"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Senin, 15 Agustus 2011

Dua Dimensi Keislaman dalam Diri Seorang Muslim (Refleksi Pemikiran “Sosiologi Manusia”-Ali Syariati Bag. 2)

Dua Dimensi Keislaman dalam Diri Seorang Muslim
(Refleksi Pemikiran “Sosiologi Manusia”-Ali Syariati Bag. 2)

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


“Apabila kemiskinan itu berwujud seorang tua, maka akan kubunuhnya berkali-kali!”
(Ali bin Abi Thalib)

Tak dipungkiri, saya cukup terkejut ketika menemui buah pemikiran Ali Syariati yang satu ini. Sosiolog asal Iran tersebut menyibak dimensi-dimensi tersembunyi dalam diri seorang muslim, sebuah pemikiran yang agaknya luput dari perhatian banyak cendekiawan muslim lainnya.

│││

Sebagaimana kita ketahui, manusia terbentuk dari dua unsur utama: tanah dan ruh. Melalui kejadian penciptaan manusia tersebut, Syariati menyimpulkan bahwa sesungguhnya manusia memiliki dua dimensi utama dalam dirinya: “dimensi tanah” dan “dimensi ketuhanan”.

Antara “Dimensi Tanah” dan “Dimensi Ketuhanan”
Lebih jauh jelas Syariati, dimensi tanah menyiratkan “kerendahan” bahkan “kehinaan” dalam diri manusia, layaknya tanah yang berada di bawah dan selalu diinjak-injak. Dimensi tersebut ter-interpretasi-kan melalui sifat-sifat manusia layaknya; lemah, pasrah, takut, terkekang, tak mandiri, berjiwa pengikut dan lain sejenisnya. Sedang, dimensi ketuhanan dalam diri manusia adalah sifat-sifat Tuhan yang agung dan mulia dalam diri manusia semisal; pencipta, kuat, berkehendak, berani, bebas, mandiri, berjiwa pemimpin dan sebagainya.

Bagi Syariati, kedua karakter dalam berbagai dimensi kemanusiaan di atas telah menjadi bawaan seorang muslim sejak lahir, dan Tuhan memberikan kebebasan bagi setiap hamba-Nya untuk memilih dan “menjadi” karakter/mentalitas mana yang dikehendakinya. Apabila sang hamba lebih memilih dimensi tanah dalam dirinya, maka ia akan lebih menjadi sosok muslim yang pasif layaknya kebanyakan kaum sufi atau tasawuf—namun hal tersebut pun tak menjadi persoalan/tak salah.

Sebaliknya, apabila sang hamba lebih memilih dimensi ketuhanan dalam dirinya, maka ia memiliki kecenderungan menjadi muslim yang “aktif”. Hal tersebut dapat dicontohkan dengan para avant garde ‘garda depan’ dunia Islam; para panglima perang yang tersohor (Umar bin Khatab, Shalahuddin al-Ayyubi, dll.), para pemikir, penemu dan pembaharu dunia Islam (Ibn Khaldun, Ibn Sina, Al-Farabi, dll.).

“Bagaimana dengan umat muslim Indonesia?”
Melalui dua klasifikasi di atas, kiranya muslim Indonesia lebih condong/mencirikan karakternya pada “dimensi tanah”. Hal tersebut dapat kita lihat melalui mentalitas kebanyakan muslim Indonesia yang bersifat pasrah, menyerahkan sepenuhnya pada nasib/takdir, percaya takhayul, menerima begitu saja kemiskinan/penderitaan yang dialaminya, bermental pengikut dan lain sejenisnya.

Kiranya, di tengah kondisi bangsa yang sulit saat ini, mentalitas ketuhanan adalah mentalitas muslim yang lebih kita butuhkan. Guna keluar dari segala keterpurukan yang tengah melanda, kita membutuhkan muslim-muslim yang kuat, tangguh, mandiri, memiliki inisiatif dan seabrek sifat-sifat ketuhanan lainnya.

Bagaimana dengan dimensi keislaman Anda, tanah ataukah ketuhanan?

“Apabila kemiskinan itu berwujud seorang tua, maka akan kubunuhnya berkali-kali!”
(Ali bin Abi Thalib)

*****

Referensi:
  • Syariati, Ali. 1985. Peranan Cendekiawan Muslim. Yogyakarta: Shalahuddin Press.

                

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Excellent website. Plenty of useful info here. I'm sending it to a few friends ans additionally sharing in delicious. And obviously, thank you in your effort!
my website - air movers

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger