"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Senin, 10 Oktober 2011

Pergeseran Makna Celana Jeans

Pergeseran Makna Celana Jeans

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Pada mulanya, celana jeans dikenakan kaum hippies sebagai identitas perlawanan mereka terhadap kapitalisme. Kaum hippies sebagaimana kita ketahui, menolak ideologi “kemapanan”[1] dan terutama ketidakadilan sosial yang diciptakan sistem kapitalisme: si kaya kian kaya, dan sebaliknya dengan si miskin. Namun demikian, secara spesifik, komunitas hippies muncul sebagai respon atas kehidupan modern—kapitalisasi kehidupan—yang “mendegradasi” nilai-nilai kemanusiaan. Konsep homo economicus misalnya. Umumnya, mereka hidup secara bebas dalam komunitas-komunitas kecil, tak ada aturan atau hukum yang membelenggunya, agama mereka adalah love and peace ‘cinta dan perdamaian’, sedang ritual spiritualitas mereka adalah ganja. Mereka menganggap, ketidaksadaran merupakan bentuk kedekatannya terhadap Sang Pencipta.  

(Kaum Hippies)
Faktual, filosofi awal dari jeans menurut mereka adalah “celana seumur hidup”. Jeans dengan teksturnya yang kuat diharapkan mampu bertahan selama mungkin sehingga mereka tak perlu berulang kali membeli pakaian. Secara ekplisit, hal tersebut menyiratkan pula penolakan mereka atas konsumerisme. Bahkan bagi mereka, celana tersebut tetap layak pakai meskipun banyak bagiannya yang telah robek (compang-camping)—sejauh pola dari celana itu masih tampak. Namun sayang, pasca gerakan masif kaum hippies pada dekade 1960-an, industri (kapitalis) melihat potensi pasar yang besar bagi celana jeans. Sejak saat itu, jeans mulai masuk dunia industri, ia diproduksi dan diperdagangkan secara masif dengan beragam merek-mereknya. Secara tak langsung, momen tersebut menandai pula mulai terkooptasinya celana jeans oleh kapitalisme, dan tak pelak, celana jeans pun mulai kehilangan makna aslinya semenjak itu.


Di tangan industri, jeans menjadi sebuah gaya hidup, bahkan kemudian ia mengandung pula muatan jarak sosial, ilusi usia terutama—jeans merupakan identitas mereka yang berjiwa muda. Tak hanya sampai di situ, industri pun menggenjot konsumerisme anak muda, memaksa mereka membeli setiap produk terbarunya melalui iklan-iklan yang diterbakan secara masif di berbagai stasiun televisi maupun banner-banner pinggiran jalan. Menilik fenomena tersebut, jelaslah filosofi jeans tak lagi bermuatan celana seumur hidup, melainkan “celana seumur jagung”.

Kini, sejumlah uang selalu siap kita gelontorkan tiap kali melihat celana jeans apik terpampang di etalase-etalase toko. Sadarlah, mentalitas kita tengah diuji!     


*****




[1] Kemapanan di sini tak sekedar berkaitan dengan dimensi ekonomi, tetapi juga nilai dan norma sosial. 

5 komentar:

Restiono mengatakan...

Bagi saya, jeans tetap celana seumur hidup. Saya masih memakai celana jeans yang saya beli 3 tahun lalu, dan baru membeli satu tahun ini. :D

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

Mantab Bung! Anda pengguna jeans sejati!

Salam hangat dan salam kenal,
Wahyu BN ;)

adiet mengatakan...

enakan pake celana jins
lebih nyaman. dan coll
kereeeeeen dah pokoknya

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

manteb deh, dan klo bisa beli jeans buatan lokal. mending nyuburin kapitalisme pribumi ketimbang global ;)

denro mengatakan...

untuk yang ingin belanja jeans/menjadi pengusaha jeans,
bisa belanja di tempat ini :
www.jeansindonesia.com
www.grossirjeans.com

info cepat dengan ym : ipoel.denim@yahoo.com

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger