"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Kamis, 21 Juli 2011

VI: BEBERAPA KRITIK ATAS KONSEP INTERAKSI SOSIAL EKSISTENSIALISME JEAN PAUL SARTRE: DARI AQUINAS, DE MAISTRE, IQBAL HINGGA SYARIATI

VI
BEBERAPA KRITIK ATAS KONSEP INTERAKSI SOSIAL
EKSISTENSIALISME JEAN PAUL SARTRE:
DARI AQUINAS, DE MAISTRE, IQBAL HINGGA SYARIATI
Oleh: Wahyu Budi Nugroho, S.Sos


“I have no religion, but if I were to choose one, it would be that of Shariati’s.”
(Sartre)

            Dapatlah dibenarkan kiranya, sebuah pendapat yang menyatakan bahwa upaya melakukan kritik atas suatu pemahaman dapat dilakukan secara mudah dan sederhana dengan menyajikan “negasi” atau buah pemikiran yang bertentangan dengannya. Terlebih, bilamana hal tersebut menyangkut ranah keilmuan (baca: epistemologi) Barat. Dalam hal ini, dapatlah dilihat dengan mudahnya pemahaman matrealisme dibenturkan dengan idealisme, empirisme atas rasionalisme, positivisme terhadap kritis, struktural fungsional vis a vis konflik, struktur terhadap agen, kapitalisme versus komunisme dan lain sebagainya.
            Bab terkait, secara khusus berupaya menyajikan beberapa pemikiran yang mana baik secara langsung maupun tak langsung menemui bentuknya sebagai “kritik” atau “penolakan” terhadap konsep interaksi sosial—filsafat sosial—eksistensialisme-Jean Paul Sartre. Beberapa tokoh yang dilibatkan dalam pembahasan ini antara lain Thomas Aquinas (1225-1274), Count Joseph de Maistre (1753-1821), Muhammad Iqbal (1873-1938) dan Ali Syariati (1947-1977). Tak dapat dipungkiri bahwa pemilahan tokoh tersebut sesuai dengan garis linear periodesasi waktu “lampau” hingga “kini”, serta baik keempatnya secara berpasangan tergabung dalam kubu “agamis” yang berbeda satu sama lain, Aquinas dan De Maistre yang tergabung dalam lingkup kanonisasi lembaga gereja Katolik serta Iqbal dan Syariati yang tersematkan sebagai intelektual kenamaan Islam dunia. Namun faktual, berbagai pemikiran para tokoh di atas syarat muatan kritik serta penolakannya akan konsep interaksi sosial eksistensialisme-Sartre baik secara langsung maupun tak langsung. Berikut pemaparannya lebih lanjut.
Thomas Aquinas:
Manusia Tidaklah “Menciptakan”, melainkan “Menemukan”
            Santo Thomas Aquinas telah diakui sebagai salah satu “pemikir besar” abad pertengahan di samping Santo Agustinus. Ia menelurkan dua buah mahakarya berjudul Summa Theologica dan Summa Contra Gentiles.[1] Beberapa garis besar pemikirannya dalam kedua buku tersebutlah yang nantinya memuat berbagai penolakannya atas konsep interaksi sosial eksistensialisme-Sartre secara tak langsung.
            Pertama, sebagaimana diketahui bahwa Sartre merupakan seorang “atheis militan”, terkait hal tersebut, dengan mengadopsi buah pemikiran Aristoteles, Aquinas menyusun sebuah doktrin yang menyatakan bahwa, “Tuhan adalah penggerak pertama” (causa sui). Lebih jauh, apa yang dimaksudkan dengan “Tuhan sebagai penggerak pertama” atau “penggerak yang tak tergerakkan” adalah, segala sesuatu pastilah ada yang menciptakan, tidaklah mungkin suatu “akibat” muncul begitu saja tanpa disertai dengan “sebab”.[2]
            Kedua, nilai dan norma sosial. Telah disepakati bersama bahwa interaksi yang terjalin antara individu satu dengan individu lain atau masyarakat mutlak mensyaratkan “media” atau “perantara” guna memungkinkan ke-berlangsungan-nya (interaksi), hal tersebut merupakan nilai berikut norma sosial. Sartre berpendapat bahwa manusia “tak wajib” dan “tak seharusnya” mengikuti serta tunduk terhadap nilai dan norma sosial yang ada dalam masyarakat dengan alasan, keberadaannya sebagai makhluk sui generic ‘apa adanya’, serta hukum universal yang faktual tak tertulis di langit sana.
            Menanggapi hal di atas, Aquinas menegaskan bahwa nilai dan norma sosial pada hakekatnya dapat ditempatkan sebagai sesuatu yang “universal”. Hal tersebut dapat dimungkinkan mengingat ditemuinya “hukum universal” dalam setiap masyarakat yang ada di muka bumi. Sebagai misal, larangan untuk menghilangkan nyawa orang lain secara sengaja (baca: membunuh), larangan untuk memperkosa dan larangan untuk mencuri.[3] Berbagai postulat (patokan) yang terdapat dalam setiap masyarakat tersebut menurut Aquinas pastilah bersumber pada nilai-nilai transendensi (ketuhanan) sebagaimana Aritoteles menganggapnya sebagai ultimate value ‘nilai tertinggi’.[4] Suatu hukum, epistemologi atau worldview yang secara sadar maupun tak sadar telah terintegasi secara sui generic ‘demikian adanya’ pada diri manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya. 
Dengan demikian, tegas Aquinas, manusia tidaklah “menciptakan” nilai dan normanya sendiri, atau dengan kata lain, manusia tidaklah berada pada “proses penciptaan yang terus-menerus dan berulang-ulang pada dirinya sendiri”, melainkan sekedar “menemukan” serta kembali “menemukan” secara terus-menerus dan berulang-ulang, tanpa henti.
Count Joseph de Maistre:
Menata Kembali Masyarakat dari “Dzwaq”[5] Modernisasi
             De Maistre, De Bonald, Chateaubriand, Saint Simon dan kawan-kawan kerap dijuluki sebagai “kaum tradisionalis”. Mereka adalah golongan konservatif yang begitu keras meneriakkan penolakannya terhadap konsep “kemajuan”. De Maistre, dalam Soirees de St. Petersbourg, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan sekedar shahih menjelaskan fenomena fisik, namun tak demikian halnya dengan agama. Lebih jauh, ia menyatakan bahwa Reformasi Gereja merupakan “kejahatan terbesar” umat manusia karena melaluinya lah dzwaq masyarakat berupa matrealisme dan dekadensi moral merajalela. Senada dengannya, De Lamennais menegaskan bahwa agama merupakan basis moral masyarakat sehingga dengan hilangnya hal tersebut, kehancuran masyarakat pun menjadi sebuah kepastian.[6]
            Terkait kritik yang ditujukan atas eksistensialisme Sartre, faktual konstruksi pemikiran kaum tradisionalis berpuncak pada Maine de Biran yang mana melakukan pen-distorsi-an sedemikian rupa pada dalil Descartres, “Saya berpikir, maka saya ada” menjadi, “Saya merasa, maka saya ada”.[7] Apabila penelaahan lebih jauh atas dalil tersebut dilakukan, maka ditemui bahwa dalil tersebut membalikkan dalil eksistensialisme Sartre, “eksistensi mendahului esensi” menjadi, “esensi mendahului eksistensi”. Ketika seseorang merasakan keberadaan Tuhan dalam dirinya atau di sekitarnya, maka konklusi yang ditarik kemudian adalah Tuhan benar-benar ada, meskipun hal tersebut dapat ditengarai sekedar sebagai gejala emosional atau psikologis belaka. Hal tersebutlah yang sekaligus menjadi “misi penting” kaum tradisionalis, membuktikan keberadaan Tuhan berikut mengembalikan agama sebagai landas-dasar interaksi sosial guna menata kembali masyarakat dari dzwaq modernisasi serta kemajuan.
Melalui premis di ataslah “esensialisme” terumuskan dan berbagai tokoh tradisionalis kemudian dapat ditempatkan sebagai para esensialis. Namun demikian, perkembangan filsafat Barat yang nantinya lebih “tertarik” pada hal-hal berbau “empirik-matrealistik” menyebabkan pemahaman esensialisme mandeg begitu saja. Tidak ditemui percabangan dan perkembangannya kemudian sebagaimana eksistensialisme Nietzsche, Heidegger, Sartre berikut Camus.[8]
Muhammad Iqbal: “Aku Menang, Engkau Menang”
            Berbagai pemikiran Iqbal dalam buah karyanya yang berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam menunjukkan beberapa sendi “kemiripan” Islam dengan konsep manusia-filsafat eksistensialisme Sartre. Senada dengan Sartre, hanya saja melalui titik tolak yang berbeda, Iqbal menunjukkan betapa Islam mengakui manusia sebagai makhluk yang individualis dan unik—otentik. Hal tersebut setidaknya merujuk pada kitab suci (Al-Quran) di mana hanya manusia dengan segenap keyakinannya menyatakan kesanggupannya memikul amanah Tuhan yang mana pada awalnya tak disanggupi langit dan bumi serta gunung.[9] Hal ini menunjukkan perbedaan mendasar antara manusia dengan berbagai entitas lain ciptaan-Nya di mana kemiripan oposisi biner dengan eksitensialisme Sartre ditemui, yakni manusia sebagai etre pour soi, sedang langit-bumi dan gunung sebagai etre en soi.
            Namun demikian, titik pangkal perbedaan antara keduanya kemudian adalah, pesimisme Sartre akan mungkinnya manusia memiliki sifat-sifat Tuhan (etre en soi-etre pour soi) dengan optimisme Iqbal akan mungkinnya hal tersebut. Iqbal memisalkan Al-Hallaj dengan pernyataan kontroversialnya, “Aku adalah kebenaran kreatif” atau Ali r.a, “Aku adalah Al-Quran berbicara”.[10] Iqbal menjelaskan bahwa berbagai pernyataan yang dilontarkan tokoh-tokoh tersebut tidaklah bermaksud mengingkari keberadaan Tuhan dengan “meng-aku-kan” dirinya sebagai Tuhan. Selengkapnya, Iqbal menjelaskan,[11]

“...orang suci yang mati syahid itu tidaklah mungkin telah memaksudkan mengingkari transendensi dari Tuhan. Maka itu tafsiran yang benar dari pengalamannya itu bukanlah tetesan air yang mengalir ke laut, tetapi perwujudan dan penegasan berani dalam frase yang tiada habis-habisnya dari kenyataan dan ketetapan diri manusia dalam suatu kepribadian yang mendalam.”
(Muhammad Iqbal 1978:144)

Hal di atas menunjukkan pandangan Iqbal betapa jiwa atau spiritual manusia memiliki kedudukan “spesial” ketimbang fisik atau material mengingat kemampuannya melampaui batasan-batasan yang sama sekali tak terduga-duga, yakni mampu menghantarkannya hingga keharibaan Sang Pencipta. Apabila pemahaman tersebut dibenturkan dengan eksistensialisme-Sartre, maka pesimisme Sartre akan ketidakmungkinan manusia memiliki sifat-sifat Tuhan adalah karena dirinya yang terlalu terpaku pada berbagai hal bersifat fisik serta material (“eksistensi mendahului esensi”). Terlebih dengan pernyataan tegasnya, “Tuhan adalah konsep ‘orang lain’ yang ditarik hingga ke batas”.
Melalui hal ini, sifat ketuhanan yang berkebalikan dengan iblis seperti kasih sayang, pengasih, pemaaf dan penolong mampu terefleksikan sedemikian rupa pada diri manusia yang mana pada gilirannya terejawantahkan menjadi “aksi” di antara sesama manusia lainnya. Dengan demikian, berseberangan dengan konsep interaksi sosial-eksistensialisme Sartre yang menajiskan orang lain sebagai neraka atau orang lain sebagai sebab kejatuhan dirinya berikut humanisme eksistensialnya yang unik: melakukan penghargaan pada diri dengan mengenyahkan orang lain, maka konsep interaksi sosial yang berupaya ditawarkan Iqbal adalah, “Aku menang, engkau menang; aku berhasil, engkau berhasil”.[12] Hal tersebut, dapat dijelaskan secara mudah dengan konsep “objektivasi” dalam Islam sebagaimana diutarakan Kuntowijoyo, “Seorang muslim yang memberikan zakat mendapatkan keberuntungan berupa pahala, sedangkan orang nonmuslim yang menerimanya, juga mendapatkan kebahagiaan”.[13]
Dengan demikian, ditemui konklusi yang berbeda antara keduanya, apabila Sartre melalui filsafat eksistensialisme-nya memberikan kesimpulan tragis bahwa “manusia adalah hasrat kesia-siaan”, maka Iqbal mendiktumkan sebuah harapan bahwa “manusia adalah makhluk yang berguna”. Berikut tegas Iqbal,[14]

“Amatlah mustahil kiranya bahwa satu makhluk yang evolusinya telah meminta waktu berjuta-juta tahun itu harus dibuangkan begitu saja sebagai benda yang tiada berguna. Akan tetapi hanya sebagai diri yang tetap dan terus-menerus bersih saja ia dapat mempunyai makna dalam alam semesta itu.”
(Muhammad Iqbal 1978:171)

Ali Syariati: “Mentaubatkan” Sartre
            Tidaklah berlebihan kiranya apabila paparan kritik Ali Syariati terhadap eksistensialisme-Sartre memiliki tempat tersendiri dalam kajian ini. Hal tersebut mengingat Syariati sebagai salah seorang tokoh intelektual kenamaan dunia yang memang untuk beberapa kali sempat berdiskusi secara langsung dengan Sartre. Malahan, beberapa diskusi intensif yang dilakoninya dengan Sartre ditengarai menggoyahkan pemikiran “filsuf besar” Perancis tersebut mengenai eksistensialisme dan marxisme (marxisme-eksistensial). Hal tersebut setidaknya tampak melalui beberapa pernyataan Sartre tiga tahun menjelang kematiannya sebagai berikut, “Saya bukan lagi seorang marxis” serta, “I have no religion, but if I were to choose one, it would be that of Shariati’s” (“Saya tidak memiliki agama, tetapi apabila saya diminta untuk memilih, maka itu adalah agamanya Syariati [Islam]”).[15]
            Selain dikenal sebagai cendekiawan muslim yang aktif menggalakkan proyek “kontekstualisasi” atau “re-interpretasi” berbagai ajaran Islam, Syariati dikenal pula sebagai salah seorang pemikir yang menaruh perhatian besar pada permasalahan seputar “manusia” (entitas individu) yang tertuang dalam studinya, “Sosiologi Manusia”. Perihal mendasar yang kerap disorotinya adalah suatu paradoks di mana pada era sekarang manusia mampu menciptakan dan menaklukkan apapun yang dikehendakinya melalui sains dan teknologi, namun faktual, justru semakin jauh manusia melangkah, semakin tak mengenal pula siapa dirinya. Gejala-gejala kemanusiaan layaknya nihilisme, absurdisme, meaningless dan keputusasaan menjadi bukti akan hal ini.[16]
            Dalam sosiologi manusia, secara spesifik Syariati memusatkan studi dan kritiknya atas eksistensialisme-Sartre. Ia mengatakan bahwa para ilmuwan Barat yang berupaya menyelediki hakekat dari manusia pada akhirnya sekedar menemui kegagalan dan keputusasaan. Implikasi yang hadir kemudian ialah bentuk-bentuk kepribadian yang berusaha keras melarikan diri dari kenyataan. Seni kontemporer, seni lukis, seni musik, seni pentas dan lain sebagainya menjadi media bagaimana upaya tersebut dilakukan.[17] Tegas dan jelasnya, menurut Syariati berbagai media tersebut merupakan bukti kegagalan para ilmuwan Barat yang sekuler dan atheis memberikan definisi mengenai manusia.
            Lebih jauh, Syariati menjelaskan bahwa berbagai wawasan seni di atas bergeser pada suatu lahan kering nan hampa, bahkan “keropos”. Selanjutnya, ia memaparkan sebagai berikut,[18]

“Hidup dijalani tanpa bobot bagai meloncat dari satu rumus ke rumus baru. Demikianlah yang digambarkan Sartre: Absurditas melekat pada hidup para ilmuwan yang hilang bobot kemanusiaannya serta bagi manusia yang hilang makna.”
(Ali Syariati 1985:100)

            Pernyataan Syariati di atas secara tegas dan jelas menyitir Sartre, ia menganggap bahwa eksistensialisme merupakan filsafat yang “lesu”, sia-sia, tak seimbang, bahkan “tak waras”.[19] Hal tersebut pulalah yang dapat berimiplikasi pada para pengikutnya kemudian. Di sisi lain, Syariati mendaulat pula eksistensialisme sebagai “filsafat kebingungan” di mana seorang manusia merasakan kedekatan yang lebih intim dengan dirinya, namun keluarga dan dunianya kian terasa jauh. Lebih lanjut, Syariati mengatakan bahwa eksistensialisme mengakui kematian, namun perasaannya bakal tetap hidup dan menimbang apa yang terjadi dengan kebutuhan spiritual berikut transendennya. Ketahuannya akan tak terpenuhinya kedua kebutuhan tersebutlah yang menyebabkannya terus berada dalam kubangan keterasingan.[20]
            Oleh karenanya, guna memecahkan persoalan di atas, Syariati menekankan pentingnya “kesempurnaan” ketimbang “kenikmatan”. Menurutnya, kesempurnaan bertalian erat dengan berbagai bentuk kesulitan dan rintangan, sementara kenikmatan terikat pada “tempat” dan “keberadaannya”. Namun di balik semua itu, kesempurnaan terikat pada dinamika gerak, ia senantiasa berjalan tanpa kenal henti. Kesempurnaan selalu menuntut manusia untuk terus mengembara sembari memperbaiki maknanya. Berseberangan dengannya, kenikmatan menghendaki perbaikan kualitas hidup dengan mengikat manusia pada tempat dan keberadaannya. Lebih jauh, Syariati menegaskan bahwa kesempurnaan adalah proses “menjadi”, sementara kenikmatan adalah proses “mengada”. Dengan demikian, kesimpulan akhir yang ditarik Syariati kemudian adalah “pencarian akan kesempurnaan”, yang mana lebih mendekatkan pengertiannya pada arah pengenalan diri manusia, ketimbang pola pikir “pencarian akan kenikmatan”.[21]



[1] Linda Smith & William Raeper, Ide-Ide, Kanisius, Yogyakarta, 2000, h. 47.
[2] Ibid., h. 49.
[3] Vincent Martin, Filsafat Eksistensialisme, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, h. 38-40.
[4] Roland Robertson, Agama: Dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis, Rajawali Pers, Jakarta, h...
[5] “Dzwaq” merupakan istilah yang kerap digunakan Radhar Panca Dahana guna menunjuk pada chaos atau kekacauan.
[6] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern, Gramedia, Jakarta, 2004, h. 199.
[7] Ibid., h. 200.
[8] Selengkapnya lihat Donny Gahral Adian, Matinya Metafisika Barat, Komunitas Bambu, Jakarta, 2001.
[9] Iqbal, Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1978, h. 142-143.
[10] Ibid., h. 160.
[11] Ibid., h. 144.
[12] Ibid., h. 153.
[13] Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2007, h...
[14] Iqbal, op. cit., h. 171. 
[15] Nurhablisyah, 2007.
[16] Ali Syariati, Peranan Cendekiawan Muslim, Shalahuddin Press, Yogyakarta, 1985, h. 99-100.
[17] Ibid., h. 96-97.
[18] Ibid., h. 100.
[19] Loc. Cit.
[20] Ibid., h. 127.
[21] Ibid., h. 104-105.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger