"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Minggu, 14 Agustus 2011

Tradisi Intelektual yang Angkuh

Tradisi Intelektual yang Angkuh

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


“Aku telah membaca buku itu, tapi tetap saja tak memahaminya!”, demikianlah sekiranya komentar yang kerap kita dengar pasca seseorang membaca buku filsafat atau sosial-humaniora. Kita harus belajar memakluminya, mengapa? Baca uraian singkat di bawah ini.

“Jika bisa dibuat sulit, mengapa tidak?”
Dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora, filsafat terutama, berkembang sebuah adagium yang berbunyi, “Jika bisa dibuat sulit, mengapa tidak?”. Ya, itu adalah kata kunci pertama untuk memahami berbagai pemikiran yang tertuang dalam berbagai disiplin di atas.

Entah mengapa, tapi sepertinya para intelektual dunia telah menyepakati gaya bahasa yang rumit dan berputar-putar setiap kali menuliskan karyanya. Kerap ditemui, pemikiran seorang tokoh yang sesungguhnya dapat diringkas dalam satu paragraf, kemudian menggelembung menjadi tiga hingga lima halaman, bahkan sebuah buku!. Di situlah adagium di atas bekerja.

(Anthony Giddens)
Ada satu kisah “lucu” yang patut kita ketahui. Salah seorang sosiolog kenamaan Inggris, Anthony Giddens, justru dicemooh oleh teman-temannya ketika hasil karyanya mudah dibaca dan dipahami. Barulah kemudian ketika ia kembali menggunakan bahasa yang sulit dan alur penjelasan yang berputar-putar, berbagai pujian kembali deras dituainya.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Tak ada yang mengetahuinya dengan pasti. Namun, hal tersebut disinyalir kuat berkaitan dengan muatan “kepentingan” dalam ilmu pengetahuan. Sebagai misal, sebuah karya yang jelas maksudnya, akan cenderung diterima secara “sama” oleh berbagai pihak (penafsiran tunggal). Namun, berbeda halnya dengan sebuah karya yang sulit dibaca dan berputar-putar, berbagai pihak akan menerimanya secara beragam pula (ambigu), di sinilah besar kemungkinan terjadinya suatu karya ilmiah (pekerjaan ilmiah) menjadi legitimasi atas suatu kepentingan.

Sebagai misal, Nazi dapat membenarkan tindakannya karena berpijak pada filsafat Nietzsche: bahwa kebenaran sejati adalah “kehendak akan kuasa”. Seorang pemerkosa dapat membenarkan tindakannya jika bersandar pada konsep psikologi Freud: bahwa setiap manusia dikuasai oleh hasrat libido-nya. Atau, seseorang dapat membenarkan tindakan bunuh dirinya karena membaca filsafat absurditas Albert Camus, demikian seterusnya.

Sejarah Tradisi Intelektual yang Angkuh
Tradisi penulisan intelektual yang angkuh dimulai pada era Hegel, Fichte dan Schelling, mereka semua adalah filsuf besar Jerman pada abad 18-19. Pada era itu, pendidikan tinggi berikut intelektualitas sekedar dimiliki kaum berpunya (bangsawan). Didasari oleh motivasi agar intelektualitas (pengetahuan) sekedar dimiliki kalangan atas, maka sengaja dibuatlah berbagai karya dengan bahasa-bahasa ilmiah yang sulit dimengerti agar kalangan bawah atau menengah tak memahaminya. Fenomena tersebut menjadi bukti nyata betapa ilmu pengetahuan telah disusupi muatan kepentingan: mereka yang bodoh biarlah tetap bodoh.

(G.W.F. Hegel)
Sayangnya, tradisi di atas berlanjut di era-era setelahnya bahkan hingga kini. Karl Marx, generasi filsuf pasca-Hegel yang pro terhadap kaum tertindas, terpengaruh pula oleh tradisi intelektual yang angkuh. Lucunya, ia berupaya membela kaum buruh dengan menulis dua buah buku pegangan, Manifesto Komunis dan Das Kapital, namun tak satupun buruh (kaum yang dibelanya) mengerti apa yang dikatakan dan dimaksudkannya dalam dua buah buku itu. Barulah mereka mengerti maksudnya ketika Marx dan sahabatnya, Engels, membuat slogan-slogan ringan seperti; “sama rasa-sama rata”, “buruh sedunia bersatulah, kau takkan kehilangan apapun kecuali rantai yang membelenggumu”.

Di era sekarang, di mana pendidikan dan intelektualitas telah dapat diakses oleh semua kalangan, tradisi intelektual yang angkuh adalah satu-satunya hal yang patut disesalkan karena masih “terjaga” (bertahan) hingga kini. Dengan demikian, kita tak sepatutnya terlampau berkecil hati apabila sulit memahami karya seorang tokoh intelektual, bukan otak kita yang bermasalah, melainkan mereka…

*****

Referensi:
  • Hegel, G.W.F. 2002. Filsafat Sejarah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Ritzer, George & Goodman, Douglas J. 2006. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.       

6 komentar:

ZANU RAHAB AZ-ZAIN mengatakan...

dalam bgt bro... thx ats inspirasinya. salam knl. gw jg br mulai bikin blog khusus filsafat di www.gilafilsafat.blogspot.com thx..

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

thanks bung zanu, keep on writing. jangan biarkan filsafat meninggalkan kita ;)

ZANU RAHAB AZ-ZAIN mengatakan...

ok thx.. kbetulan sy alumni Filsafat UGM.. lulus thn 2001-2004. tp syg S2 sy g lnjut filsafat, tapi S2 di Politik UGM juga. thx salam kenal..

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

wah, jangan2 bung ini kakaknya si mata sayu, ayuk perwita. saya pernah dikabari klo kakaknya s1 filsafat, tp s2 IP ... benarkah?

ZANU RAHAB AZ-ZAIN mengatakan...

heheheee.... kykx bukan...!!

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

oh ya sudah bung, hehe

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger