"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 25 Mei 2013

Altruis

Altruis

Ilustrasi: Beny Nurdiansyah
Oleh: Wahyu Budi Nugroho

 “You-Know-Who” pemuda yang baik. Sebaik-baiknya pemuda di kota ini. Raqib-Atid telah berkongsi mencapnya Ansor: “Anak Sorga”. Kebaikan “You-Know-Who” utamanya tercermin lewat kesiap-sediaan membantu siapapun dan dimanapun—24 jam non-Stop!. Terpikirlah diriku, “You-Know-Who” cocok bekerja di Circle-K, Alfamart, atau Indomaret. Terlebih, “You-Know-Who” juga sosok yang ramah: “Ting-tong! … Selamat datang … Ting-tong! … Selamat berbelanja kembali…” (*&^%$#@!).

Jelang semesteran, “You-Know-Who” rajin menegur kawan-kawan tuk belajar giat. Pun, dengan sukarela lagi ikhlas menggelontor catatan kuliahnya yang maha lengkap tuk dibajak secara otomatis maupun manual—difotokopi ataupun disalin-tulis tangan. Separuh-lebih kelas menyambutnya dengan suka-cita. Catatan “You-Know-Who” laris manis-tanjoeng kimpoel, dan nilai “You-Know-Who” tak pernah jadi yang terbaik. IP-nya selalu setengah bagus setengah jelek di setiap semester, layaknya si Koen. Usut punya usut, catatannya ajeg balik telat. So, “You-Know-Who” syarat menelaahnya secara instan, persis semalam sebelum ujian dihelat keesokan paginya. Tak sempatlah semua terendap dalam kotak memorinya yang kecil. Altruis.

Pagi jelang wawancara beasiswa bagi para pekerja sosial…

“You-Know-Who” mengikuti proses seleksi ini. Maklum, ke-altruis-an membuatnya become sukarelawan Merapi, babysitter Yayasan Sayap Ibu, donor darah PMI golongan A/B, cleaning service jalanan kota Yogyakarta—juga pesisir Pantai Parangtritis, hingga penyuluh “helm” Sarkem dan Taman Kota. “Jikalau lolos, itung-itung ngurangi beban si Mbok…”, bisiknya tulus dalam sanubari.

“Prol!!! Prooook…!”. “You-Know-Who” disentak laka-lalin yang tergelar di hadapannya. Pria pengendara motor dan pria lain yang diboncengnya tercecer di bahu jalan. Mereka korban “senggolan” Honda-Brio yang segera raib entah kemana. Insting altruis “You-Know-Who” pun menyerua-kuat: “Tolong mereka! No matter what!!!”. Sejurus kemudian, “You-Know-Who” meminggirkan Supra KW-nya (Jincheng). Ia yang paling sigap di antara pengendara lain. Luka terparah dialami pria yang dibonceng—lecet dengkul-tangan. Tanpa pikir panjang, “You-Know-Who” membawanya ke Panti Rapih. Itu RS (Rumah Sehat) terdekat. Maklum, petaka senggolan terjadi di Kotabaru, tepatnya di depan Padmanaba, kira-kira pukul 07.30 WIB—jam sibuk-sibuknya kota gudeg. Sedang, sebetulnya, pagi itu juga di pukul 08.00, “You-Know-Who” syarat menghadiri wawancara beasiswa. Petaka senggolan segera menjadi petaka bagi beasiswanya. Altruis.

            Selulus sarjana tanpa beasiswa sepeser pun…

            “You-Know-Who” mencari kerja. Namun, masih saja, ke-altruis-an mendorongnya tuk membagi setiap informasi lowongan kerja pada kawan-kawan. “Temans, ini ada lowongan kerja terbaru. Hayo, siapa minat?”, demikian tulisnya-sering di timeline FB, bahkan untuk lowongan kerja yang dibidiknya sendiri. Alhasil, dua-tiga kali momen justru teman-teman yang memperolehnya. Semua tak lain karena jasa tiada-tara “You-Know-Who”.

Berbulan-bulan lamanya, “You-Know-Who” masih juga menjadi pengacara: “pengangguran banyak acara”. Ia ajeg menjadi sukarelawan di banyak tempat. Tiba-tiba, tercetuslah dalam pikir-nya tuk menghubungi teman-teman yang telah mapan. Dengan harapan, “You-Know-Who” mendapati kemudahan kerja, atau setidaknya, memperoleh informasi mengenainya. Ini adalah saat ketika ke-altruis-annya mulai terkikis: “mengharap sedikit pamrih”. Akan tetapi, berbulan-bulan lamanya jua ia menanti, sekedar Koen yang menghubunginya via SMS, itu pun berbunyi, “Aduh Bray, jaman sekarang bener-bener sulit masukin temen. You know-lah, nepotisme dah’ nggak jamannya lagi. So sorry ya, Bray!”. “Modal sosial taik kucing!”, teriak “You-Know-Who”. Altruis.

            Tatap mata “You-Know-Who” kosong ke depan. Di sore yang kemuning itu ia sepulang kerja—kerja sosial. Sekonyong-konyong, Chevrolet-Aveo dari arah berlawanan menyalip dan hendak melahap jalan tempat Jincheng-nya melaju santai. “You-Know-Who” kaget setengah modar. Di-gas dan dibantingnya stang ke arah kiri-menjauhi Aveo jingga. “You-Know-Who” standing dan terbang. Ia jatuh-terperosok di sesemak pinggir jalan, Jincheng turut menindihnya. Pergelangan kaki “You-Know-Who” retak. Tak kuasalah ia berdiri. Sementara, lalu-lalang manusia di jalanan tetap berlanjut. Tak ada yang berubah, sedikitpun. Masa-masa pulang kerja adalah surga kecil-dunia bagi lelalu-lalang manusia-manusia ini. Tak seorang pun bisa mengusiknya.

            “You-Know-Who” sendirian saja dengan kepedihannya. Dan memang, jika ia menyadari jauh-jauh hari, “You-Know-Who” hanyalah seorang diri di dunia ini. Ter-seterum-lah kotak memori “You-Know-Who” dengan ucapan teduh Sri di tempo yang telah silam: “Kamu jadi orang jangan terlalu baik. Orang yang terlalu baik, yang selalu ada buat orang lain, pada akhirnya nggak dihargain, juga cuma dimanfaatin…”. Sri, gadis ayu ini pernah terenyuh oleh kebaikan “You-Know-Who”. Tetapi sayang, Sri memilih jalur hidup “lesbiola” akibat cinta kasih-murninya dikecewakan Koen semasa SD.

            Masih dengan Jincheng menindih tubuhnya, “You-Know-Who” menyadari kebodohan akutnya selama ini. Ia seorang dirilah yang bertanggung jawab terhadap nasibnya: kini, juga di kemudian hari. Seketika, dirasakannya kemuakan terhadap orang-orang yang selama ini telah dibantunya sepenuh hati. Mereka seperti muntah-muntahan, juga semacam jeli lengket yang menjijikkan. Semenjak itu, “You-Know-Who” menerima kesendiriannya di dunia. Tak pernah lagi didengarnya bualan-bualan Mario Teguh, berganti sabda iblis Machiavelli sebagai penerangnya. Habis sudah kasih dan sayangnya buat umat manusia.

Raqib-Atid serasa ditipu habis-habisan, mereka kadung mencatatnya sebagai “Ansor”.

            “You-Know-Who”. "He-Who-Must-Not-Be-Named". “Ting-tong!”.

-----
*Altruis: “Individu yang menghapus cinta terhadap diri sendiri, dan mengalihkan kehidupan yang diabdikan pada kebaikan bagi orang-orang lain” [Ali Mudhofir, Kamus Istilah FIlsafat, Liberty, Yogyakarta, 1992, h. 8.].
-----

Altruis. Kebodohan yang mulia.
WBN, 08.01.13.

Sponsor; Honda-Brio, Chevrolet-Aveo & Jincheng.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger