"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 24 November 2012

Sajak Pembebasan

Sajak Pembebasan

Workshop Ekonomi, "Masyarakat Konsumtif"
Segoroyoso, Bantul, DIY (2010)

Lama diri termenung-khusyu menerka
Memandang beratus wajah berbalut luka
Mungkinkah mereka habis berjumpa celaka?
Atau sekedar lagak belaka?

Beratus wajah memang berduka!
Beribu hari banting-tulang tanpa suka
Laksana terkandung rahim neraka
Tak ada bahagia, lebih-lebih jenaka!

Beratus wajah menunggu janji dialektika!
Selamatkan jiwa-raga dari angkara murka
Buah kedangkalan pikir-otak si durhaka
Yang congkak, kikir, tamak tapi mengemuka

Hingga kapan beratus wajah syarat menyangka?
Hingga kering-habis tinggal putih kerangka?
Hingga bahagia hidup di alam baka?!
Demi setetes cuka dan sebiji semangka

Bebaskan mereka…!

Wahyu BN. Yogyakarta, 13 November 2012: 00.37


Keterangan:
            Terkait penggunaan istilah “sajak” dan bukannya “puisi”, sebagaimana kita ketahui, sajak adalah puisi, namun puisi belum tentu menemui bentuknya sebagai sajak. Mengingat karya terkait menggunakan rima (persamaan bunyi), maka penulis lebih menggunakan istilah sajak pada judul yang tersemat—namun tetap terkategori dalam bentuk puisi.  

Esensi:
            Sajak atau puisi ini berkisah mengenai pengalaman haru-biru penulis kala sengaja menghentikan perjalanan sore hari tuk melihat para buruh sepulang kerja di sebuah pabrik yang terletak di seberang Jl. Imogiri Barat-Yogyakarta. Perihal yang begitu menyentuh penulis adalah selaksa pemandangan wajah-wajah buruh yang tampak lusuh dan berjalan gontai keluar pabrik. Naluri sosiologis penulis pun seketika menyerua kala itu: Bebaskan mereka!.     


*****

0 komentar:

Posting Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger