"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Senin, 24 Juni 2013

Sekilas tentang "Sosiologi Eksistensialisme"

Sekilas tentang "Sosiologi Eksistensialisme"


Oleh: Wahyu Budi Nugroho

Apabila kita menilik ke belakang, sesungguhnya pertalian erat antara disiplin sosiologi dengan eksistensialisme sempat terjadi, yakni ketika Edward Tiryakian menerbitkan eksemplar Sociologism and Existentialism pada tahun 1962. Kemudian disusul dengan dua jilid buku karya Jack Douglas yang bernuansa sosiologis-eksistensialis pada tahun 1970, Understanding Everyday Life. Selanjutnya, Stanford M. Lyman dan Marvin B. Scott dengan A Sociology of the Absurd. Di tahun 1977, Jack Douglas kembali menelurkan buah karya berjudul Existential Sociology berkolaborasi dengan J. Johnson. Pada tahun 1984, J. Kortaba dan A. Fontana membawa studi sosiologi eksistensialisme lebih jauh melalui eksemplar The Existential Life in Society (Marshall, 1998: 213).

            Syarat diakui memang, studi mengenai sosiologi eksistensialisme (existential sociology) kurang begitu berkembang, atau tak begitu menuai antusiasme para sosiolog dunia di kemudian hari. Hal ini ditengarai oleh beberapa hal; Pertama, pengkajian sosiologi eksistensialisme dinilai terlampau menyimpang dari orientasi awal disiplin sosiologi. Dapatlah ditilik, apabila kita mengkaji, semisal konsep sosiologi-Marx, maka relasi sosial yang termuat di dalamnya demikian konkret—hubungan eksploitatif antara kaum borjuis dengan proletar, begitu pula jika kita melakukan studi terhadap konsep patron-klien T. B. Bottomore, berikut paradigma kerja dan komunikasi-Jurgen Habermas. Dalam hal ini, studi sosiologi eksistensialisme membawa studi interaksi sosial pada ranah yang begitu abstrak, halus, dan nyaris tak kasat mata. Dapatlah dimisalkan, apabila dalam ranah makrososiologi ditemui konsep “sosiologi imajinasi” cetusan C. Wright Mills, maka sosiologi eksistensialisme lebih menemui bentuknya sebagai “imajinasi individual kala bertemu/ berinteraksi dengan individu lain”.

            Kedua, alasan kurang begitu berkembangnya studi sosiologi eksistensialisme disebabkan oleh studi terkait yang terlampau berani menarik kedirian individu pada ranah yang sangat ekstrem—nominalisme radikal. Apabila dalam ranah disiplin sosiologi-murni Weber (dalam Marshall, 1998: 630) mengemban peran di atas (meradikalkan posisi aktor dalam masyarakat) dengan pernyataannya: “Tak ada ihwal bernama masyarakat, melainkan kumpulan individu dengan kepentingannya masing-masing”, maka berbagai tokoh dalam pemahaman eksistensialisme melakukan penolakan keras terhadap keberadaan masyarakat berikut kepentingan individu terhadap individu lain/masyarakat meskipun serangkaian keuntungan dapat dituai melaluinya. “Penajisan” terhadap individu lain berikut masyarakat inilah yang kiranya sedikit-banyak menyurutkan pamor eksistensialisme dalam ranah sosiologi.

            Namun demikian, tidaklah bijak jika serangkaian persoalan terkait lantas menjadi legitimasi guna mengeliminasi (baca: mengenyahkan) eksistensialisme dalam ranah pengkajian sosiologi, terlebih mengingat telah ditemuinya kajian serupa—sosiologi eksistensialisme—sebelumnya (Tiryakian, 1962; Douglas, 1970; Lyman & Scott, 1970’s; Doulgas & Johnson, 1977; Kortaba & Fontana, 1984).[1] Di sisi lain, alasan tersebut didukung pula oleh prinsip non-Cumulative ‘tak bertambah’ dari kebenaran, berseberangan dengan prinsip kemajuan yang bersifat cumulative ‘bertambah’.[2] Dengan demikian, cukuplah naif bila dikatakan bahwa eksistensialisme merupakan sebentuk kegenitan intelektual semata, tren pemikiran yang telah usang, terlebih tak lagi menemui relevansinya di era kontemporer.


[1] Sejalan dengan adagium verba volant, scripta manent ‘yang terucap akan musnah, yang tertulis akan abadi’. 
[2] Sebagai misal, hingga kini kita masih dapat menggunakan kebijaksanaan Plato dan Aristoteles yang telah tiada ribuan tahun silam, serta menikmati musik Beethoven atau Mozart. Sementara, kita tak lagi dapat menggunakan konsep kedokteran Ibnu Sina, atau mobil model “T” dari Ford.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger