"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Rabu, 07 September 2011

Mitos “Pulong Gantung” Masyarakat Gunung Kidul

Mitos “Pulong Gantung” Masyarakat Gunung Kidul
Sebuah Tinjauan Sosiologis

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Pernahkah Anda mendengar tentang mitos “Pulong Gantung”? Ya, itu adalah sebuah mitos yang berasal dari masyarakat Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Hingga kini, keberadaan mitos tersebut masih terpelihara dengan baik, meskipun mulai banyak dari masyarakat setempat yang tak lagi mempercayainya dengan alasan “rasional”. Terlepas dari itu, terdapat salah seorang mahasiswi Sosiologi-Universitas Gadjah Mada, Fransiska Romana Catur Utami yang merasa tergelitik untuk mengangkat mitos Pulong Gantung tersebut dalam sebentuk tugas akhir (baca: skripsi) guna memperoleh gelar sarjana.  

Apakah yang Dimaksud dengan Pulong Gantung?
Dalam sebuah kesempatan, Fransiska pernah menuturkan hasil penelitiannya mengenai mitos di atas pada penulis. Ia mengatakan bahwa mitos Pulong Gantung telah diwarisi secara turun-temurun sejak berabad-abad lalu. Meskipun tak jelas sejak kapan mitos tersebut mulai muncul, namun ia mengatakan bahwa salah seorang responden tertuanya adalah pria berusia 68 tahun, dan cerita mengenai mitos tersebut diperolehnya dari kakek-nenek.

Pulong Gantung sendiri berwujud bola api berekor—sebagian orang menganggapnya komet—yang kerap melayang di udara, kemudian jatuh di salah satu atap rumah penduduk. Masyarakat setempat meyakini bahwa apabila pertanda yang dibawanya baik, maka bola api itu akan berwarna putih atau biru. Pertanda baik itu semisal salah seorang penduduk akan memenangi perebutan kursi lurah atau camat, bisa juga bakal memenangi lotre atau undian yang diikutinya. Namun, apabila bola api tersebut berwarna merah, maka kesialan atau tragedilah yang akan dituai sang pemilik rumah, tragedi itu umumnya berupa salah satu anggota keluarga yang akan melakukan tindakan bunuh diri. Dan entah mengapa, hingga kini, Pulong Gantung lebih kerap diasosiasikan sebagai pertanda akan adanya warga yang bunuh diri, “Jika Pulong Gantung tampak, maka akan ada warga yang bunuh diri”, demikian tegasnya. Sebagaimana diutarakan Fransiska melalui informasi yang diperolehnya, Pulong Gantung untuk terakhir kalinya tampak pada tahun 1999.   


Tinjauan Sosiologis Pulong Gantung
Dalam perspektif sosiologis, tindakan bunuh diri yang dilakukan individu sekedar disebabkan oleh dua hal, yakni ikatan sosial yang terlampau kuat, ataukah ikatan sosial yang terlampau lemah. Bunuh diri akibat ikatan sosial yang terlampau kuat semisal salah satu tradisi kuno di India yang mensyaratkan istri ikut mati bersama suaminya, atau keharusan prajurit Jepang untuk melakukan “harakiri” guna menyelamatkan harga diri. Sedang, bunuh diri terakhir—akibat ikatan sosial yang terlampau lemah—umumnya ditemui pada berbagai masyarakat negara maju di mana corak kehidupannya begitu individualis sehingga setiap individu di dalamnya harus menanggung seluruh beban hidupnya sendiri tanpa ada tempat untuk berbagi.

Menilik fenomena Pulong Gantung di atas, faktual mitos tersebut merupakan salah satu bentuk “kearifan lokal”[1] masyarakat yang secara tak langsung mengajak pada setiap warganya untuk tetap menjaga budaya silaturahmi dan gotong-royong sehingga tak ditemui lagi individu-individu yang putus asa dan melakukan bunuh diri akibat harus menanggung segala penderitaan hidupnya sendiri. Dengan demikian, meskipun rasionalitas kehidupan modern telah membuat mitos Pulong Gantung tak lagi diyakini banyak orang, sudut pandang sosiologis tetap menegaskan betapa ia (mitos Pulong Gantung) masih menemui relevansinya di era sekarang, era di mana kesulitan hidup kian dirasakan individu/masyarakat kita dari hari ke hari.

*****

Sumber:
  • Diskusi ringan dengan Fransiska Romana Catur Utami (29 Januari 2010), saat ini merupakan dosen Sosiologi ATMI-Cikarang.
  • Samuel, Hanneman. 2010. Emile Durkheim: Riwayat, Pemikiran dan Warisan Bapak Sosiologi Modern. Jakarta: Kepik Ungu.


    



[1] Secara sederhana, “pengetahuan yang dikonstruksi (dibuat) oleh masyarakat setempat”, biasanya penuh simbol dan berbagai makna halus yang tersirat.

2 komentar:

Ivan Sujatmoko mengatakan...

saya orang gunung kidul, tapi saya tidak percaya dengan mitos tsb mas...

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

baguslah mas. kegaibannya memang tak perlu dipercayai lagi, tapi muatan kearifan lokal yang tersibak di baliknya lah yang tetap perlu menjadi perhatian ;)

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger