"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Rabu, 17 Agustus 2011

Menyoal Fenomena “Priyono Nyoto”

Menyoal Fenomena “Priyono Nyoto”
Kreativitas, Sampah Audio-visual ataukah Putus Asa?

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


“Tuhan, aku pengen jadi artis… Tolonglah bantu aku jadi artis…”
(Hancur Band)

Siapa Priyono dan Apa yang Telah Diperbuatnya?
Beberapa bulan terakhir, entah sejak kapan tepatnya, dunia maya seolah “dibombardir” oleh berbagai video upload-an seorang pemuda bernama “Priyono Nyoto” asal Blitar. Video tersebut berisi berbagai aksinya kala tengah membawakan lagu-lagu populer tanah air saat ini. Situs YouTube dan Kaskus-lah yang untuk pertama kalinya menjadi “korban” aksi pemuda asal Blitar tersebut.

Dalam setiap upload-an videonya, ia selalu menggunakan nama Priyono Nyoto Gaul Keren Ingin Jadi Artis Populer & Ngetop. Tercatat, empat puluh lebih videonya terdapat di YouTube. Apabila kita menyaksikannya, sesungguhnya apa yang ditampilkannya (maaf) tak layak menjadi konsumsi publik. Entah serius ataukah dibuat-buat, tapi caranya bernyanyi berikut memainkan gitar sama sekali tak menunjukkan bakat berikut kepiawaiannya—amat-sangat jauh dari bisa bahkan. Namun, pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mengapa pemuda ini dapat sedemikian “PD-nya” meng-upload berbagai aksinya tersebut?

“Kemungkinan” Motif-motif Priyono
Setidaknya, terdapat beberapa motif/alasan yang dapat kita petakan terkait apa yang telah dilakukan Priyono di atas;

Pertama, Priyono Nyoto memang merasa dirinya layak menjadi artis populer tanah air dengan segenap “kemampuan” yang dimilikinya. Tak seganlah ia meng-upload banyak aksinya ke situs YouTube dan Kaskus kemudian, meniru berbagai artis tanah air yang sebelumnya ngetop lewat cara yang sama; Shinta-Jojo, Udin Sedunia, Briptu Norman, dll.

Kedua, Priyono Nyoto sadar bahwa sesungguhnya ia sama sekali tak memiliki bakat untuk menjadi artis populer tanah air, namun keinginannya untuk menjadi yang diimpikannya jauh lebih kuat ketimbang berbagai kenyataan di atas (sama sekali tak berbakat, dsb.), nekatlah ia meng-upload berbagai aksinya di situs YouTube dan Kaskus.

Ketiga, sekedar iseng.


Melalui ketiga alasan di atas, agaknya alasan pertama dan kedua adalah alasan yang begitu mungkin menyebabkannya melakukan tindakan tersebut. Untuk alasan pertama, dalam setiap video upload-annya, ia selalu tampak serius dan yakin bahwa ia memiliki bakat untuk menjadi artis terkenal. Dari caranya membawakan lagu, Priyono tampak serasa dapat disejajarkan dengan artis-artis papan atas. Tegas dan jelasnya, ia begitu PD-nya berdendang di hadapan kamera, tak tanggung-tanggung, empat puluh video lebih diciptakannya!

Untuk alasan kedua, apa yang dilakukan Priyono lebih tampak sebagai bentuk “keputusasaan-nya” untuk mewujudkan impian. Ia seakan menutup mata akan “serba kurang” dalam dirinya untuk menjadi artis populer. Keputusasaan itulah yang kiranya mendorong Priyono melakukan aksi nekat tersebut: “yang penting tampil dan terkenal dahulu, masalah bagus-jelek belakangan”.

Sedang untuk alasan ketiga, apabila ia sekedar iseng, bagaimana mungkin ia dapat istiqomah dan ajeg meng-upload empat puluh lebih videonya berikut disertai mimik wajah yang selalu serius tanpa pernah tersenyum atau tertawa kocak. Hal tersebut ditambah dengan id yang selalu digunakannya: Priyono Nyoto Gaul Keren Ingin Jadi Artis Populer & Ngetop.

Pro dan Kontra
Tak pelak, pasca mempublikasikan banyak videoklip-nya dan ditonton ribuan pelancong dunia maya, Priyono pun menuai pro dan kontra. Mereka yang pro terhadapnya menganggap Priyono sebagai “sumber inspirasi” karena tak pantang menyerah dalam mewujudkan impian meski dilingkupi serba kekurangan. Tak sedikit pula yang memujinya “bermental baja”, berani atau “mencerahkan”.

Sedang, mereka yang kontra terhadapnya menganggap Priyono sebagai “orang gila”, sekedar cari sensasi dan mendaulatnya sebagai orang putus asa, Segitu desperatenya kah untuk jadi tenar?, celetuk salah seorang komentator. Banyak pula dari mereka yang melancarkan cacian dan makian kasar yang (maaf) sesungguhnya sangat tak pantas ditujukan pada seorang anak manusia.

Kedua kubu yang saling berseteru dan ajeg melontarkan berbagai argumennya tersebut dapat kita lihat dalam dua akun facebook, Dukung Priyono Nyoto Gaul Keren sebagai artis terkenal dan Anti Priyono Nyoto (‘Gaul Keren). Namun demikian, meskipun menuai pro dan kontra khalayak luas, Priyono Nyoto tak pernah menanggapi berbagai pujian berikut cercaan yang dilayangkan padanya, ia tetap suci dalam keheningannya…

Tinjauan Sosiologis: Konsep “Hiperrealitas” dan “Masyarakat Jaringan”
Sebagaimana kerap disampaikan Iwan Fals dalam lagu-lagunya bahwa televisi hanyalah “penjual mimpi” bagi mereka yang tak mampu, kaum marjinal (masyarakat kecil) hanya dapat terus bermimpi untuk menjadi tokoh-tokoh yang disaksikannya di layar kaca. Hal tersebutlah yang kemudian menciptakan sebuah fenomena yang secara sosiologis diistilahkan sebagai “hiperrealitas” (sesuatu yang melampaui kenyataan). Masifnya injeksi “fantasi” dan “ektase” yang ditanamkan televisi dalam keseharian, lambat-laun membuat para audiens kian sulit membedakan antara fakta (kenyataan) dengan fiksi (imajinasi) dalam kehidupannya. Mereka pun mulai bermimpi dan “yakin” bisa menjadi seperti apa yang ditontonnya di layar kaca. Beberapa dengan bakat dan kemampuan yang mumpuni memang dapat mewujudkannya, namun persoalan menjadi pelik bagi mereka yang sama sekali tak memiliki bakat berikut kemampuan untuk mewujudkan impiannya tersebut. Tak menutup kemungkinan, justru “kegilaan medis-lah” yang dapat dituainya kemudian.

Di samping konsep hiperrealitas-sosiologis, kiranya konsep masyarakat jaringan dapat pula digunakan dalam menjelaskan fenomena Priyono Nyoto di atas. Dahulu kala, sebelum internet menjadi sangat akrab dalam kehidupan masyarakat kita, arus informasi yang terbangun dari media, televisi terutama, bersifat satu arah. Pemirsa hanya dapat “menonton” dan “bermimpi” tanpa dapat memberikan feedback atasnya. Kini, dengan akrabnya teknologi informasi layaknya internet dalam masyarakat, setiap individu pun dapat memberikan feedback sebagai bentuk respon berikut ekspresi atas apa yang disaksikan, dirasakan dan diinginkannya. Priyono Nyoto adalah contoh individu yang sadar betul bahwa saat ini kita telah hidup di era masyarakat jaringan. Apa yang dilakukannya adalah bentuk kecerdasannya memanfaatkan jejaring teknologi informasi di era kekinian, tentunya terlepas dari beragam tanggapan yang dituainya kemudian.

Penutup
Pada akhirnya, para audiens-lah yang dapat menilai aksi Priyono Nyoto dengan meng-upload puluhan videoklip-nya sebagai bentuk kreativitas, sampah audio-visual ataukah sebentuk keputusasaan seorang anak manusia. Tegas dan jelasnya, kita semua memahami bahwa baik-buruk berikut bagus-tidaknya segala sesuatu pastilah bersifat “relatif”.              

Ciao.

*****

Referensi:



16 komentar:

GyeRie mengatakan...

Infonya baguss gan...pertamax.... mari berkunjung ke Berita Milik Kita - Cara Mendapatkan Uang dari Facebook

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

thanks bung GyeRie, segera meluncur ke TKP ;)

Iqbal Al Ghifari mengatakan...

wah analisanya bagus, emang youtube jd tren sebagai pintu menuju ke dunia entertainment...
salam kenal...
nice posting...

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

makasih bung iqbal. salam kenal juga.

dee mengatakan...

Analisa yang sangat menarik. Keputusasaan priyono nyoto menjadi seorang bintang yang melahirkan kreatifitas

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

wah, komentar anda lebih menarik lagi bung!: "keputusasaan yang melahirkan kreativitas" ~ like this! ;)

Accel P mengatakan...

Kalau pendapat saya sendiri sih Priyono Nyoto ini "hypernarcisstic" atau "over narsis" yang berlebihan, boleh dibilang anak ini sudah masuk ke tahap kelainan jiwa, dan perlu dibawa ke psikiater secepatnya sebelum dia benar-benar terkena schizophrenia (kegilaan), lama-lama saya malah kasihan kalau suatu saat nanti Priyono Nyoto justeru berjalan bak gembel di trotoar di kota blitar karena dia sudah benar-benar jadi orang gila

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

menurut hemat saya, antara 'gila' dan 'tak gila', tidaklah dapat didefinisikan, hehe

vkarvicious mengatakan...

mimpi yang tinggi tidak disertai dengan kemampuan....

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

tapi, puji tuhan ia masih berani bermimpi demikian, banyak orang di dunia ini yang bermimpi besar saja takut ;)

Amri MF mengatakan...

tapi rata2 kontra sob....

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

klo kita ngikutin maunya masyarakat, apa-apa jadi kontra, adakalanya perlu mendorong diri untuk tampil berbeda dari mereka, yg pasti selalu ada hikmah di setiap kejadian :)

Anonim mengatakan...

ini daftar upload pertama kali di youtube
Jun 18, 2010 shinta dan jojo
Feb 14, 2011 udin sedunia
Apr 3, 2011 britu norman
Mar 10, 2011 priyono nyoto

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

terima kasih banyak untuk infonya :)

Hasta Purnomo mengatakan...

malah sy baru tau ada orang ini(nyoto) tahun 2013 (dikarenakan sy sangat jarang membuka kaskus dan tdk menonton TV, buka internet digunakan untuk melihat situs2 luar negeri yg berbau teknologi n entertainment) btw netralitas akan komentar anda sangat bagus bung,keras tapi mencerahkan :D

Wahyu Nugroho mengatakan...

itulah bung, lebih oke dan lebih cepet informasi yg tersebar via internet.

salam hangat,
wahyu BN :)

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger