"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Jumat, 05 Oktober 2012

The Innocence of Muslims, Bukti Tindak Radikalisme Buah Provokasi

The Innocence of Muslims, Bukti Tindak Radikalisme Buah Provokasi

Wahyu Budi Nugroho
Pendiri dan fasilitator Islamic Political Forum (IPF), Fisipol-UGM.


Hingga pekan ini, gemuruh protes umat muslim di berbagai penjuru dunia terkait penyebaran cuplikan film The Innocence of Muslims melalui situs Youtube masih terjadi. Penyebaran cuplikan film tersebut memang patut disayangkan mengingat di samping menampakkan sosok Nabi Muhammad, ia juga menyematkan serangkaian perihal negatif pada nabi besar junjungan umat Islam. Sudah tentu hal ini mencederai perasaan umat muslim di saentaro dunia. Implikasi yang timbul kemudian pun jelas, hubungan antara dunia Barat dengan Islam kembali memanas. Sentimen anti-Amerika Serikat dan Israel tampak mencuat di berbagai tempat mengingat film terkait diproduksi oleh warga AS berdarah Yahudi, Sam Bacile, dan didanai oleh seorang Kristen-Koptik kelahiran Mesir, Morris Sadek. Luasnya skala konflik yang ditimbulkan The Innocence of Muslims sesungguhnya telah terprediksi sebelumnya, terdapat kurang-lebih 1,3 milyar muslim di seluruh dunia sehingga sedikit saja isu sensitif mengenai Islam atau muslim di ranah lokal, seketika dapat berubah menjadi isu global, permasalahan muslim Rohingya di Myanmar beberapa waktu lalu misalnya.

            Namun demikian, penyebaran cuplikan film yang mencederai perasaan umat muslim di atas setidaknya menunjukkan bahwa tindak radikalisme tak sekedar disebabkan oleh paham radikalisme itu sendiri, melainkan terdapat sesuatu yang memicunya (memprovokasi). Salah satu tindak radikalisme yang paling banyak disorot dalam peristiwa terkait adalah tewasnya duta besar AS untuk Libya, J. Christopher Stevens, beserta tiga orang anggota stafnya. Apabila kita menilik ke belakang, sesungguhnya peristiwa serupa telah terjadi berulang kali. Jauh sebelumnya, yakni di tahun 1989, pemimpin politik dan spiritual asal Iran, Ayatollah Khoemeini, mengeluarkan fatwa hukuman mati terhadap Salman Rushdie berkenaan dengan novel The Satanic Verses karangannya yang dinilai demikian menghina Islam dan Nabi Muhammad. Segera setelahnya, Rushdie melarikan diri ke Inggris dan memperoleh kewarganegaraannya di sana. Di tahun 2007, Ratu Elizabeth menganugerahi gelar kebangsawanan (kesatria) pada Rushdie. Penganugerahan tersebut sontak memicu kecaman publik Islam internasional, bahkan hubungan diplomatik Inggris dengan berbagai negeri muslim dunia pun sempat bermasalah kala itu.

Dua tahun sebelumnya (2005), emosi umat muslim dunia tersulut akibat munculnya publikasi gambar karikatur Nabi Muhammad yang dimuat oleh surat kabar Jyllands-Posten, Denmark. Karuan, kejadian yang sangat melecehkan tersebut dibalas Presiden Iran, Ahmad Dinejad, dengan menggelar lomba menggambar peristiwa Holocaust dan kemudian memamerkannya dalam sebuah eksebisi khusus di Iran. Apa yang dilakukan Dinejad pun tak kalah menuai kontroversi bagi dunia Barat, tindakan tersebut merupakan simbol penolakan kerasnya mengakui kebenaran peristiwa Holocaust.  

Belum redam betul amarah umat muslim dunia, tak lama berselang, tepatnya di tahun 2008, amarah umat muslim dunia kembali memuncak akibat munculnya film Fitna buatan salah seorang anggota parlemen Belanda berhalauan konservatif-liberal, Geert Wilders. Dalam film tersebut, Wilders menyatakan secara eksplisit bahwa Islam adalah agama teroris, ia pun turut menyoroti meningkat drastisnya jumlah populasi imigran muslim di Belanda dan berbagai negara Eropa lain yang menurutnya patut diwaspadai. Tak pelak, film Fitna memicu merebaknya wabah Islamphobia dan sentimen anti-Islam di dunia Barat.

Peristiwa lain yang tak kalah kontroversialnya dalam dunia Islam adalah menyebarnya foto-foto pelecehan yang dilakukan prajurit AS terhadap para tahanan di penjara Abu Gharib, Irak (2004) dan Guantanamo, Kuba (2007). Di antara foto-foto tersebut, tampak prajurit AS menelanjangi para tahanan, menakut-nakuti mereka dengan anjing, bahkan ada pula yang berpose di hadapan jenazah tahanan. Menyebar luasnya foto-foto tersebut berdampak pada kian santernya tuntutan publik internasional, khususnya dunia Islam, terhadap pemerintah AS untuk segera menutup penjara Guantanamo yang dinilai sangat tak memanusiakan manusia.

            Serangkaian peristiwa di atas seyogyanya menjadi renungan banyak pihak bahwa upaya deradikalisasi yang dilakukan bakal menjadi sia-sia selama bibit-bibit pemicu radikalisme masih saja ditemui. Harus diakui memang, perbedaan cara pandang antara dunia Barat dengan Islam menjadi persoalan utama di sini. Barat dengan pemahaman liberalnya menganggap kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat sebagai sesuatu yang syarat dijunjung setinggi-tingginya, sebaliknya dengan dunia Islam yang masih memiliki berbagai batasan akan perihal terkait. Sementara, di era globalisasi saat ini di mana batasan ruang dan waktu tak lagi relevan, sudah tentu persinggungan antara dunia Barat dengan Islam bakal kian intens terjadi. Oleh karenanya, setiap pihak sepatutnya membangun sikap saling pengertian dan saling menghargai satu sama lain. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan pencegahan berbagai publikasi yang dapat memicu sentimen masing-masing pihak, pun dapat pula dilakukan dengan menggelar berbagai diskusi elegan yang terakses publik internasional guna menjembatani beragam perbedaan yang ada.


*****
            

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger