"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Minggu, 28 Oktober 2012

Gangnam Style dan Fenomena “Glokalisasi”

Gangnam Style dan Fenomena “Glokalisasi”

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


            Semenjak dirilis bulan Juli lalu, lagu dan tarian Gangnam Style ‘Gaya Gangnam’ kreasi Park Jae Sang, atau yang lebih dikenal dengan panggilan PSY, merajai tangga lagu di berbagai belahan dunia. Penyanyi Korea Selatan bertubuh tambun tersebut pun menuai popularitas internasional dalam waktu sekejap. Bersamaan dengannya, Gangnam fever ‘demam Gangnam’ terjadi dimana-mana, tarian Gangnam dilakukan di banyak tempat, baik dalam acara berskala lokal maupun internasional, bahkan bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Mitt Romney, turut menampilkan aksi tarian Gangnam di atas panggung guna menarik simpati publik Amerika Serikat. Tak pelak, kuatnya atmosfer globalisasi pun kembali dirasakan penduduk dunia, yakni ketika perhatian masyarakat dunia tersita oleh suatu isu yang sama.

            Namun demikian, demam Gangnam senyatanya tak sekedar menguatkan kembali saling keterhubungan antarmasyarakat dunia (globalisasi), melainkan pula memiliki muatan “glokalisasi” di dalamnya. Istilah glokalisasi dipopulerkan oleh seorang ilmuwan sosial asal Amerika Serikat, George Ritzer (2006), guna menunjuk pada kemampuan budaya lokal dalam merespon atau mempengaruhi budaya global. Budaya lokal di sini diasosiasikan dengan budaya masyarakat Timur mengingat dalam konstelasi globalisasi, budaya masyarakat Barat demikian dominan di dalamnya, istilah yang kerap digunakan untuk merepresentasikan hal tersebut adalah “westernisasi” (proses pembaratan budaya). Sejauh ini, proses westernisasi berlangsung melalui tiga lini kebudayaan; fun, food and fashion. Fun adalah proses pembaratan budaya melalui jalur hiburan, semisal film dan musik. Food melalui jalur konsumsi makanan, seperti merebaknya restoran cepat saji Barat atau rumah makan lokal yang “kebarat-baratan” dewasa ini, dan fashion melalui jalur penampilan, layaknya gaya rambut atau mode pakaian yang tengah digandrungi.

            Tak pelak, muncul dan menyeruanya Gangnam Style merupakan bentuk perlawanan terhadap pembaratan budaya dalam segi fun atau hiburan. Gangnam membuktikan bahwa masyarakat Timur pun mampu menghasilkan kreasi tarian yang dapat mempengaruhi masyarakat dunia. Bentuk perlawanan tersebut terejawantahkan lewat format dan pola tarian Gangnam yang tak melulu mengeksploitasi erotisme dan keseksian tubuh penarinya seperti tarian-tarian Barat yang tampak selama ini, tarian ala Katy Perry dan Lady Gaga misalnya. Sebaliknya, tarian Gangnam lebih menonjolkan sisi humor dan slapstick penarinya. Hal tersebut tampak dengan ketambunan tubuh PSY dipadu dengan kelincahan geraknya yang seolah tengah menunggangi kuda. Alhasil, bentuk koreografi tarian tersebut lebih mendekati sebagai joking ‘candaan’ ketimbang erotis, dan nyatanya, tarian yang demikian pun dapat menuai kegandrungan masyarakat dunia.

            Apabila kita menilik ke belakang, sesungguhnya fenomena glokalisasi tak baru kali ini saja terjadi. Sebelumnya, India dengan produksi film Bollywood-nya cukup sukses mewarnai jagad perfilman dunia yang selama ini didominasi oleh film-film produksi Hollywood. Jepang dengan manga (komik) dan gaya penampilan harajuku-nya mampu menyita perhatian para remaja di Barat. Turki dengan makanan tradisional kebab yang mendunia. Bahkan, Indonesia pun pernah andil dalam penciptaan fenomena glokalisasi, yakni ketika cita rasa masakan rendang dan keindahan motif kain batik diakui oleh seluruh dunia. Dan fenomena terakhir, Gangnam Style, agaknya kian memperkukuh pengaruh K-Pop pada masyarakat dunia sekaligus menegaskan kemampuan masyarakat Timur dalam mempengaruhi budaya global.

            Namun demikian, satu hal yang perlu kita ingat, mendunianya Gangnam Style tak terlepas dari peranan media jejaring dunia maya. Kepopuleran yang dituai Gangnam Style dalam waktu singkat disebabkan oleh diunggahnya video tersebut dalam situs Youtube sehingga masyarakat berbagai belahan dunia dapat mengaksesnya. Tercatat, hingga kini tak kurang dari 2 juta penduduk dunia telah menyaksikan video Gangnam dalam situs tersebut. Hal ini kiranya turut menunjukkan bahwa jejaring dunia maya tak selalu membawa muatan negatif, melainkan dapat pula mendorong kreativitas individu maupun kolektif. Oleh karenanya, sudah sepatutnya masyarakat Timur, khususnya masyarakat tanah air memanfaatkan peluang yang terdapat dalam jejaring dunia maya untuk andil dalam mewarnai budaya global. Di samping mendatangkan keuntungan materiil, pewacanaan terhadap budaya global turut mendatangkan prestis tersendiri di mata dunia internasional.    

Tegas dan jelasnya, fenomena glokalisasi merupakan kabar baik bagi kemandirian budaya masyarakat Timur. Artinya, di era globalisasi dewasa ini, faktual masyarakat Timur tak hanya dapat bertindak selaku konsumen dan menerima secara pasif berbagai budaya yang berasal dari Barat, melainkan dapat pula menjadi produsen dan aktif menelurkan beragam budaya bagi masyarakat dunia. Tak menutup kemungkinan pula, apabila masyarakat Timur tak henti-hentinya menelurkan berbagai kreasi baru, maka globalisasi tak lagi berasosiasi dengan westernisasi, melainkan “easternisasi” (proses pen-Timur-an budaya). Dan semoga saja, adagium yang berbunyi, “Eropa adalah masa lalu, Amerika Serikat adalah masa sekarang, dan Asia adalah masa mendatang”, memang benar adanya.


*****

5 komentar:

Anonim mengatakan...

betul sekali tidak menutup kemungkinnan masyarakat timur akan menjadi setara dengan negara2 yg sudah maju atau dianggap moderen dengan keunggulan yg dimiliki oleh masyarakat timurrb baik dari fun, foot n fashion.... i like it

Wahyu Nugroho mengatakan...

yap, semoga saja dalam waktu dekat ini :)

SS Belajar mengatakan...

Informasi yang menarik, , , salam blog pendidikan

Wahyu Nugroho mengatakan...

salam juga SS Belajar :)
thanks

Anonim mengatakan...

betulkah? jangan2 orang di dunia memiliki kesukaan yang sama tentang gaya yang lucu, jangan2 si gangnam style terinspirasi dari barat? apakah ada karakteristik bersama yang bisa dipahami oleh berbagai masyarakat dan melampaui budaya, senyum, gerakan lucu dan sebagainya. terlalu sederhana mengatakan 'budaya' timur dalam kasus ini, mewarnai budaya dunia. tapi bila dikatakan gaya orang timur ini mewarnai gaya dunia bisa jadi.

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger