pegawai birokrasi terutama—memiliki potensi (kemampuan) yang lebih dari pekerjaan yang dilakukannya saat ini—mereka dapat menjadi penulis, penyair, penyanyi, kritikus sastra, pelukis dan lain sebagainya. Namun karena mereka telah “terjebak” dalam pekerjaannya, semua potensi diri yang seyogyanya dimilikinya pun seolah terasing (teronggok) begitu saja. Inilah esensi dari keterasingan manusia atas potensi yang dimilikinya….

Keterasingan atas pekerjaan yang dilakukan adalah, apa yang dilakukannya nyatanya sama sekali tak berguna bagi dirinya. Sebagai misal, seorang pegawai birokrasi yang mengurus masalah perizinan usaha. “Izin” tersebut adalah milik orang lain, dan bagi orang lain, sama sekali tak berkaitan dengan dirinya—tak berguna untuknya. Ia menjadi “asing” akan pekerjaan yang dilakukannya mengingat kesemuanya merupakan kepentingan “orang lain”, bukan kepentingan dirinya. Apa yang dilakukannya semata-mata disebabkan oleh spesialisasi yang menempatkannya pada bagian perizinan usaha. Terkait hal tersebut, Weber kembali berkomentar, “Mereka ibarat sekrup kecil dalam sebuah mesin besar”.


Tak pelak, Weber mengistilahkan berbagai permasalahan pelik birokrasi di atas sebagai, the iron cage of bureaucracy atau “sangkar besi birokrasi”.          

*****

Referensi:
  • Wrong, Dennis H. (ed.). 2003. Max Weber: Sebuah Khazanah. Yogyakarta: Ikon.
  • Clegg, Stewart R. 1996. Roti Perancis, Fashion Italia dan Bisnis Asia: Fenomena Posmodernisme di dalam Dunia Bisnis. Yogyakarta: Tiara Wacana.


5 komentar:

dee mengatakan...

Setuju sekali dengan tulisan di atas. Birokrasi mungkin awalnya untuk memudahkan masyarakat dalam sebuah pengurusan tapi karena lain hal dan sebagainya birokrasi menjadi sebuah "kemalasan" masyarakat dalam mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan surat - surat pemerintahan.

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

dan, birokrasi Indonesia punya rapor merah juga, bung dee. urutan ke-2 birokrasi terburuk dunia setelah India.

Agus Hadi mengatakan...

Tulisan ini membuat saya mulai paham kenapa para birokrat-birokrat itu jarang banget senyum biarpun cuma sedikit, seandainya mereka berpikir lebih maju.

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

hehehe

januar surya mengatakan...

mantap artikelnya gan.

www.kiostiket.com

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger