"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Jumat, 30 September 2011

Mulailah untuk “Berinvestasi Sosial”

Bagi Anda yang Berkecukupan, Mulailah untuk “Berinvestasi Sosial”


Oleh: Wahyu Budi Nugroho[1]


Kemuraman ada dimana-dimana, di jalanan ketika kita tengah berpapasan dengan pejalan kaki lain, di kampus ketika kita melihat para mahasiswa berjalan lemas, ataupun di pasar-pasar ketika banyak bakul tertegun sepi sembari menunggu pembeli. Apa gerangan yang ada dalam pikiran mereka? Bisa jadi, pejalan kaki yang kita jumpai di jalanan merasa jenuh dengan rutinitas yang dilakoninya, bertahun-tahun ia bekerja, namun tak menghasilkan sesuatu pun yang signifikan bagi kehidupannya, terpikirkan lah beratnya menanggung masa depan keluarga: istri yang harus dinafkahi, anak yang syarat terus di sekolahkan, dll. Mahasiswa, apa yang ada dalam benak kita kala melihat mahasiswa berjalan lemas di gedung-gedung fakultas? Dikarenakan uang bulanan yang belum diterimakah? Was-was tak dapat melanjutkan studi semester depan karena tak ada biayakah? Atau, skripsi yang tak kunjung jua rampung? Bisa jadi semuanya. Sedang, apa yang terpikirkan di kepala kita saat melihat para pedagang di pasar tampak begitu tak bergairah menjalani hidupnya? Agaknya, mereka muak karena mengetahui sebentar lagi plecit (lintah darat) bakal menghampiri untuk mengambil rupiah demi rupiah yang dimilikinya sebagaimana hari-hari sebelumnya, mereka membayar untuk yang tak pernah terlunasi: hutang-piutang.

Dampak dari serangkaian perihal di atas jelas, “senyum” semakin jarang kita temui, bahkan senyum simpul yang tak membutuhkan banyak waktu dan energi. Setiap manusia seolah tergabung dalam satu barisan mengutuki nasibnya, dan apa lagi yang tersisa apabila negara “tak hadir” untuk mengatasi segala persoalan tersebut, kepada siapakah semua tanggung jawab tersebut harus dilimpahkan? Terlepas dari persoalan hadir-tidaknya negara kala rakyat membutuhkan, kita sebagai makhluk sosial dan beragama pastinya memiliki tanggung jawab moral untuk membantu sesama kita yang tengah dirundung kesusahan, telah banyak ajaran-ajaran agama yang mewajibkan perihal tersebut, kini tinggal menunggu waktu saja untuk direalisasikan. Bagi Anda para “bos” atau pemilik perusahaan, tak ada salahnya jika sekali-kali memberikan bonus kepada anak buah mengingat sistem ketanagakerjaan dewasa ini yang juga telah merugikan mereka (outsourcing, ketiadaan jaminan hari tua dan sebagainya). Bagi Anda yang memiliki kelebihan harta, cobalah sekali-kali menengok tetangga atau saudara kita yang anaknya masih bersekolah, tanyakan, apakah dalam waktu dekat ini menemui kesulitan dalam membiayai pendidikan anak-anaknya, tak ada salahnya untuk membantu sedikit demi sedikit. Hal serupa dapat pula diterapkan pada tetangga atau saudara kita yang semisal berprofesi sebagai pedagang dan tengah terjebak hutang-piutang, bantulah mereka dalam beberapa periode penagihan, tentunya hal itu akan sangat meringankan mereka. Begitu pula, Anda mahasiswa/i yang memiliki keunggulan akademis di kampus, memiliki tanggung jawab moral pula atas keilmuan yang dimiliki, setidaknya berbaik hatilah untuk membantu rekan-rekan yang tengah mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas skripsi guna memperoleh gelar sarjana, tentunya tetap membantu dalam koridor yang diperbolehkan.


Di samping kesemua hal di atas merupakan sebuah kewajiban moral dan agamis, faktual membantu sesama kita yang tengah kesulitan dapat pula dikatakan sebagai bentuk “investasi sosial”. Berbeda halnya dengan investasi ekonomi di mana balas jasa atau kontraprestasi dirasakan secara langsung atau dalam waktu singkat, investasi sosial tak mengenal rentang waktu (lama atau sebentar) dan umumnya bersifat tiba-tiba atau “tak terduga”. Ia dapat dirasakan dalam jangka bulanan, tahunan atau bahkan puluhan tahun kemudian. Tegas dan jelasnya, tak ada satupun yang dapat mengetahui kapan buah dari investasi sosial dapat dituai.

Sebagaimana kita yakini bersama bahwa roda kehidupan ini ajeg berputar. Bisa jadi, Anda yang saat ini berada di atas, besok berada di bawah, dan begitu pula sebaliknya: mereka yang saat ini di bawah, besok berada di atas. Di sinilah esensi dari investasi sosial, seseorang takkan mungkin dengan mudah melupakan kebaikan yang pernah Anda berikan, ia pasti bakal membalas hutang budinya suatu hari nanti kala kondisinya telah jauh lebih baik. Mengapa demikian? Nyatanya, hal tersebut merupakan sifat bawaan manusia, sebagaimana kita alami bersama, ketika seseorang berbuat baik pada kita, maka kita pun cenderung berbuat baik padanya, dan begitu pula sebaliknya. Terkait hal tersebut, besar kemungkinan pihak-pihak yang pernah Anda bantu di masa lalu balik membantu Anda di masa depan, khususnya ketika Anda balik berada dalam kondisi yang tak pernah diharapkan (serba susah dan kekurangan). Bisa jadi, anak tetangga atau saudara yang dahulu sempat Anda bantu pendidikannya, kini menjadi orang berhasil dan balik membantu anak Anda yang tengah kesulitan mencari kerja. Tak sedikit pula para bawahan yang kemudian melampaui kesuksesan atasannya, demikian pula, banyak dari pedagang atau pengusaha kecil yang berhasil di kemudian hari.


Namun demikian, perlu diingat bahwa investasi sosial syarat dilandasi motif moral dan ketuhanan. Hal ini penting guna menjaga niat baik dan keikhlasan kita dalam membantu sesama sehingga kekecewaan takkan dituai nantinya. Dalam hal ini, investasi sosial bekerja dengan cara menghilangkan kuasi (kepura-puraan) diri untuk tak mengharapkan sesuatu imbalan, kita sepenuhnya dituntut untuk ikhlas dan tak setengah-setengah dalam membantu. Dengan kata lain, ada-tidaknya imbalan sekedar ditempatkan sebagai side effect ‘efek samping’ dari apa yang telah kita perbuat selama ini. Dan, mengapa ini perlu? Karena tak ada satu pun pihak yang dirugikan. Perlu diingat, kita membantu karena memang tengah dalam kapasitas dapat membantu (serba kecukupan, kelebihan, dsb.) sehingga tak menjadi persoalan apabila dampaknya tak dirasakan seketika itu juga, dan andaikan tetap tak dirasakan juga hingga nanti, itu pun tak menjadi soal mengingat kita melakukannya dengan ikhlas, berlandaskan pada motif moral dan ketuhanan, setidaknya pahala telah kita kantongi. Oleh karena itu, bagi Anda yang saat ini tengah berada dalam kondisi berkecukupan dan serba lebih, mulailah untuk berinvestasi sosial sekarang juga.   

*****





[1] Sosiolog.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger