"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 25 Mei 2013

1 Mei, Agenda Sial

1 Mei, Agenda Sial

Wahyu Budi Nugroho

Nana mengirim surel, bunyinya: “Pak Wahyu, maaf, BCA menolak transferan saya dikarenakan ketidaksesuaian antara nama dengan nomor rekening. Mungkin Pak Wahyu bisa mengecek kembali scan slip transfer yang kemarin saya kirimkan?”. Ini si Nana, bagian kerja sama salah satu korporasi kenamaan tanah air, tulisanku buat korporasinya belum dilunasi. Berurusan lah ia denganku.

“Eh, Na! Bukan aku yang salah. Kau tuh. Coba Kau cek, sejak kapan namaku berubah jadi Wahyu Adi Nugroho???! WAHYU-BUDI-NUGROHO, catet!”
“Maaf Pak Wahyu, mohon dimaklumi ya… Hehehe”
“Aduh, Na! Enak kali Kau moaf-maaf, dua hari-dua malem kutunggu kirimanmu! Eh eh eh, kau malah kirim surel beginian. Jadi Na, aku kudu tunggu 1-2 hari lagi buat terima kirimanmu???”
“Ini saya sedang jalan ke Bank, Pak. Saya usahakan hari ini bisa sampai kirimannya. Mungkin Pak Wahyu punya rekening BCA untuk mempermudah pengiriman?”
“Tak ada aku rekening BCA. Eh, bentar eh, kukontak temenku yang punya rekening ntu Bank”

---

“Ei Deas, kau dimana?” ku-sms si Deasy, pukul 10.14.
“Di kantorlah”
“Aku nak pinjam nomor rekeningmu. Jam berapa Kau pulang???”
“Jam 7-an” jam tujuh-an malam maksudnya.
“Oke, nomornya masih yang dulu kan?”
“Ya eyalah…”
“*&^%$#@!”

---

“Eh Na, nih coba Kau kirim ke nomor rekening ini” perbincanganku dengan Nana beralih ke pesan singkat (baca: SMS).
“Baik Pak Wahyu, maaf merepotkan, hehehe” balasnya.
“Ya, ya, ya. Udah, udah, buruan Kau kirim, cepat-cepat Kau kabari aku kalau udah Kau kirim”
“Baik Pak, hehehe”

30 menit kemudian…

“Pak Wahyu, sudah saya kirim, mohon dicek ya. Jangan lupa kabari saya juga nanti”
“Oke Na, thanks ya Na, ntar aku cek, sorry juga ngrepotin”

Tiba-tiba Deasy mengirim pesan singkat.

“Ei Yu, aku di Diamond Glass, samping furnitur Lawas, kalau You hendak ambil ATM-nya sekarang”
“Owh, oke-oke! Kusamperin sekarang juga ya kesana!”
“Yups!” jawabnya meyakinkan.

Sesampainya di Diamond Glass

“Permisi, saya mau ketemu Deasy…”
“Deasy??? Nggak ada tuh Pak yang namanya Deasy di sini” jawab seorang cowok entah bagian apa, yang jelas terdapat monitor di mejanya”.

Sejurus kemudian, aku pun clingak-clinguk di toko kaca ini: Diamond Glass.

“Owh, Deasy?! Sebentar lagi ia ke sini Pak, sudah janjian kita…” jawab seorang wanita yang lainnya lagi, entah juga ia bagian apa, yang jelas, terdapat monitor juga di mejanya.
Alhamdolillah … tak jadi menanggung malu aku” ucap halus-lirih batinku.

---

“Ei, Deas! Aku dah di Diamond Glass, kayak orang ilang!” bunyi pesan singkatku.
“Yow, yow, yow, aku dah mau nyampe. Ini dah di depan Ros-In
“Oke! Ndang!”

---

“Nih ATM-nya” Deasy menyerahkan kartu bertulis Paspor BCA padaku.
“Pin-nya?” balasku tak kalah garang.
“123456”
“Duitmu di sini berapa???”
“Rp 0,-”
“Mantab! Hehehe” ucapku setengah mengejek.
“Oke, tak bawa dulu ya?!” tambahku.
“Yow, ati-ati”
“Siph!”

---

            Segera ku menuju ATM BCA terdekat: Jl. Prawirotaman. Aku menjadi pengantri ketiga. Sepasang mbak-mbak tampak di dalam. Di depanku ada ibuk-ibuk berkerudung.

            “Aish! Lama nian nih mbak-mbak! Jangan-jangan mereka melakukan hal-hal yang hendak kutengok”, batinku setengah curiga. “Kok nggak bisa ya, Pak?”, itulah kalimat pertama yang tercetus dari mulut kecil-menggemaskan salah satu mbak-mbak. Tentu saja, pertanyaan itu ditujukan bagi bapak juru parkir. “Owh, nggak bisa ya?”, respon si bapak juru parkir. “Owh, nggak bisa ya?”, ucap ibuk-ibuk berkerudung menirukan, entah disadarinya atau tidak. Tapi, ibu ini tetap melangkah masuk box ATM, jelaslah ia niat memastikan. “Iya, nggak bisa”, celetuk si ibu. Damn! Aku harus ke kantor BCA terdekat: Brigjend Katamso.

            Lampu merah di Jokteng (Pojok Beteng). Ups, Akyu belum mandi!. Terbayanglah rambutku yang ikal nan acak-acakan, pun wajahku yang berkilau minyak. Tak apa, tak apa, kau eksistensialis, pertahankan kondisi “mengada-mu” di tengah kepungan banyak “kesadaran”. Ea, ea, mvkvcih ea vdah ingetyin akyu—aku berbicara pada diriku sendiri.

            Kuparkir si Cessy (Honda Cs-1), kumasuki ruang ATM, sudah banyak kesadaran (baca: orang) di sana. Aku mengantri, lagi. Tapi lumayan, kali ini urutan dua. Segera setelah si Koh beranjak—seorang tua bermata sipit—kumasukkan Paspor BCA Deasy ke mulut ATM. 1-2-3-4-5-6, yak, penarikan tunai!. “Maaf, nomor pin yang Anda masukkan salah”, kotak uang ini mengajakku bercakap lewat layarnya. Aku belum menyerah, kutekan lagi nomor pin yang sama. Kali ini si kotak bercakap, “Anda sudah dua kali memasukkan nomor pin yang salah, apabila untuk ketiga kalinya Anda memasukkan nomor pin yang salah, ATM ini akan diblokir”, kurang-lebih begitu ucapnya.

            “Ei, Deas! Nomor pin Kau salah!” segera kuhubungi si Deasy.
            “Eh, bener tuh! Kau kali yang salah pencet! 1-2-3-4-5-6!” Deasy tak mau kalah.
           
            Oke, oke, kucoba lagi, ini untuk yang terakhir, jika masih salah, terblokir!. Sejak dulu, cara Deasy berkata-kata memang begitu meyakinkan. Yak, yak, siyap Bos, kan’ kucoba sekali lagi!. Kupilih box ATM yang berbeda, barang kali box yang barusan memang tengah trouble.

Bismillah…

            Yak! Terblokir…!!!

            Aku bergegas keluar, menghampiri Cessy, lalu pulang. 1 Mei, tak hanya agenda sial buat para pengusaha, tetapi juga buatku. Moga cuma di tahun ini.

            Di tengah terik jalanan, tersembul seuntai kalimat dari otakku yang mendidih: “Mbuh! Ra-urus!”*.



*****

    
    





* “Terserah! Persetan!”—kurang-lebih artinya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger