"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 25 Mei 2013

Koen!

Koen!
 
Ilustrasi: Beny Nurdiansyah

Oleh: Wahyu Budi Nugroho

Sebut saja Koen. Koen lahir tua di kota Klaten 23 tahun silam. Ayahnya pegawai negeri sipil, sedang ibunya di rumah saja. Koen anak tengah dari tiga bersaudara; Joen, Koen, dan Loen. Koen kuliah di fakultas filsafat. Harusnya Koen sudah sarjana, tapi skripsinya baru selesai setengah, setengahnya lagi entah rampung kapan. Layaknya remaja-remaji seusianya, Koen pacaran, tapi itu juga dilakoninya setengah-setengah: “Pacaran iya, jatuh cinta enggak”, ungkap Koen suatu waktu padaku. Oalah Koen, Koen…

            Suatu sore, Koen suntuk di kamar kosnya yang terbagi setengah dengan temannya, bertekad kuatlah Koen melancong ke Pantai Goa Cemara tuk melepas penat. Di tengah jalan, motor Koen mogok, ternyata bensin motor Koen sisa setengah dari setengahnya kala berangkat. Oalah Koen, Koen!
           
Beruntung pom bensin seberang jalan cuma sejauh lemparan batu dari tempat motornya mogok. Berjalanlah Koen menuntun motor setengah bagus setengah jeleknya menuju pom. Sampai pom, Koen hendak mengisi tangki motor dengan 2 liter bensin, tapi rupiahnya cuma cukup buat membayar setengahnya. Usai mengisi bensin, tekad kuat Koen goyah. Akhirnya Koen memutuskan kembali di setengah perjalanan menuju Goa Cemara. Oalah Koen, Koen…
           
Akibat perlancongan yang setengah barusan, badan Koen setengah wangi setengah bau. Koen pakpung. Di tengah pakpung, hp Koen berbunyi: tulit, tulit, tulit. Koen segera bilas badan tuk menerima panggilan masuk. Koen lalai sikat gigi plus cuci muka pakai sabun khusus.
           
“Koen, inyong butuh duit. Bayaro utangmu!”
            “Oke Bray, tapi setengah sik yow?” balas Koen.
            “Djancuk Koen! Wis tulung wulan telat, saiki mung bayar separo?!” teman Koen menggarang.
            “Aku lagi iso mbayar setengah, Bray…”
            “Yawis, suk tak tunggu neng warung Yu Sri jam telu!”
            “Jam setengah papat wae, Bray…” ucap Koen menawar.
            “Yoh. Djancuk tenan Koen!”
           
Sesal Koen setengah mati menerima panggilan masuk barusan. Maklum, itu nomor tak bertuan, tak disangkanya dari Roy yang masih berselisih hutang dengannya. Sejurus kemudian, Koen merasa setengah lapar, ditujunya warung makan Barokah yang setengah jauh dari kosnya. Koen memesan setengah porsi nasi pecel, namun ia sekedar sanggup menghabiskan setengahnya, juga segelas teh hangat yang dipesannya: sekedar habis setengah. Koen membayar setengah porsi nasi pecel dan setengah gelas teh hangat dengan setengah hati. Berjalan pulanglah Koen dengan setengah semangat ke kosnya.
           
Siang menjelang sore keesokan harinya.
           
Koen bersiap menghampiri warung Yu Sri tuk memenuhi temu janji dengan Roy. Sebetulnya saat itu sikon finansial Koen tengah pas-pasan, ia pun setengah ikhlas menyerahkan sebagian rupiahnya pada Roy, tapi hendak bagaimana lagi, 3 bulan sudah Koen telat membayar hutang, masih untung hutangnya tak beranak-pinak di Roy.
           
Koen berangkat dengan motor setengah bagus setengah jeleknya. Lagi-lagi, di tengah jalan menuju warung Yu Sri, motor setengah bagus setengah jeleknya mogok. Rupa-rupanya Koen lupa isi bensin setelah semalam mengantar pacar sowan ke rumah budhe-nya. Kali ini, Koen tak mendapati pom bensin maupun kedai bensin eceran di sejauh matanya memandang, baik keduanya telah jauh terlewat dari tempat motor setengah bagus setengah jeleknya mogok. Sementara, duit di dompet Koen sengaja dipasnya dengan bilangan hutang pada Roy—Rp 50 ribu. Karena Koen setengah rela setengah ikhlas menyetor rupiahnya pada Roy, akhirnya Koen memutuskan untuk pulang. Koen bungah sekaligus susah. Bungah karena tak jadi menyetorkan rupiahnya pada Roy, susah karena syarat menuntun jauh motornya ke pom terdekat.   

Koen setengah hidup setengah mati.
Koen iku kepriben?!  



Koen. Sepenggal Pelajaran.
WBN, 22.12.12


           
             

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger