"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 24 Maret 2012

Meninjau Kembali Kritik Weber atas Islam

Meninjau Kembali Kritik Weber atas Islam
Oleh: Wahyu Budi Nugroho


            Dalam kajiannya mengenai berbagai agama besar dunia, Weber memberikan komentar yang cukup “pedas” terhadap Islam. Secara ekplisit, ia menyatakan bahwa Islam merupakan religion of warrior ‘agama prajurit perang’ di satu sisi, dan “agama antidunia” (baca: agama akhirat) di sisi lain. Pandangan Weber tersebut setidaknya disebabkan oleh dua hal yang saling berseberangan dalam Islam, yakni kentalnya dimensi sensualitas[1] berikut duniawi[2] yang bernegasi dengan dimensi “sufistik” di dalamnya. Apabila penelaahan seksama terhadap berbagai karya Weber mengenai Islam dilakukan, maka tampaklah jelas bahwa ia mengasosiasikan Islam dengan berbagai hal yang bersifat barbar dan primitif.
   
            Anggapan pertama Weber, yakni kentalnya dimensi sensualitas dan duniawi dalam Islam, menurutnya hal tersebut disebabkan oleh penetrasi agama—Islam—dalam kehidupan politik (Schroeder, 2002: 84). Ia mengatakan bahwa muatan sosial-ekonomi yang terdapat dalam Al-Quran mengalami penafsiran kembali melalui gagasan jihad (perang suci) berupa pencarian lahan-lahan baru (baca: ekspansi). Hal tersebutlah yang kemudian mentransformasi Islam sebagai “agama prajurit nasional Arab” (Swedberg, 1998: 142; Turner, 2005: 227-228).[3] Bagi Weber, berbagai ekspansi yang dilakukan prajurit Islam tidaklah dilatarbelakangi oleh motif agamis—terutama dakwah—melainkan lebih pada hasrat untuk memperoleh “harta rampasan perang”.

            Sensualitas, sebagaimana yang dimaksudkan Weber, mewujud pada besarnya hasrat prajurit Islam terhadap para wanita (janda) yang ditinggal mati para prajurit lawan dalam perang, “Wanita merupakan salah satu bentuk harta rampasan perang yang sah”, demikian pungkasnya kurang-lebih. Sedangkan, dimensi duniawi yang juga secara spesifik disebutnya sebagai bentuk “kemewahan personal” dalam Islam, ditunjukkan oleh kesenangan para muslim untuk tampil mewah di hadapan publik, hal tersebut dimisalkan Weber dengan kegemaran orang-orang muslim mengenakan pakaian mahal, wewangian beraroma tajam, berikut cukuran jenggot yang rapi, di mana kesemuanya ditempatkan sebagai salah satu bentuk ibadah dan kesalehan tersendiri (Turner, 2005: 228-229).

            Pada ranah yang berlainan, sisi kontradiktif Islam sebagai agama anti-Duniawi dinyatakan Weber sebagai konsekuensi logis dari dimensi sufistik yang termuat di dalamnya. Berbeda halnya dengan sifat dan corak pemikiran “kasta” prajurit, para sufi dicirikan dengan sikapnya yang pasif dan apatis terhadap berbagai persoalan duniawi, mereka sekedar berorientasi pada hal-hal yang bersifat eskatalogis dan ke-ukhrawi-an (akhirat). Tentunya, hal tersebut berimplikasi pula pada pelanggengan kekuasaan yang dimiliki sultan (raja) mengingat ketidaktertarikan para sufi terhadap beragam isu politik yang tengah hangat dibicarakan. Di sisi lain, Weber turut mengutarakan bahwa para sufi gemar melakukan “pemborosan”, semisal membiayai pembangunan makam orang-orang yang dianggap suci serta menggelar beragam bentuk perayaan sufi yang menelan biaya besar (Turner,  2005: 239).

            Tak pelak, serangkaian argumen yang dikemukakan Weber di atas membuatnya melakukan penyangkalan akan Islam sebagai agama keselamatan. Namun, perihal yang lebih penting lagi adalah berbagai hasil kajiannya dalam kacamata sosiologis. Bagi Weber, kedua karakteristik Islam yang disebutnya—duniawi dan antiduniawi—menegaskan bahwa agama tersebut tak memiliki potensi bagi tumbuh-kembangnya nilai-nilai (embrio) kapitalisme. Dengan kata lain, Weber menilai Islam sebagai agama yang kontra-Progresifitas atau anti-Kemajuan.[4] Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, kentalnya dimensi “irasionalitas” dalam Islam berupa kemewahan personal yang ditunjukkan kelas prajurit, atau apatisme-duniawi berikut pemborosan yang tak rasional sebagaimana dilakukan kaum sufi, dinilai Weber tak sesuai dengan spirit “asketisme” yang nantinya bakal melahirkan cikal-bakal kapitalisme (Swedberg, 1998: 143; Turner, 2005: 19).

            “Asketisme”, sebagaimana yang dimaksudkan Weber, merupakan pola hidup sederhana dan tak berlebihan yang dilandasi oleh nilai-nilai transendensi. Dalam The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism, Weber (2006: 50) mengilustrasikannya sebagai berikut,

“Mereka menghindari pamer dan pengeluaran yang tidak perlu, maupun kenikmatan yang disadarinya dari kekuasaannya, dan malu dengan tanda-tanda luar dari pengakuan sosial yang dia terima.”

            Lebih jauh, Weber menyatakan bahwa semangat asketisme di atas merupakan salah satu esensi doktrin calvinisme—etika protestan—yang melahirkan tatanan masyarakat kapitalis Eropa di kemudian hari. Adapun butir-butir ajaran John Calvin—calvinisime—antara lain; bekerja keras, melakukan penghematan total, serta mengutamakan rasionalitas sebagai pertimbangan untung-rugi tindakan yang diambil. Kesemua ajaran Calvin tersebut dipayungi oleh konstruksi “kerja sebagai calling” atau “bekerja sebagai panggilan Tuhan” sebagaimana diutarakan Martin Luther (Weber, 2006: 61). Apabila kita menyimak berbagai uraian di atas secara seksama, maka tampaklah jelas pertentangannya yang demikian kentara dengan pola hidup umat muslim yang penuh dengan kemewahan personal berikut pemborosan-irasional layaknya ungkap Weber.

             Faktual, beragam argumen Weber mengenai Islam di atas menuai penolakan keras seorang sosiolog kenamaan Inggris (Birmingham), Bryan S. Turner. Tanpa segan, Turner menuduh Weber sebagai seorang orientalis, yakni mereka-para intelektual Barat yang berbagai karyanya tak lepas dari sentimen “Perang Salib”. Hal tersebut mengingat kentalnya muatan “kebencian” Weber dalam ulasannya mengenai Islam. Pertama, Turner menyatakan bahwa kajian para intelektual Barat mengenai Islam didasarkan pada referensi yang terbatas berikut telah mengalami “kejenuhan”. Kedua, senada dengan Schroeder, Turner mengatakan bahwa Weber tak menekuni Islam secara mendalam, dengan demikian, wajar bilamana banyak sisi mengenainya yang terlewatkan. Perihal yang terpenting lagi adalah, Turner menegaskan bahwa Weber merupakan satu-satunya ilmuwan sosial yang mengingkari metodenya sendiri—verstehende—dalam kajiannya mengenai Islam (Turner, 2005: 39).[5]

            Terkait anggapan Weber mengenai Islam sebagai “agama prajurit perang”, Turner mengemukakan bahwa hal tersebut justru menunjukkan kentalnya dimensi rasionalitas dalam Islam. Pengklasifikasian prajurit Islam ke dalam prajurit profesional, semi-Profesional, kavaleri, dan lain sebagainya menunjukkan eksistensi birokrasi-rasional yang telah mapan—ditemuinya spesialisasi (Turner, 2005: 209). Pada ranah yang berlainan, Karen Armstrong dalam eksemplarnya, Perang Suci, mengatakan bahwa bentuk-bentuk penaklukkan melalui pedang atau kekerasan merupakan suatu hal yang lumrah di Abad Pertengahan, baik Islam, Kristen maupun kekuatan-kekuatan lainnya di masa itu menggunakan cara yang sama dalam menyebarkan pengaruhnya (Armstrong, 2004: 364).

            Di sisi lain, Turner turut memaparkan bahwa pesatnya perkembangan dunia perdagangan dan industri Islam di Abad Pertengahan merupakan bukti telah eksisnya nilai-nilai kapitalisme dalam agama yang dibawa Nabi Muhammad tersebut. Tercatat, perdagangan Islam berupa komoditas rempah-rempah, wewangian, perhiasan, logam mulia berikut berbagai hewan cagar budaya—kala itu dianggap sebagai barang mewah—mengalami kemajuaan pesat pada periode-periode di atas. Begitu pula dengan aktivitas perindustrian Islam berupa sabun, kerajinan besi maupun tembikar, dan terutama tekstil. Adapun puncak dari kegiatan industri Islam terjadi di Spanyol dengan ditemuinya aktivitas penambangan tembaga terbuka serta beragam mineral lainnya. Malahan, dalam dunia perdagangan, umat Islam kala itu telah melakukan “pembukuan ganda” berikut memperluas jaringan lembaga-lembaga bursa dan keuangan. Tak pelak, fenomena tersebut menyebabkan Turner mengamini pendapat Maxim Rodinson bahwa kapitalisme-rasional sebagaimana termaktub dalam pengertian “weberian” sesungguhnya telah ditemui dalam konstelasi masyarakat Islam Abad Pertengahan (Turner, 2005: 206-207).                

            Secara tak langsung, fakta di atas turut membuktikan bahwa dimensi asketisme dalam Islam sedikit-banyak menemui kemiripannya dengan calvinisme—bekerja keras, berhemat dan mengutamakan rasionalitas. Terlebih dengan menilik serangkaian ajaran Islam—Quran dan Hadist—semisal; Tuhan tak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut merubah nasibnya sendiri, berteberanlah di muka bumi untuk mencari rezeki Tuhan setelah menunaikan shalat, sesungguhnya pemboros adalah teman setan, tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah, beribadahlah seolah esok meninggal dan bekerjalah seolah hidup selama-lamanya, serta berbagai ajaran Islam lainnya yang menyiratkan kemiripannya dengan ketiga butir etika Calvin di atas. Dengan demikian, tak ada alasan bagi Weber guna menyebut Islam sebagai agama irasional.   

            Selanjutnya, klasifikasi besar Weber mengenai muslim ke dalam dua ragam: prajurit dan sufi, yang mana kesemuanya tak memungkinkan bagi lahirnya tradisi literati ‘penulis/ilmuwan’ dalam Islam (Schroeder, 2002: 85), terkesan terlampau men-simplifikasi Islam. Pasalnya, Weber seolah menutup mata dengan keberadaan ilmuwan-ilmuwan besar Islam semisal Ibn Khaldun, Ibn Sina, Ibn Rusyd, dan lain sebagainya. Terkait hal tersebut, dalam kunjungan singkatnya ke Jurusan Sosiologi-UGM beberapa tahun lalu (2009), seorang pakar filsafat berkebangsaan Iran, Dr. Seyyed Ahmad Fazeli, mengemukakan bahwa sesungguhnya pemahaman sufi terpecah ke dalam banyak aliran, dan beberapa intelektual Islam terkemuka layaknya Ibn Sina serta Ibn Rusyd pun faktual dapat ditasbihkan sebagai seorang sufi. Penjelasan Dr. Fazeli tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya pemahaman sufi tak selalu dapat diasosiasikan dengan hal-hal yang bersifat pasif, mistik berikut irasional (baca: antiduniawi).[6]         

            Melalui berbagai uraian singkat di atas, kiranya dapat disimpulkan secara tegas bahwa faktual kajian Weber mengenai Islam tak lagi menemui relevansinya di era kontemporer. Hal tersebut berpijak pada argumen Turner mengenai dimensi rasionalitas yang justru dibawa kaum ksatria (prajurit) dan pedagang muslim berikut menunjukkan eksistensi nilai-nilai kapitalisme-rasional dalam masyarakat Islam Abad Pertengahan. Demikian pula, penjelasan Dr. Fazeli mengenai beragamnya aliran pemahaman dalam sufi yang secara tak langsung turut mengamini pendapat Turner dan Schroeder akan “terbatasnya” pengetahuan Weber mengenai Islam.   


*****



Referensi;
  •      Armstrong, Karen, 2004, Perang Suci, Serambi Ilmu Semesta.
  •      Partanto, Pius A & M. Dahlan A. Barry, 1994, Kamus Ilmiah Populer, Arkola.  
  •      Schroeder, Ralph, 2002, Max Weber tentang Hagemoni Sistem Kepercayaan, Kanisius.
  •     Swedberg, Richard, 1998, Max Weber and the Idea of Economic Sociology, Princeton University Press.
  •   Turner, Bryan S, 2005, Menggugat Sosiologi Sekuler: Studi Analisis atas Sosiologi Weber, Suluh Press.
  •      Weber, Max, 2006, Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme, Pustaka Pelajar.
  •   Kuliah Umum Dr. Seyyed Ahmad Fazeli mengenai “Filsafat dan Ilmu-ilmu Sosial-Humaniora” di Jurusan Sosiologi-UGM tahun 2009, moderator: Dr. M. Supraja.  





           



[1] Dalam Kamus Ilmiah Populer, kata “sensual” yang membentuk istilah “sensualitas” didefinisikan sebagai: berdasarkan hawa nafsu; mudah melepaskan; menggoda hawa nafsu. Lebih jauh, lihat Pius A. Partanto & M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, Arloka, Surabaya, 1994, h. 702.  
[2] Secara spesifik, Weber menyebutnya sebagai “kemewahan personal”.
[3] Dalam naskah asli, “…however, Islam developed into the national religion of Arabic warriors with a strong feudal ethic”.
[4] Hal terkait wajar kiranya mengingat Weber menempatkan kapitalisme sebagai perihal positif dalam tahapan sejarah perkembangan masyarakat, yakni sebagai indikasi mulai berkembangnya pola pikir “rasional” di dalamnya. Argumen tersebut berseberangan dengan Marx yang menganggap kapitalisme sebagai perihal “irasional”. 
[5] Hal ini ditengarai oleh kerapnya Weber melakukan justifikasi terhadap Islam, sedang verstehende sendiri merupakan metode yang menolak bentuk-bentuk justifikasi atas beragam realitas yang tampak di permukaan, dengan asumsi, seluruh individu/masyarakat adalah “rasional”.
[6] Penjelasan tersebut merupakan buah pertanyaan penulis pada Dr. Seyyed Ahmad Fazeli mengenai runtuhnya kekhalifahan Islam akibat berkembangnya pemahaman sufi yang antiduniawi. 

13 komentar:

xamthone plus mengatakan...

sip gan ..salam kenal ..

obat insomnia mengatakan...

salam kenal gan ..

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

thanks bro, salam kenal juga ;)

naussea mengatakan...

wah bahasannya berat sekali ini kawan, semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT -amin :D

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

amin ya Rabbal alamiin :)

outbound di malang mengatakan...

Kunci keberhasilan adalah menanamkan kebiasaan sepanjang hidup Anda untuk melakukan hal - hal yang Anda takuti.
tetap semangat tinggi untuk jalani hari ini ya gan ! ditunggu kunjungannya :D

mahmud mengatakan...

mas makasih tulisannya cukup baik untuk bahan kuliah sosiologi agama, terutama sosok weber, aku izin ngopi lho ya?

Andra mengatakan...

jadi bung, secara sosiologis Islam dapat dibaca sebagai kapitalisme tanpa riba?
Bagaimana kedekatan islam sendiri dengan sosialisme semisal yang pernah ditulis Oemar Said Tjokroaminoto, meski SI awalnya SDI. Dagang.

Blognya sangat bermanfaat, tabik.

Wahyu Nugroho mengatakan...

p. mahmud: terima kasih pak, jikalau kesulitan mengcopy silakan hub sy, nanti sy kirim via email tulisannya dlm bentuk pdf.

p. andra: sebetulnya baik dimensi kapitalisme maupun sosialisme ada dalam islam.

trica jus mengatakan...

subhanallah

cara pemesanan jelly gamat mengatakan...

wah berat nih pembahasannya.. :D

Wahyu Nugroho mengatakan...

trica: amien

jelly: ya dibikin enteng aja, hehe

Salam Hangat,
Wahyu BN :)

Ismail mail mengatakan...

terimakasih ..tulisan ini sangat membantu dalam mengerjakan tugas tugas saya

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger