"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Selasa, 02 Agustus 2011

Karya Sastra & Musik Pemicu Gelombang Bunuh Diri Massal

Karya Sastra & Musik Pemicu Gelombang Bunuh Diri Massal
Ulasan Singkat atas Fenomena Die Leiden des jungen Werthers dan Gloomy Sunday

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Die Leiden des jungen Werthers Karya Goethe
Johann Wolfgang Goethe adalah seorang penulis Jerman yang tiba-tiba terkenal dalam semalam akibat diterbitkannya novel pertamanya yang berjudul Die Leiden des jungen Werthers (Penderitaan Pemuda Werthers). Bahkan, novel tersebut mampu mempengaruhi fashion di saentaro Jerman di mana pemuda dan pemudi di sana berpenampilan layaknya tokoh-tokoh yang digambarkan dalam novel tersebut kala itu.

Penderitaan Pemuda Werthers untuk pertama kali diterbitkan pada tahun 1774. Setidaknya, terdapat beberapa alasan mengenai kepopuleran sekejap novel tersebut; Pertama, Goethe menggunakan metode penulisan novel yang sama sekali baru di masanya, ia menggunakan bentuk surat-menyurat di mana ia menempatkan diri sebagai teman kepercayaan Werthers untuk berbagi perasaan (baca: curhat). Kedua, Penderitaan Pemuda Werthers adalah novel mengenai cinta yang tak terbalaskan yang diterbitkan untuk pertama kalinya di Jerman.

(Johann Wolfgang Goethe)

Dalam novel tersebut, Goethe menceritakan teman penanya, Werthers yang hidupnya menderita dan terombang-ambing akibat cinta. Diceritakan, segera setelah menetap di suatu desa terpencil, Werthers terpikat dengan kecantikan seorang wanita desa bernama Lotte. Mereka bertemu di sebuah pesta dansa di mana Werthers untuk pertama kali melihat Lotte ketika tengah mengiris roti bersama delapan adiknya. Singkat kata, Werthers begitu terpesona pada momen tersebut. Namun, Lotte telah memiliki tunangan bernama Albert yang juga merupakan teman baik Werthers, di sinilah lika-liku cinta Werthers bermula. Ringkas cerita, Lotte dan Albert pada akhirnya menikah, di situ Werther berpikir bahwa sejak awal memang harus ada pihak yang dikorbankan (baca: mati) antara Lotte, Albert dan dirinya. Dalam sebuah surat, Werthers meminta sepucuk pistol pada Albert dengan alasan “keamanan” dalam perjalanan jauh yang hendak dilakoninya, Albert pun mengiyakan pinta Werthers. Tanpa disangka, Werthers menggunakan pistol tersebut untuk membunuh dirinya, tubuhnya yang tak bernyawa dan berceceran darah pun ditemukan tergeletak di sebuah meja. Akibat kematian bunuh diri yang dilakukannya, pastor setempat enggan menghadiri pemakamannya, begitu pula Albert dan Lotte yang dicintainya.  

Sebagaimana disinggung sebelumnya, Penderitaan Pemuda Werthers karya Goethe menuai kontroversi luas, segera setelah diterbitkannya, novel tersebut membawa Jerman larut dalam gelombang bunuh diri massal. Tindakan tersebut dilakukan oleh mereka yang serasa senasib dengan Werthers: terlibat cinta segitiga dan tak terbalas cintanya. Tak pelak, mahakarya Goethe tersebut pun sempat dilarang beredar di Denmark dan Italia guna mencegah kian masifnya gelombang bunuh diri massal yang saat itu telah mencapai angka dua ribu kasus. Lebih jauh, Penderitaan Pemuda Werthers mempelopori kajian tindakan bunuh diri massal yang diakibatkan media, para pakar di dalamnya menggunakan istilah “Efek Werthers” guna merepresentasikan fenomena tersebut.    

“Gloomy Sunday” Karya Andras Spielt[1]
Lantunan piano Gloomy Sunday diciptakan oleh seorang mahasiswa seni musik bernama Andras Spielt[2] ketika bekerja sebagai pianis salah satu restoran mewah di Budapest. Lantunan tersebut diciptakan Andras sebagai hadiah ulang tahun untuk Ilona, kekasih Laszlo, pemilik restoran tempat dirinya bekerja. Layaknya pemuda Werthers, Andras terlibat cinta segitiga antara dirinya, Ilona dan Laszlo. Namun, baik ketiganya dapat menerima hubungan tersebut. Ilona pun menjadi kekasih Andras dan Laszlo kemudian tanpa ada yang harus ditutup-tutupi antarketiganya.

Gloomy Sunday menjadi terkenal untuk pertama kalinya ketika Laszlo meminta Andras memainkannya ketika beberapa orang petinggi perusahaan rekaman bersantap malam di restorannya. Mereka pun seketika terpesona dengan lantunan piano yang dimainkan Andras, tak menunggu lama, kontrak rekaman pun dibuat dan segera melejitkan pamor Gloomy Sunday berikut penciptanya.

(Rezso Seress [Andras Spielt])

Lantunan Gloomy Sunday yang begitu melankolis lambat laun diterjemahkan pendengarnnya sebagai lagu “kasih tak sampai” (baca: patah hati), tak jelas siapa yang melabelkannya untuk pertama kali. Setelahnya, kerap ditemui kasus-kasus bunuh diri bersamaan dengan dimainkannya lantunan Gloomy Sunday. Melalui sebuah investigasi yang dilakukan, tercatat dua ratus lebih kasus bunuh diri yang berkaitan dengannya. Di sisi lain, kepopuleran lantunan tersebut turut melejitkan nama restoran tempat dimana Gloomy Sunday dimainkan untuk pertama kalinya. Melihat serangkaian kejadian tersebut, Andras pun sempat merasa tertekan untuk beberapa waktu.

Ketika pasukan Nazi menguasai Hongaria, salah seorang perwira Nazi berkunjung ke restoran Laszlo dan meminta Andras untuk memainkan Gloomy Sunday, namun Andras menolaknya, ia berkata lebih rela mati ketimbang memainkan lantunan tersebut bagi penjajah. Ia pun segera menarik lurger[3] perwira Nazi tersebut dan menembakkan ke kepalanya. Pencipta lantunan maut Gloomy Sunday pun turut meregang nyawa seketika itu juga.


*****

Referensi Lanjutan;
  • Baca Johann Wolfgang Goethe, Penderitaan Pemuda Werthers, Yayasan Obor Indonesia (YOI), Jakarta, 2008.
  • Tonton Gloomy Sunday (2009), Sutradara: Rolf Schubel.





[1] Didasarkan pada film Gloomy Sunday (1999), disutradarai oleh Rolf Schubel.
[2] Bernama asli “Rezso Seress”.
[3] Pistol khas perwira Nazi.

2 komentar:

oveove nove mengatakan...

Unfortunately, may be they just wanted to express their feeling, but however..so tragic

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

whatever that, they just freeman with freethought, sometimes they didn't know what they did...

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger