"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Minggu, 24 Juli 2011

Resep Kaya ala Karl Marx

Resep Kaya ala Karl Marx

Oleh: Wahyu Budi Nugroho

(Karl Marx, 1818-1883)

"Seharusnya, kau tak hanya berbicara tentang uang, tapi mencarinya!"
(Ibu mertua Marx)

Heinrich Karl Marx adalah nabi kaum buruh yang menulis dua “kitab” pegangan bagi pergerakan kaum buruh: Manifesto Komunis dan Das Kapital. Manifesto Komunis lebih berisi ajakannya pada kaum buruh untuk menghancurkan sistem kapitalisme melalui perlawanan fisik (revolusi sosial), sedang Das Kapital berisi kajian mengenai perkembangan kapitalisme dari masa ke masa berikut cara kerja mereka—metode—untuk mengakumulasi modal. Secara ilmiah, Das Kapital disebut pula sebagai Matrealisme Historis. Dalam kitab tersebut, Marx mengidentifikasi adanya dua bentuk “sirkuit modal” (alur keuangan) yang dimiliki dua kelas kontras dalam masyarakat: kaum buruh dan kaum borjuis. Secara tak langsung, hal tersebut menunjukkan pula “resep” pemikiran Marx untuk menjadi miskin atau menjadi kaya.

Dua Bentuk Sirkuit Modal: K-U-K dan U-K-U
Menurut Marx, kaum buruh memiliki sirkuit modal “K-U-K”. “K” adalah “komoditas”, atau segala sesuatu yang dihasilkan/diproduksi untuk dijual, sedang “U” adalah “uang” yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Sebagai misal, seorang penjahit yang menghasilkan pakaian, pakaian di sini merupakan komoditas yang dihasilkannya (K), kemudian ia menjualnya dan mendapatkan uang (U). Setelahnya, sang penjahit tersebut bakal membelanjakan uang yang dihasilkannya dari menjual pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Akhirnya, ia pun kembali pada “K” (komoditas)—berbagai barang kebutuhan hidup yang dibelinya. Bagi Marx, setiap orang dengan alur keuangan yang demikian (K-U-K) pastilah bakal miskin dalam hidupnya. Hal tersebut mengingat tak tersisanya uang sebagai fungsi saving (menabung/”S”).

Komoditas - Uang - Komoditas
Uang - Komoditas - Uang - Uang 1 - Uang 2 - Uang 3 - …

Berbeda halnya dengan kaum buruh, kaum borjuis memiliki pola sirkuit modal “U-K-U”. Sebagai misal, saya memiliki uang (U), saya gunakan untuk membangun rumah kos (komoditas/”K”). Kemudian, saya menyewakannya, maka rumah kos tersebut akan kembali menghasilkan uang (U). Apabila uang dari persewaan kos tersebut sudah balik modal, maka dengan segera “U” akan menjadi “U1”. Lambat-laun, apabila uang yang saya hasilkan dari persewaan kos kian besar, sehingga saya belikan barang-barang baik kebutuhan primer, sekunder maupun tersier menyisakan uang, dan jumlahnya masih melampaui “U1”, maka “U1” dengan segera akan berubah menjadi “U2”. “U2” tersebut dapat berkembang secara tak terhingga menjadi U3, U4, U5 dan seterusnya. Menurut Marx, seseorang dengan alur keuangan yang telah mencapai “U2”, dapat dikatakan telah menjadi kapitalis sejati.

Untuk menjadi kaya, Anda harus memiliki sirkuit modal terakhir, U-K-U-U1-U2-U3, …         



#####


Referensi:
  • Marx, Karl. 2004. Kapital (Buku I). Jakarta: Hasta Mitra.


2 komentar:

082115436791 mengatakan...

Yeah. Lumayan cerdas. Lanjutkan

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

yups, show must go on ;)

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger