"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Rabu, 08 Februari 2012

Ragam Status Sosial dan Diskursus Mengenainya

Ragam Status Sosial dan Diskursus Mengenainya
Penyegaran Kembali Pemikiran Sosiologi Klasik

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Ragam Status Sosial
Setidaknya, terdapat tiga ragam status sosial dalam perspektisf sosiologis, antara lain; ascribed status, achieved status serta assigned status. Ascribed status menunjuk pada kepemilikan status yang bersifat taken for granted 'demikian adanya', sebagai misal seorang anak keturunan bangsawan akan serta-merta memperoleh gelar "ningrat" tanpa perlu berbuat apapun.

Di sisi lain, achieved status menunjuk pada kepemilikan status yang didasarkan pada pencapaian prestasi tertentu. Semisal seorang mahasiswa yang selama empat tahun lamanya bersusah-payah dalam studi dan pada akhirnya diganjar dengan gelar sarjana. Dalam hal ini, gelar tersebut merupakan bentuk achieved status.

Ragam status sosial terakhir, assigned status, merupakan status yang diperoleh akibat konsistensi tindakan seseorang sehingga lingkungan sosial memberikan "tanda" padanya. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan seseorang yang "dianugerahi" gelar kyai, dukun dan lain sebagainya dalam masyarakat. Dalam hal ini, gelar kyai atau dukun merupakan pertanda---assigned---yang disandangnya.

Diskursus Status Sosial: Mapan ataukah Temporer?
Emile Durkheim mengatakan bahwa status yang disandang seseorang bersifat mapan. Dalam arti, ia---status sosial---akan melekat pada diri seseorang kapanpun dan dimanapun ia berada. Sebagai misal, seorang presiden yang dihormati di negaranya bilamana berkunjung ke negara lain bakal menuai penghormatan yang sama mengingat kedudukannya sebagai tamu kehormatan---akibat statusnya sebagai presiden.

Namun, di sisi lain, Peter M. Blau menolak anggapan Durkheim dengan menyatakan status sosial sebagai perihal yang bersifat temporer, bukannya mapan. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan seorang kapten kesebelasan sepak bola yang menuai penghormatan rekan-rekan setimnya, namun belum tentu demikian halnya bilama ia berada di tengah-tengah para pemain rugby, ketidakberdayaannya bermain rugby takkan menuai penghormatan apapun, bisa jadi justru olok-olok yang dituainya kemudian. Begitu pula, seorang presiden yang demikian dihormati di negaranya, tentunya akan dicemooh presiden berikut masyarakat negara lain yang memusuhinya, contoh konkret: George W. Bush vis-a-vis Ahmad Dinejad.

Implikasi Diskursus Status Sosial
Talcott Parsons menegaskan bahwa status yang disandang setiap individu dalam masyarakatnya merupakan perekat atau kohesi sosial yang membuktikan eksistensi masyarakat sebagai jejaring organisme sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Apabila kita menggunakan perspektif Durkheim dalam meniliknya, maka hal tersebut dapat menjadi keniscayaan. Kohesi yang terjalin antarelemen masyarakat merefleksikannya sebagai entitas yang bersifat harmonis.

Namun, tentunya perihal di atas bakal "tak bergema" bilamana ditilik melalui sudut pandang Blau. Status yang bersifat temporer memungkinkan terjadinya peran ganda pada individu dan berakibat pada terjadinya "disfungsional status". Sebagai misal, seorang presiden yang berstatus sebagai kepala negara sekaligus kepala keluarga kerap dihadapkan pada pilihan sulit antara menghadiri rapat bersama para stafnya ataukah menghampiri salah seorang anaknya yang tengah dirundung masalah dan membutuhkan dukungan moral figur seorang ayah. Dapatlah dilihat, kasus temporalitas status di atas berdampak pada disfungsionalisasi peran yang saling mengenyahkan satu sama lain.


Bacaan;
  • Johnson, Doyle Paul, 1986, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Gramedia.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger