"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 25 Mei 2013

Yang Absurd, yang Aku

Yang Absurd, yang Aku

Wahyu Budi Nugroho

Aku ingin. Mati dalam. Ketenangan. Berbalut laksa kemanusiaan sepanjang hidup. Merasa menjadi kanak-kanak, orang muda bersemangat, dewasa yang mencerahkan, tua yang bijak. Aku ingin, merasa menjadi, manusia seutuhnya.

            Ini aku, kumpulan masa ke masa sedari dulu. Bertitik awal di sembilan belas delapan-delapan, di tengah tahun: Juni yang manis. Tertanggal sebelas. Aku yang manja pada ibuku, selalu lari dari gertak-sambal ayahku, juga bising dunia. Yang tak berdaya, itulah aku. Yang lari dari kenyataan, itulah aku.

            Kapan titik akhirku?

              Aku pernah, jadi orang, yang dicinta semua. Tapi lalu, aku bosan. Kenapa semua orang baik padaku? Aku bosan. Aku pernah, jadi orang, yang dicinta, juga dibenci. Lama-lama, aku pun bosan, tak hitam, juga putih.

            Memang, menjadi manusia, berarti merasa semua. Wangi keringat lawan jenis bercampur parfum, hingga muntah-muntahan. Dari yang menggairahkan hingga memuakkan. Aku bukan manusia jika hanya membau wewangian. Aku seekor babi jika hanya menuai yang busuk-busuk.    

            Aku pernah, belajar sekeras-kerasnya tuk jadi yang terbaik. Aku menang, aku yang terpandai di kelas. Lalu apa?. Aku pernah, menjadi si malas, masuk urutan sepuluh besar dari belakang. Lalu kenapa?.

            Aku pernah, kelabak ‘amburadul’ akibat jadwal kelewat padat. Di hari kemudian, aku santai, hingga serasa jadi orang tak berguna, hanya menghabiskan nyawa. Kelabak-santai silih berganti. Untuk apa?.

            Buat apa terbaik, terbelakang, kelabak, santai, toh akhirnya juga bakal koid. Ini aku, berupaya jadi manusia, yang berarti merasa semua. Ingin aku, jadi manusia utuh, merasa sebanyak-banyaknya rasa. Meski tiada guna. Cuma merasa.

            Aku mati, di usia yang sangat tua, seusia dengan Russel, kenyang segala rasa. Ah, hidup cuma seperti ini. Di malam yang hangat, aku kembali kanak-kanak. Terbungkus nyaman peluk-gendong ibuku. Kemana ia membawaku? Kuyakin pasti, ke tanah yang lebih baik.

            Kucampak jasad rentaku.

Eh, hidup cuma seperti ini.

Jogja, 13 April 2013.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger