"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Selasa, 07 Februari 2012

Sejarah TEORI (1)

Sejarah Teori (1)
Tulisan Ringkas di Sela Kesibukan Malam

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Dalam ranah keilmuan sosial-humaniora, secara umum "teori" dapat didefinisikan sebagai serangkaian abstraksi, konsep berikut proposisi yang dapat digunakan untuk menjelaskan maupun memprediksi fenomena sosial.

Hingga kini, ilmu-ilmu sosial-humaniora yang ada masih "disibukkan" dengan persoalan peng-integrasi-an antara teori dengan praktek di setiap kajiannya. Apabila kita mengamati secara seksama, maka ditemui bahwa kedudukan antara teori dengan dimensi praksis selalu terletak dalam oposisi-biner yang tak berkesudahan, seolah keduanya musykil disatukan. Diskursus antara teoretisi positivis dengan kritis kiranya dapat me-representasi-kan perihal terkait.

Namun demikian, apabila upaya penelisikan kembali atas akar sejarah tercetusnya teori dilakukan, agaknya hal tersebut dapat menjawab persoalan pelik keilmuan sosial-humaniora di atas---oposisi-biner teori dengan praktek.

Sebagaimana dikatakan Hardiman, mengutip penelaahan seksama Habermas, sebelum peradaban Yunani Kuno menyerua ke permukaan, ditemui sebentuk peradaban---konstruksi sosial kemasyarakatan---yang kental dengan tradisi bios-Theoretikos. Istilah bios berarti "menengadah", sedang theoretikos berarti "berdoa", apabila keduanya digabungkan, maka berarti, "Berdoa sambil menengadah". Bagi Habermas, hal tersebut menunjukkan kesatuan antara teori dengan praktek. Dalam hal ini, berdoa dianggap sebagai berteori mengingat bekata-kata atau berucap, sedang menengadah dianggap sebagai berpraktek karena melakukan tindakan. Dengan demikian, dalam tradisi masyarakat bios-Theoretikos teori dan praktek menjadi satu kesatuan.

Namun, dalam perkembangannya kemudian, di Yunani muncul mereka-para filsuf yang terklasifikasi dalam periode pra-Socrates layaknya Thales, Heraclitus, Parmenides, Demokritus dan lain sebagainya. Pola pikir mereka menjadi tonggak pemisahan antara teori dengan praktek mengingat "kesibukannya" yang sekedar menjelaskan isi dunia (baca: berteori) tanpa melakukan sesuatu (baca: bertindak). Terkait hal tersebut, Marx melayangkan kritiknya dalam Theses on Feurbach bahwa para filsuf---dimaksudkan filsuf pra-Socrates---sekedar menjelaskan dunia, padahal perihal terpenting adalah merubahnya.


Bersambung...


Bacaan;
  • Habermas, Jurgen, 1989, The Structural Transformation of the Public Sphere, Polity Press.
  • Hardiman, F. Budi, 1993, Kritik Ideologi, Kanisius.

      

2 komentar:

outbound malang mengatakan...

kunjungan ..
salam sukses ..:)

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

terima kasih bung. salam hangat :)

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger