"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Jumat, 22 Juli 2011

Pegawai Mini Market Franchise: “Manusia bukan Manusia”

Pegawai Mini Market Franchise: “Manusia bukan Manusia”
Sebentuk Telaah Kritis melalui Filsafat “Keberadaan”-Martin Heidegger

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Tulisan ini didasarkan pada pengalaman pribadi penulis kala mengunjungi salah satu mini market franchise ‘waralaba’-24 jam di kota Yogyakarta, dekat rumah. Pasca kunjungan tersebut, penulis merasa begitu miris, sedih, sembari bertanya-tanya fenomena apakah yang sesungguhnya sedang terjadi di tengah masyarakat kita. Saat itu juga, penulis teringat akan filsafat Martin Heidegger mengenai “ada” dan “pengada” dalam eksemplar Being and Time. Barangkali, filsafat tersebut mampu, atau setidaknya mendekatkan pada penjelasan yang shahih akan fenomena terkait.

“Di tengah malam yang dingin, aku kehabisan rokok!”
 …aku masih saja menggerakkan bidak-bidak caturku dengan asyiknya. Memang, bermain catur merupakan sebentuk keasyikan tersendiri bagiku. Aktivitas yang selalu kulakukan di waktu senggang itu setidaknya mampu mengejawantahkan hasratku tuk “menghabisi” orang, atau sekedar katarsis-pemujaan diri semata. Sesaat, kugerakkan “kuda” yang berjalan dengan lintasan “L”. Kuamati moncongnya, ia tampak menunjuk “sesuatu” di luar arena, itu adalah bungkus rokokku. Sembari kusebul rokok yang tertancap di bibir, kuraih bungkus itu, dan … alamak! Tinggal tersisa dua batang rokok saja di situ. Segera, aku bermufakat dengan adik sepupu (lawan caturku)—yang juga seorang sosiolog muda[1]—untuk membeli rokok di mini market-24 jam terdekat seusai pertandingan. Tak lama kemudian, kami pun berangkat…

Dari Tahu menjadi “Tidak Tahu”
Kurang dari lima menit kami telah tiba di tempat yang dimaksud. Sejurus kemudian, kami pun memasukinya. Tak butuh waktu lama, karena memang etalase rokok terdapat di bagian paling depan, tepatnya di belakang kasir yang berdiri agak “loyo”—terkantuk, mungkin karena sudah larut malam. Segeralah kuminta rokok yang biasa kubeli, begitu pula adikku, rupa-rupanya ia juga berniat menambah “amunisi”. Saat hendak membayar, sang pegawai mini market tersebut bertanya, “Ada kartu member-nya?”. “Tidak.”, jawabku singkat kemudian. Namun, sesaat sebelum membuka pintu kaca tuk keluar dari mini market tersebut, aku kembali membalikkan badan menuju pegawai kasir barusan, ada sesuatu yang lupa kubeli: korek gas. Segera kuminta korek gas padanya, dan saat hendak membayarnya, lagi-lagi ia bertanya padaku, “Ada kartu member-nya?”. Dan, kembali kujawab, “Tidak.”. “Asem!”, batinku dalam hati. Sebenarnya pegawai itu sudah mengetahui kalau aku tak memiliki kartu member, tapi mengapa ia kembali menanyaiku, belum sampai 30 detik aku meninggalkannya.

Tak lama kemudian, kami pun keluar dari mini market tersebut. Aku dan adik sepupuku bertatap mata secara spontan untuk sesaat. Sesampainya di rumah, kami pun mendiskusikan momen “aneh”, “lucu” tapi sekaligus “menyedihkan” itu…             

Pegawai Mini Market Franchise: Bukan Manusia?
Umumnya, apa yang ada dalam bayangan kita ketika menyebut kalimat “bukan manusia” adalah hantu, jin, dedemit atau sejenisnya. Namun, pengalaman penulis pada mini market terdekat membuktikan bahwa kalimat “bukan manusia” juga dapat ditujukan pada manusia. Pertama, pegawai kasir mini market tersebut yang telah mengetahui bahwa penulis tak memiliki kartu member, namun tetap menanyakannya kembali. Kedua, nyatanya mereka (para pegawai mini market) sekedar melaksanakan prosedur-teknis perusahaan.


Melalui dua premis di atas, setidaknya dapat dikatakan bahwa betapa prosedur-teknis telah mereduksi, bahkan menghilangkan dimensi kemanusiaan mereka. Mereka yang sebetulnya tahu, dibuat seolah-olah “tidak tahu” oleh prosedur-teknis yang ada. Suatu fenomena menyedihkan yang tengah melanda masyarakat kita sekarang. Mereka dibuat untuk lebih mematuhi prosedur-teknis yang ada ketimbang dimensi kemanusiaan yang dimilikinya, yakni keharusan untuk menanyakan kepemilikan kartu member pada para pembeli setiap kali transaksi terjadi. Alhasil, mereka sekedar menjadi manusia-manusia robot (baca: boneka) yang dibentuk perusahaannya. Oleh karenanya, istilah “manusia bukan manusia” pun dapat dilayangkan pada mereka—yang semula manusia, kemudian tak menjadi manusia akibat setiap pikiran dan tindakannya disetir oleh prosedur-teknis perusahaan.       

“Ada” dan “Pengada” menurut Martin Heidegger
Heidegger membagi segala sesuatu di dunia ini ke dalam dua bentuk: “ada” dan “pengada”. Menurutnya, “ada” adalah setiap hal yang “berkesadaran”, sebut saja manusia. Sedang, “pengada” adalah segala sesuatu yang “tak berkesadaran” atau “tak berkesadaran penuh”, semisal hewan atau tumbuhan.

(Martin Heidegger)

Dalam hal ini, “ada”—yang bekesadaran—selalu bertindak dominan mengingat ia serasa menjadi satu-satunya pihak yang hidup di dunia ini—karena kesadaran yang dimilikinya. Oleh karenanya, “pengada-pengada” seperti hewan, tumbuhan dan alam seakan sekedar dianggapnya sebagai “pelengkap” kehadirannya (manusia). Manusia pun merasa bebas memperlakukan berikut memanipulasi mereka sesuka hati. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan contoh konkret, manusia yang menangkap singa atau harimau kemudian menempatkannya di kebun binatang. Dalam pandangan filsafat keberadaan-Martin Heidegger, singa-singa atau harimau-harimau yang ada di kebun binatang itu adalah “singa bukan singa”, berikut “harimau bukan harimau”, mengingat singa atau harimau “yang sesungguhnya” tidaklah berada di kebun binatang, melainkan di alam bebas. Dengan demikian, singa atau harimau yang telah dipisahkan dengan alamnya, tak lagi menjadi singa atau harimau yang sebenarnya—menjadi singa atau harimau yang tak utuh/tak sempurna.

Konklusi dan Saran
Demikian pula dalam kasus mini market di atas, manusia yang sebenarnya telah mengetahui namun dibuat seolah-olah tak mengetahui oleh prosedur teknis, tak lagi menjadi manusia seutuhnya, melainkan “manusia teknis”—“mesin penanya”.

Saran penulis kepada para pemilik mini market franchise ‘waralaba’ dimana pun mereka berada: mohon sedikit longgarkan aturan yang terdapat dalam mini market-mini market yang Anda miliki. Pegawai-pegawai Anda juga “manusia”…   


*****


Referensi:
  • Lemay, Eric-Pitts, Jennifer A. 2001. Heidegger untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius.




[1] Koko Wijayanto. Di web ini, ia juga menulis beberapa artikel, antara lain; “Cinta dan Kasih Sayang menurut Nietzsche”, “John Lennon dan Imagine: Pemberontak dan Lagu Perdamaiannya”, dll. 

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger