"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 24 November 2012

Antropologi Beragama Evans Pritchard

ANTROPOLOGI BERAGAMA[1] EVANS PRITCHARD:
AGAMA SEBAGAI MANIFESTASI KEPENTINGAN PERSONAL DAN SOSIAL

Oleh:
Dedy Ilham Perdana & Wahyu Budi Nugroho


Pendahuluan
            Sebagaimana diutarakan Dr. Nico Syukur Dister (1994: 21), pengalaman berikut motivasi beragama bagi individu maupun kolektif bersifat personal, dalam arti; langsung, intuitif dan afektif. Bisa jadi, pengalaman tersebut lebih sesuai bila diistilahkan sebagai sebentuk “pengalaman eksistensial”, yakni sejenis pengalaman yang mentransformasi struktur dunia obyektif pada subyektif (Lathief, 2010: 62). Argumen tersebut, setidaknya senada dengan pendapat para antropolog bermahzab sosiologi-Perancis layaknya Durkheim—yang juga sosiolog, Lucien Levy-Bruhl, serta aliran antropologi empiris-Inggris semisal A. R. Radcliffe-Brown, dan terutama Evans Pritchard yang tak hanya bersentuhan dengan kedua tradisi antropologi di atas, tetapi juga bersentuhan dengan tradisi antropologi-Victorian (ortodoks), dan berupaya meramu ketiganya menjadi konsep antropologi besutannya sendiri yang unik lagi orisinal (Pals, 2001: 340-346).

            Terkait pengaruh yang diperolehnya melalui tradisi sosiologi-Perancis dan antropologi empiris-Inggris, Pritchard cukup banyak belajar mengenai perlunya pemahaman subyektif dalam memahami fenomena ke-beragama-an individu maupun kolektif. Melalui Durkheim, Pritchard menginsyafi bahwa upaya guna memahami fenomena sosial syarat dilakukan dengan melakukan observasi secara menyeluruh, bukannya secara parsial atau “setengah-setengah”. Di sisi lain, Levy Bruhl membuka cakrawala Pritchard akan naifnya anggapan para antropolog semisal Tylor dan Frazer yang menempatkan orang-orang awal (primitif) sebagai manusia-manusia bodoh, penuh takhayul berikut kekanak-kanakkan. Sedang, melalui tradisi antropologi-Victorian Pritchard mengamini kegunaan metode bercorak positivis layaknya pengumpulan, perbandingan serta pengklasifikasian fakta yang demikian ketat dan terkontrol. Lebih jauh, melalui corak antropologinya yang khas di atas, Pritchard mengemukakan bahwa pengalaman dan motivasi beragama yang dimiliki individu maupun kolektif kental dipengaruhi oleh kepentingan (baca: kenyamanan) personal dan sosial dari individu/kolektif terkait (Pals, 2001: 340-346).

Relasi antara Agama dengan Kepentingan Personal dan Sosial menurut Evans Pritchard
            Dalam teorinya mengenai hubungan yang kental antara keyakinan yang dianut individu/kolektif terhadap kepentingan personal dan sosial, Pritchard mengambil misal fenomena ke-beragama-an suku (masyarakat) Zande dan Nuer di wilayah Sudan, Afrika Selatan. Sebagai misal, suku Zande dan Nuer yang dinyatakan demikian irasional oleh para antropolog Barat—bermahzab Victorian—sesungguhnya demikian rasional menurut Pritchard. Hal tersebut mengingat, baik suku Zande maupun Nuer menggunakan cara-cara mistik guna menjelaskan setiap fenomena yang terjadi dalam keseharian hidup mereka. Secara konkret, hal terkait dapat dimisalkan dengan jampi-jampi dukun yang mujarab dalam menyembuhkan penyakit anggota suku. Begitu pula, pembuktian yang dilakukan dukun melalui mati-tidaknya seekor ayam sebagai tanda terdapat-tidaknya kejahatan mistis yang dilakukan seseorang (dukun jahat) (Pals, 2001: 347-349).

            Lebih lanjut, Pritchard (dalam Pals, 2001: 352) mengutarakannya sebagai berikut,

…namun kebutaan (ketidaktahuan) mereka tidak disebabkan oleh kebodohan, karena mereka memperlihatkan kecerdasan yang tinggi dalam memberi alasan tentang kegagalan atau ketidaksamaan dari ramalan racun dan ketajaman eksperimental untuk mengujinya. Agaknya, ia lebih dikarenakan oleh fakta bahwa kecerdasan intelektual dan ketajaman eksperimental mereka dikondisikan oleh pola perilaku ritual dan kepercayaan mistik…

            Tegas dan jelasnya, Pritchard hendak menyatakan bahwa faktual keyakinan beragama sekedar diketahui oleh orang-orang tertentu—yang memeluknya, ia memiliki dimensi intelektual sebagaimana orang-orang tersebut memandangnya, dan perihal yang terpenting lagi, agama tersebut benar-benar dirasa “sesuai” bagi diri mereka sendiri. Melalui pernyataan tersebut, Pritchard menunjukkan eksisnya relasi antara agama dengan kepentingan personal dan sosial dari individu/kolektif pemeluknya, dan dalam ranah yang lebih luas, kesemuanya terintegrasi dalam sebentuk sistem kultural tertentu (Pals, 2001: 381).      

Praksis Konsep Antropologi Beragama-Evans Pritchard di Era Kontemporer
            Di era modern dewasa ini, cukup banyak penjelasan Pritchard yang dapat dilihat dalam keseharian hidup masyarakat Indonesia. Sebagai misal, individu yang berpindah agama agar dapat menikah dengan kekasihnya yang berlainan agama. Contoh konkret dari perihal tersebut adalah menikahnya Markus Horison, kiper timnas sepakbola Indonesia, yang beragama Kristen dengan Kiki Amalia, artis tanah air, yang beragama Islam (Edwan & Tampubolon, 2009). Dalam perspektif antropologi beragama-Pritchard, secara personal, tindakan tersebut ditempuh Markus supaya dapat terus bersama dengan orang yang dikasihinya—Kiki Amalia. Sedang, secara sosial, ia melakukannya agar keberadaan dirinya dapat diterima oleh lingkungan keluarga sang kekasih atau lingkup sosial yang lebih luas lagi.    

            Di samping contoh di atas, semisal seseorang yang berpindah agama sedari Islam pada Kristen dikarenakan alasan ke-praktis-an dalam menjalankan ritual (ibadah) dapat pula dijadikan contoh akan konsep antropologi beragama-Pritchard di era kontemporer. Begitu pula, kisah aktor kawakan Amerika Serikat, Richard Gere, yang meneguhkan diri memeluk agama Budha setelah sebelumnya merasakan ketenangan batin melalui meditasi yoga yang kerap dilakoninya (Pri, 2011).      

Kesimpulan dan Penutup
            Melalui berbagai uraian dan penjabaran singkat di atas, kiranya dapat ditelisik secara eksplisit konsep antropologi beragama-Evans Pritchard di era kontemporer. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan seseorang yang berpindah agama agar dapat tetap bersama kekasihnya, atau individu yang berpindah agama dikarenakan alasan-alasan praktis dalam ritual, berikut seseorang yang berpindah agama dikarenakan memperoleh ketenangan batin dalam ritual yang dilakoninya.    


*****


Referensi:

Buku;
  • Dister, Nico Syukur, 1994, Pengalaman dan Motivasi Beragama, Kanisius.
  • Lathief, Supaat I., 2010, Psikologi Fenomenologi Eksistensialisme, Pustaka Pujangga.
  • Pals, Daniel L., 2001, Seven Theories of Religion, Qalam.


Internet;


                         







[1] Istilah “antropologi beragama” sebagaimana dimaksudkan di sini adalah telaah antropologis atas individu maupun kolektif yang menganut keyakinan agama tertentu.    

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger