"To revolt today, means to revolt against war..." [Albert Camus]

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Kamis, 01 September 2011

Asal-mula Kata "Djancuk"

Asal-mula Kata “Djancuk”
Sebentuk Kajian Singkat Antropologi Bahasa

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Saya yakin sebagian dari Anda pasti pernah mendengar kata “djancuk”, terlebih bagi Anda yang memiliki teman dari Jawa Timur, pasti kerap bahkan tak asing lagi mendengar kata itu. Umumnya, kata djancuk dianggap sebagai kata “makian” yang sarkas atau kasar, bahkan sebagian menilainya tabu (baca: kotor). Namun faktual, penelusuran antropologi bahasa membuktikan bahwa sesungguhnya kata tersebut tidaklah bermakna atau bermaksud demikian. Malahan, pada mulanya kata tersebut memiliki makna yang sangat baik dan sama sekali jauh dari tabu. Lebih lanjut, simak uraian berikut ini.

| | |

Alkisah, dahulu kala, di sebuah perkampungan santri Jawa Timur, suatu malam terdapat beberapa santri yang sedang “nongkrong” di sebuah cakruk[1], tiba-tiba mereka melihat salah seorang temannya yang juga santri tengah berjalan dengan seorang wanita (santriwati), melihat sang teman berjalan mesra di gelapnya malam dengan seorang wanita yang bukan muhrim, secara spontan para santri yang tengah nongkrong tersebut pun berkali-kali mengatakan, “Ojo ngecuk! Ojo ngecuk!” (“Jangan main perempuan! Jangan main perempuan!”). Kalimat ojo ngecuk yang kemudian menjadi sering dilontarkan tiap kali ditemui santriwan dan santriwati tengah berduaan (bahkan tak harus santriwan dan santriwati), lambat-laun, melalui proses penyederhanaan bahasa terdengar singkat menjadi djocuk, kemudian melalui proses penyesuaian lidah (kemudahan pengucapan) berubah menjadi djancuk sebagaimana kerap kita dengar saat ini.

Melalui uraian singkat di atas, dapatlah ditilik bahwa pada mulanya kata djancuk adalah istilah yang syarat bernuansa “dakwah”, yakni teguran pada sesama muslim agar tak melakukan hal-hal yang mengarah pada perzinahan. Rentang waktu yang sangat lama berikut proses kebahasaan yang terjadi sedemikian rupalah yang kiranya menyebabkan terjadinya perubahan makna pada kata tersebut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, fenomena perubahan makna kata sedari positif (baik) menjadi negatif (buruk) disebut dengan “peyoratif” sedang sebaliknya, “amelioratif”.

*****

Referensi:
  • Diskusi santai dengan Sdr. Romario Utomo, mantan ketua HMI Fisipol-UGM, saat ini tengah sibuk merampungkan skripsi.    






[1] Semacam pos ronda. 

1 komentar:

pujosaktinurcahyo mengatakan...

hmmm... sebuah pemikiran yg menarik sebagai sebuah alternatif teori asal mula kata "jancuk". versi lainnya pernah ditulis oleh seorang peneliti dari Universitas Airlangga, dimana intinya kata tersebut merupakan gabungan dua kata: "jaran" dan "ngencuk". hal ini sangat menarik dan logis sekali, mengingat di beberapa daerah di jawa timur, khususnya di bagian barat, kata "jancuk" yang seringkali dilafalkan menjadi "dancuk" sering kali diiikuti/dihubungkan dengan kata "jaran". dancuk njaran.

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger