"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Minggu, 14 Agustus 2011

Tak Ada Kata “Mubazir” bagi Si Rakus

Tak Ada Kata “Mubazir” bagi Si Rakus
Membongkar Cara Kerja Kapitalis

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Sadarkah Anda jika roti yang tak laku di salah satu sudut toko akan terus berada di situ hingga kadaluwarsa meskipun banyak orang kelaparan di luar sana? Alineasi nilai guna! (mengasingkan nilai kegunaan suatu barang) Inilah salah satu cara kerja kapitalis!

“Mubazir” vs Profit
Di samping misal di atas, kasus “over-Produksi” dapat pula dijadikan contoh bagaimana para kapitalis bekerja. Dalam suatu periode, lahan pasti akan memberikan surplus panen (panen yang berlebih), hal ini berdampak pada jatuhnya harga komoditas panen tersebut akibat jumlahnya yang begitu banyak di pasaran. Tak mau rugi, para kapitalis pun bakal menghancurkan komoditas tersebut secara cuma-cuma agar langka di pasaran dan harga naik kembali.

Contoh konkret, ketika di tahun 1930-an terjadi kelebihan panen tomat, para kapitalis pemilik lahan tersebut tak segan-segan menghancurkan berton-ton tomat agar komoditas tersebut langka di pasaran dan dapat dijual dengan harga mahal, tak peduli orang-orang di berbagai penjuru dunia membutuhkan tomat. Begitu pula, para pemilik lahan kopi robusta takkan segan membuang berton-ton kopi robusta ke laut agar keuntungan dapat dikantongi, tak peduli kita—Saya dan Anda—membutuhkan kopi.

Melalui uraian singkat di atas, dapatlah ditilik betapa kapitalis lebih mendewakan keuntungan ketimbang nilai guna suatu barang. Dengan kata lain, barang yang sesungguhnya dapat digunakan atau dimanfaatkan manusia banyak, harus terbuang sia-sia karena “keuntungan” didahulukan.

*****

Referensi:
Smith, David & Evans, Phil. 2004. Das Kapital untuk Pemula. Yogyakarta: Resist Book.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger