"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Senin, 24 Oktober 2011

“Ketika Anda Memilih, Anda Memilih untuk Seluruh Umat Manusia!”

“Ketika Anda Memilih,
Anda Memilih untuk Seluruh Umat Manusia!”

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Kalimat di atas merupakan salah satu pernyataan terkenal yang terlontar dari mulut seorang filsuf eksistensialis kenamaan Perancis, Jean Paul Sartre. Terpikirkankah oleh anda bagaimana pernyataan di atas menjadi mungkin? Jawabnya mudah saja, simak uraian di bawah ini.

Pilihan Hitler Selepas Gagal dalam Kudeta Pertamanya
Faktual, sebelum Adolf Hitler menduduki tampuk kekuasaan tertinggi Jerman pada tahun 1933 dan menyandang gelar Fuhrer ‘Bapak Bangsa’, ia sempat mencoba melakukan kudeta, namun kudeta pertamanya harus berakhir dengan kegagalan. Seketika, pasukan pemerintah—pasukan Presiden Paul von Hidenberg—mengepung rumah tempatnya bersembunyi. Kala itu, sempat terlintas dalam benak Hitler untuk melakukan bunuh diri, bahkan moncong pistol genggam telah diarahkannya tepat ke pelipis, namun sesaat kemudian istri salah seorang kolega Hitler memohon padanya agar tak melakukan tindakan konyol tersebut, wanita itu memohon sembari bersimpuh dan menitihkan air mata. Melihatnya, Hitler pun luluh dan mengurungkan niatnya. Ia pun memilih untuk melanjutkan hidupnya.


Dapatlah ditilik, apa dampak yang muncul kemudian akibat pilihan Hitler untuk melanjutkan hidupnya? Perang Dunia II terjadi, tragedi holocaust berlangsung, tegas dan jelasnya, tak kurang dari 50 juta jiwa meregang nyawa akibat kebijakan perang dan genosida yang dicetuskan Hitler. Sekonyong-konyong, rentetan peristiwa tersebut pun menjadi monumen kejahatan kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah perjalanan umat manusia. Tak pelak, hal tersebut membuktikan betapa pilihan yang dibuat individu berdampak pada seluruh umat manusia.  

Dibalik “Tragedi Soekarno”
Dalam karya Bob Hering, Soekarno: Bapak Indonesia Merdeka, terdapat satu subbab yang secara khusus membahas perihal “tragedi Soekarno”. Di situ, Hering menjelaskan bahwa selama menjalani masa tahanannya yang panjang di Penjara Soekamiskin, terdapat satu periode di mana Soekarno sempat terpikir untuk “undur diri” dari perjuangan politiknya meraih kemerdekaan bangsa Indonesia. Bahkan, Soekarno sempat mengutarakan niatnya tersebut dengan menulis surat pada gubernur jenderal Belanda yang berkuasa kala itu. Di dalam suratnya, Soekarno mengemukakan permohonan maafnya atas segala pergerakan yang telah dilakukannya, ia juga merendah dengan mengatakan bahwa dirinya sekedar manusia biasa yang juga bisa rindu dengan istri dan keluarganya di rumah. Momen-momen tersebutlah yang diistilahkan Hering sebagai “tragedi Soekarno”.


Dapatlah ditilik pula, apa jadinya jika Soekarno Muda benar-benar memilih untuk hengkang dari dunia politik tanah air dalam upayanya meraih kemerdekaan nasional, bisa jadi bangsa Indonesia tak merdeka di tahun 1945, bahkan proses untuk mencapainya dapat berlangsung jauh lebih lama, semisal Afrika Selatan yang baru memperoleh kemerdekaannya di awal dekade 1990-an. Sekali lagi, hal ini membuktikan betapa pilihan yang dibuat individu berdampak pada seluruh umat manusia.

Oleh karenanya, berpikirlah besar mulai sekarang!


*****


Referensi:
      §  Sartre, Jean Paul. 2002. Eksistensialisme dan Humanisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.       
      §  Hering, Bob. 2003. Soekarno: Bapak Indonesia Merdeka. Jakarta: Hasta Mitra.
      §  Movie, Hitler: The Rise of Evil (2003), Christian Duguay.


2 komentar:

Punya.Tia mengatakan...

tulisan yang mendidik... ditunggu tokoh lainnya ya...

salam,

Stylish Generation

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

terima kasih mbak tia, salam juga.

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger