"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Selasa, 23 Agustus 2011

Rokok dan Ilmuwan Sosial

Rokok dan Ilmuwan Sosial
Oleh: Wahyu Budi Nugroho

(Ilustrasi: Zygmunt Bauman, Sosiolog Polandia)

“Merokok adalah salah satu kesenangan paling hebat dan paling murah dalam hidup.”
(Sigmund Freud)

Rokok. Siapa tak kenal komoditas yang satu ini? Nyaris tak ada. Kian hari, kita dapat melihat betapa para perokok kian “bergentayangan” dimana-mana. Meskipun beberapa tempat telah menegaskan larangannya untuk menghisap komoditas tersebut, namun tampaknya para perokok tetap istiqomah dengan apa yang dilakukannya: menghisap dan terus menghisap.

Pemandangan miris atasnya pun kerap kita temui, yakni mereka anak-anak di bawah umur yang telah akrab dan piawai menyedot komoditas tersebut, mereka sering kita temui di jalan-jalan kala tengah menunggu angkutan umum, di warung-warung bahkan di lingkungan sekolah pasca pelajaran usai. Tak sampai di situ, bahkan kasus beberapa balita merokok yang ter-ekspos berbagai media nasional pun sempat menggemparkan tanah air. Kian masifnya para penikmat komoditas tersebut agaknya tak luput dari kian gencarnya banyak iklan yang dilancarkan para pemilik perusahaan rokok di setiap ruang publik. Kini, apabila kita amati, nyaris tak ada ruang publik yang bebas dari iklan komoditas tersebut.

Lalu, sebagaimana judul artikel di atas, Rokok dan Ilmuwan Sosial, dimanakah saling keterkaitan antarkeduanya? Faktual, selain para perokok dapat dijadikan sebagai obyek penelitian sosial, komoditas rokok itu sendiri dapat digunakan sebagai sarana untuk mendekati para informan—informan yang merokok tentunya. Sering kali, para peneliti pemula menghadapi kesulitan dalam membuka wawancara awal dengan para informannya, dan apabila diketahui bahwa sang informan adalah perokok, maka komoditas tersebut dapat digunakan sebagai senjata jitu untuk membuka wawancara.

Sebagai ilustrasi, datangilah sebuah warung yang berisi bapak-bapak atau para pemuda yang tengah asyik merokok, bawalah sebungkus rokok dan tawarkan pada mereka untuk mengambilnya. Segera setelah mereka mengambilnya, umumnya merekalah yang akan terlebih dahulu mengorek informasi mengenai kita. Barulah setelah menjawabnya, kita dapat balik mengorek informasi tentang mereka; apa pekerjaan mereka, apa kegiatan kesehariannya, darimana mereka berasal, dll. Tanpa disadari, wawancara pun mulai berlangsung saat itu juga dengan prinsip quid pro quo (aku beri informasi, kau beri informasi). Secara tak langsung, fenomena tersebut menunjukkan betapa rokok telah menjadi “bahasa pergaulan” dalam masyarakat.

Namun demikian, perlu ditegaskan sekali lagi kiranya bahwa metode tersebut hanya berlaku bagi para informan yang juga perokok. Tentunya, metode terkait tak dapat digunakan dalam menghadapi para informan semisal ibu-ibu rumah tangga, orang yang telah renta ataupun anak-anak.

#####

       


4 komentar:

Anonim mengatakan...

Bravo.... rokok memang menjadi bahasa pergaulan dalam kehidupan sosial, bahkan banyak juga ilmuwan yang tidak bisa berfikir secara serius kalo tidak merokok, termasuk banyak penulis yang sulit mendapat inspirasi kalau tidak dibarengi dengan aktivitas hisap menghisap rokok. So.... jangan hilangkan rokok dari tradisi kita!!!

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

wow, subversif sekali komentar anda. saat ini juga saya sedang berusaha keras berhenti merokok.

salam.
hehe.

Anonim mengatakan...

Ada korelasi yang signifikan secara psichologis antara karakter seorang perokok dan tidak merokok, buat saya berurusan atau berneigosiasi dengan seorang perokok jauh lebih fleksibel berbanding orang tidak merokok, hehehe...
Salam Sukses

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

haha, dapet wawasan baru nih dari mas/mbak anonim di atas :)

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger