"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Jumat, 05 Oktober 2012

Karikatur Nabi dalam Surat Kabar Perancis, Umat Islam Kembali Diprovokasi

Karikatur Nabi dalam Surat Kabar Perancis,
Umat Islam Kembali Diprovokasi

Wahyu Budi Nugroho
Pendiri dan fasilitator Islamic Political Forum (IPF), Fisipol-UGM


            Belum reda betul amarah umat Islam di berbagai belahan dunia akibat penyebaran film The Innocence of Muslims melalui situs Youtube, kini amarah umat Islam dunia kembali memuncak akibat publikasi gambar karikatur Nabi Muhammad yang dimuat surat kabar Charlie Hebdo, Perancis. Kejadian tersebut seolah mengulangi kejadian serupa di tahun 2005 di mana surat kabar Jyllands-Posten, Denmark memuat gambar karikatur Nabi Muhammad dan segera menuai kecaman publik Islam internasional. Serangkaian kejadian di atas kiranya menunjukkan secara eksplisit bahwa umat Islam memang sengaja diprovokasi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

            Pertanyaan yang bisa jadi muncul kemudian adalah, apakah motif dari berbagai provokasi tersebut? Tak mudah memang menjawab pertanyaan ini. Namun, apabila kita mengamati dengan seksama, provokasi tersebut dapat memuat beberapa motif. Pertama, sebagai jalan pintas yang sengaja ditempuh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk mendongkrak pamor berikut popularitasnya secara sekejap. Dalam kasus penyebaran film The Innocence of Muslims misalnya, sutradara amatiran Sam Bacile alias Nakoula yang sebelumnya sama sekali tak dikenal khalayak luas, seketika menuai popularitas internasional akibat filmnya yang demikian menyudutkan umat Islam itu. Bisa jadi, apa yang dilakukan Bacile lebih tampak sebagai tindakan putus asa untuk menjadi terkenal. Kedua, sebagai upaya yang ditempuh pelaku media, dalam hal ini pemilik surat kabar, untuk meraup keuntungan materiil. Hal tersebut tampaknya jelas, apabila suatu surat kabar mengangkat sebuah isu kontroversial, terlebih menyita perhatian publik internasional, di samping bakal menaikkan pamornya di mata publik internasional, sudah tentu oplah dari surat kabar tersebut bakal meningkat drastis sehingga mendatangkan keuntungan yang berlipat-lipat bagi si pemilik surat kabar.

            Menilik kedua poin yang sekiranya menjadi motif provokasi umat Islam di atas, seyogyanya umat Islam di berbagai belahan dunia dapat lebih bijak dalam merespon berbagai provokasi murahan tersebut. Hal ini penting agar umat tak terpancing pada tindakan-tindakan yang justru merugikan diri sendiri, semisal rusaknya fasilitas publik akibat aksi demonstrasi anarkis, serta jatuhnya korban luka bahkan meninggal baik pada pihak aparat yang berwenang maupun demonstran yang melakukan aksi protes. Di satu sisi, sudah sepatutnya pihak-pihak yang sengaja melakukan provokasi tersebut sadar bahwa implikasi dari tindakannya dapat bermuara pada persoalan yang jauh lebih serius, tak hanya bagi keamanan masyarakat internasional, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Sebagai misal, apa jadinya bila negara-negara Timur Tengah sepakat melakukan embargo minyak pada negara-negara Barat? Sudah tentu krisis minyak bakal kembali menerpa dunia Barat. Hal tersebut sebagaimana terjadi pada dekade 1970-an di mana Raja Arab, King Faisal sengaja melakukan embargo minyak pada Amerika Serikat akibat mendukung agresi Israel mencaplok sebagian wilayah Mesir.  

            Jangankan melakukan embargo minyak, cukup dengan negara-negara Islam melakukan embargo terhadap berbagai produk makanan dan kosmetik Barat yang berlabelkan “halal”, maka negara-negara Barat pun bakal diterpa krisis keuangan yang jauh lebih akut ketimbang saat ini. Berdasarkan data termutakhir (2010), pangsa pasar bagi berbagai produk Barat berlabelkan halal pada tahun 2010 mencapai 1,3 hingga 1,8 milyar konsumen, dengan nilai pasar atau perdagangan sebesar 634 juta dolar per tahun. Tak heran, Joe Regenstein, seorang pakar ekonomi asal Cornell University, mengatakan bahwa produk halal merupakan “tambang emas yang belum tersingkap”. Hal tersebut ditambah dengan kenyataan bahwa Islam merupakan agama dengan laju perkembangan pemeluknya yang paling pesat di dunia. Ini berarti, pangsa pasar bagi produk-produk halal pun bakal kian meningkat di tahun-tahun mendatang.

Menilik serangkaian implikasi yang dapat timbul akibat berbagai provokasi di atas, sudah sepatutnya masing-masing pihak menyadari dan menghentikan berbagai tindakan yang dapat mencederai satu sama lain. Ini semua dilakukan tak lain guna menjaga kepentingan berikut kebaikan bersama.


*****
            

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger