"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 24 September 2011

Sketsa Pemikiran Jean P. Baudrillard

Sketsa Pemikiran Jean P. Baudrillard

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


“Aku tak membutuhkan iklan itu! Bagaimanapun juga, aku tak memiliki daya tuk membelinya!”
- Pierre, L'Neant

Jean Paul Baudrillard (1929-2007) adalah seorang filsuf asal Perancis yang memiliki perhatian khusus terhadap fenomena konsumerisme masyarakat modern dan keterkaitannya dengan perkembangan media massa kontemporer. Ia kerap diklasifikasikan dalam jajaran pemikir posmodern meskipun pentasbihan tersebut selalu ditolaknya. Setidaknya, terdapat beberapa pemikiran Baudrillard yang terkenal dan mewarnai wacana keilmuan sosial-humaniora, antara lain; konsumsi simbol, simulacrum, hiperrealitas, distingsi, sampah visual dan drugstore. Lebih jauh, tulisan ini berupaya mengupas berbagai pemikiran Baudrillard tersebut secara ringkas dan mudah dimengerti.  

Konsumsi Simbol
Menurut Baudrillard, pola konsumsi masyarakat modern ditandai dengan bergesernya orientasi konsumsi yang semula ditujukan bagi “kebutuhan hidup”, menjadi “gaya hidup”. Baginya, hal tersebut tak lepas dari munculnya kelas menengah pasca-Perang Dunia II secara masif akibat diterapkannya konsep ekonomi keynesian. Mengamini pernyataan T. Veblen, kelas menengah merupakan “kelas penikmat” yang dapat mengkonsumsi produk-produk kapitalis di pasaran. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari ekonomi keynesian di mana pelonggaran anggaran pemerintah pada sektor publik menyebabkan masyarakat dapat menabung dan membeli berbagai produk konsumtif yang ditawarkan.

Namun demikian, patut disayangkan, lambat-laun pola konsumsi masyarakat pun mengalami perubahan, konsumsi yang mereka lakukan tak lagi berorientasi pada kebutuhan hidup melainkan gaya hidup sebagaimana telah dipaparkan di atas. Sebagai misal, kini seseorang akan lebih memilih produk “bermerek” ketimbang produk sejenis lain yang berdaya guna sama dan berharga lebih murah. Bagi Baudrillard, hal terkait menunjukkan betapa dewasa ini masyarakat lebih terpaku pada konsumsi simbol ketimbang kegunaan.

Drugstore
Drugstore atau “toko obat” merupakan istilah yang digunakan Baudrillard guna menunjuk pada minimarket yang menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari dan umumnya beroperasi 24 jam penuh/hari. Sebagaimana filosofi toko obat di mana beragam obat penyakit ringan hingga berat terdapat di dalamnya,[1] minimarket-drugstore sebagaimana dimaksudkan Baudrillard berupaya menghindari “spesialisasi barang dagangan”. Meskipun dengan tempat yang terbatas, ia berupaya memanfaatkan setiap celah ruang yang ada sehingga beragam barang dagangan dapat terpampang di dalamnya. Ditilik secara positif, hal tersebut memang memudahkan para konsumen untuk berbelanja secara efisien, mereka tak perlu berpindah dari satu toko ke toko lainnya untuk membeli komoditas yang dibutuhkan. Namun demikian, ditilik secara negatif, keberadaan mini market-drugstore jelas “menggenjot” konsumerisme masyarakat, terlebih dengan kehadirannya 24 jam/hari di sekitar kita.

Simulacrum
Simulacrum atau “simulakra” merupakan sebentuk instrumen yang mampu merubah hal-hal yang bersifat abstrak menjadi konkret dan begitu pula sebaliknya: konkret menjadi abstrak. Beberapa instrumen yang dapat terklasifikasikan di dalamnya antara lain; televisi, video games, komputer/internet, surat kabar dan majalah bahkan lukisan. Contoh simulakra dalam merubah perihal konkret pada abstrak semisal film. Sebagaimana kita ketahui, manusia yang senyatanya berwujud materiil (konkret) dapat “dimampatkan” sedemikian rupa ke dalam layar televisi dan berubah menjadi maya (abstrak). Sedang, contoh perubahan sedari abstrak pada konkret dalam simulakra semisal film kartun SpongeBob SquarePants. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tak mungkin menemui sepotong spon yang dapat berbicara, begitu pula bintang laut atau bahkan kepiting yang dapat berbisnis hamburger, kesemuanya merupakan perihal khayal yang bersifat abstrak (baca: imajinasi), namun dalam layar kaca semua hal tersebut dapat diwujudkan (menjadi konkret). Demikianlah cara simulakra bekerja.

Hiperrealitas
Terminus di atas menunjuk pada segala sesuatu yang bersifat “melampui kenyataan”. Menurut Baudrillard, hiperrealitas merupakan ciri paling kentara yang dibawa simulakra. Sebagai misal, sebuah iklan parfum yang apabila seorang lelaki memakainya maka perempuan seisi kota bakal mengikutinya. Begitu pula dengan iklan minuman ringan yang dapat membuat seseorang melayang, atau iklan multivitamin yang dapat membuat anak cerdas seketika. Tak pelak, seluruh perihal tersebut sekedar menemui bentuknya sebagai hiperrealitas semata, yakni perihal yang tak nyata atau tak mungkin dalam kehidupan sehari-hari. Secara kasar, dapatlah dikatakan bahwa hiperrealitas merupakan “kebohongan” yang dibawa oleh simulakra.

Sampah Visual
Menurut Baudrillard, sampah visual merupakan kebiasaan akut para kapitalis yang gencar memasarkan produk-produknya melalui berbagai spanduk berikut banner di pinggiran jalan yang justru “mendistorsi” alam pikiran mereka yang melihatnya. Sebagai misal, suatu hari saya berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, tiba-tiba saya terpesona dengan sebuah iklan kamera digital yang terpampang pada salah satu banner. Saya ingin memilikinya, namun saya tak memiliki cukup uang untuk membelinya, seketika timbul perasaan tertekan dalam diri—betapa miskinnya saya—alam pikiran saya terdistorsi (baca: tertindas) sedemikian rupa, rusaklah hari saya yang indah seketika itu juga.   

Distingsi
Distingsi merupakan “jarak sosial” yang diakibatkan oleh pilihan selera. Sebagai misal, konstruksi suatu kelompok atas musik dangdut sebagai low culture ‘budaya rendah’ secara langsung bakal berimplikasi pada penilaian kelompok tersebut terhadap mereka yang menggemari musik dangdut sebagai “kampungan” atau “orang desa”. Demikian pula pada musik jazz semisal, mereka yang mengkonstruksinya sebagai high culture ‘budaya tinggi’, berimplikasi pula pada penilaiannya bahwa para penggemar musik jazz merupakan orang-orang yang berkelas. Melalui kedua contoh di atas, dapatlah ditilik betapa konstruksi yang timbul akibat pilihan selera melahirkan perihal yang diistilahkan Baudrillard sebagai “distingsi”.

Tesis Berakhirnya Kehidupan Sosial
Melalui kajiannya mengenai simulakra, Baudrillad mencetuskan pula tesis tentang “berakhirnya kehidupan sosial”. Menurutnya, mereka yang terjebak dalam simulakra dapat dipastikan telah berakhir kehidupan sosialnya. Sebagai misal, seorang anak yang lebih memilih bermain video games di rumah ketimbang bermain di luar bersama teman-temannya, para ibu rumah tangga yang lebih memilih menonton sinetron ketimbang melakukan aktivitas sosial di luar, begitu pula para pecandu internet atau bacaan (komik) yang lebih memilih menghabiskan banyak waktunya guna melakoni kegemarannya tersebut ketimbang berinteraksi dengan sesamanya. Dalam perspektif Baudrillard, kesemua dari mereka dapat dikatakan telah terjebak dalam simulakra dan berakhir kehidupan sosialnya. Sebagaimana telah dipaparkan di atas, televisi, video games, internet, bacaan bahkan lukisan dapat terklasifikasi dalam simulakra.

*****
Referensi:
  • Baudrillard, Jean P. 2009. Masyarakat Konsumsi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
  • Jones, Pip. 2009. Pengantar Teori-teori Sosial. Jakarta: YOI.



      



[1] Tersedianya beragam obat penyakit ringan seperti panu, kadas, kutu air, dsj. yang kerap diidentikan sebagai penyakit golongan kelas bawah hingga obat penyakit jantung atau kolesterol yang diidentikan dengan penyakit golongan atas.  

6 komentar:

eMingko mengatakan...

dulu yg dpntgkn hnya kbtugan dsar, skrg kbtuhan skunder mulai diprhtungkan.
jgn lupa mampir ke eMingko Blog

ASAZ mengatakan...

bisa saja konsumtif bila di dukung dengan kemapuan dan fasilitas seperti yang ada di kota-kota besar kalau di pedesaan orang buat kebutuha hidup aja susah makanya sekarang banyak orang melakukan urbanisasi memenuhi kota-kota besar ditunggu coment bactnya di link artikenya ini

Anonim mengatakan...

Terima kasih pak, penjelasan bapak mengenai Baudrillard terangkum secara apik, ringkas, dan yang paling penting mudah dimengerti

Mimit Kimbum mengatakan...

pak kok gak bisa di copas ya

Wahyu Nugroho mengatakan...

ya emang, biar nggak gampang dicopas buat bikin paper mahasiswa. enak aje!
salam hangat,
wahyu bn

zakiah fitri mengatakan...

Bagus pak saya suka penjelasannya. Ada lagi tulisan tentang Baudrillard?

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger