"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Kamis, 04 Agustus 2011

Membunuh Karma Cinta melalui "Psikoanalisis Eksistensial"

Membunuh Karma Cinta melalui "Psikoanalisis Eksistensial"
(Karma menurut Jean Paul Sartre)

Oleh: Wahyu Budi Nugroho

“Anda memiliki keyakinan yang buruk!”
(Jean Paul Sartre)


“Akibat karma, tidakkah ada cinta untukku?”
Alkisah, di salah satu sudut kota Paris hidup seorang pemuda bernama Jacques, ia serasa menjadi pria paling sial di Perancis akibat cintanya telah ditolak sebanyak dua puluh empat kali oleh para wanita di sana. Suatu kali, teman Jacques datang dan hendak memperkenalkannya dengan seorang wanita. “Buatlah janji makan malam dengannya, Jacques”, celetuk temannya. Namun Jacques menolaknya, ia berkata, “Wanita itu hanya akan menjadi wanita ke-25 yang menolak cintaku”. Jacques merasa ia mendapat semacam kutukan yang bakal membuatnya “tak laku” hingga akhir hayat. Memang, dahulu sempat ketika ia duduk di bangku SMP, ia secara sepihak memutuskan pacarnya yang bernama Michelle, kemudian Michelle pun melancarkan sumpah-serapah, “Dengar baik-baik Jacques, kau takkan memiliki kekasih lagi setelah diriku hingga kau masuk liang lahat!”. Karuan, hal tersebutlah yang menyebabkan Jacques serasa memperoleh kutukan, yakni sebentuk “karma” karena dahulu pernah menyakiti hati wanita, kini berganti hatinya lah yang dirobek-robek oleh para wanita.

Melihat akutnya kejiwaan Jacques, temannya, Pierre, merekomendasikan Jacques untuk berkonsultasi pada seorang filsuf bernama Jean Paul Sartre, ia merupakan pencetus metode terapi psikologis bernama “psikoanalisis eksistensial”.

(Sartre)
Perjumpaan dengan Sartre
Sartre   : “Jacques, mengapa kau menolak bertemu dengan wanita yang hendak dikenalkan padamu?”
Jacques: “Ia hanya akan menjadi wanita ke-25 yang bakal menolakku…”
Sartre   : “Mengapa demikian?”
Jacques: “Aku dikutuk oleh mantan pacarku, ini adalah karma yang harus kuterima dan kupikul hingga akhir hayat…”
Sartre   : “Kau memiliki keyakinan yang buruk!”
Jacques: “Apa maksudmu?”
Sartre   : “Karma tidaklah ada, semua tergantung pada usahamu semata, kehidupan manusia adalah bebas sebebas-bebasnya di dunia ini…”
Jacques: (tampak terdiam dan menunggu penjelasan lanjutan dari Sartre)
Sartre   : “Ya, tak ada skenario yang dibuatkan untukmu. Kau sendirilah sang pembuat skenario bagi hidupmu. Ambilah contoh, sekarang juga kau bisa melemparkan asbak ini padaku, tapi kau tak melakukannya, itu dikarenakan kau memilih untuk tak melakukannya…”
Jacques: “Lalu, apa hubungannya semua itu dengan persoalanku?”
Sartre   : “Kutukan mantan pacarmu hanyalah omong kosong belaka, jika memang sejauh ini kau telah ditolak dua puluh empat wanita, itu hanya kebetulan saja, bukan karena kutukannya. Ia tak membuat atau menentukan jalan hidupmu, kau sendirilah yang membuat dan menentukan jalan hidupmu…”  
Jacques: “Apa buktinya???”
Sartre   : “Teruslah bergerak, teruslah mencoba, niscaya kau akan menemui jawabnya… Siapa tahu wanita yang ke-25 ini adalah wanita yang bakal menerima cintamu, bukan sebaliknya. Tak ada yang mengetahui sampai kau mencobanya.”
Jacques: “Terima kasih Tuan Sartre, kau membangkitkan kembali gairah hidupku, akan kupegang kata-katamu”
Sartre   : “Tagihan akan dikirimkan ke rekeningmu.”

Sepulang berkonsultasi dengan Sartre, Jacques pun langsung mengiyakan tawaran temannya untuk mempertemukannya dengan seorang wanita. Beberapa waktu kemudian, Jacques pun bertemu dengan wanita itu. Dan tak khayal, wanita yang ke-25 itu pun menerima cinta Jacques. Apa jadinya jika Jacques berhenti dan menyerah pada wanita ke-24? Ia bakal menjadi “jejaka tua” seumur-umur tentunya.

Moral: “Pantang menyerah, teruslah bergerak dan mencoba.”

Inti Psikoanalisis Eksistensial
  • Menyadarkan individu bahwa ia memiliki kebebasan penuh untuk membuat dan menentukan jalan hidupnya sendiri.
  • Berupaya membongkar “tembok-tembok ketidakmungkinan” dalam diri individu.
  • Mengajak individu untuk terus bergerak dan mencoba.


*****

Referensi:
  • Satre, Jean Paul. 1956. Being and Nothingness. New York: Philosophical Library.
  • Palmer, Donald D. 2003. Sartre untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius.









3 komentar:

Dian PuspaS mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Dian PuspaS mengatakan...

sugesti positif akan menghasilkan energi positif dan juga hasil yang positif :)

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

wuidiiih, the secret banget, hehe
thanks, dian ;)

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger