"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Rabu, 18 Juli 2012

Serba-serbi Globalisasi

Serba-serbi Globalisasi

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Definisi Globalisasi
Anthony Giddens (2002: 32-38) mendefinisikan globalisasi sebagai proses menyempitnya ruang dan waktu. Ia memisalkannya dengan sebuah kebijakan yang dibuat di salah satu bilik kecil kantor Eropa dapat berdampak besar pada berbagai daerah pedalaman di Asia, Amerika Latin atau Afrika.

Pertanyaan Globalisasi
Setidaknya, terdapat satu pertanyaan yang mengemuka mengenai globalisasi, yakni sebagai fenomena yang disengaja ataukah tidak (Giddens, 2002: 35-36). Dengan kata lain, apakah globalisasi sengaja diciptakan atau terjadi demikian saja. kaum “saintis” seperti Alan D. Sokal dan Bill Gates mengatakan bahwa globalisasi merupakan konsekuensi logis dari pesatnya perkembangan teknologi informasi dan transportasi (Sardar, 2001). Di sisi lain, sosiolog semisal James Petras menegaskan bahwa globalisasi merupakan fenomena yang sengaja “diciptakan” berikut memuat berbagai kepentingan terselubung—kepentingan ekonomi.

Muatan Utama Globalisasi
Setidaknya, terdapat tiga pendekatan dalam memahami globalisasi, antara lain; pendekatan sistem dunia, pendekatan budaya global, serta pendekatan masyarakat global (Adi, 2005: 12-14). Namun demikian, apabila penelaahan lebih jauh dilakukan terhadap tiga pendekatan di atas, maka ditemui bahwa ketiganya begitu kental dengan muatan ekonomi. Kiranya, hal tersebutlah yang menyebabkan kepentingan ekonomi dapat didaulat sebagai muatan utama dalam globalisasi.

Distorsi Konsep Pasar Bebas-David Ricardo
Praksis konsep pasar bebas David Ricardo faktual bukanlah sebagaimana kita saksikan ini—perdagangan antarnegara—melainkan pasar bebas dalam negeri (pasar lokal). Dalam hal ini, bukannya Ricardo melarang perdagangan bebas antarnegara, hanya saja ia mengajukan persyaratan bagi berlangsungnya hal tersebut, yakni tenaga kerja yang tak boleh berpindah secara mudah ke negara lain, pun begitu pula halnya dengan modal (Ormerod: 1999).

*****

Referensi:
§  Giddens, Anthony. 2002. The Third Way. Jakarta: Gramedia.
§  Sardar, Ziauddin-Van Loon, Borin. 2001. Cultural Studies for Beginners. Bandung: Mizan.
§  Adi, M. Ramdhan. 2005. Globalisasi Skenario Mutakhir Kapitalisme. Bogor: Al-Azhar.
§  Ormerod, Paul. 1999. Matinya Ilmu Ekonomi. Jakarta: Gramedia.


0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger